Harga Rumah Kian Mahal, Ini Tips Milenial Bisa Punya Rumah

RUANGNEGERI.com – Tantangan memiliki rumah pribadi bagi generasi milenial kini semakin berat, terlebih bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Harga rumah yang cenderung terus meningkat setiap tahunnya menjadi tantangan tersendiri.

Bagi banyak orang, khususnya milenial dan pasangan muda, membeli rumah adalah perjuangan besar dan butuh kesabaran. Namun jika berhasil, jerih payah untuk membeli rumah ini niscaya akan bisa dirasakan di masa mendatang bersama keluarga.

Kategori generasi milenial adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995. Hingga akhir tahun 2020, dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta orang, diperkirakan sebanyak 60 persennya adalah para milenial.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sebagaimana melansir Detik Finance (19/06/2019), menyebutkan bahwa diperkirakan sekitar 81 juta generasi milenial di Indonesia belum memiliki rumah pribadi.

Baca juga: Inilah Tips Investasi Tanah untuk Milenial dan Pemula

Tidak bisa dipungkiri bahwa harga rumah semakin mahal dari tahun ke tahun. Sementara, banyak generasi milenial yang masih berpenghasilan minim untuk menutupi biaya harian keluarga yang juga cenderung terus meningkat. Belum lagi jika ditambah dengan gaya hidup yang kurang bisa berhemat.

Memiliki hunian layak merupakan kebutuhan primer bagi mereka yang sudah berkeluarga. Dengan memiliki rumah sendiri, rasa ketenangan keluarga akan lebih terasa. Rumah juga bisa memberi arti sebagai tempat berlindung dan melepas penat dari sibuknya rutinitas sehari-hari.

Singkatnya, memiliki rumah dapat memberikan banyak arti khususnya bagi mereka yang sudah berkeluarga. Namun, tidak sedikit dari keluarga saat ini yang memiliki rumah bukanlah perkara yang mudah.

Perlu keseriusan dan persiapan yang matang. Besaran gaji atau penghasilan bulanan sering kali tidak menjamin seseorang bisa dengan mudah memiliki rumah. Hal yang lebih penting adalah bagaimana cara mengatur keuangannya dengan baik.

Baca juga: Sektor Strategis yang Dinilai Cepat Bangkit Pasca New Normal

Tentukan Lokasi Rumah

Langkah awal yang harus dipikirkan jika ingin membeli rumah adalah menentukan lokasi rumah sesuai kebutuhan dan kemampuanmu. Turunkan terlebih dulu ekspektasi, keinginan dan semua unsur estetika yang mungkin justru malah membebani.

Lokasinya juga tidak selalu harus berada di posisi strategis atau di perkotaan. Terutama jika ini adalah rumah pertama yang akan dibeli. Lokasi agak jauh dari pusat perkotaan biasanya banyak yang lebih murah bila dibandingkan dengan di pusat kota.

Memiliki rumah juga nantinya bisa menjadi aset yang menghasilkan di kemudian hari. Entah itu disewakan atau dijual lagi, yang penting nilai rumahnya akan terus bertambah.

Baca juga: Ketahui Penyebab Naik dan Turunnya Harga Emas

Jadi tidak perlu muluk-muluk dalam membeli rumah, namun tetap perlu mempertimbangkan agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisimu.

Jika berencana membeli rumah untuk yang pertama dan terakhir kalinya, maka pertimbangan lokasi bisa jadi menjadi yang paling utama. Cari lingkungan yang akan mendukung kegiatan sehari-harimu.

Namun, jika masih rumah pertama, lebih disarankan agar menurunkan keidealisanmu dalam memilih rumah. Karena seiring berjalannya waktu, kamu bisa sambil merenovasi rumah yang sesuai dengan keinginanmu itu. Perkembangan daerah atau di pinggiran kota saat ini juga relatif cepat, tidak selalu harus di pusat kota.

Baca juga: Memahami Skema Ponzi yang Sempat Menipu Pengusaha Warren Buffet

Cek Harga dan Status Kepemilikan Rumah

Setelah menentukan lokasi yang diinginkan, kamu bisa mulai survei harga. Mencari rata-rata kisaran harga rumah di lokasi tersebut. Informasi ini bisa didapatkan melalui internet maupun orang-orang yang sudah lama menetap di situ.

Walaupun ada banyak layanan cicilan uang muka atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah), kamu perlu ingat bahwa harga angsuran itu semua akan jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan membayar kontan. Bahkan biasanya harga kredit bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat dari harga tunai.

Tanyakan pada dirimu sendiri maupun keluarga. Apakah sudah siap untuk mengambil cicilan rumah dalam waktu 10 hingga 25 tahun ke depan?

Rentang waktu tersebut tidaklah singkat. Pertimbangkan matang-matang untuk ke depannya, kebutuhan sekolah anak, dan lain-lain yang sangat mungkin tidak terduga.

Baca juga: Mungkinkah Bekerja dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

Bila memang mau ambil rumah secara kredit, pastikan besar cicilannya di bawah 30 persen dari penghasilan agar biaya kebutuhan lain tidak ikut terganggu. Bila perlu, catat juga rincian pemasukan dan pengeluaran bulananmu. Semua itu agar bisa lebih tahu ke mana arah pemakaian dari penghasilanmu.

Skema angsuran juga harus diperhatikan. Sebab, banyak yang di kemudian hari mengalami kredit macet atau tidak bisa melanjutkan angsuran. Jika kredit macet, uang cicilan sebelumnya pada umumnya akan hangus dan rumah bisa ikut disita.

Ada juga skema pembayaran syariah yang tidak pakai sistem sita, namun tetap perlu hari-hati. Pahami betul skema pembayaran serta kemungkinan-kemungkinan risiko di masa yang akan datang.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah terkait uang muka atau DP. Hati-hati pula dengan penipuan DP rumah siap bangun yang masih kerap terjadi. Sudah bayar DP rumah puluhan juta, namun tidak jelas kelanjutannya.

Selain itu, cek juga status rumah tersebut. Masih banyak rumah yang statusnya belum hak milik (SHM). Poin ini juga penting karena menyangkut hak kepemilikan rumah ke depannya. Semua itu perlu diperhatikan secara matang.

Baca juga: Potret Karier Para Wanita AS di Tengah Covid-19

Niatkan Menabung untuk Beli Rumah

Apabila mengambil cicilan rumah langsung (KPR), kamu bisa mendapatkan rumah langsung, namun harus membayar angsuran setiap bulannya. Jika keberatan dengan skema angsuran, caranya adalah dengan menabung.

Pisahkan sekitar 30 persen dari penghasilan bulananmu secara rutin untuk ditabung. Jika mau ditabung secara mandiri, itu boleh-boleh saja. Menabung uang dalam bentuk reksadana bisa juga menjadi pilihan.

Saya pribadi lebih menyarankan untuk diinvestasikan ke dalam emas logam mulia yang relatif aman. Asumsikan setiap bulan bisa menyisihkan untuk menabung emas 2 gram (atau sekitar Rp1,8 juta sebulan), maka selama 10 tahun sudah terkumpul 240 gram emas.

Jika harga emas Rp950 ribu per gram, maka totalnya sudah lebih dari Rp200 juta selama 10 tahun. Dengan dana cash tersebut, sudah cukup untuk membeli rumah layak huni. Meski di beberapa tempat, mungkin masih harus mencari yang lokasinya agak jauh dari pusat kota.

Bandingkan dengan skema KPR dalam durasi dan angsuran bulanan yang hampir sama. Hasil akhirnya akan lebih menguntungkan jika bersabar di awal. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, durasi KPR umumnya berkisar antara 10 hingga 25 tahun.

Intinya, jika tidak ingin kredit, kamu harus menunda dulu untuk mempunyai rumah. Alokasikan uang cicilannya ke dalam bentuk investasi secara rutin. Bahkan kalau perlu, kamu mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi tabungan rumahmu di masa mendatang.

Firdhausy Amelia

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *