Romantisme dan Kesabaran di Hujan Bulan Juni

RUANGNEGERI.com – Hujan Bulan Juni, puisi yang sangat terkenal yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Jika kalian pergi ke salah satu program studi bahasa Indonesia di salah satu universitas, pasti ada saja skripsi yang membahas puisi ini.

For your information saja, jika kalian tidak tahu bagaimana puisinya, isinya sebagai berikut.

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu


Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu


Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

 

Puisinya terlihat sangat sederhana, bukan?

Dari puisi tersebut, melahirkan beragam interpretasi. Interpretasi yang dihasilkan masih relate dengan cinta, penantian dan kesabaran. Indah dan romantis diksi yang digunakan di dalam puisi tersebut.

Asal kalian tahu saja, dari tiga bait puisi tersebut, Sapardi Djoko Damono dapat mengembangkannya menjadi novel, bahkan film. Pada resensi kali ini, Saya akan membahas novel Hujan Bulan Juni oleh Sapardi Djoko Damono.

Novel ini menceritakan kisah cinta Sarwono dan Pingkan. Novel dengan tebal 135 halaman ini mencerminkan kelihaian Sapardi Djoko Damono dalam merangkai kata. Novel ini memiliki kekuatan pada diksi yang digunakan. Sangat indah dan puitis.

Kalimat-kalimat yang ditulis di dalam novel ini bagai puisi, saking indahnya. Jangan takut kehabisan bahan untuk qoute, pembaca masih bisa menjumpai puisi-puisi dari Sarwono untuk Pingkan di dalam novel ini.

Novel Hujan Bulan Juni juga memuat krisis identitas dan krisis etnis oleh Pingkan. Tidak hanya tentang cinta dan puisi. Menurut saya, novel ini sangat berkelas dengan mengangkat isu tersebut di dalam Hujan Bulan Juni.

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta sepasang dosen muda yang penuh dengan liku. Dua tokoh utama di dalam novel ini yaitu Sarwono dan Pingkan. Dua orang yang memiliki kisah cinta yang complicated.

BACA JUGA: Aroma Karsa: Mendeskripsikan Aroma dalam Prosa

Relevansi Latar Belakang dengan Klimaks Cerita

Sarwono merupakan seorang Antroplog dan Pingkan dosen sastra Jepang. Mereka memiliki latar belakang sosial, budaya, dan pandangan yang berbeda.

Sarwono memiliki latar belakang sosial budaya asli Jawa. Sedangkan Pingkan berasal dari luar Jawa, tapi sudah lama menetap di Jawa.

Dua insan yang saling mencintai tersebut memiliki perbedaan dari segi asal, budaya, hingga agama. Sarwono yang merupakan seorang Jawa tulen pasti memiliki cara pandang yang berbeda dengan Pingkan.

Pingkan seseorang Jawa campuran karena ayah Pingkan yang berasal dari Manado dan ibunya yang merupakan keturunan Jawa.

Pingkan merasa tidak cocok berada dimanapun. Dia merasa di Manado bukan tempatnya karena dia memiliki darah turunan Jawa. Di Jawa pun Pingkan merasa tidak pas karena memiliki darah Manado.

Bukan hanya masa asal suku dan latar belakang budaya, keduanya memiliki perbedaan latar belakang agama pula.

Sarwono seorang muslim yang sangat taat agama, dan Pingkan pemeluk agama kristen protestan yang juga taat dengan agamanya. Mereka berdua tidak ingin agama menjadi dinding batas dari hubungan cinta mereka.

Perbedaan-perbedaan tersebut bukan menjadi masalah besar bagi kedua orang tersebut. Mereka memiliki kesadaran toleransi yang tinggi, karena didukung juga dengan tingkat pendidikan dan latar belakang pendidikan mereka berdua.

Dua sejoli tersebut masih enjoy dengan hubungan asmara mereka. Namun, mereka ragu dan tidak tahu akan dibawa ke mana hubungan asmara tersebut.

Tentu saja pernikahan menjadi tujuan akhir dari cinta itu, namun pernikahan bagi keduanya membutuhkan suatu persiapan yang tidak main-main.

Pandangan mengenai tahap lanjut—yaitu pernikahan—bagi mereka membutuhkan kesiapan mental yang amat sangat. Mereka berdua memiliki pandangan bahwa mereka harus benar-benar dewasa untuk melanjutkan hubungannya di jenjang pernikahan.

Pingkan oleh keluarganya diminta untuk lebih baik menjalin asmara dan menikahi seorang dosen muda yang mengajar di Manado.

Keluarga besar Pingkan berharap ia kelak menikah dengan lelaki yang memiliki agama yang sama dengan Pingkan. Yang secara tidak langsung berharap hubungan cinta keduanya tidak akan berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.

BACA JUGA: Mariposa: Kupu-kupu yang Sulit Digapai

Rasa Takut Sarwono Atas Cinta Pingkan

Pingkan tetap ingin bersama dengan Sarwono dan tidak terburu-buru dengan kelanjutan jenjang asmaranya. Hambatan lain yang terjadi berasal dari rasa insecure dan kekhawatiran Sarwono atas rasa cinta Pingkan.

Perasaan khawatir dan insecure Sarwono muncul saat Pingkan melanjutkan studinya ke Jepang.

Pingkan mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya di Jepang. Sarwono memiliki perasaan aneh dan asing. Ia merasa kehilangan sosok Pingkan yang berada jauh dari sisinya.

Rasa takut Sarwono ditambah dengan hadirnya sosok Katsuo yang ternyata berada di Jepang juga.

Katsuo merupakan warga Jepang yang pernah berkuliah di Universitas Indonesia (UI). Saat di Indonesia, Katsuo memiliki kedekatan dengan Pingkan.

Keadaan-keadaan tersebut membuat rasa percaya Sarwono terhadap cinta Pingkan menurun. Dengan keadaan tersebut, dia mati-matian untuk menahan diri dan tetap percaya kepada Pingkan.

Sarwono merupakan sosok romantis yang kerap membuatkan puisi untuk Pingkan. Novel ini memuat bait-bait puisi romantis.

Tidak kaget, sih, karena penulisnya saja Sapardi Djoko Damono, pujangga besar di Indonesia. Pembaca tidak akan merasa kekurangan quotes indah di dalam novel ini.

Eyang Sapardi, penulis Hujan Bulan Juni mempersonifikasikan sosok Sarwono, tokoh utama laki-laki di dalam novel ini sebagai seorang yang puitis.

Sarwono gemar menulis puisi, dan sering membuat puisi. Puisi-puisi yang ia buat kebanyakan diperuntukkan bagi pujaan hatinya tersebut.

Sarwono biasa menulis puisi di koran. Salah satu puisinya yang dimuat di salah satu koran dilihat oleh Pingkan saat ia telah berada di Indonesia.

Puisi tersebut berisi tiga bait yang membuatnya bergegas pergi ke Solo untuk menemui Sarwono yang juga sedang melawan penyakit paru-paru basah.

BACA JUGA: KKN di Desa Penari: Cerita KKN yang Berujung Kutukan

Penggunaan Kata Romantis

Untuk kalian pecinta puisi romantis, terutama karya Sapardi Djoko Damono pasti sudah tidak asing dengan puisi-puisi karya beliau.

Terkesan sangat romantis dan rasanya ingin mengirim puisi itu ke kekasih pada saat itu juga. Namun, untuk novel Hujan Bulan Juni, saya merasa kehilangan sosok Eyang Sapardi.

Saya tidak tahu, mungkin seseorang bisa saja sangat hebat dalam merangkai kata melalui puisi, namun biasa saja dalam menulis prosa.

Atau mungkin seorang pujangga di kehidupan aslinya memang tidak puitis. Saya menilai Sarwono merupakan refleksi dari Eyang Sapardi.

Sarwono yang dapat membuat puisi-puisi yang indah, ternyata pada kehidupan sehari-hari menggunakan diksi yang biasa saja saat bercakap-cakap. Hal itu tergambar di dalam novel Hujan Bulan Juni.

Dalam novel ini, memang ada sentuhan dialog dan narasi yang menggunakan bahasa Jawa. Namun, hal tersebut masih memberi kesan biasa saja. Padahal, biasanya menurut saya diksi berbahasa Jawa kadang dapat memberi kesan magis dan otentik.

Pemilihan kata yang digunakan Eyang Sapardi pada narasi dan dialognya biasa saja. Seperti percakapan sehari-hari. Namun, pada part puisi, Sapardi menulis merangkai kata dalam puisi dengan diksi yang indah.

Ada dua hipotesis dari saya, Eyang Sapardi menganut aliran romantisme atau beliau ingin memberi gap antara puisi dan prosa. Puisi termasuk seni, dan salah satu aliran seni yaitu seni realisme. Kebalikan dari seni surealisme.

Aliran romantisme sangat kental dengan puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Sapardi dapat menulis merangkai kata menjadi bait-bait puisi yang romantis. Membuat orang yang membacanya terbawa perasaan atau baper.

Gap yang diciptakan oleh Sapardi menurut saya agar pembaca dapat melihat bahwa kekuatan tulisan ini ada di dalam puisinya, bukan prosanya.

Atau bisa jadi Sapardi memang ingin menegaskan bahwa orang yang puitis juga memiliki pilihan kata yang biasa saja di kehidupan sehari-harinya.

BACA JUGA: Kota di Balik Tembok, Romantisme di Dalam Labirin Distopia

Desain Sampul yang Menipu

Pernah mendengar pepatah, ”Jangan menilai buku dari sampulnya” tidak?

Saya rasa pepatah ini tidak berlaku bagi saya dan sebagian besar orang. Saat memasuki toko buku dan tidak memiliki tujuan saya cenderung memilih untuk melihat bahkan membeli buku yang sampul atau cover-nya menarik.

Begitu pula dengan novel Hujan Bulan Juni ini.

Desain sampul dari novel ini sangat menarik. Saya menggambarkan sampul pada novel ini sederhana namun elegan. Novel dengan sampul berwarna krem dan abu-abu menggunakan palet warna yang pas dan cocok.

Warna krem pada sampul novel Hujan Bulan Juni memberi kesan klasik. Judul yang dibuat seperti luntur memberi kesan telah ditetesi oleh air hujan memberi kesan realis dan sekilas terlihat sangat asli.

Saya sempat tertipu oleh lunturan itu, saya pikir benar-benar luntur terkena air.

Di sampul novel Hujan Bulan Juni, tertulis keterangan NOVEL di bawah judul.

Saya menduga agar pembaca tidak rancu mengira novel Hujan Bulan Juni merupakan antologi puisi yang pernah diterbitkan dengan judul yang sama. Jadi, kata novel yang dicetak besar di sampul novel ini berfungsi sebagai penegas.

Awal Juni. Silakan baca puisi dan novel Hujan Bulan Juni. Interpretasi saya mengapa harus menggunakan bulan Juni adalah karena Juni adalah bulan penuh ketegaran, kesabaran, dan ketabahan.

Menunggu hujan di bulan Juni adalah tentang rasa sabar dan tabah. Apakah kalian sedang menunggu sesuatu di bulan Juni ini juga?

Semoga apapun yang kalian nanti akan datang.

 

Judul                           : Hujan Bulan Juni

Penulis                         : Sapardi Djoko Damono

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit                 : Juni 2015

Jumlah halaman           : 135 halaman

No. ISBN                      : 9786020318431

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *