Reinforcement Positif pada Anak: Pengertian, Contoh dan Fungsinya

RUANGNEGERI.com – Reinforcement positif pada anak mempunyai pengaruh yang sangat besar pada kehidupan anak. Reinforcement atau penguatan ini memiliki andil yang cukup besar pada pembentukan kepribadian seorang anak.

Anak yang menerima penguatan positif tentu tumbuh berbeda dibandingkan anak yang tidak pernah diberi penguatan.

Penguatan positif yang diberikan kepada seorang anak mempunyai tujuan kebaikan dalam jangka panjang. Penguatan ini akan menciptakan sebuah perilaku tertentu yang memang diinginkan agar terbentuk sejak awal.

Untuk membentuk perilaku tersebut, diperlukan stimulus atau rangsangan yang sesuai dengan kondisi anak. Stimulus ini nantinya akan memberikan penguatan positif.

Pada akhirnya, semua itu akan melahirkan perilaku yang positif pula.

BACA JUGA: Seberapa Penting IQ, EQ dan SQ di Usia Dini?

Pengertian Reinforcement Positif Pada Anak

Dalam buku berjudul Sumber Kecerdasan Manusia, Ratu Ile Tokan (2016) menyebutkan bahwa reinforcement merupakan respon positif terhadap suatu tingkah laku tertentu dari anak yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.

Hal itu bisa mendorong perilaku positif yang ada dari seorang anak agar bisa timbul kembali. Selain itu juga bermanfaat untuk dapat membangkitkan dan mempertahankan motivasi anak dalam belajar. Sehingga reinforcement ini sangatlah penting dalam proses belajar.

Lebih lanjut lagi, Carole Wade & Carol Tavris (2015) dalam buku Psikologi (edisi ke-9) menyatakan bahwa reinforcement merupakan sebuah proses, di mana sebuah stimulus atau kejadian dapat memperkuat atau meningkatkan kemungkinan respon yang mengikutinya.

Dalam berbagai hal, reinforcement seringkali berhubungan erat dengan sebuah penghargaan.

Fidelis E. Waruwu (2004) melalui tulisan berjudul Belajar Menurut Pendekatan Behaviourisme, menjelaskan bahwa reinforcement memiliki arti suatu proses yang dijalani dengan menggunakan stimulus tertentu.

Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya perilaku yang telah dilakukan. Penguatan ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu positif dan negatif.

Positif yakni perilaku yang terus dikembangkan karena diikuti oleh stimulus yang menyenangkan. Proses tersebut kemudian akan menghasilkan perilaku yang menyenangkan pula.

Penguatan positif juga merupakan konsekuensi positif yang mengarahkan pada suatu perilaku tertentu. Tujuannya agar kemungkinan terjadinya kembali perilaku yang diinginkan semakin meningkat atau bertambah.

Konsekuensi positif yang dipakai dalam suatu keadaan tersebut dapat mengakibatkan peningkatan respon anak. Dengan kata lain, reinforcement positif dapat dikatakan sebagai pemberian perilaku positif yang menghasilkan perilaku positif pula.

Sedangkan yang dimaksud dengan penguatan negatif adalah perilaku yang diterapkan untuk menghilangkan sesuatu yang negatif. Oleh sebab itu, mengakibatkan peningkatan dalam kemungkinan respons yang muncul akan diulang kembali di masa depan.

Reinforcement positif pada anak ini sangat diperlukan dalam perkembangan usia anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang selalu diiringi dengan penguatan positif akan menelurkan seorang anak tumbuh dengan kepribadian yang penuh dengan sikap positif.

Anak akan menghilangkan perilaku negatif yang dimilikinya dengan menggunakan penguatan positif ini.

BACA JUGA: Parents, Lakukan Ini saat Anak dalam Tahap Autonomy dan Shame and Doubt

Contoh Reinforcement Positif Pada Anak

Tokan (2016) menyebutkan bahwa penguatan positif untuk anak dapat berbentuk verbal. Yakni menggunakan kata-kata yang membangun seperti bagus, hebat sekali, luar biasa, benar sekali, bagus sekali dan sebagainya.

Selain verbal, penguatan positif juga bisa menggunakan fisik atau anggota tubuh, contohnya wajah yang tersenyum, menepuk bahu anak, bertepuk tangan, memberi hadiah dan sebagainya.

Waruwu (2004) juga kemudian mencontoh bahwa reinforcement positif juga terjadi saat seorang anak mendapatkan nilai bagus setelah belajar dengan keras.

Karena mendapat nilai yang bagus, usaha belajar keras ini terus ditingkatkan agar mendapat nilai yang bagus lagi. Contoh lainnya adalah saat seorang anak mengajukan pertanyaan kepada guru. Kemudian guru memberikan pujian kepada anak tersebut.

Karena diberi pujian, anak tersebut lebih terus meningkatkan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik lagi.

Beberapa contoh reinforcement positif yang dapat membentuk perilaku positif pada anak adalah sebagai berikut:

  1. Ada seorang anak bertingkah sesuka hati sehingga membuat berantakan isi toko. Lalu anak tersebut diberi permen. Syaratnya adalah tidak boleh berbuat sesuka hati, harus selalu bersikap baik selama di toko. Akhirnya, anak tersebut akan cenderung untuk bersikap baik selama ada di toko.
  2. Ada seorang anak yang bernama Vani. Sejak kecil, kira-kira mulai usia 5 tahun dia mulai suka mencorat-coret di buku tulis. Coretannya berbentuk gambar yang masih abstrak. Orang tuanya melihat Vani mempunyai bakat menggambar. Setiap kali ia berhasil menyelesaikan sebuah gambar, maka orang tua memujinya, dan memberi hadiah berupa pensil warna. Karena mendapat respon yang baik dari orang tua, Vani menjadi lebih percaya diri untuk melanjutkan hobi menggambarnya itu. Hingga saat menginjak bangku sekolah, ia menjadi benar-benar mempunyai hobi menggambar dan terus mengembangkan bakatnya.
  3. Putri pada dasarnya adalah seorang anak yang mempunyai sifat pemalu. Pada suatu hari, ia diminta oleh guru untuk maju ke depan kelas guna menceritakan sebuah gambar yang dibuatnya sendiri. Setelah selesai membacakan cerita tersebut, sang guru pun memberikan pujian kepada Putri. Teman-teman sekelasnya juga bertepuk tangan. Hal tersebut tidak hanya terjadi sekali dua kali, tetapi berlangsung berulang-ulang. Pada akhirnya, Putri menjadi seorang anak lebih berani untuk maju ke depan kelas. Ia menjadi seorang anak yang pemberani bahkan sifat pemalunya itu juga berangsur-angsur hilang.

Selain contoh tersebut, masih ada banyak lagi contoh penguatan positif yang bisa diterapkan. Apa pun bentuk reinforcement positif pada anak yang dipilih untuk diterapkan, pada akhirnya penguatan tersebut membawa dampak yang positif pula.

BACA JUGA: Yuk, Ketahui Tahapan Initiative dan Guilt pada Anak Usia 3-5 Tahun

Fungsi Reinforcement Positif Pada Anak

Reinforcement berfungsi untuk menimbulkan dan mempertahankan motivasi anak dalam belajar. Hal itu juga berfungsi untuk meningkatkan atau memperkuat kemungkinan terjadinya suatu respon di masa yang akan datang.

Selain itu, penguatan positif berfungsi untuk mengembangkan atau meningkatkan suatu perilaku tertentu. Penguatan positif yang diterapkan pada anak mempunyai beberapa fungsi yang cukup penting.

Fungsi lain di antaranya adalah sebagai untuk membangkitkan motivasi belajar anak, merangsang otak anak untuk berpikir lebih baik, menciptakan perhatian anak, menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi pada diri anak serta dapat mengubah sikap negatif anak ke arah perilaku yang positif

Pada dasarnya, reinforcement positif pada anak mempunyai fungsi untuk menciptakan perilaku positif dan menghilangkan perilaku negatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *