Mengenal Reksa Dana: Investasi yang Mulai Digemari Milenial dan Gen Z

RUANGNEGERI.com – Investasi melalui reksa dana bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang memiliki modal tidak terlalu besar. Reksa dana merupakan kumpulan uang yang nantinya akan dibelikan saham, obligasi, efek/sekuriti maupun instrumen keuangan lainnya.

Investasi ini tergolong tidak terlampau sulit. Selain itu juga tidak terlalu menyita waktu dan juga tidak banyak menuntut keahlian tertentu dalam mengalkulasi risiko. Dana yang terkumpul tersebut selanjutnya dikelola oleh manajer investasi.

Perkembangannya sudah dimulai dari tahun 1976 oleh dari PT. Danareksa yang dibuat oleh pemerintah. Kemudian, pemerintah lebih serius terkait reksa dana dan kemudian diatur melalui Undang-undang nomor 8 tahun 1995.

Meningkatnya tren investasi ini di Indonesia nampak mulai menunjukkan angka yang cukup signifikan, termasuk bagi kalangan milenial. Baik reksa dana konvensional maupun syariah.

Melansir dari Bareksa.com, kenaikan reksa dana konvensional sebesar 133,66 persen dari 820 produk, menjadi 1.916 produk pada akhir tahun lalu. Sedangkan yang syariah meningkat sebesar 258,1 persen. Kenaikan tersebut menandakan minat masyarakat untuk berinvestasi semakin besar.

Reksa dana memiliki risiko yang lebih rendah dibanding investasi trading saham. Sebab trading saham membutuhkan modal yang cukup besar.

“Jelas berbeda, kelebihan reksa dana itu tidak perlu mikir. Trading saham itu kita harus tahu analisis teknikal, analisis fundamental. Dan itu jam terbang juga sangat berpengaruh di trading saham,” jelas Nancy Suparto, seorang perencana keuangan saat diwawancara.

Pertumbuhan ini juga dibenarkan oleh Nancy mengenai tren reksa dana di kalangan milenial. “Sekarang, rata-rata sudah sangat giat yang namanya investasi dan sudah tidak jaman lagi nabung,” ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh, investasi saham memiliki keuntungan 15 persen lebih besar dibanding reksa dana. Namun, risiko yang diperoleh juga besar.

“Kelemahannya (investasi saham) itu kapitalis, modalnya harus besar juga. Reksa dana itu sudah langsung terdiversifikasi, tinggal setor aja.”

“Uangnya kemudian diatur sama manajer investasi yang sudah punya nama. Tapi memang return-nya tidak sebesar trading saham sendiri,” terangnya saat membicarakan perbandingan reksa dana dengan investasi trading saham beberapa waktu lalu.

Melansir dari Katadata.co.id (28/09/2020), jumlah investor jumlah investor pasar modal Single Investor Identification (SID), investor berusia di bawah 30 tahun mendominasi pasar modal sebanyak 1,46 juta orang. Hampir setengah dari total SID sebanyak 3,14 juta hingga akhir Agustus 2020.

Nancy menjelaskan alasan mengapa tren investasi khususnya reksa dana tumbuh adalah karena tingkat literasi keuangan di Indonesia sudah mulai berkembang. Reksa dana juga merupakan langkah yang tepat untuk pemula dalam berinvestasi dengan tingkat risiko yang sudah terbagi-bagi.

“Kita pernah mendengar, kalau investasi jangan (asal) menaruh uang dalam satu keranjang yang sama. Jadi harus dipisah-pisah, biar risikonya terdiversifikasi. Nah, reksa dana itu sudah terdiversifikasi,” terangnya.

Ia menyebutkan bahwa jenis reksa dana yang umum dipakai adalah reksa dana pasar uang yang berinvestasi pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka dan obligasi. Reksa dana saham berfokus pada penempatan investasi di pembelian saham.

Sedangkan reksa dana pendapatan tetap menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen asetnya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Terakhir, terdapat reksa dana campuran, gabungan dari semua jenis reksa dana.

Masing-masing jenis memiliki risiko dan jangka waktunya sendiri. Dalam memilih jenis produk reksa dana yang cocok, Nancy mengimbau perlu adanya tujuan yang jelas sehingga dapat menentukan jenisnya.

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

Pilihan Investor Milenial dan Generasi Z

Alasan mengapa reksa dana banyak digemari kalangan muda menurut Izzatunnisa, Marketing Communication Tanamduit, adalah karena jumlah minimal setiap investasi yang terjangkau. Nominalnya mulai dari Rp 50 ribu, bahkan bisa Rp 10 ribu.

Selain itu, proses pembukaan rekening secara daring yang mudah juga menarik perhatian kaum milenial dan generasi Z. Generasi milenial secara umum adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995, sedangkan generasi Z adalah mereka yang lahir setelahnya hingga tahun 2010.

Gabungan dari dua generasi ini diperkirakan sekitar setengah dari total penduduk Indonesia saat ini. Hal ini dirasakan oleh Pijar Sulthan (22) sebagai pengguna reksadana sejak 2017 akhir. Saat itu, ia mulai terjun berinvestasi, khususnya reksa dana. Pada mulanya, ia mulai dengan jumlah yang kecil.

“Awalnya, sih, kecil. Cuma Rp 100 ribu. Enam bulan punya kerjaan freelance juga jadi makin bertambah (modalnya),” imbuh Pijar.

Ia memilih reksadana salah satunya karena lebih aman. “Saya, kan, emang orangnya investor moderat. Jadi tidak terlalu suka tantangan, tapi juga tidak mau terlalu aman. Jadi saya memilih reksadana saham dan reksadana pasar uang,” tambahnya.

Berbeda dengan Pijar, pengguna reksa dana lainnya, Ilhami (20) sudah memulai investasi Reksa Dana sejak kelas 3 SMA (Sekolah Menengah Atas). Tujuan ia berinvestasi tidak lain karena ingin menyiapkan masa depan yang lebih matang.

Jenis reksa dana yang ia pakai adalah reksa dana campuran dan pendapatan tetap. Awalnya ia memulai dengan modal Rp 500 ribu setiap bulannya, hingga kemudian bisa mendapat keuntungan sebesar 5 persen dalam setahun.

Kelebihan yang dirasakan dalam investasi ini adalah cukup stabil. “Kelebihannya stabil. Tergantung jenisnya juga, sih. Kan, ada yang untungnya kecil tapi grafiknya pasti naik terus,” ujarnya melanjutkan.

Baca juga: Ketahui Penyebab Naik dan Turunnya Harga Emas

Untung Besar Risiko Besar, Begitu Juga Sebaliknya

Meski tren investasi reksa dana saat ini meningkat cukup pesat. Namun jika dibuat perbandingan, hanya sekitar 600 ribu orang atau berkisar 0,25 persen saja dari total penduduk Indonesia yang berinvestasi di reksa dana.

Berbeda dengan Malaysia yang diperkirakan pertumbuhannya mencapai 40 persen, maupun juga dan Thailand yang mencapai 30 persen di awal 2018. Perkembangan investasi juga diperkuat oleh sosialisasi yang kerap dilakukan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

OJK sendiri dikabarkan menargetkan inklusi keuangan melalui fintech (financial technology) hingga menyentuh angka 75 persen.

Acuviarta Kartabi, ekonom dari Universitas Pasundan Bandung, menjelaskan bahwa setiap jenis investasi memiliki risiko masing-masing. Sehingga, investor perlu memahami apa saja resiko yang akan dihadapi.

Calon investor hendaknya tidak mudah terjebak dalam investasi bodong. Penipuan berkedok investasi biasanya disertai dengan iming-iming berupa keuntungan besar. Namun semua itu berujung penipuan, sebagaimana yang sering dijumpai dalam investasi skema Ponzi.

“Investasi reksa dana adalah investasi yang baik sepanjang kita memahami risikonya. Di dalam ekonomi itu high return high risk. Kalau ingin dapat untuk besar, risikonya juga pasti besar.”

Meskipun demikian, ia menyadari bahwa banyak orang Indonesia yang tidak paham akan kemungkinan risiko yang mungkin terjadi.

“Kebanyakan safety player, pemain yang aman. Itu tidak menjadi perilaku investasi di banyak negara. Orang Jepang itu tidak mau simpan uang di bank, dia lebih baik investasi,” terang Acuviarta.

Ni Luh Lovenila Sari Dewi

Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *