Nyanyian Sunyi Gandang Dewata

RUANGNEGERI.com – Gandang Dewata merupakan gunung purba yang telah berusia ratusan tahun, terletak di Kabupaten Mamasa di Provinsi Sulawesi Barat.

Gunung setinggi 3.074 mdpl ini sejak tahun 2016 telah ditetapkan sebagai Taman Nasional ke-53 di Indonesia. Wilayahnya yang seluas 189.208,17 hektar ini mencakup 4 kabupaten, yaitu Mamuju, Mamuju Tengah, Mamuju Utara dan Mamasa.

Setelah ditetapkan sebagai Taman Nasional Gandang Dewata melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 773/MENLHK/Setjen/PLA.2/10/2016, ia resmi mendapatkan penjagaan dari negara melalui Balai Besar Konservasi Sumbe Daya Alam atau BBKSDA Provinsi Sulawesi Selatan.

Sebanyak 5 personel jagawana dari BBKSDA Sulsel ditugaskan untuk menjaga wilayah Taman Nasional Gandang Dewata agar kekayaan sumber daya di dalamnya tetap terjaga.

Tentu, dengan wilayah yang seluas itu, jumlah personel itu pastilah kurang maksimal. Tetapi, ternyata alam Gandang Dewata memiliki mekanisme pertahanan dirinya sendiri untuk menjaga kawasannya dari para perambah hutan ilegal.

Medan berat nan terjal yang menyulitkan akses masuk ke kawasan konservasi ini seperti menjadi penyelamat bagi keutuhan dan kekayaan keanekaragaman hayatinya.

Kemiringan tanah mencapai 45 hingga 70 derajat. Selain itu juga disertai dengan permukaan tanah licin tertutup vegetasi lumut yang siap menguji nyali siapa pun yang berani mendaki gunung purba ini.

Oleh karenanya, setiap ekspedisi yang dilakukan ke gunung ini harus dilakukan dengan pengawasan dan pemandu dari warga lokal. Sebab, tak jarang pendaki hilang di kawasan gunung yang juga terkenal mistis ini.

Siapa pun yang mendaki gunung ini harus super berhati-hati serta mengerahkan seluruh tenaga dan fokusnya. Tak pelak, siapapun pasti kepayahan menghadapi pertahanan alam Gandang Dewata.

Kepala BBKSDA Sulsel, Thomas Nifinluri pada bulan Januari lalu mengakui bahwa sebagai Taman Nasional yang terhitung baru dibentuk, mereka memang sedang berbenah.

Sedangkan untuk pengawasan wilayah Taman Nasional, mereka mengutamakan daerah yang berbatasan langsung dengan permukiman warga.

Memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati, membuat gunung ini menjadi sumber kehidupan yang seperti tak pernah ada habisnya bagi masyarakat yang tinggal di kaki Gandang Dewata.

Turun temurun, dari generasi ke generasi, masyarakat sekitar Gandang Dewata menggantungkan hidupnya dari hasil hutan gunung tersebut. Seperti getah damar, madu hutan, kayu hutan, berbagai macam tanaman obat serta yang paling fundamental bagi kehidupan manusia, yaitu sumber air yang tak pernah kering.

Mamasa adalah daerah yang memiliki curah hujan rendah. Hujan sering kali tidak turun selama berbulan-bulan, dan itu adalah hal yang biasa.

Meskipun begitu, warga masyarakatnya tidak pernah kekurangan air. Sebaliknya, air justru mengalir deras sepanjang tahun, tentu berkat kemurahan hati Gandang Dewata.

Potensi kekayaan alamnya yang luar biasa membuat Gandang Dewata menjadi tempat ekspedisi alam dan ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Rupanya, potensi ini disadari oleh warga kaki gunung untuk menambah penghasilan mereka.

Warga kaki gunung yang berada di desa terakhir sebelum pendakian yaitu Desa Buntu Buda, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa kerap menjadi pemandu sekaligus pembawa barang-barang selama pendakian.

Tak hanya tangguh melewati medan terjal dengan membawa beban yang tak ringan ke puncak gunung, mereka juga cekatan membangun tenda, membuat api unggun hingga memasak makanan.

Berbagai ekspedisi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh para peneliti, hingga pendakian untuk sekedar berwisata alam yang dilakukan oleh turis lokal maupun turis asing telah menggunakan jasa warga kaki Gandang Dewata.

BACA JUGA: Rumput Laut dapat Menyelamatkan Peradaban Manusia?

Kisah Penamaan Gandang Dewata

Ada berbagai versi yang mengisahkan sejarah penamaan Gandang Dewata.

Buku berjudul Cerita Rakyat Masyarakat Mamasa, ditulis oleh Adnan Usmar dan W.M. Manala Manangi (1998) dan diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, telah mengulasnya dengan detail.

Melansir dari Kompas (28/10/2019), versi pertama, nama Gandang Dewata diambil dari kisah para pemburu di hutan gunung Gandang Dewata.

Dari kisah yang diceritakan secara turun-temurun ini, para pemburu kerap kali mendengar suara gendang bertalu-talu ketika melakukan perburuan binatang di dalam hutan.

Padahal, perkampungan terdekat dari dalam hutan berjarak dua hingga tiga hari perjalanan. Dalam ritual adat masyarakat Mamasa, gendang dibunyikan ketika ada orang yang meninggal.

Dan benar saja, sekembalinya dari berburu di hutan ke kampung mereka, para pemburu tersebut mendapati salah satu keluarganya telah meninggal.

Peristiwa terdengarnya suara gendang bertalu-talu itu tak hanya sekali dua kali terjadi. Melainkan beberapa kali dialami oleh masyarakat yang berburu di hutan.

Orang-orang percaya bahwa gendang itu dibunyikan oleh para dewa sebagai pertanda. Di masa lalu, masyarakat Mamasa masih menganut aliran kepercayaan animisme. Hingga kini, ada sebagian kecil masyarakat yang masih mempertahankan kepercayaan tersebut.

Nama Gandang Dewata sendiri berasal dari dua kata, yaitu gandang yang berarti gendang dan dewata berarti dewata. Puncak Gandang Dewata terlihat seperti batu besar berbentuk bulat menyerupai gendang raksasa dari jauh.

Versi kedua dari kisah penamaan Gandang Dewata ini menyebutkan bahwa setiap orang yang masuk ke hutan Gandang Dewata, baik untuk berburu, mendaki maupun sekedar mengambil hasil hutan, jika ia mendengar suara gendang bertalu-talu dari puncak gunung, berarti ia telah meninggal.

Dalam versi kedua ini juga disebutkan bahwa setiap orang yang memasuki teritori gunung tidak boleh berteriak kencang-kencang karena bisa mendatangkan To Membuni yang dalam bahasa adat Mamasa berarti orang-orang yang bersembunyi.

To Membuni bisa menurunkan kabut tebal disertai dengan angin kencang. Siapa pun yang diganggu oleh To Membuni bisa disembunyikannya di dalam hutan sehingga tidak bisa keluar dari gunung.

Terlepas dari mitologi yang berkembang di tengah masyarakat, kita perlu saling menghormati. Antara yang hidup dengan yang tak hidup.

Berkembangnya mitologi yang dipercaya oleh masyarakat biasanya berimplikasi pada terjaganya alam latar mitologi tersebut diceritakan.

Benar atau tidak, barang kali mitologi itu dibuat memang untuk menjaga kelestarian dan keutuhan Gandang Dewata.

BACA JUGA: Cacat Logika Omnibus Law RUU Cipta Keja dari Aspek Lingkungan

Laboratorium Alam yang Menyimpan Flora dan Fauna Misterius

Gandang Dewata merupakan laboratorium alam raksasa di mata para peneliti atau ilmuwan. Ekosistemnya yang unik melahirkan berbagai macam flora dan fauna khas atau endemik Sulawesi. Selain itu terdapat beraneka ragam tumbuhan dan hewan yang memiliki potensi sebagai jenis baru.

Mulai jenis jahe-jahean, katak, hewan pengerat seperti tikus, hingga berbagai jenis anggrek. Terlebih, belum banyak penelitian ilmiah dilakukan di kawasan hutan konservasi ini.

Alfred Russel Wallace, peneliti asal Inggris yang menjelajahi Nusantara antara tahun 1854 hingga 1862 menyimpan kekaguman yang luar biasa pada alam Pulau Sulawesi meski ia belum pernah menginjakkan kakinya di sini.

Kekagumannya itu ia sampaikan di bukunya, The Malay Archipelago yang terbit pada 1869.

Dalam buku tersebut, ia menyampaikan kekagumannya terhadap satwa endemik Sulawesi seperti anoa, tarsius, babi rusa dan monyet hitam Sulawesi (Macaca nigrescens).

Ia juga menyatakan bahwa Pulau Sulawesi adalah pulau yang sangat menarik untuk mempelajari persebaran geografis fauna di dunia.

Selain berbagai jenis flora dan fauna, ternyata Gandang Dewata juga memiliki hutan lumut yang menawan di ketinggian 2000 mdpl. Hutan lumut tersebut amat menawan, keasriannya tidak perlu diragukan.

Sebab, tak banyak orang yang mampu mendaki sampai ketinggian itu. Kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi sebagai objek wisata.

Siapa pun yang berhasil mendaki sampai ke sana, pasti tak ketinggalan untuk mengabadikan momen di hutan lumut bak hutan purba tersebut.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan bahwa di Gandang Dewata ditemukan berbagai jenis flora dan fauna yang berpotensi sebagai jenis baru. Hasil penelitian itu diharapkan bisa memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Selain itu, dengan identifikasi kekayaan alamnya, hal itu akan bisa menemukan potensi bioenergi, obat-obatan maupun sumber pangan yang luar biasa.

Seperti halnya kawasan konservasi alam lainnya di Indonesia, Taman Nasional Gandang Dewata harus benar-benar dilindungi dari kerusakan akibat perambahan hutan, perburuan liar serta penambangan ilegal.

Letak Gandang Dewata yang sunyi dan terpencil merupakan rumah terakhir bagi flora dan fauna endemik Sulawesi yang harus senantiasa dijaga kelestarian dan keutuhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *