Presiden Trump Positif Covid-19, Penerbangan Pesawat Nuklir Tetap Dilanjutkan

RUANGNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump, didiagnosa positif Covid-19. Kabar tersebut banyak mempengaruhi sebagian rencana dan jadwal kenegaraan Gedung Putih.

Kabar itu juga tentu saja membawa dampak pada kampanye Trump menjelang pemilu bulan November nanti. Namun, kondisi Trump justru tidak akan mempengaruhi jadwal penerbangan E-6. Sebuah pesawat komando Pentagon bertenaga nuklir.

Melansir dari laman Military.com (02/10/2020), Komando Strategis AS menerbangkan dua Navy E-6B Mercury. Pesawat milik Angkatan Laut AS.

Rencana penerbangan peswat ini juga telah direncanakan jauh-jauh hari. Sedangkan “kondisi presiden murni hal yang tidak terduga,” ujar Jonathan Hoffman, Kepala Jubir Pentagon.

Ia menambahkan bahwa “struktur komando dan kontrol nasional sama sekali tidak terpengaruh” terhadap apa yang terjadi pada Komandan tertinggi Angkatan Bersenjata AS tersebut.

Mengudaranya E-6B Mercury adalah bagian dari misi pra-penerbangan. Selain itu juga sebagai bagian dari misi operasi “Looking Glass.” Yakni sebuah kode dari pusat kendali dan komando militer lintas udara oleh AS.

Pesawat ini bertugas untuk mengendalikan penggunaan senjata nuklir di udara. Berbeda dari koleganya E-4B, pesawat E-6B bertugas sebagai penyambung komunikasi.

Yaitu menghubungkan antara Otoritas Komando Nasional dengan Departemen Pertahanan AS. Misi yang dioperasikannya adalah meliputi kapal selam, pasukan rudal dan pengebom.

Otoritas Komando Nasional AS adalah Presiden Donald Trump sendiri. Selain itu juga ada Menteri Pertahanan dan struktur strategis lainnya. Para pejabat tersebut memiliki otoritas atas peluncuran senjata nuklir dari kapal selam dan hulu ledak darat.

Dalam beberapa bulan terakhir, penerbangan pesawat jenis ini memang meningkat. Latihan untuk Pos Komando Lintas Udara juga meningkat terutama di bulan-bulan musim gugur.

BACA JUGA: Senjata Baru Angkatan Udara AS, Mulai Bom Hingga Misil yang Bekerja Sendiri

Boeing Defense, Space & Security

Pesawat besutan Boeing ini adalah versi militer dari Boeing 707-320. E-6B Mercury dapat mencapai kecepatan 960 mil per jam dan terbang hingga ketinggian di atas 40.000 kaki.

Memiliki dengan kemampuan terbang hingga 12.144 km atau 6 jam tanpa mengisi bahan bakar ini dapat mengangkut 22 kru. Bertugas menghubungkan Otoritas Komando Nasional dengan kekuatan nuklir Angkatan Lautnya. Nuklir ini dibawa oleh kapal selam rudal balistik.

E-6B Mercury adalah pengganti EC-135 sebagai Pos Komando Lintas Udara Angkatan Udara. EC-135 sendiri telah digunakan sejak Perang Dingin.

Pesawat ini merupakan versi modifikasi dari E-6A dengan keunggulan memiliki posisi battle staff dan beberapa peralatan khusus lain.

Selain dapat menjadi Pos Komando Lintas Udara, E-6B juga dilengkapi sistem kendali peluncuran udara (ALCS). Sistem ini mampu meluncurkan rudal balistik antar benua berbasis darat.

E-6B pertama kali dipakai untuk menjalankan operasional ganda pada Oktober 1998. Lantas, seluruh armada E-6 dimodifikasi menjadi konfigurasi E-6B pada tahun 2003.

BACA JUGA: Amerika Serikat Khawatir dengan Kekuatan Nuklir Tiongkok

Baik E-6 maupun armada E-6B Mercury adalah dua dari puluhan armada militer AS yang diproduksi oleh Boeing Defense, Space & Security. Begitu pula dengan armada yang digantikan sebelumnya, EC 135 dan 130.

Mengutip dari situs resmi Boeing, disebutkan bahwa Boeing Defense, Space & Security (BDS) adalah perubahan nama dari Boeing Integrated Defense Systems (IDS).

Ini merupakan unit dari The Boeing Company yang bertanggung jawab terhadap produk dan layanan pertahanan, luar angkasa dan militer.

BDS dibentuk pada tahun 2002, yang merupakan gabungan dari Military Aircraft and Missile Systems dengan Space and CommunicationsBDS bertanggung jawab untuk 45% dari pendapatan perusahaan pada tahun 2011.

Pada tahun 2014, pendapatannya ditaksir sebesar AS $ 30 miliar. Perusahaan ini berbasis di luar St. Louis, Missouri dan memiliki 50.699 karyawan pada tahun 2015.

Puluhan jenis pesawat dan helikopter militer telah diproduksi unit kerja ini sejak dibentuk. Termasuk jet tempur, jet penyerang, pesawat tanker, pesawat pengangkut dan helikopter serang.

Selain itu juga memproduksi satelit dan sistem satelit di bawah Hughes Satellite System. Unit ini merupakan kelompok terkonsolidasi dari Boeing Military Airplane Company, Hughes Satellite Systems, Hughes Helicopters serta Boeing Helicopters. 

BACA JUGA: Tiongkok Siapkan Pesawat Tempur Baru Menghadapi Perang Masa Depan

Mengenal Pos Komando Lintas Udara

Pos komando lintas udara dikenal juga dengan nama Sistem Kontrol dan Komando Pasca Serangan atau PACCS (Post-Attack Command and Control System).

Yakni merupakan jaringan situs komunikasi yang digunakan sebelum, selama dan setelah serangan nuklir di AS, baik darat maupun udara. Awalnya, Pos Komando ini adalah cara agar AS selalu dapat mengantisipasi serangan rudal nuklir dari Uni Soviet.

PACCS dirancang untuk memastikan bahwa Otoritas Komando Nasional akan mempertahankan seluruh kendali militer nuklir di AS. Fungsi Pos Komando Lintas Udara PACCS terus berkembang.

Hingga akhirnya menjadi sistem komando dan kendali penuh. Dalam artian lengkap dengan pemantauan status kekuatan, inisiasi atau penyiaran arahan peluncuran rudal baik dari darat maupun laut.

Hal ini memungkinkan Otoritas Komando Nasional AS untuk dapat melakukan pengiriman pesan khusus ke kru tempur rudal dan pusat kendali peluncuran cadangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *