Yuk, Ketahui Tahapan Initiative dan Guilt pada Anak Usia 3-5 Tahun

  • Whatsapp
Tahapan Initiative dan Guilt pada Anak Usia 3-5 Tahun - Anak Laki-Laki dan Kucing
Sumber: Pixabay/SarahRichterArt

RUANGNEGERI.com –┬áSetiap orang tua tentu mengharapkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang unggul serta berkarakter baik. Sayangnya, keinginan tersebut membutuhkan upaya ekstra selama masa pengasuhan dan pendidikan.

Anak cerdas tak terlahir begitu saja, namun melewati pola asuh dan pengajaran yang tepat. Orang tua mau tak mau harus memperhatikan setiap informasi dan perilaku yang ditunjukkan ke hadapan anak.

Bacaan Lainnya

Nur Hayati (2011) dalam artikel berjudul Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini, menyebutkan bahwa pada masa golden age atau usia emas, anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka dan sensitif. Mereka peka terhadap rangsangan yang diberikan seiring berkembangnya fungsi psikis maupun fisik.

Sensitivitas setiap anak akan berbeda-beda, tergantung pada laju pertumbuhan serta perkembangannya. Di usia emas pula anak mulai mengembangkan berbagai kecerdasan, termasuk psikososial dan kebahasaan.

Demi optimalisasi bakat anak, orang tua wajib memahami tahap tumbuh kembang mereka. Dalam ranah psikologi, tahap perkembangan anak dibagi ke dalam 5 aspek.

Di antaranya adalah bahasa, sosial emosional, kognitif atau intelektual, penanaman nilai dan moral serta fisik atau motorik. Salah satu aspek yang paling penting adalah sosial emosional yang di dalamnya terdapat tahapan initiative dan guilt.

Baca juga: Ajari Anak Mengenal Simpati dan Empati dengan 7 Cara Ini

Initiative dan Guilt pada Anak

Erik Erikson, seorang psikolog kelahiran Jerman, menjelaskan aspek sosial emosional terbagi atas 8 tahapan sepanjang hidup manusia. Initiative dan guilt atau rasa inisiatif dan bersalah dimulai pada usia 3 hingga 5 tahun. Usia ini ditandai dengan lepasnya kemelekatan anak dari orang tua, terutama ibu. Anak mulai mengenal teman sebaya, lingkungan maupun guru.

Tantangan-tantangan baru bermunculan, sehingga anak dituntut untuk aktif dan mempunyai tujuan. Secara tidak langsung, anak harus membiasakan diri untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun sekitar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *