Politik Ekonomi AS dalam Konferensi Bretton Woods

RUANGNEGERI.com – Revolusi Industri yang terjadi di Inggris abad ke-17 banyak merubah struktur moneter dan keuangan Eropa, dan juga dunia pada umumnya. Percetakan uang kertas, dari yang sebelumnya menggunakan emas, merupakan awal dari perubahan fundamental perekonomian dunia.

Bank of England yang didirikan pada tahun 1694 adalah yang pertama mencetak uang kertas, yaitu Pound Sterling (£). Bank sentral yang awal pendiriannya adalah untuk membiayai perang melawan Perancis, tercatat sebagai institusi yang pertama memperkenalkan sistem standar emas (gold standard).

Bank tersebut merupakan simbol kemenangan perekonomian Inggris sekaligus sebagai simbol dari kekuatan kapitalisme global hingga awal abad ke-19.

Dengan menerapkan sistem standar emas melalui bank inilah mata uang Inggris berhasil menjadi yang paling kuat di dunia.

Setelah Inggris menerapkan kebijakan tersebut, negara-negara lain seperti Australia dan Kanada menyusul jejak Inggris mencetak uang kertas sebagai alat pembayaran yang sah menggantikan emas dan perak.

Standar emas di sini bukan berarti bahwa emas menjadi alat tukar-menukar. Akan tetapi emas adalah dijadikan sebagai satuan standar nilai nominal dari uang kertas.

Cadangan devisa negara masih berupa emas, bukan AS $ seperti saat ini. Uang kertas yang dicetak oleh masing-masing negara ditentukan oleh banyaknya simpanan emas negara tersebut.

Emas juga digunakan sebagai standar perdagangan internasional, sehingga emas merupakan satuan hitung yang menentukan nilai barang dan jasa antar negara.

Stabilitas sistem berbasis emas tersebut bertahan cukup lama, mulai dari abad ke-17 hingga beberapa saat setelah Perang Dunia I.

Perang besar yang berlangsung antara tahun 1914 hingga 1919 mengakibatkan resesi dan keterpurukan di jantung ekonomi kapitalisme, yakni Amerika Serikat dan Inggris.

Puncak dari kekacauan tersebut dikenal dengan sebutan Great Depression atau depresi ekonomi secara besar-besaran pada tahun 1929 hingga 1932.

Goncangan ekonomi dunia tersebut berawal dari penurunan nilai saham secara masif di bursa saham New York, AS pada 29 Oktober 1929.

Kepanikan dan aksi spekulasi di pasar saham kemudian cepat bergerak ke berbagai sektor yang memperburuk perekonomian dunia. Volume perdagangan internasional tercatat turun hingga 50%. Secara agregat, pengangguran di seluruh dunia naik sebesar 30%.

Kemiskinan dan kelaparan terjadi secara masif di mana-mana. Inggris serta negara-negara Eropa Barat yang terlibat dalam PD I khususnya, mengalami kemerosotan ekonomi yang signifikan. Selama kurun waktu tiga tahun di masa Depresi Besar, pengangguran di AS bahkan meningkat hampir enam kali lipat.

Kesulitan ekonomi juga kian parah dengan ketidakmampuan Inggris membayar hutang kepada AS, sebab hutangnya diukur dengan standar emas. Perekonomian AS menjadi lesu sebagai akibat turunnya permintaan barang dan jasa dari negara-negara industri di Eropa Barat. Neraca perdagangan AS juga ikut menurun signifikan.

Meskipun masih banyak diperdebatkan, terutama sikap politik pemerintah AS dan Inggris saat itu, sistem moneter standar emas disinyalir menjadi biang masalah atas terjadinya depresi ekonomi dunia.

Ketentuan standar emas yang dinilai kurang likuid membuat negara tidak bisa bebas memenuhi kebutuhan uang tunai kepada masyarakatnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi tersebut, langkah mengejutkan dan kontroversial dilakukan oleh AS. Pemerintah negeri Paman Sam tersebut justru menarik sebanyak mungkin emas dari rakyatnya.

Keputusan tersebut ditandatangani oleh Presiden Franklin D. Roosevelt melalui The Gold Reserve Act pada tanggal 30 Januari 1934.

BACA JUGA: Politik Identitas: Unipolar versus Multipolar

Seluruh surat berharga emas yang dimiliki oleh masyarakat dan perusahaan harus dijual ke pemerintah melalui Departemen Keuangan AS seharga $ 20,67 per ounce.

Setelah emas dari masyarakat terkumpul, pemerintah AS kemudian menaikkan harga emas sebesar 60%, menjadi $ 35 per ounce.

Dengan kata lain, masyarakat dipaksa untuk menjual emas dengan harga yang lebih murah. Setelah mereka menjualnya kepada pemerintah, harga emas tiba-tiba dinaikkan oleh pemerintah.

Implikasinya jelas sangat merugikan rakyat banyak. Belakangan diberitakan bahwa beberapa orang super kaya di AS mendepositokan emasnya di salah satu bank di Swiss.

Pemerintah AS berargumen bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk menurunkan (devaluasi) nilai Dollar terhadap emas.

Melalui skema tersebut, maka The Fed (bank sentral AS) memiliki kesempatan mencetak uang $ lebih banyak lagi. Dengan harga emas yang baru yakni $ 35 per ounce, maka jumlah $ yang dicetak juga semakin banyak.

Dengan semakin banyak mata uang $ yang beredar, Presiden Roosevelt berargumen bahwa semua itu bertujuan untuk menjaga stabilitas harga-harga domestik.

Selain itu, cadangan dalam bentuk $ juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan luar negeri sebagai akibat dari adanya depresiasi nilai mata uang asing (£ Inggris).

To stabilize domestic prices and to protect the foreign commerce against the adverse effect of depreciated foreign currencies”.

Selain itu, pemerintah juga menginginkan adanya suatu skema peningkatan penawaran kredit dalam bentuk pinjaman $ kepada masyarakat. Pemerintah AS menganjurkan negara-negara lain untuk berhutang dengan besaran bunga yang ditetapkan oleh The Fed.

Hal itu diklaim akan meningkatkan siklus perekonomian dunia sebagai akibat dari Depresi Besar.

Ditinjau dari kacamata politik ekonomi, kebijakan pemerintah AS tersebut jelas bertujuan untuk semakin menguatkan posisi $ dibandingkan dengan £ (Inggris).

Semakin banyak negara-negara yang memegang uang $, maka semakin tinggi pula integritas AS sebagai pengendali perekonomian dunia.

Inggris yang selama dua abad mengendalikan sistem moneter dan keuangan berbasiskan emas sudah menghapusnya sendiri di saat Depresi Besar tahun 1931. Kebijakan ini juga diikuti oleh negara-negara Eropa Barat yang menderita akibat perang.

Tujuannya hampir serupa dengan AS, yaitu bisa mencetak uang kertas sebanyak mungkin. Dengan mencetak uang kertas tanpa ditopang emas, maka uang kertas bisa digunakan untuk melakukan stimulus perekonomian yang porak-poranda akibat PD I serta Depresi Besar.

BACA JUGA: Politik Identitas: Tinjauan Sosial di Era Digital

Dollar AS sebagai Hard Currency

Kebijakan The Gold Reserve Act pada awal tahun 1934 tersebut dinilai paling berhasil mengatasi kemelut ekonomi. Strategi yang tertata rapi dari para politisi dan ekonom negeri Paman Sam saat dalam menghadapi Depresi Besar terbukti banyak menunjukkan hasil positif bagi perekonomian domestiknya.

Kebijakan paksa ‘menarik emas’ dari masyarakat terbukti berhasil mempercepat pemulihan ekonomi AS. Di sisi lain, kemelut ekonomi dan sosial dampak dari Depresi Besar masih banyak dirasakan oleh negara-negara di kawasan Eropa Barat lainnya.

Keluarnya Inggris dari sistem standar emas juga tidak terlampau signifikan dalam upaya memulihkan perekonomian.

Perubahan radikal politik perekonomian dunia terjadi menjelang berakhirnya PD II. Perang skala besar dengan melibatkan banyak negara dari berbagai benua tersebut berlangsung hanya satu dekade setelah terjadinya Depresi Besar. Kondisi tersebut membuat banyak negara semakin jatuh ke dalam keterpurukan ekonomi.

Jerman Barat, Jepang, Italia dan Uni Soviet merupakan negara-negara yang terkena dampak paling parah dari perang besar yang berlangsung dari tahun 1939 hingga 1945.

Selain kerugian material, jutaan nyawa manusia juga melayang sebagai dampak dari perang yang sudah mulai menggunakan senjata nuklir tersebut. Kompleksitas sosial senantiasa menghasilkan konsensus baru.

Meskipun AS juga mengalami kerusakan, namun dengan segala perhitungan yang matang seolah sudah menunjukkan kesiapan dalam menghadapi ‘perang lanjutan’. Berbagai skenario ekonomi, politik dan militer nampak sudah diatur dengan baik.

Kekacauan sebagai akibat PD II justru kian menguatkan legitimasi AS. Kekuatan diplomasi AS dalam menyusun tatanan ekonomi dunia baru menjadi pertimbangan banyak negara.

Momen tersebut juga seolah didukung dengan keputusan Inggris dan negara-negara Eropa Barat yang meninggalkan standar emas.

Dengan sudah tidak berlakunya lagi standar emas, semenjak Inggris melalui Bank of England menghapusnya pada tahun 1931, maka sistem moneter dan keuangan dunia nihil dari satuan standar nilai.

Standar nilai nominal antara satu mata uang dengan mata uang lainnya menjadi tidak ada lagi. Sebab emas sudah tidak dijadikan standar.

Menjelang berakhirnya masa perang, AS kemudian menawarkan inisiatif baru dengan mengumpulkan negara-negara besar dunia untuk menyusun tatanan ekonomi dunia baru. Konferensi Bretton Woods pada tahun 1944 di New Hampshire, Amerika Serikat menunjukkan kuatnya dominasi negeri Paman Sam.

Legitimasi AS untuk menguasai sistem moneter dan keuangan dunia menggantikan Inggris mendapatkan momentum yang tepat.

Selain sebagai pemenang PD II, seruan AS yang konon memiliki persediaan emas hampir dua pertiga dari total emas dunia, juga menjadi alasan kuatnya peran Washington di panggung Bretton Woods.

John Maynard Keynes yang merupakan ekonom Inggris paling berpengaruh saat itu merupakan aktor utama lahirnya kesepakatan Bretton Woods.

Ekonom sekaligus penasihat senior bidang keuangan AS, Harry Dexter White juga berperan signifikan merumuskan kebijakan.

BACA JUGA: Globalisasi dan Kekuatan Modernitas

Konferensi Bretton Woods memiliki legitimasi yang sangat kuat karena adanya kolaborasi dan konsensus negara-negara besar lintas benua.

Negosiasi yang memakan waktu selama tiga pekan dengan dihadiri perwakilan dari 44 negara berakhir dengan kesepakatan penting yang kemudian hari banyak mengubah tatanan politik ekonomi dunia.

Secara kelembagaan, konferensi tersebut menyepakati berdirinya IMF dan Bank Dunia. Melalui kordinasi dua lembaga tersebut, stabilitas perekonomian serta perdamaian dunia diklaim akan meningkat.

Depresi Besar yang terjadi pada tahun 1930-an juga diharapkan tidak terulang kembali.

Tujuan politik dari konferensi tersebut adalah menyepakati sistem standar nilai untuk dijadikan satuan nominal mata uang internasional, atau yang dikenal dengan istilah hard currency.

Mata uang $ disepakati menjadi hard currency. Nilai nominal mata uang negara lain serta perdagangan internasional bukan lagi diukur dengan emas, namun dengan $.

Dengan begitu maka perputaran uang kertas menjadi lebih likuid bila dibandingkan dengan sistem berbasiskan emas.

Situasi sulit di masa-masa Depresi Besar serta kekacauan sebagai dampak dari PD II membuat banyak negara perlu mencetak uang kertas lebih banyak demi melakukan stimulus perekonomian.

Kesepakatan awal konferensi Bretton Woods menyebutkan bahwa percetakan $ harus ditopang dengan emas (fixed exchange rate).

Klaim bahwa pemerintah AS memiliki banyak cadangan emas membuat keputusan tersebut berhasil meyakinkan peserta konferensi. Adanya unsur emas dalam setiap percetakan uang $ membuat integritas nominal mata uang tersebut tetap terjaga.

Cadangan devisa seluruh negara juga kini bukan lagi emas, namun mata uang Dollar. Dengan memiliki simpanan $, setiap negara dapat menukarkan dengan emas kepada pemerintah AS.

Penukaran dilakukan melalui bank sentral masing-masing negara kepada IMF dengan harga $ 35 per ounce.

Dengan begitu, ketergantungan terhadap Dollar diseluruh dunia terus meningkat. Selain sebagai cadangan devisa, mata uang $ juga digunakan dalam perdagangan internasional.

Ekspor-impor antara Indonesia dengan Malaysia misalnya, nilai kurs mata uangnya ditentukan oleh $. Bukan ditentukan oleh mata uang kedua negara tersebut, yakni Rupiah atau Ringgit Malaysia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *