Senjata Baru Angkatan Udara AS, Mulai Bom Hingga Misil yang Bekerja Sendiri

RUANGNEGERI.com – Angkatan Udara Amerika Serikat menguji coba dua jenis bom pintar baru, yaitu GBU-31v11 yang dipasangkan pada F-16 Fighting Falcon.

Bom ini adalah pengembangan dari seri sebelumnya, BLU-136. Tujuannya adalah dimaksudkan untuk menggantikan bom cluster yang sering mengundang kontroversi.

Uji coba terakhir pada 28 Juli 2020 lalu, di negara bagian Nevada. Uji coba terutama untuk melihat “luas area ledakan dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya,” ujar Letkol Daniel Lambert, kepala divisi TES Global Strike.

Data ini akan dipakai untuk menentukan layak tidaknya bom tersebut menggantikan bom cluster Angkatan Udara. Bom seberat 2.000 pon ini dapat dipasangkan pada pesawat dan kendaraan ringan. Juga cocok dengan alat Munisi Serang Terhubung Langsung (JDAM-Joint Direct Attact Munition) milik AU.

Artinya, pemindahan GBU-31v11 dari satu pesawat ke pesawat lain akan sangat mudah. Nyaris seperti mengisi bahan bakar saja. Dengan begitu, penggunaannya akan lebih  mudah dan efisien. Bom ini juga memiliki pecahan yang tidak mudah meledak. Sehingga jauh lebih aman dari pada bom cluster.

Pada uji coba terakhir,ditemukan bahwa pengaruhnya mencapai luas 225 kaki dari pusat ledakan. Hingga 150 kaki dari pusat ledakan, “kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan,” terang Letnan Satu Savanah Bray. Juru bicara Eglin Air Force Base, Florida.

Pentagon telah sekian lama menggunakan bom cluster. Jenis bom yang memiliki ‘isi’ bom-bom kecil atau submunisi. Bom-bom tersebut akan menghambur ketika bom utama diledakkan.

Namun, bom cluster sangat kontroversial. Selain berpotensi melukai banyak korban selain target utama, submunisi yang terlontar juga sering gagal meledak.

Sebab, submunisi yang tertinggal di wilayah ledakan akan membahayakan warga sipil maupun pasukan sekutu mereka.

Tingkat kegagalan bom ini mencapai 20%, merujuk pada laporan The New York Times tahun 2017. Namun Pentagon masih mempertahankannya. Ancaman Korut dan sulitnya membuat bom pengganti adalah alasannya.

Tahun 2008, Presiden AS saat itu, George W. Bush menekan Pentagon untuk menghentikan penggunaan bom cluster. Sejak itu, penelitian untuk pengembangan jenis bom baru dimulai. Sementara persediaan bom cluster yang masih tersisa disimpan.

BACA JUGA: Amerika Serikat Khawatir dengan Kekuatan Nuklir Tiongkok

Senjata yang Bisa ‘Mengambil Keputusan’ Sendiri

Senjata pintar lainnya yang sedang dikembangkan adalah Golden Horde. Konsep artificial intelligence ini membuat senjata dapat memilih sendiri target yang mereka inginkan.

Golden Horde saat ini juga masih dalam tahap pengembangan. Dengan menggunakan F-16 Fighting Falcon dan bom berukuran kecil. Diharapkan pada pertengahan 2021 sudah bisa digunakan.

Pentagon memasang konsep ‘senjata cerdas’ yang dapat berpikir secara aktif. Senjata yang diklaim dapat membuat keputusan, bekerja sama dan mengubah rencana penyerangan. Konsep ini disebut “playbook”.

Singkatnya, cara kerja Golden Horde seperti ini. Katakanlah ada dua pesawat bomber terbang untuk menghancurkan 6 target (A hingga F). Bomber pertama meluncurkan 4 misil peluru kendali dan berhasil menghancurkan target A dan B.

Bomber kedua lalu menyiapkan misilnya untuk menyerang target yang masih tersisa. Golden Horde mengirimkan data pada misil bomber kedua bahwa dua target sudah hancur. Bom milik bomber kedua ini akan ‘diperintahkan’ untuk menyerang target C dan D.

Dengan begitu, penggunaan misil akan lebih efektif dan efisien. Senjata akan berubah menjadi semi otonom. Hal ini akan sangat berguna saat terjadi duel udara.

Pilot cukup melepaskan misil dan berkonsentrasi menerbangkan pesawatnya kembali ke markas. Alih-alih repot mengunci tiap sasaran setiap kali akan melepaskan satu misil.

Golden Horde tidak akan membuat sebuah senjata otonom penuh. Senjata tersebut tidak akan mencari sasaran baru. Melainkan diprogram seperti, jika sasaran A sudah hancur, serang sasaran B, C, dan seterusnya.

Atau bekerja sama dengan misil pasangannya untuk menyerang sasaran D. Sistem ini tidak akan bekerja jika data yang dimasukkan sangat minim.

Dilihat dari tingkat bahayanya, Golden Horde tidak lebih bahaya dari pada pilot manusia yang melepaskan bom ke atas sasaran. Angkatan Udara AS meyakinkan bahwa sistem ini tidak bisa memilih target sesukanya. Golden Horde diklaim hanya akan memilih sasaran sesuai data yang dimasukkan ke dalamnya.

Salah satu versi Golden Horde adalah Collaborative Miniature Air Launched Decoy (CMALD). Sistem ini diujicobakan pada F-16 yang membawa bomber B-52H. CMALD didesain untuk menandai tentara lawan.

Senjata AU yang memiliki fungsi mirip Golden Horde adalah  Joint Air to Surface Standoff Missile (JASSM). Senjata ini adalah misil besar, subsonik dan dapat dikendalikan dari jarak jauh. JASSM telah digunakan pada April 2018 untuk menyerang fasilitas senjata kimia milik Suriah.

Senjata ini dapat terbang sejauh ratusan mil melintasi wilayah udara musuh dan menyerang target penting. Kedepannya, JASSM akan dikembangkan menjadi senjata semi otomatis.

Film-film perang futuristik memberikan gambaran pada kita tentang senjata semi otomatis. Bahkan senjata otomatis dan robotis penuh, seperti Terminator.

Bukan tidak mungkin di masa depan hal yang sama akan terjadi. Saat senjata memiliki otonomi dan kemampuannya sendiri untuk menentukan target penyerangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *