Perang Meriam Karbit di Sungai Kapuas Jadi Pertanda Datangnya 1 Syawal

RUANGNEGERI.com – Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan tradisinya. Ini merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Salah satunya adalah dalam acara menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat mempunyai tradisi unik dalam menyambut datangnya 1 Syawal yakni acara festival Meriam Karbit yang diselenggarakan di sepanjang Sungai Kapuas.

Warga Muslim yang tinggal di sekitar Sungai Kapuas rutin menggelar permainan meriam karbit setiap tahun menjelang Lebaran. Mengadakan perang meriam karbit merupakan salah satu tradisi masyarakat Kota Pontianak pada setiap akhir ramadhan, khususnya mereka yang bermukim di sekitar Sungai Kapuas.

Dentuman suara dari meriam karbit yang silih berganti dan mampu memekakkan telinga ini merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadhan. Tradisi itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan melawan hawa nafsu selama bulan puasa.

Festival tahunan yang dilaksanakan pada malam takbiran ini tak ayal menjadi daya tarik bagi masyarakat Kota Pontianak. Lantas, warga pun berbondong-bondong memadati pesisir Sungai Kapuas. Mereka berduyun-duyun ingin dapat menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana sensasi mendengarkan bahkan menyulut meriam raksasa dengan tangan mereka sendiri.

Tidak sedikitnya biaya pembuatan serta bahan baku Meriam Karbit, membuat setiap kampung di sepanjang Sungai Kapuas melakukan pengumpulan dana secara swadaya.

BACA JUGA: Masjid Sigi Lamo dan Tradisi Islam di Ternate

Sejarah Meriam Karbit

Melansir dari Borneochannel.com (03/10/2016), Meriam Karbit adalah permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu dan sangat populer di kota Pontianak. Permainan yang dimainkan pada beberapa minggu terakhir bulan ramadhan ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Beberapa sumber sejarah, mulai dari para ahli hingga cerita turun temurun menjelaskan bahwa meriam sangat erat kaitannya dengan awal mula kota Pontianak.

Konon, Pada tahun 1771, Sultan Abdurahman, sang pendiri kota Pontianak, ingin berdakwah nyebarkan agama islam di daerah Kalimantan Barat. Beliau menyusuri setiap jalur sungai di Kapuas menggunakan kapal untuk mencari tempat yang strategis.

Disaat menyusuri sungai Kapuas, beliau mendapatkan gangguan oleh mahluk-mahluk halus yang sering disebut dengan kuntilanak. Kemudian beliau menembakkan meriam ke arah daratan untuk mengusir hantu-hantu tersebut. Alhasil, gangguan dari mahluk halus tersebut pun hilang.

Sebagai tanda syukur Sultan, beliau kemudian mendirikan Masjid Jami dan Kesultanan di tempat dia menembakkan meriam. Dari situlah awal mula terbentuknya kota Pontianak.

Mengutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ketika menambatkan perahu dan membuka lahan kali pertama di Pontianak kerap diganggu oleh kuntilanak. Ada juga yang berpendapat bahwa yang menggangu itu adalah para bajak laut.

Sultan kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengusir para pengganggu itu dengan meriam. Dalam bentuk dan makna yang berbeda, tradisi ini kemudian diikuti oleh masyarakat hingga saat ini.

Menurut Hassanudin (2014) dalam bukunya yang berjudul Pontianak Masa Kolonial, istilah Pontianak berasal dari kata “kuntilanak”. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat menuturkan bahwa daerah Batulayang dan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak telah dihuni oleh para hantu.

Namun jika diamati, kuntilanak yang dimaksud adalah bajak laut Tiongkok yang membunuh dan merampas hasil komoditas para pedagang yang berniaga di kawasan tersebut. Kemudian diusir oleh Syarif Abdurrahman dengan cara menembakkan meriam ke arah bajak laut asal negeri Tirai Bambu tersebut.

Meriam yang digunakan sebagai senjata dalam menumpas para bajak laut tersebut sebenarnya digunakan juga oleh Syarif Abdurrahman sebagai penentuan wilayah yang strategis untuk mendirikan sebuah surau (Masjid Jami, sekarang). Kemudian juga mendirikan sebuah bangunan besar sebagai tempat tinggal (Keraton Kadriyah sekarang).

BACA JUGA: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

Pelaksanaan Festival Meriam Karbit

Pada pelaksanaan festival pada umumnya, kayu yang sering digunakan untuk membuat Meriam Karbit yaitu meliputi; kayu Meranti, Mabang, Mengkirai, Tekam, Ramin, Jelutong, dan Penyaok.

Meriam Karbit dibuat terbagi menjadi dua jenis, yaitu Meriam Karbit dengan ukuran kecil dan Meriam Karbit dengan ukuran besar.

Untuk Meriam Karbit dengan ukuran kecil memiliki panjang 6 – 7 meter dengan diameter 40 sentimeter dan kemiringan 35 derajat. Sedangkan untuk Meriam Karbit yang berukuran besar memiliki ukuran panjang 8 – 10 meter dengan diameter 90 sentimeter dan memiliki kemiringan 30 derajat.

Mengutip dari artikel Alfitrah Iqbal Tawakkal (2018) yang berjudul Potensi Tradisi Permainan Meriam Karbit pada Etnis Melayu Pontianak Untuk Pembelajaran Matematika Sekolah, Pemberian air dan karbit harus berdasarkan dengan ukuran Meriam Karbit.

Untuk Meriam Karbit yang berukuran kecil memerlukan volume air sebanyak 1 kaleng cat berukuran 5 kg atau sekitar 5 liter air dengan berat karbit yang digunakan yaitu 3 ons.

Sedangkan untuk Meriam Karbit berukuran besar memerlukan volume air sebanyak 2 kaleng cat berukuran 5 kg atau setara dengan 10 liter air dengan karbit yang digunakan seberat 5 ons.

Waktu yang diperlukan agar air dan karbit bereaksi untuk Meriam Karbit berukuran kecil yaitu 10 menit, sedangkan waktu yang diperlukan untuk Meriam Karbit berukuran besar yaitu 15 menit.

Dalam memainkan Meriam Karbit, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan agar Meriam Karbit menghasilkan bunyi yang menggelegar.

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan ketika memainkan Meriam Karbit adalah sebagai berikut:

  1. Masukkan air dan karbit sesuai dengan ukuran Meriam Karbit yang akan dimainkan;
  2. Tutuplah lubang sulut dan lubang kakap yang terdapat pada Meriam Karbit dengan menggunakan koran basah yang telah dilumuri oleh lem tradisional yang terbuat dari tepung kanji;
  3. Tunggu agar air dan karbit tersebut bereaksi;
  4. Siapkan obor yang digunakan untuk menyulut Meriam Karbit;
  5. Bukalah koran basah yang berada pada lubang sulut;
  6. Sulutlah Meriam Karbit tersebut dengan cara menghempaskan obor tersebut pada lubang sulut.

Ditemukan perbedaan pada orang-orang yang membuat Meriam Karbit baik pada masa Kesultanan Pontianak maupun pada masa sekarang. Pada masa Kesultanan Pontianak, orang yang membuat Meriam Karbit merupakan para kerabat Sultan Abdurrahman Alkadrie (keturunan Syarif).

Namun dalam membuat Meriam Karbit, tidak harus semua kerabat Sultan Abdurrahman Alkadrie saja yang diperbolehkan untuk membuat Meriam Karbit. Untuk masa sekarang, siapapun dan dari suku apapun diperbolehkan untuk menjadi panitia pembuatan Meriam Karbit.

Filosofi Meriam Karbit

Meriam Karbit bukan hanya sekedar permainan biasa bagi masyarakat Pontianak. Permainan unik ini memiliki makna tersendiri, baik dari kajian historis, keagamaan, dan kebudayaan.

Masyarakat menjadikan meriam sebagai momentum untuk mengingat dan selalu bersyukur akan pembangunan kota Pontianak yang dahulunya hanya hutan yang lebat. Dan sekarang telah menjadi perkotaan yang maju.

Selain itu, meriam juga menjadi salah satu penyemarak hari Idul Fitri di Pontianak. Momentum awal masuknya islam ke Kalimantan Barat oleh Sultan Abdurahman menjadi tonggak awal persebaran islam. Kejadia ini pula lah yang mengaitkan Islam dengan meriam Karbit.

Sekarang, Meriam Karbit menjadi budaya dan kebiasaan yang tidak bisa dilepaskan oleh masyarakat. Meriam Karbit yang awalnya hanya digunakan untuk memperingati momentum awal mula kota dan masuknya islam menadi budaya yang sangat unik dan bernilai tinggi.

Disamping itu juga kini menjadi tempat bagi masyarakat untuk berkumpul dan bersilaturahmi sembari menyambut Hari Raya Idul Fitri. Keunikan Budaya tersebut kemudian dibungkus sedemikian rupa dan menjadi objek unggulan kota Pontianak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *