PM Draghi Cabut Status Lockdown Italia Karena Rasio ‘Hutang yang Bagus’

RUANGNEGERI.com – Setelah diberlakukan kebijakan lockdown nasional sejak pertengahan Maret lalu, Pemerintah Italia kini bersiap untuk membuka negaranya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti penggunaan masker dan jaga jarak.

Perdana Menteri (PM) Italia Mario Draghi mengatakan bahwa aktivitas bisnis di sebagian besar negaranya sudah dapat dilanjutkan kembali mulai tanggal 26 April pekan depan. Menurutnya, hal itu karena geliat perekonomian nasional mulai membaik (rebound) sebagai imbas dari rasio hutangnya yang dinilai bagus.

Melansir Bloomberg (16/04/2021), pemerintah pusat maupun daerah di Italia pada hari Jumat, 16 April lalu telah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan lockdown nasional secara bertahap.

Keputusan ini dilakukan dengan mengelompokkan beberapa area, seperti area kuning, di mana restoran dengan tempat duduk terbuka dapat dibuka kembali. Aktivitas masyarakat juga mulai dibebaskan serta semua sekolah akan dibuka kembali di daerah yang berisiko menengah dan berisiko rendah dari penularan virus Corona.

“Risiko ini menjadi peluang yang sangat bagus, tidak hanya bagi perekonomian, namun juga bagi kehidupan sosial kita,” katanya saat jumpa pers.

Selain itu, PM Draghi juga mewanti-wanti bahwa perilaku masyarakat haruslah tetap diatur secermat mungkin, termasuk penggunaan masker wajah dan menjaga jarak.

Baca juga: Kegagalan Pemerintahan Populisme dalam Mengatasi Covid-19

Defisit Anggaran dan Kebijakan Lockdown Italia

Italia tercatat sebagai salah satu negara pertama di Eropa yang dilanda pandemi virus. Perekonomiannya menyusut hingga 9 persen di tahun 2020 lalu. PM Draghi menyetujui rencana pinjaman sebesar 40 miliar Euro (US$48 miliar atau Rp697,29 triliun).

Dana tersebut digunakan untuk menjaga agar perekonomian bisa tetap bertahan serta untuk mempercepat proses vaksinasi warganya. Sejak pandemi pertama merebak, Italia telah menganggarkan lebih dari 170 miliar Euro.

PM kelahiran tahun 1947 tersebut menyatakan bahwa dengan defisit anggaran sebesar 11,8 persen diharapkan akan mampu mendorong pertumbuhan sebesar 4,1 persen di tahun ini. Namun tidak menutup kemungkinan bisa mencapai target 4,5 persen karena adanya stimulus dan langkah-langkah strategis lainnya.

Baca juga: Divonis Bersalah Karena Korupsi, Begini Kisah Mantan Presiden Prancis

Saat kebijakan lockdown sebulan lalu, Italia merupakan salah satu negara dengan sebaran virus tertinggi di dunia. The New York Times (14/03/2021) menyebutkan lebih dari 100.000 orang meninggal dunia dan 3,2 juta orang positif terinfeksi virus. Kenaikan harian bahkan nyaris sebesar 15 persen saat itu.

“Saya menyadari bahwa tindakan saat ini (lockdown nasional) akan berdampak pada pendidikan anak-anak, pada ekonomi dan juga pada kondisi psikologis kita semua. Namun mereka juga perlu menghindari (keadaan) yang memburuk sehingga akan membuat (pemerintah) melakukan tindakan-tindakan yang lebih ketat,” ujarnya.

Penutupan secara besar-besaran diberlakukan di 20 kota besar di Italia termasuk Roma, Milan dan Venesia. Selain juga di bagian utara yakni Lazio dan Marche, di bagian tengah serta Campania dan Puglia di bagian selatan. Rumah sakit, sekolah serta pusat perbelanjaan juga ditutup.

Baca juga: Kembalinya Macron dan Le Pen di Bursa Calon Presiden Prancis 2022

Tantangan PM Draghi Memulihkan Ekonomi Italia

Diangkatnya Mario Draghi sebagai PM Italia pada pertengahan Februari lalu dinilai akan membawa angin segar bagi pemulihan ekonomi di Italia yang hancur akibat pandemi Covid-19.

Ia merupakan seorang teknokrat berpengalaman dalam bidang ekonomi karena sebelumnya pernah menjabat sebagai Presiden Bank Sentral Eropa periode tahun 2011 hingga 2019 serta Gubernur Bank Sentral Italia sejak 2006 sampai 2011.

Melansir Reuters (16/09/2020), kebijakannya juga digadang-gadang sangat penting bagi Uni Eropa dan Amerika Serikat. Sebagai penerima terbesar Dana Pemulihan Eropa yang totalnya mencapai angka 750 miliar Euro (US$890 miliar atau Rp13 ribu triliun), Italia diyakini akan mampu memperbaiki masalah ekonomi.

Selain itu juga mampu mengurangi kesenjangan pertumbuhan ekonomi selama puluhan tahun di negara-negara anggota Uni Eropa.

Italia sendiri diperkirakan menerima dana cash sebesar 209 miliar Euro untuk memulihkan perekonomian nasional yang terpukul oleh virus Corona.

Jumlah pastinya untuk setiap negara belum diputuskan, namun Italia memiliki lebih banyak untuk dibelanjakan dari pada negara Uni Eropa lainnya.

Baca juga: Mantan PM Inggris David Cameron Diduga Melobi Menteri Keuangan Terkait Dana Covid-19

Jika Roma mampu menginvestasikan uangnya dengan baik, maka akan digunakan untuk membangun infrastruktur transportasi serta internet guna mendukung perekonomian yang lebih hijau dan lebih dinamis.

Namun Italia memiliki rekam jejak yang buruk dalam investasi sektor produktif. Penggunaan Dana Pemulihan Uni Eropa secara tunai di Italia juga bakal dinilai tidak tepat sasaran, di mana sekitar 60 persen akan menjadi pinjaman murah.

Hal itu dikhawatirkan hanya akan menambah hutang publik menggunung. Akibatnya risiko gagal bayar juga bakal meningkat.

“Kurangnya tingkat produktivitas yang kita (Italia) miliki tidak akan dapat diperbaiki dengan kebijakan moneter atau belanja pemerintah yang lebih tinggi,” ungkap Fabrizio Balassone, ekonom Bank of Italy mengingatkan parlemen Italia pada September 2020 lalu.

Nur Fauziyah Pradita

Alumnus Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menaruh minat pada isu-isu internasional dan pembangunan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *