Presiden Trump Ingin Pasukan AS Tinggalkan Afghanistan Sebelum Natal

RUANGNEGERI.com – Presiden Donald Trump berencana menarik sisa pasukan militer Amerika Serikat yang berada di Afghanistan dalam waktu singkat. Rencananya dilakukan paling lambat sebelum Natal.

Seluruh pasukan sudah meninggalkan negeri tersebut. Opsi pengurangan pasukan AS telah lama dikemukakan Trump. Setidaknya, sebelum pilpres, pasukan AS yang tersisa tidak lebih dari 5.000 orang.

Hal itu dimumkan langsung oleh Presiden Trump melalui laman Twitter-nya pada tanggal 8 Oktober lalu. Menurutnya, Amerika harus segera “memulangkan para prajurit pemberani itu dari Afghanistan saat Natal.”

Hal senada juga dikemukakan Robert O’Brien, Penasihat Keamanan Nasional AS. Melansir dari Militarytimes.com (07/10/2020), O’Brien mengatakan bahwa AS akan mengurangi jumlah pasukannya di Afganistan hingga 2.500 orang pada musim panas tahun depan.

Belum ada tanggapan lebih jauh dari Departemen Pertahanan AS maupun Pentagon. Semua pertanyaan dijawab oleh otoritas Gedung Putih.

Berdasarkan kesepakatan AS dan Taliban sebelumnya, seluruh pasukan asing harus sudah angkat kaki dari Afghanistan pada Mei 2021. Dengan syarat, Taliban dan pemerintah Afghanistan mau melakukan gencatan senjata.

Pengumuman Trump tersebut nampaknya cukup memusingkan para petinggi militer AS di Pentagon. Sekaligus membuat tenggat waktu yang sudah ditetapkan pada perjanjian Februari lalu menjadi rancu.

Cuitan tersebut hampir berbarengan dengan peringatan 19 tahun masuknya militer AS ke Afghanistan. Tepatnya sejak 11 September 2011 setelah serangan teroris ke gedung WTC.

Sejak awal masuk ke negeri tersebut hingga hari ini, tercatat lebih dari 2.400 serdadu Amerika tewas di Afghanistan. Pentagon sendiri menyatakan mereka juga berkomitmen untuk mengurangi jumlah pasukan di negara tersebut secara bertahap.

BACA JUGA: Militer AS Siapkan Teknologi Drone Terbaru yang Serba Otomatis

Tanggapan Para Pejabat AS

Berbagai reaksi timbul setelah pengumuman tersebut. Partau Demokrat mengritik keputusan Trump dengan menganggap bahwa penarikan pasukan dinilai terlalu prematur.

Trump memang berkali-kali menyerang kebijakan pendahulunya, Barack Obama. Ia menuduh Presiden AS ke-44 tersebut sedang “memberi tahu langsung pada musuh strategi militer AS.”

Di satu sisi, Pentagon malah menganggap tindakan Trump dapat melemahkan posisi AS dalam negosiasi dengan Taliban. Walau sedang dalam proses penarikan pasukan, namun Pentagon tidak setuju dengan pengumuman tanggal pasti sebagaimana yang dilakukan Trump, yakni menjelang Natal tahun ini.

AS bisa saja diminta hengkang tanpa membawa seluruh persenjataan mereka. Atau ditekan untuk menarik pasukan lebih cepat lagi.

Pentagon berargumen bahwa situasi masih “belum mengurangi kekerasan pada masyarakat Afghanistan.” Kunci dari penarikan pasukan AS adalah pihak Taliban mengurangi kekerasan dan ancaman pada rakyat negara tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Trump mengubah rencana kebijakan militer melalui akun Twitter-nya secara tiba-tiba. Kebijakannya sering kali dianggap merepotkan para petinggi militer karena harus membujuknya untuk menyesuaikan pemikiran.

Salah satunya tentang penarikan pasukan di Suriah. Kebijakan militer akhirnya diubah dengan masih menyisakan 1.000 tentara di sana.

Terkait Afghanistan, sebelumnya Trump dan Gedung Putih sudah memberikan pernyataan. Yakni AS tidak akan menarik pasukan berdasarkan ditandatanganinya kesepakatan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan.

Penarikan hanya didasarkan atas kondisi di lapangan. Artinya, berdasarkan berkurangnya serangan Taliban. Bukan atas resolusi atau kesepakatan saja.

Melansir dari APNews.com (09/10/2020), Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Frank McKenzie menyatakan bahwa penarikan pasukan harus “dilakukan secara terencana dan bertanggung jawab.” Bukan dengan “terburu-buru.”

Waktu yang singkat akan membuat AS akan kesulitan “membawa keluar persenjataan yang sensitif dan kritis.” Lebih lanjut, McKenzie meyakinkan bahwa penarikan pasukan dalam jumlah banyak dan waktu singkat akan mengacaukan rencana pengangkutan senjata.

Karena penarikan pasukan bukan hanya memulangkan para tentara. Tapi juga terkait urusan logistik, peralatan, persenjataan, kendaraan tempur dan banyak hal terkait lainnya.

Tentu saja hal tersebut tidak mudah dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu terlalu singkat. AS tidak bisa meninggalkan satu senjata pun. “Kami tidak ingin meninggalkan sesuatu yang dapat digunakan untuk melawan kami di lain waktu,” tegasnya.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sendiri tidak memberi tanggapan atas perubahan tenggat waktu yang tiba-tiba ini. Utusan NATO menganggap bahwa lebih cepat AS meninggalkan Afghanistan, lebih baik.

“Tentu saja berdasarkan perkembangan di lapangan,” ujarnya.

BACA JUGA: 4 Kapal Perang Baru Rusia Sedang Disiapkan untuk Mengantisipasi NATO

Taliban Menyambut Baik Usulan Trump

Perjanjian antara AS dan Taliban di bulan Februari 2020 lalu menetapkan Amerika akan menarik seluruh pasukannya dalam waktu 18 bulan. Hal itu berarti tenggat waktu adalah Mei 2021.

Penarikan akan didasarkan pada komitmen Taliban untuk tidak menambah serangan kepada pemerintah Afghanistan. Keputusan Trump yang memajukan tenggat waktu ke Desember disambut Taliban dengan suka cita.

Mengutip dari laman The Washington Times (08/10/2020), Taliban berjanji untuk “berkomitmen pada isi perjanjian dan menjaga hubungan baik dengan AS dan negara lainnya,” sebagaimana diungkapkan oleh Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahed.

Kelompok itu juga berjanji bahwa wilayahnya tidak akan digunakan lagi untuk basis ISIS maupun kelompok teroris lainnya. Saat ini, Taliban dan utusan pemerintah Afghanistan masih terlibat perundingan di Qatar. Namun perkembangannya dikabarkan masih berjalan alot.

Di luar rancunya tenggat waktu penarikan pasukan, utusan perdamaian AS, Zalmay Khalilzad tetap melanjutkan pertemuan di Pakistan.

Perundingan berlangsung dengan Komandan Pasukan AS di Afghanistan, Austin Miller. Selain itu juga Kepala Staf AD Pakistan, Jenderal Qamar Bajwa.

Miller dan Khalizad mencari bantuan Pakistan untuk menandatangani perjanjian pengurangan kekerasan. Setidaknya sampai perjanjian Qatar menemukan titik terang. Hal itu karena Taliban tetap menyerang pemerintah Afghanistan. Padahal, pertemuan di Qatar masih berlangsung

Melibatkan Pakistan dianggap menjadi hal strategis, sebab Pakistan selama ini banyak membantu dalam menggiring Taliban ke meja perundingan. Perannya cukup penting dalam upaya mencapai perdamaian di Afghanistan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *