Yuk, Ketahui Tahapan Initiative dan Guilt pada Anak Usia 3-5 Tahun

RUANGNEGERI.com – Setiap orang tua tentu mengharapkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang unggul serta berkarakter baik. Sayangnya, keinginan tersebut membutuhkan upaya ekstra selama masa pengasuhan dan pendidikan.

Anak cerdas tak terlahir begitu saja, namun melewati pola asuh dan pengajaran yang tepat. Orang tua mau tak mau harus memperhatikan setiap informasi dan perilaku yang ditunjukkan ke hadapan anak.

Nur Hayati (2011) dalam artikel berjudul Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini, menyebutkan bahwa pada masa golden age atau usia emas, anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka dan sensitif. Mereka peka terhadap rangsangan yang diberikan seiring berkembangnya fungsi psikis maupun fisik.

Sensitivitas setiap anak akan berbeda-beda, tergantung pada laju pertumbuhan serta perkembangannya. Di usia emas pula anak mulai mengembangkan berbagai kecerdasan, termasuk psikososial dan kebahasaan.

Demi optimalisasi bakat anak, orang tua wajib memahami tahap tumbuh kembang mereka. Dalam ranah psikologi, tahap perkembangan anak dibagi ke dalam 5 aspek, yakni bahasa, sosial emosional, kognitif atau intelektual, penanaman nilai dan moral serta fisik atau motorik.

Salah satu aspek yang paling penting adalah sosial emosional yang di dalamnya terdapat tahapan initiative dan guilt.

BACA JUGA: Ajari Anak Mengenal Simpati dan Empati dengan 7 Cara Ini

Initiative dan Guilt pada Tumbuh Kembang Anak

Erikson dalam Ardelia (2017) menjelaskan aspek sosial emosional terbagi atas 8 tahapan sepanjang hidup manusia. Initiative dan guilt atau rasa inisiatif dan bersalah dimulai pada usia 3 – 5 tahun.

Usia ini ditandai dengan lepasnya kemelekatan anak dari orang tua, terutama ibu. Anak mulai mengenal teman sebaya, lingkungan maupun guru. Tantangan-tantangan baru bermunculan, sehingga anak dituntut untuk aktif dan mempunyai tujuan.

Secara tidak langsung, anak harus membiasakan diri untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun sekitar.

Ketika orang tua memutuskan memberi hewan peliharaan, mereka belajar merawat hewan untuk tetap hidup. Tahapan initiative dan guilt sendiri merupakan keberlanjutan dari autonomy vs shame and doubt (otonomi vs malu-malu dan ragu).

Jika pada usia 1 hingga 3 tahun, anak mulai mengenal otoritas atau kepemilikan atas tubuhnya, inisiatif dan rasa bersalah justru muncul setelahnya.

BACA JUGA: Ingin Selalu Bergerak, Inilah Ciri Gaya Belajar Kinestetik Si Kecil

Beberapa sumber mengenalinya sebagai usia pra sekolah atau pendidikan usia dini, dimana anak mulai menunjukkan inisiatif. Mereka memiliki dorongan untuk melakukan suatu hal dalam koridor pengawasan orang tua.

Perkembangan inisiatif anak sangat bergantung pada perlakuan orang tua. Sejauh mana orang tua melakukan pengawasan dan mendorong anak untuk terus bertumbuh. Sebenarnya tahapan ini ibarat dua sisi mata uang.

Di satu sisi, rasa bersalah akan terus muncul akibat sikap orang tua yang selalu menyalahkan inisiatif sang anak. Akibatnya, anak mulai mempertanyakan inisiatif yang ditunjukkan dan tumbuh menjadi pribadi tidak percaya diri dan tidak kompeten.

Namun sisi lainnya, inisiatif tanpa batas justru berujung pada ketidakpedulian dan ketidakpekaan anak atas lingkungan sekitar. Mereka tak bisa memahami batasan-batasan yang telah ditentukan oleh orang tua.

Alhasil, anak mungkin tumbuh menjadi pribadi pemberontak dan sulit untuk diatur. Untuk itu, penting bagi orang tua memahami dan mendampingi anak selama membentuk aspek sosial emosional.

Mengembangkan kemandirian pada anak berhubungan langsung dengan tahapan initiative dan guilt. Van der Voort dalam Ervin Nurul Affrida (2018) menyatakan bahwa secure attachment mempengaruhi rasa percaya diri pada anak.

Mereka yang berada di kondisi ini cenderung siap menghadapi perubahan situasi sosial. Sementara anak-anak yang mengalami sebaliknya atau insecure attachment tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan tidak kompeten.

Kedua kondisi tersebut berhubungan langsung dengan kehidupan sosial sang anak nantinya. Bila dilihat dari sisi akademik, rasa aman dan nyaman rupanya memberi efek luar biasa.

Anak yang merasa tidak aman bakal merasa sulit meraih keberhasilan. Tak jarang mereka tumbuh menjadi pribadi tertutup dan cenderung anti sosial.

Beberapa anak terlihat sulit bergaul dan membaur dengan teman-teman maupun lingkungan sekitarnya.

BACA JUGA: Di Era Digital Ini, Ketahui Screen Time Paling Tepat untuk Anak-anak

Peran Orang Tua untuk Mengembangkan Inisiatif Anak

Mengingat perkembangan sosial emosional anak sangat bergantung pada pengasuhan orangtua, peran orangtua tentu sangat mendukung, terutama pada tahapan initiative dan guilt.

Munandar sebagaimana dikutip oleh Nur Hayati (2011) menyebutkan adanya hubungan antara potensi anak dengan peran lingkungan dan orang tua.

Setidaknya, ada beberapa upaya orang tua yang dinilai efektif mendorong tumbuh kembang anak, yakni:

1. Sikap Orang Tua yang Mendukung Perkembangan Anak

Tanpa disadari, sikap orang tua berdampak besar bagi perkembangan anak. Misalnya saja, cara orang tua mengucapkan pujian atas keberhasilan dan kemandirian anak.

Semakin terbuka sikap yang ditunjukkan orang tua pada anak, makin tinggi pula rasa percaya diri anak. Mereka akan merasa dihargai dan yakin dengan kemampuan yang dimiliki.

Begitu pula sebaliknya, saat orangtua tak acuh dengan kemajuan anak, mereka cenderung merasa biasa-biasa saja.

Dari poin ini bisa disimpulkan bahwa orang tua wajib mendukung serta mendampingi anak dalam setiap tahap tumbuh kembang. Kehadirannya secara fisik maupun psikis akan menciptakan rasa nyaman dan aman bagi anak.

2. Mengasah Bakat dan Potensi Anak

Tiap anak terlahir dengan bakat dan kecerdasan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka berhasil mengembangkan bakat yang dimiliki, ada pula yang tidak.

Orang tua perlu mengajari anak terkait hal ini, agar mereka mempunyai kepekaan terhadap sesama.

Selain itu, tugas terpenting dari orang tua tentu mengasah dan mengembangkan bakat yang dimiliki sang anak, entah bakat terpendam maupun bakat yang terlihat.

Peran yang bisa ditunjukkan orang tua dalam proses ini adalah menanamkan pada anak pentingnya usaha dan kerja keras. Tak ada hasil memuaskan yang didapat melalui cara instan.

Ajari pula pentingnya tanggung jawab dan legowo ketika menghadapi kegagalan.

3. Faktor Penentu dan Pengaruhnya

Pernahkah orang tua membayangkan dan mempertimbangkan dampak dari perilakunya terhadap anak?

Mereka mungkin seringkali lupa bahwa anak mencontoh tingkah laku yang ditunjukkan orang tua. Bagi anak, orang tua merupakan role model nyata yang patut ditiru dalam keseharian mereka.

Oleh sebab itu, penting menunjukkan sikap yang memberi dampak positif bagi tumbuh kembang anak di tahapan initiative dan guilt. Beberapa diantaranya adalah kebebasan, respek, prestasi, keaktifan dan kemandirian, kedekatan emosi serta saling menghargai.

Sebagaimana yang dijelaskan Piaget yang dikutip oleh Ardelia (2017) di atas, moralitas dan nilai pada usia kanak-kanak ditanamkan melalui ‘paksaan’. Mereka menerima dan mengikuti aturan serta moral yang berlaku tanpa memikirkan atau menilainya terlebih dahulu.

Dari penjelasan di atas, terlihat pentingnya peran dan kehadiran orang tua dalam tahap tumbuh kembang anak. Sepanjang usia sang anak, orang tua menjadi contoh nyata dari setiap perilaku yang ditunjukkan.

Secara tidak langsung, anak akan melakukan dan menerapkan nilai-nilai kehidupan berdasarkan arahan dari orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *