Yoshihide Suga, Calon Kuat PM Jepang Berjanji Menjaga Keseimbangan dengan Tiongkok dan Korut

RUANGNEGERI.com – Partai yang berkuasa di Jepang, Liberal Democratic Party (LDP), telah memilih Yoshihide Suga sebagai pemimpin baru. Artinya, Suga hampir pasti akan menjadi pengganti Shinzo Abe.

Melansir dari laman berita BBC (14/09/2020), pria 71 tahun tersebut tadinya adalah Sekretaris Kabinet. Memiliki hubungan dekat dengan Shinzo Abe dan telah lama digadang-gadang akan menjadi penggantinya.

Yoshihide memenangkan 377 suara dari total 534 suara. Pemilihan diikuti perwakilan daerah dan anggota legislatif. Setelah pemilihan internal ini, akan ada pemilihan di parlemen pada hari ini.

Kebanyakan orang sudah menduga kemenangan Yoshihide. Karena LDP sangat mayoritas di parlemen. Jika terpilih, Yoshihide Suga akan menjabat hingga akhir periode, September 2021.

BACA JUGA: Terancam dengan Tindakan Korea Utara, Utusan Korsel Terbang ke AS

Mengenal Yoshihide Suga

Pria kelahiran tahun 1948 ini merupakan anak dari seorang petani strawberry. Yoshihide Suga memulai karir politiknya setelah lulus dari Universitas Hosei Tokyo.

Dirinya termasuk politisi kawakan, dengan karir politik yang panjang. Sebelum membangun karir politiknya, bapak tiga anak ini menjabat seagai sekretaris Partai LDP.

Pada tahun 1987, Suga memenangkan pemilu di Dewan Kota Yokohama. Selanjutnya terpilih menjadi Wakil Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi pada tahun 2005.

Di tahun yang sama, Shinzo Abe menggantikan PM Junichiro Koizumi. Dan Yoshihide menjabat di tiga pos kementrian hingga tahun 2007. Sejak saat itu, hubungannya dengan Shinzo Abe menjadi dekat. Hingga sang Perdana Menteri menunjuknya sebagai Sekretaris Kabinet pada tahun 2012.

Kini, sebagai calon perdana menteri yang diunggulkan, Yoshihide harus membuktikan diri bahwa dirinya bisa mengendalikan birokrasi Jepang yang kompleks. Selain itu, ia juga harus bisa membawa wajah baru kekaisaran Jepang. Terutama sejak Kaisar Akihito lengser.

Reiwa, era baru di bawah Kaisar Naruhito memiliki makna ‘harmoni yang indah’. Yoshihide sendiri yang memperkenalkan nama tersebut. Karena itu pula ia mendapat panggilan akrab ‘Paman Reiwa’.

Yoshihide Suga bukan baru-baru ini saja disiapkan sebagai pengganti Shinzo Abe. Ketika sang perdana menteri mengundurkan diri pada 28 Agustus yang lalu, nama Yoshihide Suga tiba–tiba mencuat.

Publik Jepang ramai-ramai berharap dia bisa menggantikan Abe dan meneruskan programnya. Ia mencalonkan dirinya pada tanggal 2 September lalu. Sebagian besar anggota partai LDP mendukung mantan Sekretaris Kabinet tersebut.

Shinzo Abe merupakan perdana menteri yang paling lama menjabat dengan empat kali masa jabatan. Sementara Yoshihide Suga adalah Sekretaris Kabinet yang juga paling panjang masa menjabatnya.

Di bawah pimpinannya, masyarakat Jepang meyakini bahwa program-program dari Perdana Menteri Shinzo Abe tetap berjalan secara stabil. Termasuk bagaimana cara memulihkan perekonomian yang lesu selama masa pandemi Covid-19.

Hal itu pulalah yang dijanjikan oleh Yoshihide. Dirinya akan tetap “melanjutkan kebijakan ekonomi ‘Abenomik’, membangun kekuatan moneter, stimulus keuangan dan kebijakan struktural.” Demikian disampaikannya di depan legislatif tanggal 14 September lalu.

Yoshihide juga berjanji akan merevisi konstitusi pasca perang pasifik untuk melegitimasi ketahanan negara. Namun saat ini, fokusnya adalah menghadapi kejatuhan ekonomi akibat Covid-19.

Rencana program kerja yang diumumkannya adalah menggesa ketersediaan vaksin pada pertengahan 2021. Juga mendorong pariwisata dan pertanian. Selain itu juga meningkatkan upah minimum untuk memperbaiki ekonomi regional.

Terkait isu militer, ia tetap memprioritaskan hubungan baik dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam mewujudkan kawasan geopolitik ‘Indo-Pasifik yang aman dan terbuka’. Selain itu juga menstabilkan hubungan dengan Tiongkok.

Yoshihide juga melanjutkan usaha Shinzo Abe untuk menyelesaikan masalah penculikan warga negara Jepang. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1970-1980-an oleh Korea Utara.

Masalah ketegangan dengan program nuklir Korea Utara juga nampaknya bakal meneruskan program yang telah dijalankan oleh PM Shinzo Abe.

Kedepannya, Jepang bersama dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan diperkirakan akan tetap berkordinasi secara intens untuk menghentikan program nuklir atau denuklirisasi Korea Utara.

BACA JUGA: Pertikaian Tiongkok-India Pertaruhkan Ekonomi Kedua Negara

Tantangan Menyelamatkan Jepang

Akibat Covid-19, Jepang kini mengalami pukulan telak di bidang ekonomi. Sebelumnya, kondisi perekonomian negara ini juga stagnan dan sangat lambat.

Bahkan kebijakan Abenomik masih dalam proses dan membutuhkan banyak usaha. Programnya untuk menghindarkan Jepang dari lubang resesi masih setengah jalan.

Mengutip dari laman berita BBC (14/09/2020, Yoshihide bukanlah politisi yang energik dan ambisius. Sebaliknya, dia sangat efisien dan praktis.

Namun, dia tetap “merupakan calon yang paling diharapkan oleh Shinzo Abe dan pemimpin partai lainnya,” ungkap Koichie Nakano. Professor politik di Universitas Sophia Tokyo.

Walau Yoshihide bisa dikatakan membawa ketenangan di masa peralihan ini, namun kondisi Jepang sebenarnya masih bergejolak. Selain masalah pandemi Covid-19, Jepang juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk memantapkan posisinya di kawasan Asia Pasifik.

Dalam usaha mengatasi masalah-masalah itu, tak urung Yoshihide menghadapi keraguan beberapa pihak. Prof. Nakano beranggapan Yoshihide Suga “kurang memiliki visi.”

Slogan dan motto kerjanya dinilai masih terlalu umum. Yakni menekankan kemandirian, yang mana di saat pandemi seperti sekarang ini “justru membuat masyarakat rentan terhadap guncangan ekonomi.”

BACA JUGA: AS Masih Menghadapi Tantangan Ekonomi Berat Akibat Covid-19

Alasan Dibalik Lengsernya Shinzo Abe

Shinzo Abe mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Penyakit ulcerative colitis yang dideritanya sejak remaja membutuhkan perawatan intensif.

Pria berusia 65 tahun tersebut mengatakan bahwa pengobatannya akan “memakan banyak waktu dan perhatian.” Sehingga dia khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai perdana menteri. Abe adalah perdana menteri Jepang dengan masa bakti terpanjang. Masa pemerintahannya di periode sekarang dimulai sejak 2012.

Sebelumnya, Abe juga pernah menjabat sebagai perdana menteri. Lalu mengundurkan diri pada tahun 2007 juga karena masalah kesehatan.

Pada pidatonya yang cukup emosional tanggal 28 Agustus lalu, Shinzo Abe meminta maaf pada seluruh rakyat Jepang. Terutama karena dirinya harus lengser saat “rakyat sedang berjuang di tengah pandemi Coronavirus.” Sementara kondisi politik dan ekonomi Jepang “masih menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya sambil membungkuk dalam.

Kondisinya yang memburuk sejak pertengahan Juli 2020 tidak memberinya banyak pilihan. Namun, dia juga tidak ingin penyakitnya mempengaruhi kinerja dan kemampuannya dalam mengambil keputusan.

Di satu sisi, ia tetap meyakinkan kepada publik bahwa dirinya akan tetap “menjalankan kewajiban” hingga penggantinya terpilih. Pernyataan tesebut kemudian memicu percepatan pemilihan calon perdana menteri di internal partainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *