Turki dan Yunani Bersitegang di Laut Mediterania, Inilah Kekuatan Militer dan Dinamikanya

RUANGNEGERI.com – Setelah beberapa kali terlibat bentrokan di laut, hubungan antara Turki dan Yunani kian panas. Pemimpin dua negara yang juga sama-sama menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO tersebut saling lempar serangan verbal dalam beberapa waktu terakhir.

Hal itu semakin memanas khususnya setelah Turki mengambil alih Gereja Hagia Sophia dan menjadikannya sebagai masjid akhir Juli lalu. Ankara menganggap bahwa keputusan tersebut adalah urusan internal yang tidak boleh diintervensi oleh negara lain.

Melansir dari majalah The Economist edisi 19 September 2020, kapal perang keduanya kini semakin kerap berpatroli di sekitar Mediterania. Pasca bentrokan tanggal 12 Agustus lalu, pasukan Yunani dalam kepercayaan diri dan rasa patriotisme tinggi.

Pasalnya, mereka berhasil merusak kapal penyerang Turki. Seluruh angkatan perang Yunani kini dikabarkan telah bersiap menghadapi bentrokan lebih jauh dengan Turki.

Namun Yunani juga tak kalah hebat. Negara yang beribu kota di Athena tersebut tercatat memiliki kapal selam yang sulit terdeteksi radar Turki. Selain itu juga memiliki kapal perusak dan kapal serang yang dilengkapi rudal Exocet buatan Perancis serta 30 kapal selam dengan kondisi prima.

BACA JUGA: Mesir dan AS Sepakat untuk Mengatasi Kisruh di Libya

Militer Turki Lebih Unggul

Secara matematis, Turki lebih unggul dari Yunani. Dilihat dari jumlah armada perang Angkatan Lautnya yang lebih banyak dan baru.

Krisis ekonomi pada tahun 2010 membuat Yunani harus pasrah memilih membeli korvet baru buatan Inggris alih-alih Perancis. Armadanya juga rata-rata berusia di atas tiga puluh tahun.

Anggaran untuk militer Yunani tahun 2018-2019 lalu hanya berkisar 5 miliar Dollar AS. Nilai itu hanyalah seperempat dari anggaran militer Turki yang mencapai 22 miliar Dollar atau setara dengan Rp 300 triliun.

Meski pada bulan Agustus lalu, Menteri Pertahanan Yunani telah menjanjikan kenaikan anggaran untuk pembelian alutsista.

Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis berniat ingin membeli 18 jet tempur Rafale dari Perancis. Walau jenis jet tersebut tidak terlalu banyak digunakan di dunia. Selain itu juga empat helikopter dan empat kapal perusak untuk memperbaiki armada yang lama.

Sementara Turki memiliki 38 armada kapal selam, 16 kapal pengawal (pergata) dan 10 korvet. Mereka juga memproduksi sendiri armada Angkatan Lautnya. Termasuk kapal untuk mengangkut helikopter.

Kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi performa Angkatan Laut Yunani dalam menghadapi Turki. Terutama dalam mempertahankan pulau-pulau terluar.

Salah satu pulau terluar yang dikhawatirkan Yunani adalah Kastellorizo. Letaknya hanya satu mil dari lepas pantai Turki. Turki sendiri menolak mengklaim pulau tersebut.

Namun, negara yang terletak di antara Benua Asia dan Eropa tersebut menganggapnya terlalu remeh untuk dijadikan alasan konfrontasi meski menganggap Yunani telah melanggar perjanjian demiliterisasi di pulau ini.

Merilis dari indeks The Global Firepower, Turki menduduki peringkat kesebelas dunia untuk kekuatan militer, sementara Yunani di posisi 33.

Di udara pun Turki lebih unggul. Dengan 206 pesawat tempur dan 497 helikopter. Sementara Yunani memiliki  187 pesawat tempur dan 231 helikopter.

Namun para penerbang pesawat tempur Yunani adalah salah satu yang terbaik di dunia. Mereka juga piawai dalam bertahan dan memiliki kepulauan Aegean sebagai basis kapal dan pesawat.

Untuk Angkatan Darat, Turki memiliki 2.622 tank, 8.777 kendaraan lapis baja dan 1.278 artileri. Dilengkapi 1.260 senjata artileri dan 438 proyektor roket. Sementara Yunani memiliki 1.355 tank dan 3.691 kendaraan lapis baja. 547 kendaraan artileri dan 463 senjata artilerinya. Juga 152 proyektor roket.

Hugo Decis dari IISS (International Institute for Strategic Study) yang berkedudukan di London, Inggris berpendapat bahwa sangat mudah bagi Turki jika ingin mengklaim pulau-pulau terluar Yunani.

Selain karena jaraknya, juga karena “meningkatnya kemampuan operasi amfibi Turki”. Hal itu juga bisa dilihat dari pengadaan alutsista baru Turki. Termasuk kapal pengangkut helikopternya.

Yunani sendiri diperingatkan bahwa “konflik sekecil apapun bisa mengarah pada perang sebenarnya”. Sebab, serangan lanjutan tidak hanya dari laut.

Bisa jadi dari perbatasan darat Yunani-Turki, seperti wilayah Sungai Evros. Di wilayah ini pun, Yunani mengalami tantangan berat. Ada banyak ranjau berserakan dan tank mereka tidak dalam kondisi prima.

Jika terjadi eskalasi perang yang lebih besar, maka di atas kertas Yunani jelas akan sangat kewalahan menghadapi Turki.

BACA JUGA: Perang Proksi di Suriah: Rivalitas antara AS dengan Rusia dan Iran

Sejarah Panjang Konflik Turki-Yunani

Yunani dan Turki bukan sekali ini saja terlibat pertikaian. Sejak tahun 1830, keduanya sudah sering bersitegang satu sama lainnya.

Sedikinya terjadi empat kali bentrokan besar yang sudah mereka alami. Dimulai dari perang Yunani-Turki tahun 1897. Lalu Perang Balkan tahun 1912-1913. Perang Dunia I (1914-1918) dan perang Yunani-Turki tahun 1919-1922.

Setelah memasuki periode damai dan persahabatan pada 1930-1940, keduanya kembali bertikai karena berbagai sebab. Antara lain kudeta Siprus, agresi militer Kardak dan Aegean dan konflik zona maritim di Laut Aegea dan Mediterania Timur.

Di tahun 2018-2019, ketegangan sempat muncul karena dugaan serangan dunia maya yang melibatkan Turki.

Serangan tersebut menjadikan pemerintahan dan organisasi di Yunani serta negara-negara Eropa dan Timur Tengah sebagai sasaran. Pola serangan tersebut banyak diindikasi sebagai telah melibatkan teknologi spionase siber. Namun Turki menolak berkomentar atas tuduhan ini.

Memasuki tahun 2020, sumber pertikaian melebar. Tidak hanya pada perebutan wilayah dan masalah serangan siber. Tapi juga masalah imigran Suriah.

Sejak pertengahan Agustus 2020, kedua negara juga bergantian melakukan latihan perang di wilayah laut Kreta dan sebagian wilayah di sekitarnya.

Juga persaingan latihan Angkatan Laut pada tanggal 25 Agustus 2020 di tempat yang sama. Wilayah tersebut termasuk daerah yang diperebutkan keduanya karena potensi minyak dan gas alam.

Pertikaian Turki dan Yunani juga melebar hingga ke ranah agama walaupun sejauh ini tidak melibatkan senjata. Baik Ankara maupun Athena saling melempar kritikan pedas terkait status Hagia Sophia.

Pengubahan Hagia Sophia menjadi masjid pada tanggal 24 Juli 2020 lalu mengundang komentar pedas, khususnya dari Yunani.

Bangunan bersejarah yang dibangun pertama kali pada tahun 360 Masehi ini, awalnya adalah gereja milik Kerajaan Byzantium Kristen Orthodoks. Pada awal tahun 1200, selama sekitar 60 tahun, bangunan itu sempat diambil alih oleh Katolik Roma dalam misi Perang Salib ke-4.

Pada tahun 1453, Sultan Muhammad Fatih dari Kesultanan Ottoman mengambil alih Hagia Sophia dan menjadikannya sebagai masjid.

Setelah Ottoman runtuh, sekuleris Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1935 mengubah Hagia Sophia menjadi museum. Pada akhir Juli 2020 lalu, Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang dikenal ‘Islamis’ menjadikannya sebagai masjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *