Moralitas Beberapa Miliarder AS Saat Pandemi Covid-19

RUANGNEGERI.com – Coronavirus atau Covid-19 seolah kian gencar menyerang negara adidaya Amerika Serikat. Kini sekitar 1,6 juta penduduk AS tercatat positif terserang virus. Tentunya hal ini secara langsung berdampak bagi pertumbuhan ekonomi.

Namun, siapa sangka deretan miliarder Amerika justru meraup untung berlipat. Total nominal kekayaan miliarder berikut ini justru tercatat melonjak hingga AS $434 miliar (setara dengan Rp6.105 triliun) pada pertengahan Maret hingga Mei.

Melansir dari Forbes (27/04/2020), posisi teratas yang mendapat keuntungan besar atas perusahaannya adalah Jeff Bezos dengan Amazon dan Mark Zuckerberg dengan Facebook.

Kekayaan bos Amazon.com ini diperkirakan bertambah $34,6 miliar, sementara Zuckerberg berhasil meningkatkan kekayaan sekitar 25 miliar Dolar (sekitar Rp352 triliun).

Selain itu, tercatat ada lebih dari 600 miliarder Amerika yang tersebar di seluruh negara bagian memperoleh keuntungan besar. Rata-rata dari mereka adalah perusahaan besar yang berbasis internet.

Baca juga: Politik Ekonomi AS dalam Konferensi Bretton Woods

Rupanya, penyebaran virus Corona memberikan dampak positif kepada perusahaan besar yang menjalankan aktivitas utama melalui teknologi. Kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan banyak perusahaan besar lainnya di seluruh dunia yang banyak mengalami goncangan.

Sejumlah media AS juga memberitakan kekayaan bersih miliarder di negara Paman Sam tumbuh hingga 15 persen. Apabila digambarkan dalam piramida, maka didapat hasil lima miliarder terkaya, dengan urutan Bezos, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Warren Buffett dan Larry Ellison.

Keuntungan yang kelima orang kaya dan berpengaruh di Amerika ini jika digabungkan sekitar $76 miliar. Selain itu, Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, sendiri tercatat memiliki persentase keuntungan selama dua bulan terakhir. Harta kekayaannya diperkirakan meningkat sebesar nyaris 50 persen.

Di satu sisi, selama jangka waktu merebaknya pandemi, ada beberapa miliarder justru menelan pil pahit. Beberapa di antaranya merupakan perusahaan yang fokus menjalankan bisnis perhotelan, perjalanan dan ritel.

Ralph Lauren Corp, sebuah perusahaan fesyen asal AS dengan semen pasar kalangan menengah atas terpaksa merugi. Kekayaan pemiliknya yang sebelum pandemi disinyalir mencapai $100 miliar, kini justru menurun jadi $5,6 miliar.

Kerugian juga dialami oleh mereka yang memiliki usaha perhotelan seperti John Pritzker. Nilai kekayaannya dilaporkan mengalami penurunan, yakni dari 34 miliar menjadi ‘hanya’ 2,56 miliar Dollar.

Baca juga: Pandemi Covid-19 di Tengah Ancaman Sektor Pertanian

Dampak Peningkatan Kekayaan Perusahaan

Bagi pandangan masyarakat awam, banyak yang menilai bahwa kekayaan dan aset perusahaan hanya bermanfaat bagi orang kaya. Sesungguhnya asumsi ini tidak benar. Sebab, suatu perusahaan yang semakin berkembang akan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan upah karyawan.

Dapat diambil contoh dari CEO perusahaan, Doug McMillon dianggap menghasilkan 1.180  pekerja usia produktif dengan pemberian kompensasi tahunan sebesar $22,8 juta. Bagi individu, nominal tersebut seperti gaji tambahan untuk memenuhi kebutuhan lain selain kebutuhan pokok.

Menelusuri dari laporan Wal-Mart 2018 10-K, perusahaan berhasil mendapatkan keuntungan $514 miliar. Di mana sejumlah $385 miliar digunakan untuk pengeluaran perusahaan langsung. Utamanya adalah untuk mengirimkan rantai produk kepada pemasok guna membayar pekerja dan pengeluaran lainnya.

Terdapat sekitar $50 miliar digunakan untuk menggaji pekerja. Sementara, 107 miliar lainnya dialokasikan untuk SG&A, yang merupakan asosiasi pekerja.

Dari sini dapat disimpulkan pengeluaran terkait tenaga kerja, baik langsung kepada karyawan Wal-Mart maupun perusahaan eksternal yang bekerja sama dengannya.

Banyak penduduk AS yang memiliki pendapatan sekitar $490 miliar dari total 514 miliar pendapatan perusahaannya berakhir ke kantong para pekerja. Berbeda dari faktanya, bagi karyawan Wal-Mart dapat mengumpulkan sekitar 20 persen dari total pendapatan. Sementara bagi investor saham Wal-Mart, memperoleh dividen sekitar $6 miliar.

Baca juga: Menggagas Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Berkelanjutan

The Waltons, yang merupakan pemilik dari Wal-Mart, menyisihkan 0,2 persen kegiatan ekonomi yang dihasilkan perusahaan. Sisanya, sekitar 95 persen dimasukkan ke dalam upah pekerja dan pembagian uang pensiun kepada pekerja yang telah pensiun. Para pekerja di Wal-Mart memperoleh 99 persen dari kekayaan resmi milik The Waltons.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa peningkatan kekayaan perusahaan akan berdampak positif bagi perusahaan itu sendiri, pegawai, fasilitas dan pengembangan bisnis. Adapun dampak bagi negara Amerika yakni perolehan pajak dari kegiatan ekonomi perusahaan.

Individu yang berhasil ini dengan jumlah kekayaan perusahaan dan nilai saham tinggi akan berdampak positif bagi negara dan masyarakat.

Memang tidak semua individu dapat menjadi miliarder berkat perusahaan yang dikembangkannya. Apabila tidak ada seseorang yang mengambil risiko membentuk bisnis, menekuni kreativitas dan keterampilan, maka korporasi besar juga tidak terwujud.

Banyak pihak yang ikut berperan di dalamnya. Orang-orang yang dijuluki miliarder tersebut tentulah meminta bantuan orang lain untuk menjalankan perusahaannya.

Di saat fenomena Covid-19 ini, sudah seharusnya segelintir miliarder mengorganisir bantuan secara lebih luas. Dalam cakupan negara, maka negara yang kaya dapat membantu negara berkembang untuk memecahkan masalah ekonomi bersama.

Rosalina Pertiwi Gultom

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *