Muncul Ego dalam Diri Anak, Begini Cara Menyikapinya

RUANGNEGERI.com – Menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan berharga yang berpengaruh pada munculnya ego dalam diri anak. Apa yang diberikan oleh orang tua akan memberikan energi berbeda sesuai dengan apa yang dibawa dalam membina hubungan dengan anak.

Mungkin masih banyak yang tidak sadar telah menggunakan anak-anak demi memenuhi kebutuhan diri orang tua, yaitu agar sesuai dengan kemauannya. Secara tidak sadar, orang tua sebenarnya menggunakan anak-anaknya untuk membangun ilusi.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting, menyebutkan bahwa orang tua yang berpendidikan baik umumnya lebih yakin bahwa anak mampu mengendalikan dirinya. Sebaliknya, orang tua yang kurang berpendidikan lebih percaya bahwa sebagian besar kendali diri anak adalah bergantung di lingkungan luar.

Lalu orang tua dengan sosial ekonomi menengah mempunyai keyakinan bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk mengendalikan kehidupan anak-anak melalui ego yang mereka pegang.

Baca juga: Inilah Tipe Memori Anak yang Harus Diperhatikan

Sedangkan orang tua yang kurang beruntung secara ekonomi cenderung percaya bahwa mereka adalah korban kekuatan dari luar kendali mereka. Itulah beberapa alasan mengapa anak-anak dari keluarga dengan latar belakang status sosial dan ekonomi, cenderung berbeda pula dalam mengembangkan ego.

Meskipun demikian, tinggi rendahnya status sosial, pendidikan maupun ekonomi juga tidak memberikan garansi kesuksesan dalam mendidik anak. Sebab, setiap orang tua atau anak, masing-masing mempunyai ego dari dalam dirinya.

Munculnya ego dalam diri anak mempunyai pengaruh yang begitu besar di setiap tahap perkembangan anak. Sehingga orang tua haruslah bisa bersikap bijak dengan memebrikan pola asuh yang tepat.

Baca juga: Ketahui Pentingnya Disiplin untuk Perkembangan Anak

Munculnya Ego dalam Diri Anak

Ego akan mulai bekerja dengan nyata setiap kali anak menemukan dirinya terikat pada pola pikir atau kepercayaan tertentu. Bahkan, tak jarang pula seorang anak dapat terpicu sampai pada tingkat emosional secara tak sadar.

Setiap kemarahan, penguasaan, pengendalian, kesedihan, kecemasan, atau bahkan emosi positif seperti kebahagiaan yang sedang dirasakan merupakan bagian dari contoh ego dalam diri anak. Jika situasi anak tidak sesuai dengan keinginannya, maka mereka akan bereaksi untuk mengendalikan situasi agar bisa berada di bawah ‘dominasinya’.

Dengan kata lain, anak akan mulai menunjukkan egonya ketika mereka menginginkan sesuatu. Saat menginginkan sesuatu, ia akan berusaha mendapatkan apa yang diinginkan, bagaimana pun caranya. Di sinilah tugas tugas orang tua untuk mengarahkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, menjelaskan bahwa ketika anak mulai menunjukkan egonya, orang tua harus mampu menciptakan ruang batin di dalam diri anak yang terbebas dari keinginan untuk memiliki dan mengontrol hidup anak.

Dengan begitu, orang tua dapat bertemu dengan anak sebagaimana adanya, tanpa rasa terikat pada tuntutan apa pun. Ketika orang tua berhubungan dengan anak dengan menghormati siapa mereka pada saat tertentu, maka orang tua pada dasarnya sedang mengajari anak untuk menghormati dirinya sendiri.

Sebaliknya, jika orang tua berusaha mengalihkan anak dari keadaan tertentu dan mengubah perilakunya untuk mendapatkan persetujuan orang tua, maka orang tua sedang menyampaikan pesan bahwa keberadaan asli anak tidak memadai dan tidak cukup baik.

Baca juga: Infancy Dynamic Change, Istilah Wajib 2 Tahun Pertama Si Kecil

Akibatnya, anak-anak akan mulai mengadopsi kepribadian yang menjauhkannya dari siapa mereka sebenarnya. Jika dibiasakan terus-menerus, maka anak akan cenderung tertutup dengan orang tuanya.

Lebih lanjut, orang tua yang mau mengakui kekurangan dan kesalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang sebenarnya, maka itu berarti mereka sedang menyampaikan kepada anak-anak bahwa kesalahan tidak bisa dihindari.

Dengan begitu, orang tua mampu melepaskan diri dari pemahaman manusia tidak pernah salah. Orang tua pun dapat mendorong anak-anak untuk berhubungan dengannya sebagai sesama manusia yang penuh dengan kesalahan.

Sangat penting bagi orang tua memahami bagaimana munculnya ego dalam diri anak. Anak yang masih usia balita, akan mulai menunjukkan egonya dengan menangis jika keinginannya tidak terpenuhi. Tak jarang pula mereka akan berteriak dan mengamuk jika tidak dipenuhi apa yang mereka inginkan.

Ketika melewati usia balita, anak akan menunjukkan egonya dengan mogok makan, tidak mau tidur, tidak mau mandi dan sebagainya. Bahkan mereka juga sering kali akan mogok untuk pergi ke sekolah. Semakin besar usianya, kian beragam pula cara anak menunjukkan egonya.

Baca juga: Mengenal Perbedaan Konflik Orang Tua dan Konflik Anak

Cara Menyikapi Ego Anak

Munculnya ego tidak dapat dihindari pada anak usia berapapun. Tugas orang tua adalah mendampingi setiap perkembangan anak, termasuk bersikap dengan tegas namun tetap lembut ketika ego anak sedang muncul.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2011) dalam bukunya The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies To Nurture Your Child’s Developing, menjelaskan bahwa saat anak-anak bertengkar, orang tua dapat menggunakan argumen sebagai kesempatan untuk mengajar tentang bagaimana mendengarkan orang lain secara reflektif, mengkomunikasikan keinginan, kerjasama, pengorbanan, negosiasi, dan pengampunan.

Hal tersebut akan lebih bermakna untuk perkembangan mental anak. Senada dengan itu, March H. Bornstein (2002) juga menekankan bahwa peran orang tua dapat memantau dan menetapkan batasan pada anak. Orang tua pun dapat menegosiasikan dan membina otonomi emosional setiap anak mereka.

Orang tua lah yang mampu mengajari anak bagaimana caranya mengontrol ego mereka. Ketika anak menangis dan berteriak karena tidak dibelikan mainan atau makanan ringan misalnya, orang tua harus dapat bersikap tegas jika memang itu dinilai kurang baik.

Shara Nurrahmi

Guru dan Penulis, alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *