Role Playing Anak: Definisi, Jenis, dan Manfaatnya

RUANGNEGERI.com – Salah satu metode pembelajaran yang banyak dipakai dan disukai oleh anak-anak adalah metode role playing. Metode ini mampu membentuk karakter sekaligus bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengasah kreativitas dan membangun rasa percaya diri pada anak.

Anak-anak akan menyukai belajar dengan cara yang menyenangkan seperti pada role playing ini. Manorom & Pollock (2006) menyebutkan bahwa metode role playing atau bermain peran dapat memberikan pengaruh positif yang bermanfaat dalam hal perkembangan keterampilan dan juga pengetahuan akademik.

Pengaruh positif ini didapatkan dari proses stimulasi lingkungan yang digunakan melalui proses bermain peran.

BACA JUGA: Media Pembelajaran Angka Sederhana dari Rumah yang Super Simpel

Definisi Role Playing

Pengertian role playing secara umum ialah sebuah cara yang digunakan untuk menguasai materi tertentu. Hal itu dilakukan dengan melewati proses pengembangan dan juga penghayatan yang dilakukan oleh anak didik.

Imajinasi yang terus berkembang dan penghayatan yang dilakukan ini diperoleh melalui peran anak sebagai tokoh hidup ataupun benda mati. Aktivitas ini akan membuat anak lebih memahami apa yang dipelajarinya.

Role playing anak merupakan sebuah metode pembelajaran dalam pemecahan masalah di suatu kelompok yang memungkinkan anak untuk menemukan masalahnya, merespon secara spontan dan melanjutkannya dalam diskusi terarah (Shaftel & Shaftel, 1982).

Metode ini juga menjadi cara yang dapat membuat anak memahami sebuah kegiatan belajar yang dijalani lebih dari hanya sekedar materi. Hal ini memungkinkan anak terlepas dari rasa jenuh saat belajar.

Selain itu, anak juga akan merasa terbebas dari aturan yang terasa membelenggu dan tentunya bebas berekspresi untuk mendapatkan pengalaman.

Jadi, dapat dipahami bahwa role playing anak adalah sebuah metode yang dipakai dalam proses pembelajaran melalui kegiatan bermain peran yang membuat anak bisa bebas berkreasi. Hal itu akan mendatangkan dampak yang lebih baik untuk perkembangan anak.

Berbagai Macam Role Playing Anak

Role playing anak yang diterapkan untuk perkembangan anak terdiri dari dua jenis, yaitu:

Pertama adalah role playing spontan.

Jenis metode bermain peran yang pertama ini  tidak membutuhkan persiapan awal yang matang terlebih dahulu. Anak tidak perlu melakukan beberapa dorongan seperti membaca, menghafal naskah dan yang lainnya.

Melalui cara ini, anak akan langsung bermain peran dengan spontan sehingga kebebasan anak dalam berkreasi sangat berkembang. Anak akan bisa melakukan apapun sesuai dengan yang mereka inginkan.

Kedua yakni role playing investigasi.

Jenis metode bermain peran yang satu ini memerlukan persiapan matang di awal melakukan sebuah peran. Anak akan melakukan sebuah pemahaman khusus atau investigasi secara mandiri mengenai peran yang akan mereka mainkan.

Dalam proses ini, kemampuan anak dalam memecahkan masalah akan terbangun dengan baik.

BACA JUGA: Parents, Lakukan Ini saat Anak dalam Tahap Autonomy dan Shame and Doubt

Cara Menerapkan Role Playing Anak

Agar bisa menerapkan metode role playing dengan baik, ada beberapa cara yang harus dilakukan. Heru Subagyo (2013) menjabarkan langkah-langkah untuk melakukan role playing, yaitu sebagai berikut:

1. Menentukan Masalah

Maksud dari menentukan masalah disini adalah menentukan tema atau cerita yang akan dimainkan.

Anak bisa berdiskusi mengenai cerita apa yang akan dibawakan dan menentukan pokok pesan yang akan disampaikan.

2. Memilih Pemeran

Setelah menentukan tema atau cerita, maka anak bisa memilih peran terbaik sesuai dengan keinginan dan kesanggupan mereka.

Anak bebas menentukan karakter apa yang akan dimainkan sesuai dengan jalan cerita. Semakin beragam karakter yang ada, maka semakin berkembang pula kreativitas anak.

3. Menyusun Skenario

Cerita dan pemeran yang sudah ditentukan akan menggiring anak pada proses selanjutnya, yaitu menyusun skenario.

Anak bisa menentukan jalan cerita terbaik sesuai dengan tema awal yang dibawakan tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan.

4. Menyiapkan Penonton

Pembimbing anak bisa menyiapkan penonton untuk mengamati hasil kreasi anak.

Penonton yang hadir di sini dapat mengeluarkan komentar atau pendapat mereka jika penampilan anak sudah selesai nantinya.

5. Memainkan Role Play

Jika semua sudah siap, maka anak tinggal memainkan apa yang sudah direncanakan. Biarkan anak memainkan perannya seekspresif mungkin agar tercipta suasana yang tidak kaku.

6. Diskusi dan Evaluasi

Ketika bermain peran sudah selesai ditampilkan, anak-anak bisa melakukan diskusi dan evaluasi bersama pembimbingnya.

Langkah ini akan membuat anak mengetahui apa yang perlu ditingkatkan di kemudian hari.

7. Memainkan Ulang

Setelah evaluasi, anak bisa memainkan ulang ceritanya agar bisa mencapai permainan peran yang lebih baik.

8. Berbagi Pengalaman dan Kesimpulan

Proses role play yang sudah selesai dapat memberikan ruang untuk berbagi pengalaman yang sudah mereka lewati. Mereka akan mengambil kesimpulan dari pengalamannya.

Manfaat Role Playing

Role playing anak menjadi sebuah sarana untuk menekankan hubungan individu dengan orang lain. Cara ini memfokuskan proses negosiasi sosial yang dilakukan.

Prioritasnya adalah untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui penerapan metode bermain peran ini.

Menurut Heru Subagyo (2013) kemudian menjelaskan bahwa manfaat yang diperoleh dari penerapannya sangatlah banyak.

Di antara manfaat tersebut ialah:

  • Dapat dijadikan sebagai media belajar kerjasama antar individu.
  • Menjadi sarana terbaik untuk belajar bahasa yang baik dan benar.
  • Anak akan terlatih untuk mengambil keputusan dengan cepat dan berekspresi secara utuh dan bebas.
  • Menjadi media evaluasi pengalaman yang sudah dimiliki anak ketika proses bermain peran sedang berlangsung.
  • Mampu memberikan pesan dan kesan yang kuat dan tahan lama dalam ingatan anak.
  • Menghadirkan pengalaman baru yang sangat menyenangkan untuk anak.
  • Membangkitkan semangat dan sikap optimis dalam diri anak.
  • Menciptakan rasa kebersamaan dan persaudaraan dalam bidang sosial yang tinggi.
  • Anak akan mampu memahami serta menghayati kegiatan yang berlangsung dengan mudah
  • Anak dapat menyimpulkan makna yang terkandung dalam kegiatan bermain peran yang sedang dilakukan tersebut.
  • Mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *