Tersangka Genosida Rwanda Tertangkap di Perancis

RUANGNEGERI.com – Puluhan tahun dalam pencarian, seorang pengusaha yang diduga mendanai milisi genosida Rwanda, Afrika Timur, ditangkap oleh polisi Prancis pada Sabtu (16/05). Félicien Kabuga ditangkap di apartemennya, Asniéres-sur-Seine, di pinggiran kota Paris pada pukul 05.30 pagi waktu setempat.

Hidup dengan identitas palsu dan adanya keterlibatan anak-anaknya, membantu persembunyian Kabuga yang lebih dari 20 tahun itu. Diyakini juga bila sebelumnya ia sempat menghabiskan waktu di Jerman, Belgia, Republik Demokratik Kongo, Kenya dan Swiss.

Dilansir dari laman Aljazeera (17/5), Lewis Mudge, Direktur Afrika Tengah Human Rights Watch, mengatakan akan ada pertanyaan yang diajukan tentang bagaimana Kabuga bisa menghindari penangkapan begitu lama.

“Harus ada penyelidikan absolut tentang bagaimana dia bisa mendapatkan identitas lain ini dan bagaimana dia bisa menghindari keadilan selama 26 tahun yang panjang,” kata Mudge.

Penangkapan Kabuga adalah hasil dari penyelidikan bersama dengan lembaga penegak hukum lain yaitu, Amerika Serikat, Rwanda, Belgia, Inggris, Jerman, dan Belanda.

Penangkapannya dipimpin oleh Mekanisme Residual Internasional PBB untuk Pengadilan Kriminal dan pasukan polisi Prancis.

Kabuga akan diadili di mekanisme AS di The Hauge, sebuah kota di Belanda. “Penangkapan Kabuga hari ini adalah pengingat bagi semua bahwa mereka yang bertanggung jawab atas genosida dapat dibawa ke pengadilan, meskipun telah lewat 26 tahun setelah kejahatan mereka terjadi” kata Kepala Jaksa Mekanisme, Serge Brammertz, dikutip dari Fox News (17/05).

Para pejabat di Rwanda memuji penangkapan itu. “Setelah bertahun-tahun, penjagaan lama di pemerintah Prancis yang seharusnya bisa melindungi Kabuga, justru kini telah meninggalkan kekuasaan itu. Dan mendapati generasi muda yang tidak tertarik melindungi buronan menua di bawah pemerintahan baru” kata Gonza Muganwa, seorang analis politik Rwanda.

Gonza meyakini bila selama ini Kabuga jelas dilindungi, dan beberapa orang kuat tahu tempat persembunyiannya. “Mereka menjualnya” kata Gonza.

Dituduh Mendanai Pembantai 800,000 Nyawa

Félicien Kabuga, pria berusia 84 tahun itu bersembuyi selama 23 tahun setelah Pengadilan Kriminal Internasional Rwanda menuduhnya atas tuduhan genosida dan hasutan untuk melakukan genosida. Kabuga diduga sebagai penyandang dana utama dari ekstremis etnis Hutu yang membantai 800.000 orang pada tahun 1994.

Penangkapan itu akan membawa Kabuga ke Pengadilan Banding Paris sebelum pihak berwenang menyerahkannya ke pengadilan.

Jaksa Rwanda mengatakan dokumen keuangan yang ditemukan di ibukota, Kigali, setelah genosida mengindikasikan bahwa Kabuga menggunakan perusahaannya untuk mengimpor parang dalam jumlah besar yang digunakan untuk membantai orang.

Pengusaha kaya itu juga dituduh mendirikan stasiun Radio Televisi Mille Collines yang menyiarkan propaganda kejam terhadap etnis Tutsi, serta melatih dan memperlengkapi milisi Interahamwe, sebuah organisasi paramiliter Hutu, yang memimpin pembunuhan besar-besaran.

Hubungan antara kedua kelompok, Hutu dan Tutsi telah tegang selama beberapa waktu setelah Hutu menggulingkan monarki Tutsi pada tahun 1959. Sebagai akibat dari perubahan rezim, ribuan Tutsi terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di negara-negara tetangga.

Ketegangan antara kedua kelompok mencapai puncaknya pada tahun 1990 ketika Front Patriotik Rwanda (RPF), kelompok pemberontak pengungsi Tutsi, menyerbu utara Rwanada, memicu dimulainya perang saudara.

Perang berlanjut hingga 1993 ketika pemerintah Rwanda, yang dipimpin oleh Presiden Juvenal Habyarimana, teman dekat Felicien Kabuga, menandatangani perjanjian damai dengan RPF pada 4 Agustus.

Namun pembunuhan Habyarimana pada 6 April 1994, mengakhiri pembicaraan damai. Sebuah pesawat yang membawa pemimpin itu ditembak jatuh di atas ibukota, Kigali, menewaskan semua orang di dalamnya.

Keesokan harinya, genosida Tutsi dan militer Hutu moderat dan politik dimulai, dilaksanakan oleh tentara, polisi dan milisi.

Selain itu, tetangga akan membunuh tetangga mereka dan beberapa pria bahkan membunuh istri orang Tutsi mereka.

Kartu identitas yang merinci kelompok etnis orang diperiksa di penghalang jalan milisi dan Tutsi terbunuh, seringkali dengan parang dan senapan.

Seperti halnya pembunuhan massal, ribuan wanita ditahan sebagai budak seks dan sekitar 250.000 wanita diperkosa selama genosida. Tidak ada negara yang ikut campur dalam pembantaian setan, meskipun PBB dan Belgia memiliki pasukan di negara itu.

Kekerasan berakhir ketika RPF, yang didukung oleh tentara Uganda, mengambil lebih banyak wilayah dan akhirnya mengambil alih ibukota, Kigali. Jutaan orang Hutu melarikan diri ke Republik Demokratik Kongo untuk menghindari jatuhnya korban serangan balas dendam.

Agen keamanan AS pada tahun 2003 gagal menangkap Kabuga, yang kepalanya dihargai USD 5 juta atau setara Rp 74.3 miliar, selama upaya untuk memikatnya ke rumah seorang pengusaha Kenya yang menawarkan bantuan kepada penyelidik.

Phil Clark, seorang profesor di SOAS University of London, mengatakan penangkapan itu penting karena Kabuga memainkan peran penting dalam pembunuhan massal. “Genosida itu tidak mungkin terjadi tanpa Kabuga, dia pada dasarnya membiayai seluruh genosida,” kata Clark kepada Al Jazeera.

“Dia pada dasarnya memproduksi, menciptakan dan mendanai milisi yang melakukan banyak pembantaian terbesar selama genosida. Dia juga membiayai stasiun radio ‘benci’ utama yang menghasut banyak pembantaian utama, dan dia juga memungkinkan impor sekitar 500.000 parang, tanpanya pembunuhan tidak mungkin terjadi. Tanpa Kabuga, genosida itu tidak mungkin terjadi” tambahnya.

Dua tersangka genosida Rwanda lainnya, Augustin Bizimana dan Protais Mpiranya, masih dikejar oleh pengadilan internasional.

Pada awal April lalu, baru saja Rwanda memperingati tindakan genosida di negaranya. Paul Kagame, Presiden Rwanda, mengatakan dalam rekaman pidatonya yang dilakukan oleh lembaga penyiaran dan dikelola oleh negara, bahwa Rwanda harus tetap mengingat genosida meskipun wabah koronavirus.

Tahun ini, Rwanda memulai peringatan selama seminggu dengan keluarga di bawah penguncian wilayah. Stasiun radio dan saluran televisi menyiarkan program dan lagu untuk mengingat para korban.

“Peringatan tahun ini sangat menantang bagi para penyintas dan keluarga dan bagi negara, karena kita tidak dapat bersama-sama secara fisik untuk saling menghibur. Itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan” kata Kagame, dikutip dari laman berita Reuters.

Dia meletakkan karangan bunga dan menyalakan Api Harapan di situs peringatan Gisozi, tempat lebih dari seperempat juta orang dimakamkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *