NKCTHI (2020), Setiap Keluarga Mempunyai Cerita

RUANGNEGERI.com – Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau biasa disingkat NKCTHI merupakan film bergenre drama keluarga yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama. Sinema yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko tersebut tayang di bioskop Indonesia sejak awal Januari 2020 lalu.

Untuk kalian yang belum menonton film ini, tidak perlu khawatir karena film ini sudah tayang di Netflix pada 23 Mei 2020 lalu. Sinema berdurasi 121 menit ini terbilang cukup lama untuk hitungan film drama Indonesia. Namun, saya rasa worth it untuk ditonton.

BACA JUGA: Girls Power Ala Film Harley Quinn: Birds of Prey

Bukan Adaptasi Novel Mainstream

Isi film-film adaptasi biasanya menceritakan kembali isi sebuah novel. Tapi, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini cukup berbeda. Sinema ini bukan diadaptasi dari novel pada umumnya.

Mungkin untuk kalian yang telah membaca buku karya Marcella F.P. dengan judul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini telah mengetahui perbedaannya. Untuk yang belum tahu, akan saya berikan deskripsi buku macam apa itu.

Buku NKCTHI berisi kumpulan pesan dengan sudut pandang Awan sebagai penulisnya. Alur cerita jarang ditampilkan karena lebih banyak berisi nasihat yang yang berbentuk quotes. Wejangan yang dituliskan dalam buku ini berasal dari berbagai sudut pandang dan berbagai konteks.

Selain banyak berisi quotes, buku tersebut juga banyak memuat gambar. Ini merupakan sesuatu yang baru. Kebanyakan novel hanya berisi tulisan tanpa ada gambar. Kalaupun ada biasanya hanya berupa gambar hitam putih pada akhir bab atau semacamnya.

Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini memuat gambar berwarna pada hampir tiap halamannya. Pembaca pasti tidak akan bosan membacanya karena buku tersebut sangat berwarna dan penuh dengan ilustrasi.

Yang saya pikirkan selama menonton NKCTHI versi film yaitu, “Wow! Pasti susah banget, nih, script writer-nya.” Bagaimana tidak susah? Mengubah novel yang sebagian besar berisi quotes menjadi sebuah film berdurasi dua jam.

Saya berpikir bagaimana penulis skenario mengubah sudut pandang Awan sebagai orang dewasa menjadi anak. Bagaimana kumpulan quotes saling terkait dibentuk menjadi dialog-dialog di dalam film, saya rasa NKCTHI adalah sebuah masterpiece, baik buku maupun filmnya.

BACA JUGA: Aroma Karsa: Mendeskripsikan Aroma dalam Prosa

Alur Cerita yang Membuat Haru

Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini menceritakan sebuah keluarga yang memiliki tiga orang anak. Anak pertama bernama Angkasa yang diperankan oleh Rio Dewanto, anak kedua bernama Aurora yang diperankan oleh Sheila Dara Aisha, dan anak terakhir bernama Awan yang diperankan oleh Rachel Amanda.

Narendra sebagai ayah diperankan oleh Donny Damara. Ajeng sebagai ibu diperankan oleh Susan Bachtiar. Alur cerita di film ini maju mundur atau campuran.

Scene pertama diawali oleh pesawat kertas yang masuk ke dalam sebuah jendela. Bagian tersebut mengawali segala cerita di dalam film ini.

Keluarga Narendra merupakan keluarga impian yang tampak sangat harmonis dan bahagia. Kebahagiaan keluarga ini tidak seperti apa yang terlihat. Di dalamnya terdapat masalah-masalah yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarganya. Cerita yang disajikan relate dengan kehidupan keluarga masa kini.

Saya menonton film ini di bioskop bersama dengan tiga orang teman saya. Ketiga teman saya menangis hampir sepanjang film ini. Mereka mengatakan bahwa cerita di dalam film NKCTHI relate dengan kehidupan di keluarga mereka.

Ya, tiap keluarga memang punya cerita masing-masing. Walau dari luar terlihat harmonis, kita tidak tahu apa yang telah terjadi di dalamnya.

Potret keluarga yang ditampilkan di dalam film NKCTHI sekilas terlihat seperti keluarga harmonis pada umumnya. Ayah yang bekerja dan bertanggung jawab, ibu yang baik, dan anak-anak yang berprestasi.

Namun, mereka ternyata memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan oleh Aurora dan Awan. Rahasia itu ditutup rapat hingga membuat Narendra, Ajeng, dan Angkasa menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.

Narendra menjadi seorang ayah yang lebih protektif kepada Awan, dan menuntut Angkasa untuk melindungi Awan bagaimanapun caranya. Mereka terlalu fokus kepada Awan yang merupakan anak terakhir.

Fokus mereka pada Awan membuat anak kedua, yaitu Aurora, menjadi merasa terasingkan. Bahkan, di hari penting Aurora, keluarga yang terlihat harmonis ini malah bertengkar.

Masalah bertambah pelik dengan adanya Kale yang diperankan oleh Ardhito Pramono di hidup Awan. Gadis itu merasa nyaman dengan keberadaan lelaki tersebut. Pada saat itu Awan juga mengalami kegagalan pertamanya.

Kale datang pada saat yang tepat. Ia menjadi teman yang mengajari hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya. Ia rasa lelaki itu orang yang paling mengerti dirinya.

Awan merasa terpesona pada Kale dan ia pun jatuh cinta padanya. Pria itu mengajarinya berbagai pengalaman baru, yakni rasa takut, jatuh, bangun, tumbuh, dan hilang.

Di sisi lain, masalah pun terus berdatangan, termasuk di dalam keluarganya sendiri. Awan merasa bingung dan tidak tahu arah.

Rasa haru yang dirasakan oleh penonton lantaran film ini terasa sangat dekat dengan mereka. Selain itu, terasa nyata pula sehingga penonton merasa memiliki ikatan emosi secara tidak langsung dengan cerita di dalam film ini.

Kisah dalam film ini terasa seperti tidak dibuat-buat. Sinema tersebut menampilkan realita sosial yang biasa terjadi di keluarga. Menurut saya, film ini tidak dibuat dengan asal-asalan karena sangat bermakna meskipun dikemas dengan nuansa ringan.

BACA JUGA: Mariposa: Kupu-kupu yang Sulit Digapai

Relevansi Cerita Anak Pertama, Tengah, dan Bungsu

Emosi yang dibangun di dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini sangat terasa. Kesebangunan antara naskah dan pemain-pemainnya membuat sinema tersebut mampu memantik emosi penonton.

Film besutan Angga Dwimas Sasongko yang skenarionya ditulis Jenny Jusuf dan Melarissa Sjarief ini menggambarkan dinamika di dalam kehidupan keluarga. Sketsa keluarga yang harmonis, perubahan-perubahan yang terjadi, dan sebagainya.

Mungkin kita harus menyadari bahwa menjadi orang tua yang baik itu merupakan hal yang tidak mudah. Kesiapan mental adalah nomor satu yang harus diperhatikan. Menyiapkan diri menjadi orang tua sangat penting agar seluruh anggota keluarga tidak merasa dirugikan.

Film ini juga menunjukkan bagaimana sikap dan karakter dari anak pertama, tengah, dan terakhir. Menurut saya, pendeskripsian yang ada di sinema tersebut mengenai anak pertama, tengah, dan bungsu hampir akurat.

Mungkin penonton film ini yang merupakan figur anak sulung akan merasa relate dengan apa yang dirasakan oleh Angkasa. Anak pertama digambarkan harus mengemban tanggung jawab besar untuk menjaga adik-adiknya.

Angkasa hidupnya penuh dengan tuntutan orang tuanya hingga dirinya sulit bernapas dan mencari kehidupan baru. Namun, ia lebih banyak tahu dirinya anak sulung.

Atau Aurora yang merupakan anak tengah. Kehadirannya pun nampak antara ada dan tiada. Ia pun merasa lebih bebas karena pendapatnya sering tidak terlalu dianggap di keluarga.

Si anak kedua ini lebih sering asyik dengan dunianya. Keluarganya mengira Aurora hanya ingin sendiri. Namun, perkiraan tersebut berbeda dengan apa yang dirasakan oleh hatinya.

Selanjutnya anak bungsu, Awan. Sosok ini selalu dipandang bocah atau anak kecil oleh seluruh anggota keluarga. Keluarganya pun selalu memanjakannya. Semua yang terjadi dalam hidup Awan merupakan hasil musyawarah seluruh anggota keluarganya.

Awan merasa keluarganya tidak memberinya kebebasan mengambil keputusan seperti kakak-kakaknya. Hidupnya selalu dipermudah oleh keluarganya. Ia pun tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan cenderung tidak pernah salah.

Namun, hal itu bukan merupakan keinginan hatinya. Ia juga ingin menjadi manusia dewasa yang bebas dan tidak dikekang oleh orang tuanya. Perasaan tersebut ia sadari saat ia bertemu dengan Kale.

Film ini menampilkan kompleksitas hubungan di dalam keluarga dengan apik. Ayah yang berusaha untuk membuat keluarganya bahagia dengan menutupi trauma masa lalu, serta ibu yang tidak berdaya dan selalu menuruti apa kata suami.

BACA JUGA: Rotasi dan Revolusi: Kisah Cinta dari Pikiran ke Pikiran

Penilaian Film NKCTHI

Dari potongan-potongan scene yang ditayangkan di trailer maupun yang beredar di Instagram dan Twitter, film ini akan banyak adegan romantisnya. Dugaan saya meleset jauh.

Sinema tersebut banyak menceritakan keluarga dan kehidupan di dalamnya. Bahkan, porsi romance di film ini terbilang sedikit. Selain sedikit, juga tidak cheesy.

Adegan romance di dalam film ini terkesan nyata dan logis. Baik itu adegan antara Narendra dan Ajeng, Angkasa dan kekasihnya, serta Awan dan Kale. Semua kisah cinta di dalamnya memiliki suka dan lukanya sendiri.

Plot yang disajikan secara maju-mundur dengan alur yang lambat mampu membuat penonton terbawa suasana. Durasi film yang lama tidak akan terasa karena memang tiap tokoh memiliki pakemnya sendiri. Alur yang menyentil emosi pun didukung dengan backsound yang pas.

Aktor dan aktris yang terlibat di dalam sinema ini juga berhasil menghayati perannya dengan baik. Penasaran? Tonton saja film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini hingga selesai!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *