Sensor Optik AI Bisa ‘Melihat’ Seperti Mata Manusia

RUANGNEGERI.com – Dunia digital terus berkembang, berbagai fungsi kerja pun kini sudah banyak yang digantikan oleh keberadaan mesin-mesin pintar AI (Artificial Intelligence). Salah satu fungsi kerja organ tubuh yang terus dikembangkan adalah mata.

Sistem kerja dari mata AI ini digunakan untuk melakukan scanning. Bisa juga berfungsi untuk mengidentifikasi benda dan menentukan tindakan berikutnya. Awal pengembangan dari mesin yang menyerupai kemampuan mata manusia ini ditandai oleh kemunculan sensor.

Sejak adanya sensor, pintu sudah bisa terbuka sendiri tanpa perlu ada yang mendorongnya. Elevator dapat bergerak sendiri setiap ada yang menaikinya. Hal-hal tersebut menunjukkan bagaimana sensor bisa memberikan banyak keuntungan, terutama dalam hal penghematan energi dan tingkat kepraktisannya.

Namun ternyata pengembangan sensor tidak berhenti sampai di situ saja. Saat ini, sensor dikembangkan dengan memanfaatkan AI. Kemampuannya pun diklaim sudah semakin mendekati mata manusia.

Bagaimana hasilnya? Lalu apa bedanya jika dibandingkan dengan pengembangan sensor sebelumnya? Mari kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Baca juga:

Kemampuan Sensor Retinomorphic 

Sebelum pengembangan sensor optik AI berhasil dilakukan di akhir tahun 2020, sudah ada alat pintar yang bisa menyerupai kerja mata. Nama alat tersebut adalah sensor retinomorphic. Sesuai dengan namanya, sensor ini memiliki sistem yang dibuat menyerupai retina pada mata.

Melansir penelitian yang diterbitkan di laman Science Daily (08/12/2020) dengan judul Breakthrough optical sensor mimics human eye, a key step toward better AI, John Labram & Cinthya Trujillo Herrera dari Oregon State University (OSU), Amerika Serikat, berhasil mengembangkan sensor terbaru yang lebih canggih.

Pada penelitian sebelumnya, diketahui bahwa cara kerja sensor retinomorphic ini masih bergantung pada sebuah software atau hardware yang kompleks untuk digunakan. Selain itu, penggunaannya pun terbilang boros energi solar. Jadi sangat dibatasi penggunaannya.

Alhasil, walau sudah menunjukkan fungsi yang mirip dengan kerja mata, sensor retinomorphic sebagai pengembangan mesin pintar ‘pengganti mata’ belum terlalu luas.

Kebanyakan sensor seperti ini digunakan pada alat-alat komputer dan mesin. Penelitian kemudian dikembangkan dengan menggunakan AI agar kemampuan sensor optik yang digunakan bisa lebih luas.

Baca juga:

Pengembangan Sensor Optik AI

Kedua peneliti dari OSU tersebut kemudian mengembangkan sensor optik yang hasilnya disebut-sebut jauh lebih canggih dari pada sensor sebelumnya. John Labram menjelaskan bahwa sensor ini menggunakan lapisan tipis dari semi konduktor perovskite.

Jadi hanya dengan menggunakan sebuah piksel, sensor optik bisa melakukan fungsi seperti mata manusia. Sebelumnya, sensor memang sudah bisa bekerja seperti otak manusia dalam memproses gambar yang diterimanya.

Hanya saja, sistem penerimaannya masih terbilang tradisional. Sehingga dibutuhkan sistem yang lebih menyerupai sistem kerja otak untuk makin mengembangkan fungsi dan manfaat sensor optik ini.

Penambahan sistem AI pada sensor ini disebut lebih sensitif pada pergerakan benda. Model pengembangannya adalah dilakukan berdasarkan pengamatan mata manusia yang lebih tertarik pada benda bergerak dibandingkan benda statis.

Hasil pengembangan sensor optik AI ini akan sangat cocok jika digabungkan dengan teknologi neuromorphic.

Baca juga:

Penggunaan Sensor Optik AI

Jadi apa saja fungsi terbaru dari sensor optik AI ini? Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa sensor tidak lagi hanya bisa mendeteksi karena ada pergerakan. Dengan menggunakan AI, maka kemampuan sensor terbaru ini bahkan bisa mengenali gambar.

Tidak lagi ada kerja sensor yang seperti dahulu, yang hanya bisa memroses informasi secara berurutan. Meski dalam urutan yang berbeda sekalipun, kini sensor tetap bisa memroses informasi yang diberikan. Modelnya dibuat layaknya otak manusia yang bekerja sama dengan mata.

Sensor optik dengan menyematkan teknologi AI yang satu ini banyak digunakan pada mobil pintar yang bisa berjalan tanpa pengemudi (autonomous/self-driving car). Seperti diketahui, mobil pintar tanpa pengemudi kini mulai banyak dikembangkan di berbagai negara.

Kemampuan mobil ini sudah dapat berhenti mengikuti lampu lalu lintas. Selain itu, mobil juga akan berhenti ketika ada orang yang lewat serta bisa berbelok dan menyusuri jalan sesuai dengan petunjuk jalan yang ada.

Kerja dari sensor sangat penting pada mobil ini. Tanpa sensor yang sensitif, baik pada pergerakan atau gambar statis, maka mobil pintar ini bisa berbahaya dalam berkendara.

Namun berbeda jika sudah dilengkapi dengan sensor optik AI. Dengan sensor ini, mobil mampu mendeteksi pergerekan benda di sekitarnya. Selain itu, sistem kerja sensor AI juga dapat membantu menentukan keputusan untuk membuat perjalanan semakin lebih aman dan nyaman.

Manfaat lain dari penggunaan sensor optik AI ke depannya diprediksi akan sangat banyak. Berbagai fungsi kerja robot AI yang digunakan untuk mendeteksi pergerakan benda juga bekerja semakin baik dengan dilengkapi sensor ini.

Misalnya, jika robot ditugaskan mendeteksi pergerakan yang tidak sesuai pada suatu tes. Berdasarkan penangkapan data, maka robot bisa menentukan lulus atau tidaknya objek itu dari tes yang dilakukan.

Benar-benar sensor yang semakin mendekati fungsi mata manusia. Bahkan bisa lebih detail lagi dalam melakukan ‘pengamatan’ terhadap lingkungan sekitar. Menarik tentunya mengikuti pengembangan lanjutan dari sensor optik yang dilengkapi dengan AI ini.

Oktaviana

Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, berpengalaman di bidang penulisan dan penelitian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *