Parents, Lakukan Ini saat Anak dalam Tahap Autonomy dan Shame and Doubt

RUANGNEGERI.com – Salah satu tahapan perkembangan psikososial pada anak adalah tahap autonomy dan shame and doubt. Tahap perkembangan ini merupakan tahap perkembangan yang kedua dari total tiga tahap perkembangan psikososial pada usia anak.

Dikatakan ketika anak memasuki tahap perkembangan ini apa yang dilakukannya berdasarkan apa yang didapatkannya pada tahap perkembangan yang sebelumnya. Adapun tahap perkembangan psikososial yang sebelumnya adalah tahap trust dan mistrust.

Di setiap tahap perkembangan psikososial pada anak harus ada yang dilakukan orang tua. Masing-masing tahap membutuhkan perlakuan yang berbeda demi mendapatkan psikologi yang baik pada seorang individu hingga dewasa nanti.

Artikel ini membahas apa yang harus dilakukan ketika anak memasuki tahap autonomy dan shame and doubt.

Menurut teori Erik Erikson yang khusus membahas tahap perkembangan psikososial anak tahap ini ini berlangsung antara usia 1 sampai 3 tahun.

Masing-masing anak memiliki Respon yang berbeda-beda dalam tahap ini. Ada yang mengakhiri tahap perkembangan psikososial ini di usia 2 tahun juga ada yang lebih dari 3 tahun.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tahap autonomy dan shame and doubt berlangsung antara usia 1 sampai 3 tahun.

BACA JUGA: Ajari Anak Mengenal Simpati dan Empati dengan 7 Cara Ini

Tentang Tahap Autonomy dan Shame and Doubt

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwasannya tahap ini merupakan tahap kedua dalam perkembangan psikososial anak.

Scania Riendravi (2018) dalam tulisan berjudul Perkembangan Psikososial Anak, menyebutkan bahwa pada tahap ini anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya.

Harapan paling ideal untuk tahap perkembangan psikososial ini adalah anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa adanya kehilangan pemahaman awal mereka mengenai otonomi.

Selain itu, pada tahap ini anak akan melatih kehendak mereka sendiri yang mana juga bisa disebut sebagai otonomi. Secara tidak langsung memang otonomi diartikan sebagai peraturan yang mana dalam artian ini peraturan yang dimaksud adalah peraturan sosial.

Inilah mengapa tahap perkembangan anak yang sebelumnya sangat mempengaruhi tahap perkembangan yang ini. Di tahap yang sebelumnya anak akan mendapatkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Proteksi atau larangan yang diberikan oleh orang tua akan berpengaruh pada apa yang akan dilakukan anak di usia tahap ini.

BACA JUGA: Ingin Selalu Bergerak, Inilah Ciri Gaya Belajar Kinestetik Si Kecil

Jika pada tahap sebelumnya hasil terbaik adalah anak bisa memiliki kepercayaan diri dan lingkungan, maka pada tahap ini yang diharapkan adalah anak bisa memilih kehendak yang sesuai dengan peraturan.

Tentu saja peraturan yang dimaksud kali ini bukanlah peraturan tertulis atau formal. Melainkan aturan sosial non-formal yang telah diajarkan oleh orang tuanya.

Hasil dari tahap perkembangan psikososial ini ada dua, yaitu autonomy dan shame and doubt. Pada tahapan ini, anak bisa mendapatkan bagian otonomi yang mana bisa menjadi individu yang mandiri.

Juga sebaliknya, ada kemungkinan yang didapat anak pada tahap ini adalah shame and doubt yang membuatnya menjadi kurang mandiri.

Jika apa yang didapat anak adalah maka anak tersebut akan menjadi individu yang pemalu, kurang yakin dan hal lainnya yang bersifat suka ragu.

Hal ini cukup bisa memberikan kesimpulan bahwa anak harus dididik supaya menjadi individu yang mandiri atau autonomy.

Lantas apa yang harus dilakukan orang tua pada tahap autonomy dan shame and doubt?

BACA JUGA: Di Era Digital Ini, Ketahui Screen Time Paling Tepat untuk Anak-anak

Apa yang Seharusnya Orang Tua Lakukan?

Ada beberapa hal yang seharusnya orang tua lakukan pada tahap ini untuk memberikan psikologi sebagai individu yang mandiri, tidak pemalu dan selalu yakin.

Sebab memang beberapa hal inilah yang paling diharapkan ketika anak memasuki tahap perkembangan psikososial ini.

Hal-hal yang harus dilakukan orang tua bisa mulai dari hal-hal yang kecil saja dan dekat dengan aktivitas sehari-hari. Aktivitas apa pun yang sudah mulai bisa dilakukan pada usia anak ini, maka perlu diajarkan dan dilatih kemandiriannya.

Anak usia 1 sampai 3 tahun dinilai sudah bisa mengganti baju sendiri. Karena hal ini orang tua sebaiknya mengajarkan mengganti baju sendiri sekali atau dua kali. Orang tua kemudian bisa membiarkannya melakukan sendiri setelahnya.

Bukan hanya mengajarinya saja, melainkan memastikan bahwa anak akan terus melakukannya di saat aktivitas ini dibutuhkan.

Anak usia ini juga dinilai sudah bisa makan dan minum sendiri. Karenanya orang tua bisa mengajarkan bagaimana cara mengambil alat makan, mengambil makan, meletakkan alat makan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan makan dan minum.

Lebih bagus lagi jika orang tua sekaligus mengajarkan kebersihan dan tata krama atau sopan santun saat makan dan minum.

Selain mengganti pakaian dan makan, anak usia ini juga lebih baik diajarkan toilet training. Anak harus sudah bisa mulai melepas pakaian sampai menggunakan pakaian kembali saat melakukan aktivitas yang berhubungan dengan toilet.

Orang tua bisa mengajarkan bagaimana caranya mandi, sikat gigi, membersihkan toilet setelah digunakan, mencuci bagian tubuh dan hal lainnya yang dilakukan di dalam kamar kecil.

Hal ini pun juga bisa melindungi anak suatu saat nanti. Sebab nantinya anak akan bersekolah atau pergi ke tempat umum. Jika anak sudah mandiri akan hal ini maka tentu saja tidak terlalu memberatkan orang tua atau orang lain.

Semakin banyak yang diajarkan pada tahap autonomy dan shame and doubt maka akan semakin baik pula. Anak menjadi mengerti banyak hal dan memahami bagaimana cara melakukannya.

Sangat bisa dikatakan anak akan menjadi pribadi yang mandiri apabila pada tahap ini orang tua melakukan hal yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *