Salat Jumat Pertama di Hagia Sophia: Yunani dan Turki Saling Berbalas Kecaman

RUANGNEGERI.com – Setelah digunakan sebagai gereja hampir 1000 tahun lamanya sejak pertama dibangun, Hagia Sophia kini digunakan secara resmi sebagai masjid. Keputusan resmi tersebut diambil tanggal 10 Juli yang lalu.

Adalah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang memimpin salat Jumat resmi pertama di bangunan bersejarah tersebut mulai tanggal 24 Juli 2020.

Pengembalian fungsi salah satu cagar budaya UNESCO tersebut sebagai masjid menuai berbagai reaksi. Baik dari negara-negara di dunia maupun dari organisasi-organisasi Kristen Ortodoks, termasuk dari Kristen Ortodoks Rusia.

Yunani merupakan salah satu penentang terbesar keputusan tersebut. Tetangga Turki sekaligus negara yang memiliki ikatan kuat dengan gereja tersebut melakukan aksi membunyikan lonceng selama Jumat kemarin.

Melansir dari laman berita Reuters (25/07/2020), penolakan Yunani cukup berdasar, mengingat sejarah Hagia Sophia yang awalnya merupakan sebuah gereja katedral. Fungsinya lantas diubah menjadi masjid saat kekuasaan Turki Ustmani atau Ottoman saat menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453.

Sejak runtuhnya Turki Ustmani pada tahun 1924, bangunan tersebut difungsikan sebagai museum. Selama delapan puluh enam tahun, bangunan tersebut berfungsi sebagai museum yang sangat bersejarah.

Ditambah lagi dengan penetapannya sebagai peninggalan sejarah dan cagar budaya oleh UNESCO. Hagia Sophia lebih dari sekadar bangunan bersejarah bagi kedua negara.

Dalam pernyataannya, Presiden Erdogan mengeluarkan pernyataan tajam dalam sebuah wawancara televisi. Bahwa penentangan terhadap keputusannya adalah “cara untuk menentang Turki dan Islam secara umum”.

Tidak ada penyebutan Yunani secara eksplisit, hanya “negara yang membuat keributan akhir-akhir ini”. Namun pernyataan tersebut cukup menyinggung Yunani.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan di hari yang sama bahwa Yunani “dengan jelas menjadikan Hagia Sophia sebagai alasan untuk menyerang Islam dan Turki”.

Hal itu sekaligus untuk mengutuk peristiwa pembakaran bendera Turki di Tesaloniki, salah satu kota di Yunani. Turki juga “mengecam pernyataan permusuhan dari parlemen Yunani”.

Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis pada Jumat sebelumnya menyebut bahwa Turki sebagai “pembuat onar”. Pengubahan situs bersejarah menjadi masjid tersebut merupakan “penghinaan” terhadap peradaban abad ke-21.

Menteri Luar Negeri Yunani menyebutkan bahwa masyarakat abad ke-21 “terpana melihat kegilaan fanatisme agama dan nasionalis Turki”. Aksi berbalas pernyataan tajam dan kecaman ini semakin memperuncing hubungan kedua negara.

Sebelum masalah Hagia Sophia, Yunani dan Turki memang sering terlibat dalam cekcok mengenai batas maritim dan udara.

BACA JUGA: Vladimir Putin Berpeluang Menjadi Presiden Rusia Hingga Tahun 2036

Tanggapan dari Berbagai Kalangan

Selain dari negeri kisah para dewa tersebut, pernyataan tidak setuju juga keluar dari AS. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, menyatakan bahwa Hagia Sophia sebaiknya tetap sebagai museum untuk “menjembatani agama dan budaya.”

Pernyataan ini keluar bulan lalu, dan dibalas Kementrian Luar Negeri Turki dengan menyatakan bahwa “Hagia Sophia adalah urusan dalam negeri Turki”. Tanggapan badan PBB, UNESCO hampir sama. Hagia Sophia merupakan sebuah museum di dalam daftar cagar budaya UNESCO.

Negara pemilik situs tersebut tidak seharusnya “mengubah fungsinya menjadi tidak sesuai dengan nilai universal yang luar biasa dari situs tersebut” kata Direktur Jenderal Audrey Azoulay.

Soner Cagaptay dari Washington Institute, melihat pengubahan status Hagia Sophia dari sudut pandang lain. Menurutnya, ini adalah cara Erdogan untuk “mempertahankan popularitasnya di tengah pendukung sayap kanan Turki.”

Patriach Kirill dari Gereja Ortodoks Rusia memandang perlunya “kehati-hatian dan mempertahankan status netral” bangunan tersebut.

Di sisi lain, Erdogan menyangkal bahwa pengembalian Hagia Sophia sebagai masjid akan menghapus kebersamaan dan sejarahnya sebagai simbol Bizantium dan Ottoman. Atau lebih jauh, simbol Islam dan Kristen.

“Pintu Hagia Sophia akan tetap terbuka bagi pengunjung dari semua kalangan. Lokal maupun asing, muslim dan non muslim,” kilahnya.

BACA JUGA: Pemerintah Tiongkok Dituduh Kontrol Kelahiran untuk Menekan Jumlah Populasi Muslim Uighur

Hagia Sophia dan Perjalanan Sejarahnya

Hagia Sophia adalah bangunan yang berdiri sejak 1.500 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 537 Masehi di bawah Kekaisaran Bizantium Justinian, Yunani. Sejak awal, fungsinya adalah gereja utama bagi umat Kristen Ortodoks.

Nama lengkapnya dalam bahasa Yunani adalah Naos tēs Hagias tou Theou Sophias. Sementara dalam ejaan Turki disebut Aya Sofia.

Selain simbol agama, bangunan tersebut juga menjadi simbol kekaisaran Bizantium selama berabad-abad. Hagia Sophia didesain oleh ahli ukur Yunani, Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles

Hagia Sophia juga merupakan Katedral Ortodoks terbesar selama seribu tahun. Gelar tersebut tetap disandangnya sampai Katedral Sevilla selesai pada tahun 1520.

Pada tahun 1204 sampai 1261, tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Pada tahun 1453, kerajaan Turki Ustmani menaklukkan Konstantinopel. Nama kota tersebut kemudian diubah oleh Sultan Muhammad Fatih menjadi Istanbul.

Selain itu, Sultan Fatih juga mengubah fungsi Gereja Hagia Sophia menjadi masjid. Selama periode Khalifah Turki Utsmani, Masjid Hagia Sophia menjadi simbol kekuasaan, ilmu dan spiritualitas Turki.

Bangunan bersejarah tersebut kemudian ditambahkan berbagai ornamen yang berhubungan dengan Islam. Seperti kaligrafi, mimbar dan hiasan lainnya. Termasuk empat menara yang melengkapi kubah besar di bangunan aslinya. Selama digunakan sebagai masjid, ornamen dan lukisan khas Orthodoks ditutup dengan kain hitam.

Hingga tahun 1616, situs bersejarah ini merupakan masjid utama di Istanbul. Gaya arsitekturnya yang merupakan perpaduan Bizantium dan Turki telah menginspirasi banyak bangunan masjid lain di seluruh dunia hingga hari ini. Baik di Turki, Indonesia maupun di negara-negara mayoritas Muslim lainnya.

Masjid Hagia Sophia sempat ditutup pada tahun 1931-1935 oleh pemerintahan Republik Turki. Penggunaannya lantas kembali diubah oleh Kemal Attaturk, pemimpin revolusi Turki Sekuler.

Pada tahun 1935, bangunan ini diubah menjadi museum hingga tanggal 10 Juli 2020 lalu hingga Presiden Erdogan mengembalikan fungsinya sebagai masjid.

Sebagai Museum, Hagia Sophia merupakan daya tarik utama wisata sejarah dan budaya Turki. Pada tahun 2014 hingga 2015, museum Hagia Sophia merupakan museum kedua yang paling banyak dikunjungi di Turki.

Tercatat ada sekitar 3,3 juta wisatawan lokal dan mancanegara mengunjunginya setiap tahun. Menikmati daya tarik keindahannya dengan ornamen Kristiani dan Islam yang bergabung dalam satu bangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *