Bagaimana Teknologi Digital Mengubah Perilaku Manusia Pasca Covid-19?

RUANGNEGERI.com – Pandemi Covid-19 menjadi momentum perubahan serta transformasi teknologi dalam banyak aspek rutinitas kehidupan manusia. Mulai dari pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perdagangan, transportasi, hiburan hingga cara memenuhi kebutuhan sehari-hari pun banyak mengalami perubahan dengan kehadiran teknologi.

Masa pandemi menjadi lompatan besar dunia, di mana kehidupan manusia kini sangat bergantung pada teknologi. Lantas, bagaimana kira-kira kelanjutannya?

Apakah semasa pandemi sudah bisa diatasi dengan baik? Bagaimana peran teknologi mengubah rutinitas kehidupan manusia di masa depan?

Sederet pertanyaan tersebut sangat logis ditanyakan banyak orang. Walau saat ini, mungkin hanya beberapa orang yang cukup bisa memahami secara akurat terkait bagaimana transformasi teknologi dalam kurun waktu dua atau tiga dekade ke depan.

Baca juga: Teknologi Virtual Reality Bisa Mengukur Stress Seseorang

Sadar maupun tidak, di era yang serba digital ini, perubahan demi perubahan terasa begitu cepat. Masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun, mungkin terasa seperti baru sebulan kemarin.

Selama masa pandemi, perubahan perilaku juga banyak terjadi di masyarakat. Pola interaksi, komunikasi, transaksi dan hubungan antar sesama manusia kini telah banyak bertransformasi ke dalam genggaman tangan, smart phone.

Baca juga: Saat AI Robot Bisa ‘Mengawasi dan Mendorong’ Kinerja Pegawai Kantor

Transformasi Digital dalam Bisnis Perusahaan 

Semenjak dilakukan kebijakan lockdown maupun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) banyak dilakukan di mana-mana, roda perputaran ekonomi banyak yang berhenti seketika.

Beberapa perusahaan yang sudah siap dengan infrastruktur teknologi digital (high-tech), mungkin justru semakin berkembang di era pandemi. Bahkan sudah mempersiapkannya dalam satu dekade terakhir.

Namun mayoritas tentu saja masih belum mempersiapkannya dengan baik. Terlepas dari siap atau tidaknya, solusi untuk bisa tetap menjalankan fungsi kerja perusahaan adalah dengan melakukan transformasi perubahan secara digital.

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Swiss, pertengahan Oktober 2020 lalu telah memprediksi bahwa untuk ke depannya.

Yakni walaupun pandemi sudah berakhir, perusahaan yang tidak melakukan transisi ke sistem kerja digital akan gagal dan tidak bisa bersaing lagi.

Baca juga: Reinforcement Learning dari Tangan Robot AI Semakin Mirip Manusia

Perusahaan yang bangkrut dan lenyap dari persaingan adalah mereka yang tidak bisa memenuhi permintaan konsumen selama pandemi terjadi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebab, di era saat ini, transformasi digital tidak hanya terbatas untuk kebutuhan pelanggan saja.

Namun juga terkait dengan kerja jarak jauh (work from home, WFH), di mana hal itu akan bisa mengurangi biaya perusahaan. Selain mengurangi kontak fisik, mekanisme bekerja dari rumah juga akan masif terjadi di banyak perusahaan. 

Jadi jangan kaget jika ke depannya bekerja online akan menjadi hal yang lumrah ke depannya. Dua perusahaan raksasa Amerika Serikat, Facebook dan Twitter, bahkan sudah merancang untuk memberlakukan mekanisme kerja dari rumah “selamanya.”

Meskipun Covid-19 nanti sudah berakhir, teknologi akan semakin menjadi bagian yang sangat penting dalam membantu manusia menjalankan roda dan fungsi kerja perusahaan di masa depan.

Baca juga: Hybrid Learning, Solusi Metode Pembelajaran di Masa Depan?

Transformasi Digital dalam Perniagaan (E-Commerce)

Selain dua perusahaan sosial media di atas, perusahaan start-up dan fintech (keuangan) juga sudah banyak yang beralih ke skema digital. Berbagai jenis bisnis ritel sudah beralih ke digital sejak pandemi terjadi. Perubahan ini sudah tidak bisa ditawar lagi jika siklus bisnis tetap ingin berjalan.

Di satu sisi, Covid-19 ini telah mengakibatkan berbagai jenis bisnis merasakan dampak kerugian, penurunan omset dan bahkan tidak sedikit yang akhirnya tutup. Restoran sepi pengunjung, tempat gym kosong dan toko-toko banyak yang tidak laku barang dagangannya.

Kondisi yang demikian juga diperparah oleh turunnya daya beli masyarakat yang juga menurun. Masyarakat sudah lebih berhati-hati dalam menggunakan uang dan mengesampingkan keinginan di luar kebutuhan utamanya.

Situasi seperti ini bisa diatasi dengan melakukan transformasi digital. Banyak jenis bisnis yang sudah mengalihkan tokonya menjadi toko digital. Di masa pandemi, perusahaan berbasis online justru banyak yang memperoleh laba sangat signifikan.

Sebut saja Amazon dan Walmart. Hingga akhir Desember lalu, dua perusahaan ritel asal AS tersebut memperoleh tambahan laba sebesar US$10,7 miliar, atau naik sebesar 56 persen dalam waktu setahun selama masa pandemi.

Baca juga: Mimpi Besar Elon Musk: Inovasi Teknologi Tesla Bisa Mengubah Dunia

Jika dinilai dengan kurs Rupiah, maka peningkatan laba kedua perusahaan tersebut setara dengan Rp150 triliun hanya dalam waktu 1 tahun. Atau sekitar Rp12,5 triliun keuntungan setiap bulannya.

Bagi pemilik usaha, pemasaran bisnis menjadi lebih luas dan bagi pembeli berbelanja secara online lebih cepat dan banyak pilihannya. Inilah yang menjadi kelebihan dari transformasi digital dalam dunia bisnis. Bisnis secara online banyak diprediksi akan tetap lebih menguntungkan ke depannya.

Faktor pendukung juga datang dari konsumen. Sebagian besar masyarakat kini sudah nyaman dengan kemudahan dari belanja online menggunakan uang elektronik (e-money).

Di saat pandemi sudah berakhir, masyarakat akan cenderung banyak yang memilih berbelanja pada toko-toko yang sudah dapat diakses secara melalui gawai. Selain karena harganya lebih jelas dan bisa melihat katalognya dulu, proses pembayarannya pun lebih mudah.

Meskipun demikian, transformasi ke arah digitalisasi ini tetap membutuhkan waktu yang tidak singkat. Baik perniagaan secara offline maupun online tetap harus bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan kecenderungan konsumen.

Baca juga: Microsoft Akan Mengganti Jurnalisnya dengan AI

Transformasi Digital dalam Pemerintahan

Selain dalam urusan perusahaan dan perniagaan, kegiatan pemerintahan pun ke depannya akan semakin banyak didukung oleh teknologi digital. Khususnya bidang-bidang yang terkait dengan urusan administratif maupun pengolahan data.

Dengan adanya teknologi, data maupun variabel kependudukan yang begitu banyak dan kompleks jadi lebih mudah dan akurat untuk dikelola.

Tidak hanya itu saja, teknologi digital juga sangat bermanfaat dalam hal perlindungan manusia. Teknologi keamanan siber atau cyber security kini menjadi kebutuhan utama bagi pemerintah negara mana pun.

Tiongkok misalnya, pada pertengahan tahun 2020 lalu, pemerintah setempat mengusulkan adanya penggunaan aplikasi kesehatan untuk mengecek gaya hidup warganya untuk mencegah penularan Covid-19.

Di dunia militer, AS juga telah mengembangkan drone tempur otomatis tanpa dikendalikan oleh manusia. Terlepas dari berbagai kontroversi, perkembangan teknologi digital pastinya tidak akan berhenti sampai di situ saja.

Penyempurnaan demi penyempurnaan akan terus dikembangkan hingga dapat menyamai atau bahkan ‘melebihi’ kemampuan manusia.

Dalam beberapa tahun ke depan, ketika pandemi Covid-19 sudah usai, teknologi akan terus digunakan oleh pemerintah seluruh dunia untuk berbagai keperluan. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian bagi banyak orang, teknologi mungkin bisa dianggap sebagai ‘pemenang.’

Oktaviana

Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, berpengalaman di bidang penulisan dan penelitian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *