Di Era Digital Ini, Ketahui Screen Time Paling Tepat untuk Anak-anak

RUANGNEGERI.com – Di era digital, interaksi antara orang tua dan anak seringkali tergantikan oleh gawai (gadget). Anak cenderung memilih gawai sebagai teman bermain, belajar hingga mencari hiburan.

Tak ayal, banyak orang tua yang memiliki hubungan tak harmonis dengan anaknya. Hal ini berlaku pula terhadap interaksi sosial anak dengan teman sebaya.

Inge Velysta Resly (2018), dalam penelitian berjudul Hubungan Screen Time dengan Perkembangan Sosial Anak Usia Sekolah di SD Negeri Wonosari Baru Gunungkidul, menyebutkan bahwa penggunaan screen time atau screen media secara berlebihan akan mempengaruhi perilaku anak.

Dampak sosialnya adalah, mereka cenderung bersikap acuh atau tak peduli pada lingkungannya, baik terhadap keluarga, masyarakat maupun teman.

Memperkenalkan gawai pada anak bukanlah solusi tepat untuk menenangkan mereka. Kehadiran orang tua justru jauh memberi banyak manfaat bagi tumbuh kembangnya anak.

BACA JUGA: Baby School VS Daycare, Mana yang Lebih Baik?

Dampak Negatif Screen Time Berlebihan

Memberikan gawai pada anak berusia dini akan meningkatkan berbagai macam resiko. Tak hanya kehidupan sosial saja, namun dampak buruk bagi kesehatan.

Dalam penelitian berjudul Hubungan Lama dan Frekuensi Penggunaan Gadget dengan Perkembangan Sosial Anak Pra-Sekolah di TK Islam Al Irsyad 01 Cilacap, Sujianti (2018) menjelaskan bahwa dampak negatif penggunaan gawai terlalu lama akan membentuk kebiasaan buruk serta gangguan kesehatan.

Beberapa diantaranya berdampak pada perubahan pola hidup anak, termasuk sering mengkonsumsi makanan cepat saji dan terlalu lama duduk. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut akan menyebabkan depresi, obesitas serta penurunan kecerdasan akademik.

Selain itu, dampak melihat layar monitor dan penggunaan media elektronik juga berkaitan erat dengan pola tidur anak. Tiap anak menunjukkan gejala yang jelas, seperti waktu tidur yang terlambat, gangguan tidur serta penurunan durasi istirahat.

Di Indonesia sendiri, penelitian tersebut menemukan adanya peningkatan penggunaan gawai pada anak di bawah usia 5 tahun. Kebanyakan orang tua menjadikan gawai sebagai cara menenangkan dan menarik perhatian anak.

Orang tua juga tidak jarang membiarkan anak menonton tayangan atau bermain game tanpa pengawasan. Padahal hal itu terbukti banyak memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak.

Para orang tua seharusnya mengawasi serta membatasi penggunaan gawai untuk anak khususnya yang berusia di bawah 5 tahun.

Juana Willumsen dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang tua mengalokasikan waktu anak bersama gawai untuk quality time dengan mereka. Mengganti screen time gawai dengan keterlibatan orang tua akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang anak di kemudian hari.

Quality time bersama anak bisa diisi dengan aktivitas menyenangkan. Salah satunya membaca buku yang terbukti efektif meningkatkan kecerdasan bahasa atau linguistik anak. Membaca sedari kecil akan melatih anak kritis terhadap banyak hal.

Dengan kebiasaan membaca sejak dini, maka kemampuan literasi anak juga semakin meningkat. Hal itu jelas sangat penting bagi pertumbuhan anak.

Kemampuan literasi yang baik sejak dini juga membuat anak tidak mudah begitu saja menyerap informasi hoaks tanpa filter yang baik.

Untuk membangun karakter anak unggul, orang tua pun harus mencontohkan hal-hal baik di sekitar mereka. Pasalnya, anak usia 0 hingga 3 tahun melalui proses belajar dengan metode imitasi atau meniru perilaku orang-orang di sekitar mereka.

Perlu ditekankan bahwa anak bukanlah perwujudan dari orang tua dalam versi mini, namun individu utuh dan bebas yang perlu dibimbing. Anak berkembang di era yang berbeda dengan orang tuanya.

Orang tua harus sadar betul terhadap hal ini, supaya tak memaksakan seluruh kehendaknya. Begitu pula pada pola pengasuhan, anak tak dibiarkan terpapar gawai atau media elektronik lain dengan dalih menenangkan.

Kecenderungan anak bermain gawai berimbas buruk pada ketidakaktifan anak. Anak menjadi inaktif sebagai akibat dari screen time sangat mungkin terjadi, sebab anak malas bergerak maupun beraktivitas. Mereka lebih menghabiskan waktu di depan gawai dan menikmati tayangan yang dipilih.

Sebuah kajian yang dirilis dari American Academy of Pediatrics (2018), menunjukkan bahwa screen time pada anak usia 8 – 18 tahun terus meningkat. Rata-rata penggunaan gawai di usia tersebut melebihi 7 jam sehari dan hal itu sangat berdampak pada interaksi anak.

Dalam jangka panjang, hal itu tentulah berpengaruh pada pola interaksi serta kecerdasan anak. Orang tua harus mulai waspada dan mengubah kebiasaan bermain gawai pada anak.

Pilih aktivitas yang menunjang tumbuh kembang anak, termasuk meningkatkan kecerdasan majemuk. Permainan edukasi bisa dijadikan alternatif kegiatan yang mendidik sekaligus menyenangkan untuk anak hingga usia 5 tahun.

BACA JUGA: Anak Cerdas Berbakat: Bagaimana Solusi Pendidikan dari Keluarga?

Panduan Screen Time Berdasarkan Usia

Upaya yang bisa dilakukan untuk mengelola screen time pada anak adalah berperan aktif terhadap pola asuh anak. Dengan demikian, orang tua juga perlu mengikuti perkembangan zaman terkait media elektronik.

Kemajuan teknologi akan berlangsung secara terus-menerus, sementara orang tua tak bisa tinggal diam. Orang tua harus mengajari anak cara memanfaatkan media elektronik yang benar serta meningkatkan perilaku positif.

Sebagai panduan penggunaan gawai, WHO memberikan panduan jelas terkait hal ini:

1. Bayi

Pada usia 0 – 6 bulan, bayi seharusnya tak diperkenalkan dengan gawai. Orang tua bisa melakukan aktivitas fisik, seperti tummy time atau tengkurap minimal 30 menit. Bayi di bawah 1 tahun memiliki pola tidur yang panjang, bahkan mencapai 17 jam sehari.

Durasi ini akan berkurang seiring pertambahan usia. Umumnya, bayi berusia 4 – 11 bulan hanya tidur 12 – 16 jam sehari. Di sela-sela waktu tersebut, orang tua bisa mengajak bayi tetap aktif untuk meningkatkan kemampuan psikomotoriknya.

Oleh karenanya, bayi sebaiknya tak dikekang di stroller maupun car seat dalam kurun waktu lebih dari 1 jam. Biarkan mereka bergerak secara bebas.

2. Usia 1 – 2 tahun

Jika anda ingin memperkenalkan gawai pada anak usia 1 – 2 tahun, sebaiknya lakukan secara bertahap. Screen time yang dianjurkan oleh WHO pun tak lebih dari 1 jam dalam sehari, sementara aktivitas fisik bisa dilakukan selama minimal 3 jam dalam sehari.

Hal ini untuk memaksimalkan tumbuh kembang serta kecerdasan anak di usia dini. Pembagian waktu tersebut didasarkan pada pola istirahat bayi yang berkisar antara 11 – 14 jam. Tak jauh berbeda dengan bayi, anak berusia 1 – 2 tahun tak boleh terlalu lama dibiarkan duduk atau terkekang di car seat maupun stroller.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

3. Usia 3 – 4 tahun

Di usia 3 – 4 tahun, rasa ingin tahu dan daya kritis anak sangat tinggi. Anak akan mempertanyakan berbagai hal kepada orang tua khususnya. Pengalaman pertama pun diawali pada rentang usia batita, sehingga orang tua harus mampu berlaku bijak.

WHO menyarankan screen time di usia 3 sampai 4 tahun maksimal hanya 1 jam, lebih baik kurang dari itu. Anak harus beraktivitas fisik minimal 3 jam yang diisi oleh kegiatan ringan maupun sedang.

Waktu istirahat yang dianjurkan adalah berkisar antara 10 sampai 13 jam, termasuk tidur siang.

Berdasarkan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa pemberian gawai kepada anak haruslah di usia yang tepat. Beberapa penelitian menunjukkan jika saat usia remaja atau 8 tahun ke atas merupakan waktu yang tepat.

Meskipun demikian, penggunaannya pada usia ini tetap harus dibatasi waktunya. Selain itu, pengawasan dari orang tua juga sangatlah penting.

Anak harus selalu dipantau mengakses permainan atau website yang sesuai dengan pola pendidikan dan pengasuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *