Suku Tengger, Kearifan Lokal di Kaki Gunung Bromo yang Menawan Hati Wisatawan

RUANGNEGERI.com – Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata gunung paling populer dan selalu berhasil menyita perhatian para wisatawan, baik lokal, regional, maupun internasional.

Tak heran, gunung aktif setinggi 2.992 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dikelilingi oleh lautan pasir yang eksotis dengan pemandangan padang sabana yang segar.

Selain itu, wisatawan juga disuguhi pemandangan spektakuler dari matahari terbit. Keindahan alam membuatnya memiliki daya tarik sebagai destinasi wisata alam yang ikonik.

Tak salah, jika Gunung Bromo menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di tanah air, khususnya bagi Provinsi Jawa Timur.

Suku Tengger dengan Sosial-Budayanya

Suku Tengger, Kearifan Lokal di Kaki Gunung Bromo yang Menawan Hati Wisatawan - Upacara Adat Suku Tengger

Namun, tahukah kamu, seperti halnya Gunung Bromo yang popularitasnya bergaung sampai dunia internasional, ternyata ada sebuah suku yang dengan keunikan dan nilai-nilai kearifan lokalnya berhasil mencuri perhatian banyak orang.

Adalah Suku Tengger, penduduk asli yang mendiami kaki Gunung Bromo dan memiliki ikatan hubungan istimewa dengan Gunung Bromo.

Suku Tengger menyimpan cerita unik yang tak kalah fenomenal dengan Gunung Bromo, yang juga mereka jaga kelestarian dan sakralkan keberadaannya.

Dibandingkan dengan penduduk Jawa Timur lainnya, Suku Tengger memiliki bahasa, budaya, kepercayaan, serta nilai-nilai tradisionalitasnya sendiri, yang sangat kontras dan unik. Sebab, tak ada yang menyamainya.

Berbeda dengan Suku Jawa dan Madura misalnya, mereka dapat ditemukan di bagian mana pun di Pulau Jawa. Bahkan, telah melanglang buana hingga seluruh wilayah Nusantara, bahkan hingga luar negeri.

Suku Tengger benar-benar merupakan satu-satunya suku dengan keunikannya yang tiada duanya. Berbicara mengenai bahasa yang digunakan misalnya.

Meskipun menggunakan jenis Bahasa Jawa, tetapi Bahasa Jawa yang digunakan berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya.

Bahasa yang digunakan oleh Suku Tengger adalah Bahasa Kawi dari rumpun Bahasa Jawa Kuno. Sehingga, hanya di Tengger saja kamu bisa menemukan penggunaan Bahasa Kawi pada zaman modern. Bahasa ini tercatat merupakan salah satu jenis bahasa tertua yang pernah dituturkan dan berkembang di daratan Pulau Jawa.

Bahasa ini dulu digunakan pada zaman Kerajaan Hindu – Budha di seluruh Nusantara. Penulisan karya sastra pada masa itu pun ditulis dalam bahasa ini.

Tak hanya itu, bahkan Suku Tengger merupakan satu-satunya komunitas masyarakat adat tradisional di Jawa Timur yang masih menggunakan sistem penanggalan Tahun Saka, seperti halnya masyarakat Hindu di Bali.

Penanggalan Tahun Saka merupakan jenis penanggalan yang mengadopsi budaya dari agama Hindu. Sistem penanggalan ini sangat penting untuk menentukan pelaksanaan upacara adat bagi masyarakat di Suku Tengger maupun masyarakat Hindu di Bali.

Penanggalan ini terdapat dua belas bulan dalam satu tahun dan setiap bulannya terdapat tiga puluh hari. Adapun nama-nama bulan dalam penanggalan ini antara lain, Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasadasa, Dhesta, dan Kasadha.

Pada hari ke-14 di bulan Kasadha, upacara adat paling fenomenal dari Suku Tengger dilaksanakan setiap tahun.

BACA JUGA: Budaya Pandalungan, Akulturasi Ragam Etnis di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur

Asal Usul dan Terbentuknya Suku Tengger

Suku Tengger, Kearifan Lokal di Kaki Gunung Bromo yang Menawan Hati Wisatawan - Orang Tengger Zaman Dulu

Ada beberapa versi yang menyebutkan tentang asal usul nama Suku Tengger. Yang pertama, ada versi yang menyebutkan bahwa Tengger memiliki arti pegunungan yang menjadi tempat mereka tinggal hingga hari ini.

Versi lain menyebutkan bahwa kata Tengger berasal dari kalimat dalam Bahasa Jawa, yaitu Tenggering Budhi Luhur yang berarti berbudi pekerti luhur. Kalimat tersebut menggambarkan pedoman nilai-nilai yang tercermin dalam karakter penduduk Suku Tengger.

Versi terakhir menyebutkan bahwa kata Tengger merupakan gabungan dari kedua leluhur atau nenek moyang mereka, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Penjelasan mengenai sejarah asal usul Suku Tengger termuat dalam buku yang ditulis oleh Robert W. Hefner (1990), seorang profesor dalam studi Antropologi Budaya di Universitas Boston, Amerika Serikat.

Buku tersebut berjudul Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Di dalamnya, Hefner menjelaskan bahwa orang-orang Tengger merupakan keturunan dari para pengungsi Kerajaan Majapahit.

Pada masa itu, abad ke-14, Kerajaan Majapahit melemah akibat mendapat serangan dari Kerajaan Islam di bawah pimpinan Raden Patah.

Demi menyelamatkan diri dari kemungkinan invasi, sebagian penduduk Kerajaan Majapahit mengungsi ke Pulau Bali dan sebagiannya lagi menetap di pegunungan Tengger di Jawa Timur.  

Para pengungsi di pegunungan Tengger—yang kemudian beratus tahun kemudian kita kenal dengan Gunung Bromo—ini kemudian memilih mengasingkan dan menutup diri dari pengaruh dunia luar. Dan di kemudian hari, masyarakat inilah yang disebut sebagai Suku Tengger.

BACA JUGA: Ragam dan Pesona Wisata Tanah Flores

Kondisi masyarakat Suku Tengger yang sejak lama tak tersentuh peradaban luar kemudian membuat mereka tak tersentuh perkembangan teknologi yang pesat, modernisasi dan globalisasi.

Dari sisi kepercayaan pun, mereka tetap mempertahankan kepercayaan sejak zaman leluhur di tengah peradaban Jawa lain yang telah didominasi oleh ajaran Agama Islam.

Masyarakat Tengger menganut aliran kepercayaan Siwa – Budha, yang kemudian berkembang sebagai agama Hindu khas Tengger hingga saat ini.

Di tengah masyarakat Tengger sendiri, berkembang sebuah legenda yang mengisahkan tentang leluhur mereka, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Roro Anteng merupakan putri dari Prabu Brawijaya, Raja Kerajaan Majapahit dengan permaisurinya bernama Permaisuri Padmi. Sedangkan, Joko Seger merupakan putra dari seorang Brahmana bernama Begawan Pananjakan.

Keduanya, Roro Anteng dan Joko Seger, kemudian menikah dan ikut serta dalam rombongan pengungsi dari Kerajaan Majapahit dan menetap di pegunungan Tengger.

Di sinilah mereka menjadi pemimpin rombongan. Joko Seger dinobatkan menjadi raja yang bergelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger. Anak keturunan mereka ini yang kemudian meneruskan tradisi dan budaya dengan tinggal di Tengger.

BACA JUGA: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

Upacara Yadnya Kasadha

Suku Tengger, Kearifan Lokal di Kaki Gunung Bromo yang Menawan Hati Wisatawan - Seorang Tengger Melabuh Persembahan

Selain terkenal akan keunikan karakteristik masyarakatnya, Suku Tengger juga populer dengan kekayaan budaya dan tradisinya yang dapat dilihat dari upacara-upacara adatnya.

Salah satu upacara adat Tengger yang paling fenomenal adalah Upacara Yadnya Kasadha. Dalam setiap penyelenggaraannya, kegiatan tersebut selalu mampu menyedot banyak wisatawan yang tertarik ikut serta menyaksikan upacara tahunan ini.

Seperti yang telah disebutkan di atas, upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 14 pada bulan Kasadha, mengacu pada sistem penanggalan Tahun Saka.

Dalam upacara ini, masyarakat Tengger berdoa dan memohon kepada Dewata untuk memperoleh keselamatan (tolak bala), berkah, serta wujud syukur atas karunia yang diberikan Dewata kepada masyarakat Tengger. Seraya menyerahkan kurban berupa hasil bumi seperti hewan ternak dan hasil tani terbaik ke kawah Gunung Bromo.

Selain itu, upacara ini juga menjadi momen bagi masyarakat Tengger untuk mengenang pengorbanan Raden Kusuma, putra terakhir Roro Anteng dan Joko Seger.

Menurut kisah dari legenda yang berkembang di tengah masyarakat Tengger, Roro Anteng dan Joko Seger setelah menikah tidak segera dikaruniai anak. Sehingga mereka bertapa di Gunung Bromo, memohon kepada Dewata agar diberikan keturunan.

Doa mereka dikabulkan dengan syarat mereka harus mengorbankan anak terakhir mereka ke penguasa Gunung Bromo.

Akhirnya, mereka menyetujui syarat tersebut sehingga doa mereka dikabulkan dan keduanya dikaruniai 25 anak. Salah satunya, putra terakhir bernama Raden Kusuma.

Setelah memiliki 25 anak, mereka tak memiliki anak lagi. Sehingga, seharusnya Raden Kusuma dipersembahkan sebagai kurban kepada Gunung Bromo. Namun, mereka tak kunjung mengorbankan Raden Kusuma.

Hal inilah yang kemudian memicu kemurkaan Bromo. Hingga akhirnya, Raden Kusuma tersedot ke kawah Gunung Bromo meskipun telah disembunyikan oleh orang tuanya.

Kepada saudara-saudara dan kedua orang tuanya, Raden Kusuma berpesan agar pada saat bulan Kasadha mereka mempersembahkan sebagian hasil bumi ke kawah Gunung Bromo sebagai tanda syukur dan terima kasih atas kemurahan hati Sang Hyang Widi.  

Hingga kini, upacara adat ini mampu menarik minat para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri untuk turut menyaksikan berlangsungnya upacara ini.

Bromo tidak hanya menyajikan keindahan alam dirinya saja, ia juga menyimpan tradisi serta kearifan lokal yang amat menawan di kakinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *