WHO: Virus Ebola di Kongo Disinyalir Lebih Berbahaya Ketimbang Covid-19

RUANGNEGERI.com – Di tengah usaha mengatasi pandemi Covid-19, enam kasus virus Ebola ditemukan di Mbandaka, Provinsi Equateur, Kongo. Empat di antara pasien telah tewas, sementara dua orang masih dalam perawatan.

Tiga kasus di antaranya ditemukan melalui tes laboratorium. Dikhawatirkan masih banyak kasus Ebola lainnya yang belum terungkap. Mengingat aktivitas warga Kongo yang meningkat.

Data di atas adalah data pada bulan Juni 2020. Per tanggal 4 Agustus 2020 sendiri telah ditemukan 74 kasus ebola dengan 32 kasus di antaranya menyebabkan kematian. Kasus penularan Ebola ini menambah beban pemerintah Kongo. Selain kasus Covid-19 yang juga sedang merambah negeri tersebut.

Mengingatkan bahwa “Covid-19 bukanlah satu-satunya virus yang mengancam kita.” Seperti dikatakan oleh Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Kasus Ebola kali ini adalah epidemi kesebelas di Kongo sejak 1976. Kongo sendiri adalah tempat di mana kasus Ebola pertama di dunia ditemukan. WHO merespon cepat laporan penularan ini. Mengingat, Ebola adalah salah satu virus paling berbahaya di dunia serta belum ditemukan obatnya.

Langkah yang dilakukan organisasi kesehatan dunia tersebut meliputi penanganan dan pencegahan penularan yang meluas.

“Kami telah berusaha keras dalam dua tahun terakhir,” ujar Direktur Regional WHO untuk Afrika Dr. Matshidiso Moeti. “WHO bekerja sama dengan otoritas kesehatan lokal, pemerintah, dan partner lainnya.”

Sejak epidemi Ebola kesembilan terjadi di Kongo tahun 2018 lalu, WHO telah memiliki tim dan fasilitas untuk mengatasi penularan secara cepat.

Tim tersebut bertugas melakukan tes massal, pelacakan kontak dengan penderita serta merujuk pasien ke institusi kesehatan yang memadai.

Paling tidak telah ada dua puluh lima personel tambahan untuk mengatasi kasus Ebola kali ini. “Kami berusaha bergerak secepat mungkin,” ujar Dr. Moeti. “Memutus rantai penularan dan mencegah penyebaran ke luar wilayah Kongo.”

Perlengkapan dan persediaan obat-obatan tambahan sedang diusahakan dari North Kivu dan Kinsasha. Unit kesehatan tengah dipersiapkan untuk berjaga-jaga jika terjadi kondisi gawat darurat.

BACA JUGA: AS Memutuskan untuk Menarik Diri dari WHO

Kongo, Tempat Ebola Pertama Kali Ditemukan

Kongo merupakan negara pertama di dunia yang melaporkan penyebaran virus Ebola. Tepatnya pada tahun 1976. Sejak saat itu, tercatat telah terjadi sebelas epidemi Ebola di negara Afrika tersebut. Data paling mutakhir adalah 3.195 kasus pada akhir Mei 2020 dengan 72 kematian.

Sebelum di kota Mbandaka, kasus Ebola juga pecah di North Kivu, South Kivu dan Ituri. Tercatat ada 3.463 kasus saat itu dengan 1.171 kematian.

Mbandaka sendiri pernah menjadi lokasi epidemi Ebola kesembilan, pada Mei hingga Juli 2018. Saat itu kasus yang tercatat adalah 54 kasus dengan 33 kematian.

Penyebab berulangnya kasus Ebola hingga berkali-kali diduga karena kondisi lingkungan. Selain faktor kebersihan, ada banyak hewan yang berpotensi sebagai carrier virus berkeliaran bebas. Seperti monyet dan kelelawar.

Selain Kongo, negara yang pernah disinggahi Ebola adalah Sudan, Guyana, Sierra Leone, Nigeria dan Liberia. Ebola juga menyebar hingga ke wilayah Afrika sub Sahara.

Wabah Ebola terbesar terjadi pada tahun 2014-2016. Menyerang hampir seluruh bagian Afrika Barat termasuk Kongo.

 BACA JUGA: Perekonomian Negara Maju Belum Berdaya Mengatasi Dampak Covid-19

Ebola, Virus Mematikan yang Belum Bisa Ditaklukkan

Ebola Virus Disease (EVD) merupakan penyakit berbahaya yang hingga kini belum bisa diobati secara memadai. Penyebabnya adalah virus Ebola yang disebarkan oleh hewan melalui kontak cairan tubuh. Misalnya darah hewan yang terinfeksi.

Penularan ke manusia dapat menyebabkan pendarahan internal hingga kematian. EVD memiliki tingkat kematian yang tinggi, yakni sekitar 50 hingga 90%.

Tingkat kematian tinggi ini juga diakibatkan oleh belum adanya obat yang benar-benar bisa menyembuhkan Ebola. Meski vaksin telah ditemukan pada akhir 2019 lalu.

Perawatan terhadap penderita hanyalah usaha untuk menguatkan imunitasnya. Dengan memberikan suplemen, cukup cairan serta mengurangi rasa sakit. Masa inkubasi dimulai 2 hingga 21 hari setelah virus menjangkiti tubuh. Ditandai dengan demam, nyeri otot, sakit tenggorokan, sakit kepala, mual muntah dan diare.

Demam yang terjadi sering di atas 38,5Celcius yang diiringi diare serta napas menjadi berat dan pendek. Dada akan terasa sakit dan kesadaran berkurang.

Secara umum, gejalanya sama dengan demam biasa atau demam berdarah. Namun pada EVD, pada hari kelima hingga ketujuh dapat terjadi pendarahan akibat menurunnya fungsi liver dan ginjal.

Pendarahan yang terjadi bisa bersifat eksternal maupun internal. Pasien akan mengalami kesulitan pembekuan darah parah. Menyebabkan muntah dan batuk darah.

Jika telah melewati gejala pertama, pada hari ke 7 hingga 14 mulai terjadi pemulihan. Namun akibat beratnya gejala Ebola, kematian biasanya terjadi pada hari ke 6 hingga 16.

Penyebab utamanya seringkali karena syok akibat kekurangan darah dan cairan. Pasien yang selamat pun akan merasakan sakit sendi dan otot dalam jangka waktu lama. Orang yang telah sembuh dari Ebola tidak akan menjadi carrier. Namun masih mungkin akan kembali terjangkit.

Ebola terutama disebarkan oleh hewan. Terutama monyet, kelelawar dan babi. Penyebaran melalui darah hewan yang terinfeksi, liur atau cairan tubuh lainnya. Baik melalui gigitan atau cipratan darah.

Pada penyebaran dari manusia ke manusia, dapat melalui cairan tubuh termasuk sperma. Pria yang terjangkit Ebola dapat menularkan penyakit ini melalui spermanya selama dua bulan. Cara lain penularannya adalah melalui alat suntik yang tidak steril, liur dan menyentuh permukaan benda yang telah terkontaminasi.

Untuk menghindari Ebola, langkah utama adalah tidak bepergian ke tempat dimana virus tersebut sedang berjangkit. Menjaga kebersihan terutama tangan adalah sesuatu yang mutlak.

Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap hewan yang berpotensi menjadi penular penyakit ini. Sulitnya, seringkali penularan terjadi di alam liar. Sehingga ada banyak tantangan untuk melakukan pemeriksaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *