Hal Penting yang Perlu Diperhatikan oleh Calon Investor Milenial

RUANGNEGERI.com – Dalam kurun waktu dua hingga tahun ke belakang, pertumbuhan investasi di Indonesia, khususnya yang dilakukan oleh generasi muda, menunjukkan angka positif di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Masa pandemi Covid-19 banyak menjadi pintu bagi banyak kaum milenial dan generasi Z untuk memasuki dunia pasar modal. Pasalnya, terdapat peningkatan investor muda yang cukup drastis di berbagai instrumen investasi seperti ritel, saham, obligasi maupun juga reksadana.

Generasi milenial atau biasa disebut sebagai generasi Y adalah yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995. Adapun generasi Z adalah mereka yang lahir di antara tahun 1996 hingga 2010. Sekitar 60 persen penduduk Indonesia saat ini adalah gabungan dari dua generasi tersebut.

Tidak heran bila generasi tersebut juga kini dominan di BEI. Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi sebagaimana melansir Merdeka.com (26/06/2020), di tahun 2020 lalu, investor berusia di bawah 30 tahun sudah mencapai 45 persen, sementara usia 31 hingga 40 tahun sebanyak 25 persen.

Jika dijumlahkan, maka investor muda saat ini mencapai 70 persen dengan 30 persen sisanya diisi oleh investor berusia 40 tahun ke atas. Jumlah Single Investor Identification (SID) yang tercatat sebanyak 3,87 juta per 29 Desember 2020 atau meningkat 56 persen dari akhir 2019.

SID merupakan identitas tunggal investor yang digunakan untuk aktivitas investor di pasar modal Indonesia. Identitas ini berguna layaknya Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang memiliki sederet nomor. 

Baca juga: Impulse Buying dan Pentingnya Literasi Keuangan Generasi Muda

Literasi dan Inklusi Keuangan Bagi Pemuda

Fenomena investor muda tentu tidak serta-merta datang tanpa sebab. Salah satunya adalah disebabkan oleh konten para influencer di media sosial terkait keuntungan saham yang besar dan cepat.

Hal itu juga disinggung oleh Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anto Prabowo, saat menanggapi fenomena dari banyaknya investor dadakan khususnya dari kalangan muda sebagaimana melansir Sindonews.com (20/01/2021).

Ia menyebutkan bahwa regulator terus mengamati fenomena tersebut dan terus berkoordinasi dengan otoritas BEI. Tujuannya adalah dalam rangka memberikan edukasi dan pemahaman literasi dan inklusi keuangan bagi generasi muda.  

“Pemahaman (yang) dimaksud antara lain terkait bagaimana bertransaksi dan ketentuan kode etik dalam bertransaksi dan beraktivitas di pasar modal Indonesia,” terangnya.

Hal itu sangat penting dilakukan, sebab dalam berinvestasi, investor perlu memahami beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai investasi jenis apa pun. Uang yang disiapkan untuk investasi juga merupakan “uang dingin” atau uang yang tersisa dari kewajiban-kewajiban yang lebih dulu dipenuhi seperti berikut.

OJK sendiri telah mengeluarkan program dengan tema “Menabung untuk Semua” pada medio tahun 2019 lalu. Program literasi dan inklusi keuangan tersebut secara khusus adalah ditujukan untuk kalangan kaum muda agar melek tentang keuangan.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi khususnya bagi para milenial dan pemula.

Baca juga: Investasi yang Cocok Bagi Milenial, Ini 5 Pilihannya

1. Seimbangkan Pengeluaran dan Pendapatan

Pertama adalah kenali net worth atau total harta yang Anda miliki saat ini. Beberapa harta yang dimiliki seperti rumah, kendaraan, barang berharga yang dapat dijual, saldo rekening giro, tabungan serta investasi apa pun yang dimiliki.

Total nilainya kemudian dikurangi dengan semua hutang, hipotek, kartu kredit, pinjaman dan lain-lain. Setelah mendapatkan angkanya, maka baru bisa menjadi pertimbangan untuk diinvestasikan.  

Fokus pada net worth merupakan perspektif jangka panjang yang bisa dilakukan sebelum memulai investasi. Perspektif ini sangat diperlukan dalam berinvestasi. Sebab jika tidak terbayang dengan hal tersebut, kita tidak disarankan menjadi investor.

Baca juga: Inilah Tips Investasi Tanah untuk Milenial dan Pemula

2. Pastikan Tujuan

Sebelum berinvestasi, seorang investor sebaiknya sudah memiliki tujuan jangka panjang maupun jangka pendek dalam berinvestasi. Salah satu prinsip utama dalam berinvestasi adalah jangan pernah berinvestasi tanpa tujuan.

Pertanyaan sederhana seperti apa yang saya inginkan ketika berinvestasi menjadi sangat penting untuk digali. Mengingat dalam investasi, prinsip high return high risk (untung tinggi risiko juga tinggi) akan sangat terasa.

Jawaban dari pertanyaan tersebut kemudian dikerucutkan dalam mengambil keputusan berinvestasi. Selain itu juga akan mampu memetakan jenis instrumen investasi apa yang sekiranya cocok. Hal itu bisa menjadi dasar seseorang dalam menentukan tujuan investasi.

Baca juga: Harga Rumah Kian Mahal, Ini Tips Milenial Bisa Punya Rumah

3. Terbebas dari Hutang

Kewajiban yang harus dipenuhi kedua yaitu aman dari hutang. Maknanya adalah calon investor lebih baik menyelesaikan kewajibannya dengan melunasi hutang terlebih dahulu. Entah itu cicilan kendaraan, elektronik dan gadget, kredit rumah (KPR) maupun hutang lainnya.

Sebab, sebagaimana disinggung di atas, investasi sangat kental dengan slogan high return high risk. Risiko yang tinggi juga menjadi pertimbangan apabila ternyata di kemudian hari mengalami kerugian.

Jika uang investasi didapatkan dari hutang, maka tentu akan semakin terjebak ke dalam hutang. Akhir-akhir ini sering terjadi kasus di mana orang bahkan rela berhutang demi investasi dadakan. Hal itu akan sangat berisiko dan berbahaya bagi keuangan Anda.

Baca juga: Mengenal Reksa Dana: Investasi yang Mulai Digemari Milenial dan Gen Z

4. Siapkan Dana Darurat

Dalam investasi, dikenal juga slogan lainnya, yaitu don’t put your money in one basket. Hal ini juga berarti harus ada dana cadangan dalam berinvestasi, tidak semua uang yang kita miliki diinvestasikan ke dalam satu instrumen saja.

Para investor berpengalaman hampir selalu mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk dana darurat. Dana darurat (emergency fund) merupakan dana yang dipersiapkan untuk kejadian yang tidak diinginkan (misalnya renovasi rumah karena bencana alam, musibah, pemutusan kerja maupun hal tak terduga lainnya).

Dana darurat ini juga berguna sebagai penyangga ketika dibutuhkan. Alokasi dana ini hendaknya tidak bergantung pada pinjaman kartu kredit atau pinjaman dengan bunga yang besar.

Menyimpan dana darurat bisa dalam bentuk deposito, tabungan, emas atau logam mulia maupun hal-hal lain yang pencairannya bisa dilakukan dalam waktu singkat. Pengalokasian dana darurat juga bisa disesuaikan dengan pendapatan bulanan yang siap disisihkan secara rutin.

Baca juga: Ketahui Penyebab Naik dan Turunnya Harga Emas

5. Memiliki Asuransi

Di era yang seolah penuh dengan ketidakpastian, perencanaan keuangan menjadi satu hal yang penting. Asuransi dalam hal ini bisa menjadi alternatif dari langkah mengantisipasi hal itu. Sebelum berinvestasi, memiliki asuransi yang tepat sesuai kebutuhan perlu diperhatikan.

Pemahaman risiko yang kemungkinan terjadi di masa depan menjadi hal yang harus dimiliki seseorang sebelum berinvestasi. Asuransi terbagi dalam beberapa jenis, yaitu asuransi umum dan asuransi jiwa.

Asuransi umum biasanya meliputi asuransi yang melindungi usaha, kendaraan, pendidikan dan harta benda lainnya. Sedangkan asuransi jiwa merupakan asuransi yang diperuntukkan untuk kesehatan dan kematian.

Pahami model asuransi tersebut secara detail serta sesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan kita. Dalam mengambil asuransi, pastikan benar-benar memahaminya secara utuh, tidak sekedar tergiur dengan tawaran menarik dari produk asuransi.

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

6. Konsultasi dengan Ahlinya

Jika masih bingung dan ragu untuk menjadi investor, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi ke perencana keuangan (financial planner), penasihat investasi, perusahaan efek atau manajer investasi yang sudah tersertifikasi oleh OJK.

Seorang perencana keuangan yang profesional biasanya akan memberikan saran mengenai investasi sesuai dengan keadaan finansial calon investor, terlebih bagi investor pemula.

Tidak hanya fokus ke urusan investasinya saja. Namun juga membantu dalam perencanaan dan pengalokasian dana dari calon investor. Yakni terkait keseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaran calon investor setiap bulannya. 

Ni Luh Lovenila Sari Dewi

Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *