Pengobatan Kanker dengan Teknologi dan Cara Alami

RUANGNEGERI.com – Kanker merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia. Teknik pengobatan yang dapat menyembuhkan penderita kanker pun belum ada yang benar-benar bisa dipastikan. Kemoterapi dan radiasi yang populer sebagai teknik pengobatan kanker saat ini.

Seiring dengan pengembangan teknologi di dunia medis, penggunaan teknologi untuk mengatasi kanker kini sudah ditemukan. Teknologi pengobatan kanker ini diklaim dapat lebih efektif dalam melemahkan sel kanker dan mencegah penyebarannya semakin meluas.

Penelitian selama beberapa tahun terakhir telah menghasilkan sebuah ide baru untuk pengobatan kanker. Penggunaan cahaya LED (light emitting diode) hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) kini menjadi alternatif baru dalam mengobati kanker.

Hal itu sangat penting dilakukan. Mengingat di tahun 2020 saja, melansir data statistik tahunan yang dilakukan oleh The American Cancer Society, terdapat hampir 2 juta penderita kanker baru di Amerika Serikat, sepertiganya telah meninggal.

Adapun di Indonesia, sekitar 400 ribu pasien tercatat sebagai penderita kanker baru di tahun 2020. Terdapat lebih dari 230 ribu pasien di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: Cara Kerja Mesin AI Mendeteksi Kebohongan Seseorang

Teknologi untuk Penggambaran Sel Kanker

Awal pengembangan teknologi dalam dunia medis yang sangat bermanfaat adalah untuk scanning tumor. Saat ini, sudah ada scanner sel kanker yang dilengkapi dengan teknologi canggih untuk mendeteksi sel kanker dan penyebarannya.

Teknologi scanner ini ada beberapa macam. Di antaranya adalah Multiparametric-Magnetic Resonance Imaging (mp-MRI) dan Fluorescence Lifetime Imaging (FLI). Mp-MRI berfungsi untuk menemukan gambar hingga ke pembuluh darah pada tumor prostat yang muncul.

Hasil penggambaran sel kanker dengan mp-MRI ini membuat dokter lebih mudah menentukan apa jenis pengobatan yang diperlukan. Karena memang pada kondisi tertentu, tumor prostat bisa diberikan pilihan pengobatan lainnya.

Adapun alat FLI adalah teknik penggambaran sel kanker untuk pasien kanker payudara. Hasil scan yang dari alat ini bisa menunjukkan ada tidaknya protein di dalam sel kanker yang tumbuh. Jadi dokter bisa memberikan pengobatan untuk menghentikan pertumbuhannya.

Baca juga: Sensor Optik AI Bisa ‘Melihat’ Seperti Mata Manusia

Cahaya LED untuk Kemoterapi Kanker

Pengembangan teknologi pengobatan kanker dilakukan oleh gabungan peneliti dari Universitas Purdue dan Universitas Northwestern, Amerika Serikat. Penelitian dilakukan dengan mengembangkan alat dari pencahayaan sinar LED sederhana.

Tujuannya adalah untuk membantu dokter menentukan jenis kemoterapi apa yang efektif untuk setiap kondisi pasien yang berbeda. Detail hasil laporan ilmiah yang dilakukan oleh Zee Li, dkk (2020) tersebut tertuang dalam tulisan berjudul Intracellular optical doppler phenotypes of chemosensitivity in human epithelial ovarian cancer.

Secara ringkas, penggunaan cahaya LED dalam pengobatan kanker yang dikembangkan ini digunakan untuk menyinari penyebaran jaringan sel kanker. Berdasarkan hasil gambar LED inilah dokter kemudian bisa menentukan apakah kemoterapi ataukah biopsi yang perlu diberikan kepada pasien.

Setelah dilakukan kemoterapi ataupun biopsi, kemudian sinar LED akan kembali digunakan untuk menemukan apoptosis. Apoptosis adalah sel mati dan menjadi tanda efektivitas kemoterapi yang dilakukan pada tumor pasien. Jika ditemukan apoptosis, maka dokter bisa mengambil tindakan lebih lanjut.

Jadi, penggunaan teknologi untuk pengobatan kanker dalam hal ini membantu memberikan pengalaman pengobatan terbaik untuk pasien. Tidak terus-menerus kemoterapi tanpa diketahui secara pasti sejauh mana tingkat efektivitas dan perubahan pasca melaluinya.

Baca juga: Bagaimana Teknologi Digital Mengubah Perilaku Manusia Pasca Covid-19?

Teknologi AI untuk Mendesain Terapi Kanker

Pengobatan kanker dalam berbagai bentuk terapi saat ini juga ada yang sudah dibuat dengan melibatkan kecerdasan buatan (AI). AI adalah kecerdasan buatan yang difungsikan untuk mengerjakan tugas tertentu sesuai dengan sistem algoritma yang diatur pada robot maupun alat pendukung lainnya.

Dalam menentukan jenis terapi untuk pasien kanker, dokter perlu melakukan pemeriksaan mulai dari mengambil sampel darah dari sel tumor hingga menemukan pola DNA (Deoxyribonucleic Acid). DNA merupakan informasi genetika yang ada secara turun-temurun lintas generasi.

Terdapat banyak variasi yang membuat jutaan mutasi genetika penyebab kanker ini kian sulit untuk diketahui. Dengan menunggu hasil tes DNA, barulah bisa mendesain terapi apa yang dibutuhkan untuk setiap pasien.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sean Marett dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Hematologi-Onkologi Medik asal Jerman, BioNTech.

Namun kerumitan dari mutasi genetika tersebut kini nyaris bisa diatasi oleh teknologi AI. Dengan pemanfaatan teknologi ini, analisis mutasi genetika bisa lebih mudah dilakukan guna mengingat algoritma dari mutasi genetik yang terjadi pada seseorang.

Dalam hitungan jam, dokter bahkan sudah bisa menentukan desain terapi yang dibutuhkan oleh pasien. Tidak perlu lagi waktu berhari-hari hanya untuk melakukan tes DNA terlebih dahulu agar bisa segera mendapatkan desain terapi kanker yang tepat.

Baca juga: Reinforcement Learning dari Tangan Robot AI Semakin Mirip Manusia

Teknologi TrueBeam untuk Radiasi Sel Kanker

Alat lain yang sudah dilengkapi dengan teknologi canggih dalam membantu proses pengobatan kanker adalah TrueBeam. Alat ini mulai digunakan di awal tahun 2020 untuk melakukan radiasi sel kanker secara lebih efektif.

Randy Mudge, seorang pakar Onkologi dari Bronson Healthcare, Michigan, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa beberapa jenis radiasi bisa diselesaikan dalam waktu setengah dari waktu normalnya biasa dilakukan dengan alat tersebut.

TrueBeam juga bisa menghasilkan gambar 3D yang menunjukkan titik keberadaan lokasi tumor. Sehingga bisa menghemat waktu penargetan sebesar 60 persen dan dosis radiasi. Secara keseluruhan, radiasi untuk pasien dengan menggunakan alat ini juga diklaim lebih nyaman.

Sebab dengan tingkat akurasi target radiasi yang lebih tinggi serta waktu yang diperlukan juga lebih singkat, maka hal ini akan membuat pasien tidak lagi merasa kelelahan. Dengan TrueBeam, pasien yang membutuhkan perawatan akan dapat dilayani kebutuhannya secara cepat.

Baca juga: Coronavirus Dapat Menular Lewat Plasenta

Pengobatan Kanker Secara Alami

Perkembangan teknologi modern khususnya dalam bidang medis ini tentu saja akan terus berkembang. Semakin canggih alatnya, semakin tinggi pula tingkat presisi dari keputusan dokter dalam menentukan teknik pengobatan.

Dengan hadirnya teknologi tersebut, diharapkan dapat memberikan pilihan yang lebih baik untuk para penderita kanker.

Meskipun demikian, beberapa cara alami juga sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit mematikan tersebut. Melansir Kompas.com (11/07/2020), di antaranya adalah mengurangi konsumsi daging, lemak, alkohol dan rokok secara berlebihan.

Sebaliknya, perbanyak makan buah, sayuran, makanan berserat, olahan kedelai serta kacang-kacangan. Selain itu juga sangat disarankan untuk memperbanyak gerak dan olahraga ringan serta rajin-rajinlah berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Hari Kanker Dunia yang diperingati setiap tanggal 4 Februari diharapkan benar-benar dapat menjadi momentum untuk mencegah, mendeteksi dan mengobatinya.

Oktaviana

Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, berpengalaman di bidang penulisan dan penelitian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *