Potret Karier Para Wanita AS di Tengah Covid-19

RUANGNEGERI.com – Wabah Covid-19 atau virus corona masih terus berlangsung hingga sekarang. Dampaknya pun tidak main-main karena memukul hampir semua aspek kehidupan.

Kondisi dunia yang tengah krisis akibat pandemi virus ini secara tidak langsung menyebabkan penurunan karier bagi pria dan wanita.

Para pekerja banyak yang dirumahkan dan terkena PHK. Tidak sedikit dari golongan pebisnis menelan pil pahit karena pendapatan usahanya merosot jauh dan gulung tikar.

Secara umum, aktivitas bekerja memang identik dengan kesan maskulin karena rata-rata dilakukan golongan pria. Lantas, bagaimana nasib para wanita yang menjalani karier selama coronavirus merebak?

Di saat angka pengangguran kian meningkat, ternyata wanita lebih menderita dibandingkan pria. Pemikiran yang kompleks akan membayangi kaum hawa, mulai dari sekolah anak, biaya rumah tangga, kesehatan, dan urusan lainnya.

Utamanya, wanita yang berstatus sebagai tenaga kerja dalam suatu perusahaan disinyalir mengalami kemerosotan ekonomi.

Diperkirakan selama beberapa tahun ke depan, dampak virus ini akan mempengaruhi promosi jabatan dan memperburuk nominal gaji.

Melansir dari CNBC.com, angkat pengangguran wanita per Juni 2020 menunjukkan peningkatan. Terdapat sekitar 11,2% wanita menganggur dalam usia produktif yakni di atas usia 20 tahun.

Persentase ini lebih tinggi dibandingkan angka pengangguran kaum pria dalam usia produktif.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa wanita cenderung menangani pekerjaan pada sektor-sektor yang terkena dampak penyebaran virus corona. Seperti, sektor ritel, layanan, dan hiburan.

Eugene Scalia, Sekretaris Divisi Perburuhan menuturkan bahwa tingkat pengangguran wanita sebelum virus melanda lebih rendah dari pada pria.

Persentase pengangguran kalangan wanita kulit hitam dengan usia diatas 20 tahun juga meningkat yakni 14% per Juni 2020. Terlebih lagi setelah fenomena kerusuhan rasial ‘Black Lives Matter’ di AS yang terjadi beberapa waktu lalu.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Economic Policy Institute, rata-rata wanita berkulit hitam juga mengalami kesenjangan gaji.

Misalnya, mereka memperoleh gaji 62 sen setiap jam dibandingkan wanita kulit putih yang digaji 79 sen per jam.

BACA JUGA: Kesenjangan Gender pada Gerakan ‘Ramah Lingkungan’

Pandangan Para Eksekutif Wanita

Berbagai bidang karier yang digeluti oleh wanita terkena dampak langsung dari pandemi. Melansir dari CNBC.com, ada beberapa eksekutif wanita memberikan pandangan berbeda.

Pertama dari Mary Beth Ferrante yang berkedudukan sebagai CEO perusahaan WRK/30. Ferrante menyatakan adanya dampak finansial besar ketika seorang wanita memutuskan berhenti atau keluar dari dunia kerja.

Seperti beberapa karyawan wanita yang bekerja di perusahaannya telah memutuskan keluar karena alasan pengasuhan anak dan keluar. Padahal, mereka tengah menduduki masa-masa emas dalam kariernya.

Posisi berbeda ketika wanita terpaksa berhenti bekerja karena wabah pandemi. Bagi mereka yang telah berumah tangga, cenderung fokus menjaga anak-anak dan keluarganya. Para ibu rumah tangga ini justru aktif hampir 15 jam mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk memastikan semua anggota keluarga terlindungi.

Kedua, Lorraine Hariton, seorang CEO Catalyst mengatakan akan perubahan kinerja karyawan dan SOP perusahaan. Perubahan signifikan yang menyesuaikan dengan situasi new normal, mulai dari praktik perekrutan karyawan, promosi jabatan, pelatihan keterampilan pekerja, rapat dan evaluasi kerja, dan uang kompensasi.

Selain itu, lingkungan kerja perlu dibangun lebih inklusif seiring dengan perubahan budaya kerja.

Ketiga, Allyson Zimmermann, direktur Catalyst yakni LSM global yang menjalin kerjasama dengan perusahaan untuk meningkatkan lingkungan kerja wanita. Hampir semua wanita merasakan stress karena sistem kerja dari perusahaan yang sudah usang selama pandemi.

Catalyst juga melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk melacak karier 10.000 pria dan wanita lulusan MBA. Mereka mengenyam pendidikan di 26 institusi bisnis terkemuka di Asia, Kanada, AS, dan Eropa.

Hasil penelitian ini mengungkap bahwa wanita kekurangan pilihan kerja dan fleksibilitas pekerjaan. Akibatnya motivasi bekerja saat memasuki usia menikah akan menurun.

Tetapi ada juga hal-hal lain yang menghambat kemajuan wanita di tempat kerja yakni berapa jumlah anak yang dimiliki.

Dalam studi Catalyst, lulusan pria dihargai dengan kenaikan gaji setelah mereka pindah ke perusahaan lain. Berbeda dengan lulusan wanita, perusahaan baru memberikan kenaikan gaji setelah menempati posisi lebih tinggi.

Ketika pandemi berlangsung, karyawan wanita justru mengalami tekanan dari perusahaan. Beberapa perusahaan menuntut remote-working yang optimal.

Sehingga, sangat penting menerapkan manajemen waktu untuk mengurusi rumah tangga dan mengerjakan tugas kantor.

BACA JUGA: Meminimalkan Harga Kemanusiaan di Masa Covid-19 oleh Pelaku Bisnis 

Cuti Berbayar dalam RUU Perlindungan Hukum Pekerja Wanita AS

Pusat Hukum Wanita Nasional AS memperluas layanan hukum untuk membantu pekerja wanita memperoleh cuti berbayar karena virus corona.

Disamping itu, pada Maret 2020, Kongres AS meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) Coronavirus, yaitu Family First Coronavirus Response Act.

Isinya antara lain adalah, bahwa perusahaan yang memiliki 50-500 karyawan di AS wajib memberikan cuti selama dua minggu masa darurat.

Selain itu, perusahaan juga diberikan kewajiban untuk membayar kompensasi bagi pekerja serta anggota keluarga yang membutuhkan perawatan medis karena Covid-19.

RUU ini juga mewajibkan pengusaha untuk memberikan cuti berbayar hingga 12 minggu khusus bagi pekerja yang harus dikarantina dan wanita yang merawat anak.

Sebuah hasil survei dari Morning Consult, The New York Times menyatakan hanya sedikit perusahaan yang menyetujui undang-undang tersebut. Ditemukan sekitar 28% pemimpin perusahaan menganggap RUU tersebut hanya menguntungkan pihak pekerja saja.

Sharyn Tejani, direktur Jaringan Hukum NWLC untuk Kesetaraan Gender, mengungkapkan bahwa “para pekerja berada pada situasi yang mustahil saat ini. Mereka mencoba memutuskan antara merawat anak-anak dan pergi bekerja atau melakukan keduanya.”

Harapan dari pemberlakuan cuti berbayar dapat membantu para pekerja terutama wanita memperoleh haknya. Para pekerja yang ingin mendapatkan cuti berbayar harus mengisi formulir online untuk meminta bantuan hukum.

Setiap individu yang mendaftar akan ditangani oleh tiga pengacara dari jaringan organisasi. Semua konsultasi hukum diberikan secara cuma-cuma.

Dari sini dapat dilihat apakah pekerja tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh cuti berbayar berdasarkan Family First Coronavirus Response Act.

Apabila ternyata perusahaan justru memberikan pekerja masalah, maka pekerja ini berhak memutuskan apakah perlu batuan hukum gratis lebih lanjut atau tidak.

Kini, Covid-19 telah mengubah sistem dunia kerja di AS. Meskipun demikian, ada beberapa catatan yang tentu saja tidak bisa memuaskan semua pihak, yakni sektor industri dan pekerja pada umumnya.

Adanya pembaharuan tentu ada juga yang dikorbankan. Terutama para pekerja wanita yang telah menikah, mereka harus mencicipi remote-working dan mengerjakan kegiatan rumah. Namun bagi sebagian lainnya yang kurang beruntung, mereka terpaksa dirumahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *