Rencana Turki Alih Fungsikan Hagia Sophia Menjadi Masjid Ditentang Gereja Ortodoks Rusia

RUANGNEGERI.com – Pengalihan fungsi gedung Hagia Sophia di Konstantinopel (Istanbul) dari museum ke masjid menuai kritik hingga pertentangan dari para pemimpin agama dan beberapa negara lainnya.

Salah satunya yang baru-baru ini menentang, datang dari Gereja Ortodoks Rusia pada hari Sabtu (04/07). Kritik lainnya datang dari Kepala Kristen Ortodoks di seluruh dunia.

Hagia Sophia yang tercatat dalam situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO ini merupakan sebuah bangunan bersejarah abad keenam.

Lokasinya merupakan pertemuan yang strategis “Timur dan Barat”, yakni di jantung kekaisaran Byzantium Kristen Ortodoks, yang pada abad ke-15 diambil alih oleh Kekaisaran Ottoman Muslim.

Ketua Departemen Patriarkat bidang luar negeri Gereja Ortodoks Rusia, Metropolitan Hilarion, menyatakan tidak dapat menerima atas pengalihan fungsi monumen Hagia Sophia menjadi masjid.

“Saat ini kita tidak bisa kembali ke abad pertengahan. Kita hidup di dunia multipolar, kita hidup di dunia multi-konvensional, dan kita perlu menghormati perasaan orang pemeluk agama” kata Hilarion di televisi pemerintah setempat, dikutip dari laman Al-Jazeera.

Hilarion melanjutkan bahwa Gereja Ortodoks Rusia tidak memahami apa motif dari pengubahan fungsi Hagia Sophia ini. Serta percaya bila adanya politik domestik yang berada di belakang gerakan itu.

“Kami percaya bahwa dalam kondisi saat ini, tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama yang tidak dapat diterima” tambahnya.

Badan administrasi tertinggi Turki pada hari Kamis (02/07) menunda keputusannya terkait alih fungsi tersebut. Dewan Negara akan membuat keputusannya dalam waktu 15 hari kedepan untuk memutuskan, apakah Hagia Sophia dapat kembali menjadi tempat ibadah Muslim.

Patriark Ekumenis Bartholomew, kepala spiritual dari sekitar 300 juta orang Kristen Ortodoks di seluruh dunia dan yang berbasis di Istanbul, mengatakan bahwa dengan mengubahnya menjadi masjid akan mengecewakan umat Kristen dan akan memecah Timur dan Barat.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, pemerintah Yunani dan Perancis juga ikut mendesak Turki untuk tetap menjadikan bangunan itu sebagai museum.

“Kami mendesak pemerintah Turki untuk terus mempertahankan Hagia Sophia sebagai museum. Sebagai contoh komitmennya untuk menghormati beragam tradisi dan sejarah agama Turki, dan untuk memastikannya tetap dapat diakses oleh semua orang” kata Mike Pompeo dalam sebuah pernyataannya, pada hari Rabu (01/07).

BACA JUGA: Vladimir Putin Berpeluang Menjadi Presiden Rusia Hingga Tahun 2036

Erdogan Bersikeras Melindungi Hak Seluruh Agama di Negaranya

Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan telah mengajukan proposal kepada Dewan Negara untuk memulihkan kembali peran Hagia Sophia sebagai masjid.

Erdogan menggambarkan kecaman asing atas proposal tersebut sebagai serangan terhadap kedaulatan Turki.

“Membuat tuduhan seperti itu terhadap negara kita sehubungan dengan Hagia Sophia sama saja dengan serangan langsung terhadap kedaulatan kita” kata Erdogan saat upacara yayasan untuk sebuah masjid baru di Istanbul, dinamai Hayreddin Barbarossa.

Masih dalam pidatonya pada hari Jum’at (03/07), Erdogan bersikeras akan selalu melindungi hak-hak Muslim dan minoritas yang tinggal di negara Turki.

“Kami bertekad untuk terus melindungi hak-hak Muslim, agama mayoritas negara kami, serta anggota semua agama lainnya” tambahnya pada pembukaan resmi masjid lain di Istanbul.

Erdogan menambahkan bahwa Hagia Sophia adalah masalah internal bagi negaranya. Oleh karena itu, tidak ada orang lain yang bisa menentangnya.

Kemudian Erdogan mencatat bahwa ada 435 gereja dan sinagog di Turki tempat orang Kristen dan Yahudi dapat berdoa.

Erdogan mengatakan ada ribuan tempat bersejarah pemujaan yang berasal dari periode dan peradaban yang berbeda, terutama Gobeklitepe, yang dianggap sebagai kuil pertama yang didirikan oleh umat manusia.

Pada hari-hari berikutnya, sebuah survei diterbitkan yang menyatakan bahwa 73% orang Turki akan memilih transformasi menjadi masjid.

Menurut media Turki, pemerintah dapat membuat Hagia Sophia terbuka untuk turis, sambil mengubahnya menjadi tempat ibadah seperti halnya Masjid Biru, yang berdiri tepat di seberang bekas Basilika.

BACA JUGA: Aneksasi Israel Dikecam Dunia Internasional, AS Justru Beri Lampu Hijau

Sejarah Hagia Sophia

Bangunan kubah yang ikonik ini terletak di distrik Fatih Istanbul, di tepi barat Bosporus. Kota ini dulunya bernama Konstantinopel. Nama itu diambil dari pendirinya, yakni Santo Konstantinus Agung yang mendirikan Kekaisaran Byzantium sekitar abad ke-3 Masehi.

Kaisar Byzantium, Justinian I memerintahkan pembangunan besar-besaran yang dibangun pada tahun 532. Kota ini merupakan ibu kota kekaisaran yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur.

Para insinyur membawa bahan-bahan dari seluruh Mediterania untuk membangun katedral kolosal.

Setelah selesai pada tahun 537, kota ini menjadi tempat kedudukan patriark ortodoks. Upacara kekaisaran Byzantium seperti penobatan berlangsung di gedung tersebut.

Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 1000 tahun. Tetapi selama periode singkat pada abat ke-13, sempat dilarang. Karena pada saat itu tempatnya diubah menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kendali pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib Keempat.

Lalu pada tahun 1453, Kekaisaran Ottoman di bawah Sultan Mehmed II menaklukan Konstantinopel, dengan menghabisi Kekaisaran Bizantium untuk selamanya.

Saat memasuki Hagia Sophia, Fatih Sultan Mehmed II bersikeras untuk merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Dia menghadiri shalat Jumat pertama di gedung itu, lalu beberapa hari setelah itu digeledah oleh pasukannya.

Kemudian para arsitek Utsmaniyah menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya.

Sampai penyelesaian Masjid Biru Istanbul pada tahun 1616, Hagia Sophia menjadi masjid utama di kota dan arsitekturnya mengilhami pembangun Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia.

Selama sekitar 500 tahun, jamaah Muslim dari seluruh dunia berbondong-bondong ke kota berwarna merah permata arsitektur untuk melakukan sholat sehari-hari.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I pada tahun 1918, Kekaisaran Ottoman dikalahkan dan wilayahnya terpecah. Kekuatan nasionalis sekuler bangkit dan menciptakan Republik Turki modern dari abu kekaisaran itu.

Pendiri Turki sekaligus presiden pertama, Mustafa Kemal Ataturk memerintahkan agar Hagia Sophia diubah menjadi tempat museum. Selain itu, Mustafa Kemal juga mengubah nama Konstantinopel menjadi Istanbul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *