Peran Pesantren dalam Mendorong Perekonomian

RUANGNEGERI.com – Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia. Ratusan ribu, bahkan jutaan orang dari berbagai lapisan masyarakat pernah mengenyam pendidikan pesantren.

Tulisan singkat ini membahas pesantren dari perspektif ekonomi. Yakni bagaimana tantangan pendidikan pesantren dalam upaya mendorong ekonomi santri khususnya, serta masyarakat pada umumnya. Pendidikan banyak dipandang menjadi salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan terbaik.

Pandangan tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Esther Duflo (2001) dengan judul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment. 

Ia menyimpulkan bahwa program sekolah INPRES yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1973 hingga 1978 dinilai telah berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat sebesar 3 hingga 5,4 persen.

Di Indonesia, topik mengenai imbal-balik pendidikan terhadap pendapatan sudah cukup banyak dikaji. Meski demikian, pembahasan tentang dampak pendidikan khusus keagamaan terhadap pendapatan masih belum banyak.

Baca juga: Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

Konsep Imbal-Balik Pendidikan (Return to Education)

Dalam ekonomi, pendidikan dipandang sebagai instrumen investasi. Dalam artian, jumlah nominal uang yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan seseorang harus dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar.

Hanya saja, investasi di bidang pendidikan tidak dapat di batalkan (divestasi). Sehingga investasi di bidang ini terbilang memiliki tingkat risiko yang lebih besar jika dibanding dengan investasi di industri lain.

Senda dengan penelitian di atas, Brian Gill, dkk (2005) melalui tulisan berjudul Inspiration, Perspiration and Time Operations and Achievement in Edison Schools, menyebutkan terdapat korelasi positif yang kuat antara tingkat pendidikan dengan pendapatan.

Lebih jauh lagi, pendidikan bahkan tidak hanya berdampak pada pendapatan individu dan komunitas saja. Pendidikan dalam skala luas juga akan meningkatkan pendapatan sebuah negara.

Baca juga: Pesantren sebagai Perlawanan terhadap Kolonial

Tingkat pendidikan dipandang dapat meningkatkan pendapatan. Secara teoritis, Walter Nicholson & Christopher Snyder (2012) dalam buku berjudul Microeconomic Theory: Basic Principles and Extensions, menjelaskan bahwa orang yang memiliki tingkat pendidikan (human capital) yang lebih tinggi akan cenderung lebih produktif.

Oleh karenanya, permintaan akan pendidikan sangat besar terutama di negara-negara berkembang. Salah satu dampak tingginya permintaan (demand side) terhadap pendidikan adalah biaya pendidikan. Ketika permintaan terhadap pendidikan meningkat, maka biayanya pun akan semakin mahal.

Di satu sisi, pendidikan pesantren, terutama pesantren tradisional yang umumnya jauh dari perkotaan, dikenal sebagai institusi pendidikan yang menawarkan biaya pendidikan yang terjangkau dari waktu ke waktu.

Pertanyaannya adalah, apakah pendidikan pesantren mampu mengimbangi pendidikan selain pesantren dalam hal kuantitas imbal-balik hasil pendidikan?

Baca juga: Melihat Tantangan dan Peluang Diplomasi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19

Pendidikan Pesantren di Indonesia

Dalam Islam khususnya, pendidikan secara konseptual adalah menjadi salah satu hal penting. Tidak mengherankan bila jauh hari sebelum Indonesia merdeka, pesantren sudah menjadi institusi pendidikan yang telah berhasil mencerdaskan kehidupan bangsa.

Azyumardi Azra (2005), menyebutkan bahwa keberadaan pesantren, dayah atau surau sebagai institusi pendidikan dapat ditelusuri hingga awal masuknya agama Islam ke Indonesia. Namun baru 100 tahun ke belakang institusi ini banyak mengalami perubahan demi menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Dalam buku berjudul The Religion of Java, Clifford Geertz (1960) menjelaskan bahwa pendidikan di pesantren berfokus sepenuhnya dalam pendidikan keagamaan. Dalam hal ini, ada tujuh topik yang diajarkan di Pesantren. Topik tersebut antara lain fiqh (hukum), tauhid (logika, akidah), tarikh (sejarah), tasawuf (mistisisme), akhlak (moral), nahwu-shorof (Bahasa Arab) dan falaq (astronomi).

Pada masa itu, apa yang ditulisnya mungkin benar. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, kini banyak pesantren di Indonesia yang juga membuka sekolah formal bahkan hingga tingkat universitas.

Baca juga: Globalisasi dan Kekuatan Modernitas

Mengacu pada database yang dirilis Direktorat Pendidikan Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia, pada tahun 2011-2012 saja sudah terdapat sekitar 14.459 dari 27.230 pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ditambah lagi dengan sekolah formal, baik itu MI (SD), MTs (SMP) maupun MA (SMA). Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat dari tahun ke tahun.

Tidak seperti sekolah formal pada umumnya, jadwal dan mata pelajaran di pesantren sangat tergantung dengan pengelola institusi pesantren itu sendiri. Sehingga kualitas pengajaran dan kurikulumnya sangat mungkin berbeda di satu pesantren dengan lainnya.

Dengan banyaknya institusi pesantren yang ada di Indonesia, sudah seharusnya bila efektivitas pendidikan pesantren juga diukur dengan pendapatan yang diperoleh oleh santri atau masyarakat sekitar.

Baca juga: Membangun Kemandirian Desa untuk Masa Depan

Pesantren Terhadap Ekonomi Santri

Studi dampak pendidikan keagamaan terhadap pendapatan secara umum masih jarang baik di Indonesia maupun di dunia. Namun, berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa imbal-balik investasi pendidikan (return to education) di sekolah keagamaan cenderung masih lebih rendah dibandingkan dengan investasi pendidikan umum.

Penelitian terkait fenomena tersebut telah saya lakukan dalam skripsi saya pada tahun 2019 di Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dengan judul Private Return to Education: Analisis Perbandingan Return to Education Pesantren dan Sekolah Non-Pesantren.

Dalam penelitian tersebut saya menemukan bahwa kualitas pengajaran di sekolah berbasis keagamaan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan sekolah umum. Santri (yang hanya mondok dan tidak sekolah) cenderung memiliki pendapatan yang lebih rendah daripada siswa sekolah umum.

Metodologinya adalah dengan mengumpulkan 108 data individu dari IFLS (Indonesian Family Life Survey) ke-3 (2000) hingga ke-5 (2014). Imbal-balik investasi di bidang pendidikan keagamaan di pesantren memang lebih rendah dari pada imbal balik investasi pendidikan di sekolah umum.

Risti Permani (2013) melalui penelitian berjudul The Economics of Islamic Education: Evidence from Indonesia, menyebutkan dampak sosial pesantren terhadap warga sekitar. Menurutnya, pesantren lebih cenderung memberikan dampak ekonomi secara tidak langsung, yakni kepada masyarakat sekitar (social return to education).

Namun demikian, penelitian tersebut menyebutkan ada dua syarat bagi masyarakat sekitar pesantren. Pertama, letaknya tidak jauh dari rumah (kurang lebih 5 km) dan yang kedua, pesantren harus terus meningkatkan kualitas keagamaan bagi masyarakat sekitar.

Syarat tersebut memang tidak mutlak. Mengingat, Permani sendiri ‘hanya’ menggunakan data 500 keluarga yang tinggal di sekitar 9 Pesantren di seluruh Indonesia. Padahal, jumlah pesantren di negeri ini lebih dari dua puluh ribu.

Terlebih, mayoritas pesantren juga menyuplai bahan makanan serta tenaga ekstra dari penduduk sekitarnya.

Baca juga: Membangun Narasi HAM dalam Agenda Pembangunan Indonesia

Tantangan Membentuk Santri Berkualitas di Dunia Kerja

Salah satu tantangan utama dari pesantren masa kini adalah tidak hanya diharapkan mampu mencetak individu-individu santri dengan kualitas keagamaan terbaik sekaligus biaya terjangkau, namun juga santri dengan kualitas mumpuni di dunia kerja.

Akan tetapi, memenuhi ekspektasi masyarakat ini tentu bukan hal yang mudah. Beberapa pesantren sudah mulai berbenah dengan menyediakan pendidikan tinggi ataupun pendidikan kejuruan.

Beberapa tantangan pesantren yang saya temukan dalam upaya membentuk para santri terkait kesiapannya di dunia kerja adalah sebagai berikut:

Pertama, kurangnya pendanaan dan tenaga pengajar yang sesuai bidangnya. Pendanaan masih menjadi salah satu halangan sekolah formal di bawah yayasan pesantren untuk berkembang. Selain itu juga masih kekurangan tenaga pengajar yang kapabel sesuai dengan bidangnya.

Kedua, sekolah-sekolah formal tersebut harus mampu menangani para santri yang notabene jauh lebih banyak memiliki beban pendidikan dibandingkan dengan peserta didik lain. Santri, terutama di banyak pesantren salaf, umumnya diharuskan untuk sekolah keagamaan (diniyah) dan Al-Qur’an juga di samping sekolah formal.

Ketiga, selain fokus yang terbagi ke dalam lebih banyak pelajaran, santri umumnya memiliki jam tidur yang jauh dari kata cukup. Tidak sedikit dari mereka yang dituntut untuk bangun pukul 3 dini hari untuk menjalankan shalat Tahajjud. Padahal mereka baru tidur pukul 11 malam 12 malam.

Keempat, keterbatasan penggunaan teknologi. Mayoritas pesantren menetapkan larangan terhadap penggunaan gawai (hand phone). Penggunaan Laptop hanya diperbolehkan untuk santri usia tertentu saja. Hal ini tentu menghalangi akses informasi bagi para santri terhadap persoalan-persoalan terkini.

Kelima, jadwal sekolah yang lebih singkat daripada sekolah pada umumnya. Apabila sekolah umum di luar pesantren umumnya dimulai pukul 7 pagi dan diakhiri pukul 4 sore, jam operasional sekolah formal di bawah naungan pesantren sering kali di bawah itu. Sangat tergantung pada kebijakan masing-masing pesantren.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag), pada tahun 2019 lalu telah mengajukan pinjaman ke Bank Dunia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas madrasah dan pendidikan Islam di Indonesia pada umumnya.

Melansir Republika (19/06/2019), pinjaman yang diajukan adalah sebesar Rp3,7 triliun. Harapannya adalah untuk bisa digunakan dengan baik dalam rangka pengemban sekolah-sekolah di bawah naungan pesantren.

Selain itu, Kemenag juga menawarkan beasiswa studi kepada santri yang ingin melanjutkan pendidikan hingga tingkat Sarjana ataupun Master, baik dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah program beasiswa LPDP khusus jalur santri.

Dengan adanya program beasiswa tersebut, kemampuan para santri diharapkan akan semakin meningkat serta mampu bersaing di dunia kerja.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *