Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

RUANGNEGERI.com – Masa kanak-kanak ibarat ujung tombak bagi pertumbuhan seseorang di masa mendatang. Freud menyatakan usia lima tahun awal (golden age) merupakan masa awal pembentukan kepribadian anak.

Pada masa ini, anak akan mengalami kejadian-kejadian unik dan penting yang mempengaruhi kehidupannya pada usia dewasa (Nurhayati, 2011)

Pengalaman dan pembelajaran awal ini tak akan bisa dilupakan maupun tergantikan. Orang tua atau anak sendiri hanya bisa melakukan modifikasi pengalaman saat memasuki usia remaja dan dewasa.

Mengetahui pentingnya pengalaman serta pertumbuhan di masa awal, orang tua tentu memiliki peran besar serta keterlibatan dalam proses pembentukan karakter.

Pendidikan anak usia dini sangat penting diterapkan pada usia emas. Sabiq & Millah (2016) dalam jurnal berjudul Mengembangkan Kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual Anak Usia Dini Secara Qur’ani pada TK Masyitoh Mranggen Demak, menjelaskan tujuan dari pendidikan usia dini guna memfasilitasi pertumbuhan anak.

Dengan pendidikan yang tepat, anak akan tumbuh lebih optimal sesuai dengan norma dan nilai yang dianut. Ini mencakup keseluruhan aspek kecerdasan, seperti emosional, intelektual, fisik, spiritual, sosial serta motorik.

Membekali anak dengan pendidikan yang tepat menjadi poin awal (starting point) efektif sekaligus pondasi yang kokoh. Penting memperkenalkan serta menanamkan nilai-nilai ketakwaan, intelektualitas yang komprehensif dan holistik serta emosional mumpuni.

Dengan demikian, maka anak akan mampu menempatkan dirinya dalam lingkungan pergaulan yang tepat serta menghindari adanya salah pergaulan.

Pada prakteknya, pendidikan anak usia dini menghubungkan 3 aspek kecerdasan mendasar, yakni IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan SQ (kecerdasan spiritual).

Kecerdasan spiritual menjadi aspek terpenting bagi seorang anak. Aspek emosional dan intelektual merupakan integral dari kecerdasan spiritual yang terbentuk sejak usia dini.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual atau God Quotient mengambil peran penting dalam pemecahan masalah. Kecerdasan spiritual memicu otak manusia untuk bekerja aktif memecahkan masalah.

Memasuki masa-masa pubertas, kecerdasan spiritual ini justru dikataknnya menjadi pegangan bagi remaja dalam melewati peralihan dari usia kanak-kanak menuju dewasa.

Analisis IQ, EQ, dan SQ

Seberapa Penting IQ, EQ, dan SQ di Usia Dini? - Anak Bermain
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kompleksitas kehidupan manusia dipengaruhi oleh beragam aspek yang juga dibentuk oleh lingkungan. Aspek sosial merupakan wujud nyata dari adanya bentuk sinergitas antara IQ, EQ dan SQ.

Untuk menjalankan kehidupan yang baik, manusia tentu berpegang pada nilai-nilai dasar atau the basics of living value (BLV).

Rohmat (2010) dalam tulisan berjudul Pendidikan Spiritual : Menggetarkan Kalbu dan Bermanfaat Bagi Sesama, menyatakan bahwa nilai-nilai tersebut dapat berupa kejujuran, tanggung jawab, toleransi, tolong-menolong, demokrasi, disiplin hingga kesederhanaan.

Membangun pribadi anak yang unggul perlu dimulai dari mengenal karakter dari setiap kecerdasan, yakni;

1. Intelligence Quotient

Otak manusia tersusun atas milyaran sel aktif yang bekerja 24 jam. Agus Nggermanto (2001) dalam bukunya yang berjudul Quantum Quotient menyatakan bayi baru lahir memiliki 100 milyar sel aktif. Setiap detik, sekitar 20.000 sambungan jaringan terjadi.

Perkembangan otak manusia disebutnya terjadi secara alamiah dengan kecepatan 3 milyar sambungan per detik. Sambungan inilah yang menjadi kunci otak. Otak sendiri memiliki bagian-bagian yang menakjubkan, seperti fungsi, kemampuan, dan lain-lain.

Untuk menjalankan fungsi yang optimal, otak kanan dan kiri bekerja bersamaan. Tugas otak kiri adalah berpikir logis, terarah serta urut. Sementara otak kanan cenderung berpikir holistik, kreatif dan acak.

Dengan kemampuannya, otak kanan membantu anak menghafal, membaca, serta kreatif. Dari sistem kerja otak inilah pengembangan IQ bisa dilakukan terhadap anak. IQ sendiri diartikan sebagai kecerdasan intelektual atau kompetensi minimum seseorang

2. Emotional Quotient

Labola (2018) menyebutkan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam mencapai posisi tertinggi dalam kepemimpinan. EQ melibatkan kepekaan anak dalam mengobservasi dan menilai kondisi emosional orang lain.

Kecerdasan ini menuntun mereka mengumpulkan informasi dan memutuskan tindakan yang tepat untuk dilakukan. Anak yang cerdas secara emosional, tentu memiliki hubungan harmonis dengan orang sekitar dan mampu mencapai posisi terbaik dalam strata sosial.

3. Spiritual Quotient

Kecerdasan spiritual menuntun seseorang untuk bertindak secara bijaksana, sesuai dengan standar moralitas. Seseorang bisa membedakan baik dan buruk serta berperilaku sesuai aturan bergantung pada SQ.

Wigglesworth (2012), dalam buku berjudul The 21 Skills of Spiritual Intelligence mengemukakan bahwa SQ merupakan kemampuan seseorang untuk bertindak bijaksana dan belas kasih dengan mempertimbangkan kedamaian batin maupun sekitarnya.

SQ mengintegrasikan seluruh kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Pembentukan karakter secara holistik dan komprehensif hanya bisa dicapai dengan kecerdasan spiritual yang baik. Kecerdasan ini pula yang menjadikan manusia sebagai makhluk utuh dan totalitas.

Dari ketiga kecerdasan yang ditanamkan di usia awal, SQ menjadi atribut dasar dan penting. Setiap orang tua maupun guru wajib memperkenalkan anak pada ilmu keagamaan yang menuntun mereka menuju ketakwaan dan keimanan.

Selama proses pendidikan dengan mengedepankan SQ dilakukan secara optimal, IQ dan EQ akan berjalan secara beriringan. Ketiganya dapat dikembangkan dengan sistem pendidikan yang terpadu.

Pengembangan Kecerdasan 

Mengembangkan IQ, EQ dan SQ individu harus dilakukan sejak usia kanak-kanak. Di usia tumbuh kembang, anak mengalami berbagai pengalaman awal.

Pada masa ini, sel aktif di dalam otak mulai bekerja aktif dan berkembang. Penerimaan mereka terhadap pendidikan pun lebih mudah dicerna serta dipahami tanpa adanya intervensi dari pihak luar.

Mengoptimalkan tumbuh kembang anak berbasis kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dapat dilakukan dengan pemberian stimulan serta dorongan.

Keterlibatan orang tua dan lingkungan menjadi faktor penting untuk memaksimalkan proses pembentukan karakter mereka.

Sebagai sosok peniru, anak lebih mudah meniru apa yang dilihat daripada mendengar penjelasan orang tua maupun guru di sekolah. Oleh sebab itu, pendidikan harus berbasis pada perubahan perilaku orang tua serta pola asuh yang sesuai.

Untuk mencapai pribadi unggul, program pendidikan anak usia dini pun harus memperhatikan beberapa prinsip dasar. Abdul Halim (2018) dalam bukunya Preschool Teachers’ Professionalism Through Developmentally Appropriate Program (DAP) Curriculum menyebutkan tiga aspek pening, yaitu;

Pertama, pendidikan berbasis pada diri anak sendiri. Artinya, anak menjadi pusat atau sasaran dari pendidikan yang akan dilakukan. Guru maupun orang tua harus menempatkan anak sebagai individu utuh yang memahami dan tengah menggali pengalaman.

Kedua, mendorong tumbuh kembang anak di usia dini. Anak harus diberi motivasi dan dorongan fisik, sosial, emosional, berpikir, mencipta, berbahasa, dan komunikasi yang menjadi dasar pembentukan karakter.

Ketiga, mempertimbangkan perbedaan tumbuh kembang setiap anak. Pendidikan anak seyogyanya memperhatikan tahap pertumbuhan anak yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan ini mencakup jasmani, rohani, maupun kecerdasan.

Pengetahuan terkait prinsip dan kurikulum pendidikan anak usia dini membantu orang tua memaksimalkan pengembangan IQ, EQ serta SQ. Pengembangan kecerdasan yang optimal akan membentuk karakter anak kuat, unggul serta berdaya saing tinggi.

Di kemudian hari, anak menjadi pribadi yang cerdas, baik secara emosional, intelektual, maupun ketuhanan. Mereka tak mudah terjebak pada pergaulan yang salah atau kasus bullying.

Di tengah kondisi sosial yang cenderung individualis, kecerdasan emosional yang baik akan menumbuhkan belas kasih terhadap sesama. Selain itu, dengan dibekali kecerdasan ini, anak juga akan mampu membedakan perbuatan baik dan buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *