Mungkinkah Bekerja dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

RUANGNEGERI.com – Selama beberapa bulan belakangan, umat manusia dihadapkan pada kondisi yang sama terkait pekerjaan, yakni banyak yang harus atau pun terpaksa melakukan pekerjaan dari rumah.

Di Amerika Serikat misalnya, berdasarkan survei dari Massachusetts Institute of Technology, selama April 2020 terdapat sekitar 34% pekerja yang efektif sudah bekerja dari rumah. Hal itu bahkan sudah terjadi sebulan sebelumnya, yakni mulai Maret.

Efek dari Covid-19 ini sangat dahsyat bagi perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan karyawan dari rumah. Tidak terkecuali dengan perusahaan yang fokus utamanya pada bidang teknologi.

Perusahaan besar seperti Facebook dan Twitter bahkan dikabarkan telah berencana membuat para pegawainya bekerja dari rumah selamanya.

Namun, benarkah kecenderungan tersebut akan mengubah cara bekerja lebih fleksibel? Lebih jauh lagi, apakah mayoritas perusahaan di masa yang akan datang akan banyak mempekerjakan karyawan dari rumah?

Katherine Guyot & Isabel Sawhill baru-baru ini melakukan sebuah penelitian terkait fenomena pekerjaan di era pandemi Covid-19. Hasilnya, bekerja jarak jauh merupakan eksperimen besar terutama bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi.

Penyebaran virus corona kini mempertanyakan fleksibilitas bisnis perusahaan. Pasalnya, kompetitor tidak berwujud dan serangannya tidak seperti perang dagang.

Mewabahnya virus ini juga mempertanyakan bagaimana cara perusahaan menggunakan sumber daya manusia dalam skala besar tanpa pemutusan hubungan kerja.

Senada dengan penelitian di atas, Cali Williams Yost, seorang pengamat dunia kerja masa depan, mengemukakan pendapatnya terkait masa selepas pandemi. Yost menilai masa seperti ini berpotensi mengubah cara kerja harus masuk kantor selamanya berubah.

Perusahaan-perusahaan dinilainya akan menerapkan model bekerja fleksibel ketika masa-masa genting. Lebih jauh lagi, bekerja dari rumah juga dinilainya lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas karyawan dan menyeimbangkan kesehatan mental.

Beberapa perusahaan yang berpikiran maju telah mengambil langkah ekstra mengenai bekerja dari rumah untuk jangka panjang.

SHRM misalnya, sebuah perusahaan konsultan yang membidangi dunia kerja serta sumber daya manusia profesional yang berpusat di Virginia, AS telah mempekerjakan hampir seluruh karyawan di rumah. Perusahaan tersebut mengganti pengeluaran kecil seperti internet serta biaya konsumsi selama karyawan bekerja.

New York City SquareFoot yang merupakan perusahaan real estate komersial juga melakukan hal serupa. Namun dengan memberikan laptop kepada karyawan untuk digunakan selama bekerja di rumah.

Fleksibilitas karyawan dinilainya merupakan hal penting untuk meningkatkan produktivitas. Keseimbangan hidup bagi karyawan juga terpenuhi.

Beberapa pengusaha di atas telah berpikiran maju dengan mengambil langkah ekstra bagi karyawan untuk bisa mengerjakan tugas jarak jauh dengan lebih efektif.

BACA JUGA: Moralitas Beberapa Miliarder AS Saat Pandemi Covid-19

Harapan dan Skeptisisme Dunia Kerja Seusai Covid-19

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, dalam sebuah wawancara mengatakan sebanyak 50% karyawannya dapat bekerja dari rumah dalam satu dekade mendatang. Pencetus gagasan ini adalah Zuckerberg sendiri sebagai solusi menciptakan kemakmuran ekonomi karyawan lebih luas.

Melansir dari CNN.com (22/05/2020), disebutkan bahwa selain Facebook, beberapa perusahaan besar lain juga sudah mulai ambil langkah jangka panjang seusai pandemi. Langkah tersebut adalah untuk mempekerjakan karyawan dari rumah.

Twitter, diwakili oleh Jennifer Christie, menyebut bahwa perusahaannya memungkinkan karyawan bekerja jarak jauh. Jangka waktu yang diprediksi memungkinkan selamanya, atau paling tidak untuk menyikapi masa genting seperti pandemi ini.

Untuk saat ini perusahaan belum menentukan peran atau departemen mana yang memenuhi syarat bekerja dari rumah. Pernyataan ini disimpulkan dari fenomena bekerja beberapa bulan belakangan yang dianggap efektif untuk skala besar dan jangka panjang.

Sementara itu, CEO Square (SQ) yakni Jack Dorsey telah merencanakan beberapa staf departemen untuk tetap bekerja dari rumah usai pandemi.

Perusahaan menginginkan para karyawan bekerja pada lingkungan yang cocok dengan mereka. Square juga meyakini bahwa para karyawan telah beradaptasi dan mampu bekerja dengan efektif di luar kantor.

CEO Shopify, Tobi Lutke juga sependapat bahwa dunia kerja kini telah berubah. Sentralisasi kegiatan kantor telah berakhir, terutama bagi Shopify yang merupakan perusahaan digital.

Platform e-commerce Shopify berencana menutup kantor hingga 2021. Langkah tersebut diambil guna merenovasi kantor sesuai dengan cara kerja baru.

Shopify telah mantap menerapkan kerja jarak jauh bagi karyawan menjadi permanen. Lutke dalam cuitan Twitter-nya mengatakan “fungsi kantor dimasa mendatang akan bertindak sebagai on-ramp menuju tempat kerja digital dimana akan ada akses aplikasi atau perangkat lunak untuk #WFHkaryawan”.

Sama halnya dengan Group PSA, perusahaan otomotif pencipta mobil Prancis yakni Peugeot, Citroën, DS, Opel dan Vauxhall. Group PSA berencana baru akan menerapkan bekerja dari rumah mulai saat musim panas mendatang. Mereka mengumumkan adanya era fleksibilitas kerja dimana staf non-produksi dapat bekerja jarak jauh.

Bercermin dari pengalaman positif pekerja yang mengerjakan tugas secara efisien ditengah pandemi, Group PSA akan memperkuat teleworking. Khususnya department yang tidak berhubungan langsung dengan produksi.

Jejak real estate yang berupa pembangunan kantor juga akan diminimalisir. Sama seperti perusahaan lain, Group PSA juga merenovasi kantor sesuai dengan kebutuhan karyawan yang telah bekerja dari jarak jauh.

Meskipun demikian, skeptisisme terhadap mekanisme kerja dari rumah masih terjadi. Sebelum terjadi pandemi Covid-19, banyak perusahaan menolak sistem kerja jarak jauh.

Sebab karyawan tidak terlihat bekerja di kantor selama jam aktif. Selain itu, perusahaan-perusahaan masih banyak yang mencurigai karyawan karena dianggap tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap SDM oleh perusahaan riset IT Gartner, terjadi peningkatan 76% keluhan karyawan selama pandemi. Para pengelola perusahaan khawatir akan produktivitas atau keterlibatan tim menjadi renggang.

Kekhawatiran tersebut berasal dari budaya face time dari kantor yang memerlukan untuk bisa melihat wajah secara langsung untuk penugasan kerja. Kekhawatiran tersebut bukanlah tanpa alasan.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan tim kerja yang bertatap muka memiliki kinerja lebih baik dibandingkan tatap muka secara virtual.

Dengan adanya interaksi langsung, maka nilai sosial dari para karyawan akan terbentuk. Selain itu, adanya interaksi langsung juga dapat menciptakan keamanan psikologis, dimana karyawan lebih leluasa mengekspresikan idenya dengan sesama rekan kerja.

Sebelum pandemi, perusahaan besar sekalipun banyak yang tidak memiliki teknologi pendukung kerja jarak jauh.  Namun kondisi tersebut berbanding terbalik setelah merebaknya Covid-19. Optimalisasi teknologi memiliki peran yang sangat vital.

Berlangsungnya kerja jarak jauh yang didukung oleh teknologi mumpuni telah memungkinkan bagi jutaan pekerja baru. Usai pandemi berakhir diperkirakan akan banyak muncul perusahaan baru yang mempekerjakan karyawan dari rumah masing-masing.

BACA JUGA: Globalisasi dan Kekuatan Modernitas

Dingel & Neiman dari Universitas Chicago, AS, baru-baru ini melakukan penelitian terkait pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah.

Dalam penelitian berjudul How Many Jobs Can be Done at Home?, temuannya mengungkapkan bahwa hampir 40% jenis pekerjaan di Amerika bisa dilakukan tanpa harus datang ke kantor. Produktivitas yang dihasilkan dengan bekerja dari rumah juga tetap tinggi.

Untuk negara-negara yang masuk kategori emerging economies seperti Meksiko dan Turki, angka yang dihasilkannya tidaklah setinggi di AS, Inggris dan Swedia.

Meskipun demikian, kecenderungan untuk bekerja dari rumah di negara-negara emerging tersebut juga semakin meningkat.

Penelitian tersebut menggarisbawahi bahwa tantangan yang dihadapi oleh kelompok negara tersebut masih cukup berat jika dibandingkan dengan negara-negara maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *