Obat yang Ditawarkan Presiden Trump Bisa Sebabkan Kematian

RUANGNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mulai menggembar-gemborkan penggunaan obat malaria sebagai pengobatan Covid-19 sejak April.

Pada awal pekan ini bahwa ia menganggapnya sebagai tindakan pencegahan, dan telah mendorong pemerintah untuk membelinya secara massal.

Melansir dari The Guardian (20/05/2020), hydroxychloroquine, obat anti-malaria yang digunakan Donald Trump untuk mencegah Covid-19, dalam sebuah studi justru menunjukkan telah meningkatkan kematian pada pasien yang dirawat dengan obat itu di rumah sakit di seluruh dunia.

Sebuah studi utama tentang cara hydroxychloroquine dan versi yang lebih lamanya, chloroquine, telah digunakan di enam benua, tanpa uji klinis, ini mengungkapkan gambaran yang serius. Para ilmuwan mengatakan hasil dari obat itu berarti tidak boleh lagi diberikan kepada pasien Covid-19 kecuali dalam pengaturan penelitian yang tepat.

Sementara dalam sebuah Jurnal Medis Lancet yang diterbitkan online pada Jumat (22/05/202), menyebutkan bahwa itu bukan percobaan yang dirancang untuk menilai obat.

Hal ini menunjukkan adanya tindakan terburu-buru untuk menggunakannya di seluruh dunia atau mungkin juga keliru.

BACA JUGA: Sikap “Berlebihan” Vietnam Mengatasi Covid-19

Hasil Penelitian

Sejumlah besar dokter telah meresepkannya tanpa bukti. Obat ini justru diketahui dapat menyebabkan penyimpangan jantung. Tetapi banyak juga yang mengklaim obat ini aman karena sudah lama digunakan untuk mengobati malaria.

Obat-obatan itu cukup aman untuk pasien yang dirawat karena malaria, tetapi Covid-19 adalah penyakit yang sangat berbeda. Para penulis jurnal kesehatan mengumpulkan hasil untuk lebih dari 96.000 pasien di 671 rumah sakit, di enam benua dengan atau tanpa antibiotik seperti azithromycin, antara 20 Desember hingga pertengahan April lalu.

Mereka membandingkan hasil dari empat kelompok: Mereka yang diobati dengan hydroxychloroquine saja, dengan chloroquine saja, dan kemudian dua kelompok diberi masing-masing obat dalam kombinasi dengan antibiotik. Ada juga kelompok kontrol pasien yang tidak diberikan perawatan ini.

Secara keseluruhan, 14.888 pasien menerima hydroxychloroquine atau chloroquine, dengan atau tanpa antibiotik, dan 81.144 tidak menerima obat tersebut.

Pada akhir periode penelitian, sekitar sembilan persen dari mereka dalam kelompok kontrol telah meninggal. Dari mereka yang telah diobati dengan dua zat tersebut, masing-masing 18 persen dan 16,4 persen telah meninggal.

Dan mereka yang diberi masing-masing obat dalam kombinasi dengan antibiotik bahkan lebih mungkin meninggal: 22,8 persen dengan chloroquine dan 23,8 persen dengan hidroksi chloroquine.

Para peneliti memperkirakan bahwa obat-obatan menempatkan pasien pada resiko kematian akibat Covid-19 hingga 45 persen lebih tinggi dibandingkan dengan masalah kesehatan yang mendasarinya.

“Pengobatan dengan chloroquine atau hydroxychloroquine tidak menguntungkan pasien dengan Covid-19,” kata Mandeep Mehra, peneliti pada Studi dan Direktur Eksekutif Pusat Penyakit Jantung Tingkat Lanjut Bringham dan Women’s Hospital di Boston.

Tim studi juga menemukan bahwa aritmia jantung serius, yang menyebabkan bilik jantung lebih rendah berdetak dengan cepat dan tidak teratur.

Peningkatan terbesar adalah pada kelompok yang diobati dengan hydroxychloroquine dalam kombinasi dengan antibiotik, di mana 8% pasien mengalami aritmia jantung dibandingkan dengan 0,3% pasien yang tidak diberi obat.

“Ini adalah studi skala besar pertama yang menemukan bukti kuat secara statistik bahwa pengobatan dengan zat tersebut tidak menguntungkan pasien dengan Covid-19,” kata Prof Mandeep R Mehra, penulis utama studi dan direktur eksekutif rumah sakit Brigham and Women’s pusat penyakit jantung lanjut di Boston, Amerika Serikat sebagaimana dilansir di laman The Guardian (22/05/2020).

“Sebaliknya, temuan kami menunjukkan terkait dengan peningkatan risiko masalah jantung serius dan peningkatan risiko kematian. Uji klinis acak sangat penting untuk mengkonfirmasi setiap bahaya atau manfaat yang terkait dengan agen ini. Sementara itu, kami menyarankan obat ini tidak boleh digunakan sebagai pengobatan untuk Covid-19 di luar uji klinis” tambahnya.

Ilmuwan lain menyarankan obat-obatan tidak boleh lagi digunakan dalam pengobatan Covid-19, kecuali untuk uji klinis yang terkontrol dengan hati-hati.

Terlepas dari antusiasme Trump untuk menggunakan hydroxychloroquine untuk perawatan virus ini, administrasi makanan dan obat-obatan milik pemerintahnya sendiri juga telah memperingatkannya.

Menteri Kesehatan Brazil baru-baru ini merekomendasikan penggunaan zat tersebut untuk mengobati kasus yang ringan sekalipun.

Inggris bahkan telah memesan AS $ 42 juta untuk hydrochloroquine. Meskipun banyak penelitian menunjukkan itu tidak efektif dalam mengobati virus, namun bisa lebih berbahaya dari pada tidak melakukan apapun.

“Beberapa negara telah menganjurkan penggunaannya, baik secara sendiri-sendiri atau dalam kombinasi sebagai pengobatan potensial untuk Covid-19. Kami sekarang tahu dari penelitian kami, bahwa kemungkinan obat ini meningkatkan hasil pada virus dengan cukup rendah” kata Frank Ruschitzka, Direktur Pusat Jantung di Rumah Sakit Zurich University dan rekan penulis penelitian.

Stephen Griffin, Professor di Fakultas Kedokteran, University of Leeds, mengatakan penelitian Lancet berpotensi menjadi studi penting untuk terapi Covid-19. Meskipun bukan uji coba terkontrol plasebo, studi observasional pada skala ini dilakukan dengan analisis yang ketat dan teliti memang kuat. Sementara uji coba terkontrol akan diperlukan untuk penegasan yang meyakinkan.

“Indikasinya adalah bahwa obat-obatan ini tentu tidak boleh digunakan di luar pengaturan percobaan di mana pasien dapat dimonitor untuk komplikasi” kata Griffin.

“Selain itu, jelas bahwa dukungan profil tinggi untuk menggunakan obat-obatan ini tanpa pengawasan klinis adalah salah arah dan tidak bertanggung jawab” tambahnya.

Penelitian terkontrol plasebo acak diperlukan untuk mengklarifikasi risiko dan manfaat dari obat yang sudah berusia puluhan tahun dalam pengobatan Covid-19. Banyak uji percobaan seperti itu sedang berlangsung.

Penelitian yang menguji apakah hydroxychloroquine berguna untuk mencegah infeksi pada orang yang terpapar Covid-19 masih belum satu suara. Hasil uji coba terkontrol plasebo lainnya diharapkan dimulai akhir musim panas ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *