Setelah Sepekan, Jenazah Para Marinir AS Akhirnya Ditemukan

RUANGNEGERI.com – Sebuah kendaraan tempur pengangkut personel amphibi atau AAV milik Angkatan Laut AS telah tenggelam di Samudera Atlantik, 30 Juli 2020 lalu.

Satu marinir tewas, dua kritis dan delapan lainnya masih dalam pencarian. Para personel AL tersebut sedang berlatih di timur laut San Diego, Pulau San Clemente. Pada Senin 7 September kemarin, bangkai AAV telah ditemukan di kedalaman 385 meter di bawah permukaan laut.

Belum pasti ada berapa jenazah yang ditemukan di dalamya dari 8 orang yang hilang. Namun dipastikan kondisi jenazah masih memungkinkan untuk diangkat.

Kendaraan amphibi yang tenggelam di Pantai California ini memiliki berat 26 ton. Menilik bobotnya, alutsista tersebut diperkirakan “tenggelam hingga ke dasar lautan,” ujar Letjen Joseph Osterman, komando 1 Pasukan Ekspedisi Marinir.

Lokasi kejadian memiliki kedalaman yang tidak bisa dijelajah oleh penyelam. Korps Marinir dibantu oleh Penjaga Pantai dan Angkatan Laut dalam melakukan pencarian.

Menggunakan kapal pencarian dan penjelajah bawah laut milik AL. Bangkainya ditemukan setelah lebih dari seminggu berada di dasar laut. Selama periode pencarian, sebanyak 800 AAV dihentikan operasionalnya.

“Kami harus sangat berhati-hati,” ucap Komandan AL Jenderal David Berger. Karena peristiwa ini “sangat sensitif dan penting,” pungkasnya. Korps Marinir mengutamakan keluarga korban mendapat informasi dan perlakuan yang baik. Serta pencarian berjalan dengan optimal.

Setelah operasi penyelamatan selesai dan korban dimakamkan dengan layak, akan dilakukan investigasi terhadap kecelakaan ini. Dilanjutkan dengan evaluasi terhadap alutsista milik AL.

BACA JUGA: Supertanker Terbakar di Lautan Sri Lanka. Militer: Ini Tidak Berbahaya

Seluruh AAV Milik AL Diperiksa Secara Menyeluruh

Kejadian ini berpengaruh pada inspeksi terhadap alutsista milik Angkatan Laut AS. Korps Marinir akan memeriksa ulang seluruh AAV. Memastikan kecelakaan yang terjadi 30 Juli lalu tidak terulang lagi.

Kendaraan yang digunakan saat latihan “dalam kondisi baik,” menurut Osterman. Walau telah dipakai di Korps Marinir sejak awal 1970-an, namun secara berkala dilakukan pengecekan.

Beberapa modifikasi juga telah dibuat agar kendaraan amphibi tersebut lebih aman. Setelah pemeriksaan ini, akan ditentukan apakah AAV akan dipakai kembali dalam operasional di laut atau tidak.

Selain kendaraan, perlengkapan keselamatan juga dipakai oleh seluruh personel. Sesuai standar keselamatan. Beberapa marinir yang diselamatkan mengapung di permukaan air. Menunjukkan bahwa pelampung mereka juga berfungsi dengan baik.

Pensiunan Kolonel William Preston McLaughlin memandang kecelakaan tersebut dari sudut berbeda. Mantan komandan battalion amfibi korps marinir ini melihat perlunya regenerasi.

Amphibious Combat Vehicle sudah saatnya dipakai,” ujarnya. Untuk menggantikan AAV yang mulai menua. Korps Marinir sendiri merencanakan akan menggunakan ACV pada akhir tahun ini.

Setelah kejadian ini, mungkin Korps Marinir akan “menerjunkan peralatan itu sedikit lebih cepat” ujarnya. Agar unit garda depan seperti MEU ke 15 dapat bertugas dengan lebih aman.

BACA JUGA: Perseteruan AS-Tiongkok Makin Memanas, Sejumlah Pejabat AS Dikenai Sanksi

Apa yang Terjadi di Pantai California?

Sejumlah marinir dan personel Angkatan Laut dikabarakan sedang melakukan latihan rutin pada Kamis tanggal 30 Juli 2020. Kendaraan turun ke laut pada pukul 5.45 waktu setempat.

Pasukan Unit Ekspedisi Marinir ke 15 berlatih di lepas pantai dekat Pulau San Clemente. Tepatnya 1.000-2.000 yard dari pulau tersebut.

Terdiri dari 3 kendaraan amfibi AAV yang diangkut menggunakan kapal Somerset  dan satu kapal penyelamat. Saat ketiga AAV akan kembali ke kapal pengangkut, salah satu AAV dihantam ombak besar. Membuat air masuk ke dalam kendaraan.

Para marinir di atasnya memberi sinyal minta pertolongan. Respon cepat segera diberikan oleh rekan mereka, namun tidak semua personel dapat diselamatkan.

Delapan marinir dapat diselamatkan dan satu orang di antaranya tewas. Dua marinir yang selamat terluka parah dan dilarikan ke Scripps Memorial Hospital. Sementara delapan orang lagi tidak bisa diselamatkan dan tenggelam bersama kendaraan mereka.

Pencarian langsung dilakukan. Melibatkan Korps Marinir, Angkatan Laut dan Pasukan Penjaga Pantai menggunakan kapal penyelamat dan kendaraan amphibi, kapal perusak, perahu karet dan kapal cepat di lautan. Sementara helikopter memantau dari udara.

Hingga hari Ahad tanggal 6 September kemarin, posisi mereka belum ditemukan. Menyusul pernyataan resmi dari Marinir bahwa seluruh pasukan yang hilang dinyatakan tewas.

Mereka adalah Bryan Baltierra, Evan Bath, Jack Ryan Ostrovsky, Marco Barranco, Guillermo Perez, Chase Sweetwood, Wesley Rodd, Cesar Villanueva, dan petugas RS Angkatan Laut Christopher Gnem.

Pada hari Senin, posisi AAV ditemukan. Pengangkatan bangkai kendaraan beserta jenazah para korban dijadwalkan akhir pekan ini.

AAV atau Amphibious Assault Vehicles adalah kendaraan perang amphibi yang dapat dioperasikan di darat dan air. Kendaraan ini biasanya digunakan untuk mengangkut para marinir dari kapal mereka ke lautan lepas.

Angkatan Laut AS telah menggunakan AAV sejak 40 tahun yang lalu. Kecelakaan yang melibatkan kendaraan perang ini pernah terjadi sebelumnya. Tepatnya pada Januari 2011.

Satu Marinir meninggal dunia saat AAV yang dinaikinya tenggelam di lepas pantai Camp Pendleton. Sementara lima orang lainnya selamat. Saat itu mereka juga sedang dalam misi latihan rutin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *