Tradisi Unik Suku Sasak di Lombok, ‘Menculik’ Gadis yang Hendak Dinikahi

RUANGNEGERI.com – Telah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia kaya akan tradisi, adat, budaya dan kearifan lokal yang beragam.

Tak hanya beragam, tradisi-tradisi tersebut sering kali memiliki keunikan dan hanya bisa ditemui di daerah setempat.  Misalnya, salah satu tradisi unik yang berasal dari Suku Sasak, di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini.

Suku Sasak memiliki tradisi unik yang secara sederhana dapat kita maknai sebagai ‘kawin culik’ atau ‘kawin lari’. Tradisi ini memiliki beberapa istilah untuk menyebutnya.

Di antaranya adalah memari, merani dan merari yang pada dasarnya berarti ‘menculik’ gadis yang disukai untuk dinikahi.

Menculik disini bukan bermakna melakukan tindak kriminal atau kejahatan terhadap calon mempelai wanita.

Tradisi ini telah dilakukan oleh Suku Sasak selama 15 generasi sebagai bentuk adat dan budaya mereka sebelum menggelar sebuah pernikahan. Sehingga, penyelenggaraannya pun di atur sesuai hukum dan tata cara adat Sasak.

Disebut kawin culik karena pihak laki-laki harus ‘menculik’ gadis idamannya terlebih dahulu jika ingin menikahinya. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab laki-laki yang ingin menikahi gadis pujaannya.

Justru, jika tidak dilakukan sesuai adat dan budaya Sasak, yaitu dengan ‘menculik’, keluarga dari si gadis akan merasa tersinggung. Karena kesannya, anak mereka dianggap sebagai barang.

Laki-laki tidak boleh datang untuk melamar anak gadis orang begitu saja. Dia akan jadi bahan gunjingan karena melanggar aturan adat.

Lamarannya jelas tidak mungkin diterima oleh keluarga si gadis. Mereka akan merasa direndahkan karena diperlakukan dengan berbeda daripada anak gadis lainnya.

Jadi, diculik oleh seorang laki-laki yang menyukainya, terlebih juga disukai oleh sang gadis, merupakan sebuah kebanggaan bagi gadis-gadis Sasak.

Seperti apa tahapan dan prosesi tradisi ‘menculik’ gadis yang disukai ini? Mari kita ulas bersama-sama.

Membuat Janji Dibantu oleh Mak Comblang

Untuk ‘menculik’ seorang gadis pujaan hati, laki-laki Sasak harus terlebih dulu melakukan perjanjian dengan si gadis tanpa diketahui oleh keluarganya. Ini bukanlah perkara yang mudah dilakukan.

Sebab, keluarga besar dari gadis Sasak benar-benar menjaga anak-anak gadisnya dengan ketat. Gadis-gadis Sasak wajib menenun setiap harinya, dan ini pasti diawasi oleh keluarganya.

Maka, jangan heran di Sasak tidak pernah ada yang namanya pacaran. Anak-anak muda Sasak tidak bisa berpacaran secara konvensional. Masyarakat Sasak benar-benar konservatif hingga anak-anaknya harus kreatif untuk melanggar aturan ketat mereka.

Salah satu trik yang biasa digunakan oleh pemuda Sasak untuk menemui gadis yang disukainya adalah dengan berwudhu. Unik sekali bukan?

Jadi, pemuda-pemudi yang hendak saling bertemu akan meminta izin kepada orang tuanya untuk mengambil wudhu dengan ditemani oleh saudara kandungnya.

Perlu kamu ketahui bahwa di Sasak, untuk berwudhu, mereka harus keluar rumah. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh anak-anak muda Sasak untuk mencuri temu.

Nah, jika ingin menikahi gadis yang disukai, mereka juga harus membuat perjanjian terlebih dahulu dengan si gadis. Biasanya, untuk urusan ‘menculik’, perlu bantuan dari seorang mak comblang.

Tugas mak comblang selain membuat janji pertemuan, ia juga harus cerdik memantau rumah si gadis sembari memberikan kode unik kepada si gadis untuk membuat janji penculikan tanpa boleh diketahui oleh keluarganya.

Mak comblang ini sebagaimana seorang koordinator lapangan. Ia bertugas memata-matai si gadis untuk kemudian dilaporkan kepada pemuda yang hendak menculiknya.

Misalnya, si mak comblang akan melaporkan siapa saja laki-laki yang sering bertamu ke rumah si gadis, siapa saja laki-laki yang sedang berusaha mendekati si gadis dan hal-hal semacam itu.

Suku Sasak di Desa Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat memiliki tempat unik yang menjadi langganan pertemuan antara laki-laki dengan gadis yang disukainya.

Tempat itu menjadi titik meeting point sekaligus starting point kawin lari dilakukan, sesuai perjanjian jika sang gadis bersedia diculik.

Nama tempat itu adalah pohon cinta atau gang cinta. Melansir dari DetikTravel (13 Mei 2019), dinamakan demikian karena letaknya berada di gang sepi, jarang orang lewat, sehingga cocok untuk menjadi tempat perjanjian pertemuan.

Tapi sebenarnya pohon apa itu? Pohon cinta yang dimaksud sebenarnya merupakan pohon nangka yang telah mati, tetapi masih berdiri. Ia menjadi langganan tempat untuk berpacaran diam-diam.

Tentu, berpacaran dalam artian saling bertemu sebentar, itu pun dengan didampingi oleh saudara kandung. Hal itu mungkin seperti pacaran yang kita pahami selama ini, seperti nonton film, pergi makan, jalan-jalan dan lainnya.

Menculik Si Gadis Pujaan Hati

Jika gadis yang telah diajak bertemu dan melakukan kawin lari—yang proses perjanjiannya telah diatur oleh seorang mak comblang tadi—datang ke tempat perjanjian, maka hampir pasti ia setuju diajak kawin lari.

Dengan demikian, tahapan membuat janji temu dengan si gadis pujaan telah berhasil dilakukan, maka proses selanjutnya adalah menculik si gadis selama tiga hari dua malam. Versi lain ada yang menyebut dalam waktu 7 hari.

Si gadis akan dibawa ke rumah keluarga, saudara atau teman pihak laki-laki. Tentu saja, si laki-laki pasti memerlukan bantuan dari orang lain untuk melancarkan aksi ‘penculikannya’.

Biasanya ia akan dibantu oleh saudara, keluarga atau temannya. Peraturannya dalam hal ini adalah satu: keluarga si perempuan tidak boleh sampai tau anaknya akan diculik.

Kemudian, keesokan harinya, salah satu utusan keluarga dari pihak laki-laki akan mengabarkan kepada keluarga perempuan bahwa anaknya telah berhasil diculik, sembari memohon agar keduanya boleh dinikahkan.

Jika ini disetujui, maka kemudian pihak laki-laki beserta keluarganya akan membawa si gadis kembali ke rumahnya sembari melakukan prosesi lamaran yang disebut Sorong Serah.

Apabila keluarga tidak menyetujui adanya perkawinan itu, maka si utusan akan diminta untuk mengembalikan anak gadisnya. Tetapi, biasanya sebelum sampai pada kondisi ini, keluarga sudah tahu siapa saja yang berniat mendekati anak gadisnya.

Mengingat, keluarga gadis Sasak sangat ketat mengawasi anak gadisnya. Jika keluarga tidak berkenan, anak gadisnya itu akan dibawa pergi jauh, bisa ke rumah saudara maupun ke luar kota. Kemudian dijodohkan dengan pemuda lain pilihan keluarganya.

BACA JUGA: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Prosesi Lamaran Sorong Serah  

Nah ini dia tahapan selanjutnya setelah keluarga si gadis memberikan restu pernikahan, yaitu lamaran. Pihak laki-laki dengan disertai rombongan keluarganya lantas mengembalikan perempuan yang mereka culik ke rumahnya dengan mengenakan busana adat pernikahan khas Sasak.

Kemudian juga dengan diiringi oleh musik tradisional Sasak, yaitu Gendang Beleq. Selanjutnya, kedua keluarga akan melakukan prosesi tawar menawar mahar pernikahan.

Uniknya, tawar menawar ini dilakukan dengan menggunakan tali dan karung. Tali sebagai simbol atas sapi atau kerbau. Sedangkan karung adalah simbol atas beras. Jadi, mahar yang diberikan harus dalam dua bentuk itu, kerbau atau sapi dan beras.

Misalnya keluarga laki-laki menawarkan 3 tali dan 5 karung berarti 3 ekor kerbau dan 5 karung beras. Begitu seterusnya. Jika pernikahan yang digelar berbeda kasta, maka maharnya akan semakin besar.

Perlu kamu ketahui, Suku Sasak juga memiliki sistem stratifikasi sosial seperti halnya masyarakat Hindu di Bali. Jika masyarakat Hindu di Bali memiliki tingkatan kasta berupa Sudra, Waisya, Satria dan Brahmana, sedangkan Suku Sasak di Lombok juga memiliki tingkatan kasta berupa Amaq, Bapak, Lalu/Baiq dan Raden/Lala.

Tak Semua ‘Penculikan’ Berjalan Lancar  

Ya, meskipun merupakan tradisi adat, tetapi bukan berarti ini dianggap sekedar formalitas saja. Aturan adat Sasak benar-benar dilaksanakan dan dipercayai oleh semua keluarga Sasak. Sehingga, untuk melangsungkan pernikahan, adat kawin lari ini tidak bisa disetting sedemikian rupa.

Misalnya kedua keluarga telah bersepakat terlebih dahulu baru kemudian pura-pura membuat anaknya diculik oleh laki-laki yang telah disepakati.

Tidak bisa. Semua harus dilakukan berdasarkan aturan adat. Siapa pun yang melanggar bisa dikenai denda. Oleh sebab itu, meski kisah culik-menculik ini terdengar cukup heroik dan romantis, ternyata tak semuanya berhasil direstui.

Mengutip dari Jawapos.com (07/11/2017) ada kisah seorang pemuda yang diketahui tidak berhasil menculik gadis pujaan hatinya. Pemuda itu bernama Wire Darje yang berusia 25 tahun.

Pengalaman gagalnya menculik gadis yang disukainya tak pernah terlupakan dari ingatannya. Ia pernah dicakar dan dijambak oleh mantan calon mertuanya karena berusaha melarikan anak gadisnya yang belum juga lulus SD. Ia juga kena denda satu juta rupiah karena aksi gagalnya itu.

Dari kisah ini kita bisa memetik hikmah, bahwa setidaknya sebelum merealisasikan niat untuk menikahi anak gadis orang, sebaiknya sesuaikan dulu dengan usia masing-masing.

Selain itu juga pastikan telah memiliki bekal untuk menikah dan mendapat dukungan keluarga sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *