Mobil Hybrid: Teknologi, Prospek dan Tantangannya

RUANGNEGERI.com – Perkembangan industri otomotif dunia bergerak semakin cepat, tak terkecuali pada mobil. Seperti yang diketahui, mobil yang digunakan saat ini adalah mobil dengan penggerak mesin berbahan bakar minyak (solar/bensin).

Mesin dengan dua bahan bakar tersebut kini sudah tergolong konvensional setelah masuknya teknologi mobil bermesin hybrid. Awal pengembangan teknologi ini sebenarnya sudah sejak lama, namun baru ramai dibicarakan publik dalam beberapa tahun terakhir.

Apa yang dimaksud dengan mobil hybrid? Sesuai namanya, mobil hybrid atau Hybrid Electric Vehicles (HEVs) ini adalah mengombinasikan dua jenis penggerak, yaitu bahan bakar minyak (BBM) dan tenaga listrik.

Melihat dari jenis penggeraknya saja, kita sudah bisa menduga bahwa mobil didesain dengan tujuan yang berbeda dari mobil yang ada saat ini. Salah satu tujuan utama dari mobil ini adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan menurunkan kadar emisi karbon.

Desain teknologi yang digunakan mobil ini tentulah sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Apa saja teknologi yang ada di dalamnya?

Baca juga: Mimpi Besar Elon Musk: Inovasi Teknologi Tesla Bisa Mengubah Dunia

Teknologi Mobil Hybrid

Dengan dua jenis penggerak, mobil hybrid banyak menyedot perhatian pasar otomotif. Pengembangan teknologi hybrid sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2015. Meski demikian, hingga kini masih terus dikembangkan.

Setidaknya ada tiga teknologi yang cukup signifikan dari mobil ini. Ketiganya adalah regenerative braking, electric motor drive/assist serta automatic start/stop engine. Beberapa mobil terbaru berbahan bakar bensin/solar saat ini sudah menyematkan teknologi tersebut.

Regenerative braking adalah teknologi yang disematkan pada rem mobil. Fungsinya adalah untuk menangkap kembali energi yang dilepaskan mobil saat dilakukan pengereman. Energi yang dihasilkan didapatkan dari gerak maju roda secara otomatis.

Dengan teknologi ini, rem mobil akan menghasilkan energi listrik untuk membantu pengemudi saat hendak memberhentikan mobil. Jadi benar-benar ekonomis dalam penggunaan bahan bakar.

Teknologi lain yang melengkapi mobil hybrid adalah electric motor drive/assist. Fungsinya adalah menyediakan energi untuk mengarahkan mesin mobil. Yakni meliputi kapan harus meningkatkan kecepatan, melewati kendaraan lain hingga melewati lintasan menanjak.

Selain itu, mobil hybrid juga dilengkapi dengan teknologi mesin otomatis menyala dan berhenti (start/stop engine). Jadi sangat besar jumlah energi yang bisa dihemat, khususnya pada saat mobil dalam posisi tidak bergerak.

Baca juga: Saat AI Robot Bisa ‘Mengawasi dan Mendorong’ Kinerja Pegawai Kantor

Jenis Mobil Hybrid

Meski teknologi hybrid sebenarnya telah mulai dikembangkan tahun 2015, namun produsen mobil dunia baru mulai memproduksinya tahun 2016. Sebagain besar malah baru meluncur di tahun 2017.

Pertama, adalah mobil hybrid reguler yang paling banyak digunakan saat ini. Teknologi yang disematkan adalah terkait sistem transmisi yang digunakan. Sistem transmisinya menjadi lebih mudah dikemudikan oleh sebagain besar masyarakat, khususnya bagi pemula.

Kedua, adalah adalah mobil jenis plug-in hybrid. Mobil ini terbilang lebih efisien dibandingkan dengan jenis pertama. Mobil plug-in hybrid dapat sekaligus menggunakan tenaga listrik tanpa perlu menunggu energi yang dihasilkan dari putaran mesin. Jadi lebih aman untuk digunakan dalam perjalanan panjang.

Ketiga, mobil jenis hydraulic hybrid. Mobil ini dikembangkan dengan sangat hati-hati, sehingga diklaim mampu meningkatkan efisiensi yang tinggi. Tenaga penggerak mobil ini berasal dari cairan hidrolik yang dipompa dan tersimpan di dalam mobil.

Cairan hidrolik berfungsi untuk menggantikan baterai yang disematkan pada jenis reguler. Mobil jenis hydraulic hybrid ini disebut-sebut bisa menghemat bahan bakar hingga 60 persen bahkan lebih.

Pengembangan mobil hybrid masih terus dilakukan hingga saat ini. Berbagai riset dan teknologi terkini dikabarkan bakal memungkinkan mobil bergerak dengan tenaga hidrogen (the hydrogen fuel cell electric vehichle, FCEV).

Teknologi FCEV ini diklaim sangat ramah lingkungan karena tanpa mengeluarkan gas emisi karbon (zero carbon emission). Meski demikian, penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar mobil hingga kini masih terbilang boros dan belum efisien.

Baca juga: Sensor Optik AI Bisa ‘Melihat’ Seperti Mata Manusia

Tantangan Mobil Hybrid dan Mobil Listrik

Membahas mobil hybird tidak bisa lepas dari mobil listrik. Kedua mobil ini digadang-gadang bakal menjadi mobil di masa depan menggantikan mobil konvensional berbahan bakar bensin/diesel yang dinilai mengotori lingkungan. Beberapa negara di Eropa bahkan sudah berencana melarang penuh penggunaan mobil berbahan bakar tersebut.   

Berbeda dengan jenis hybrid, mobil listrik sama sekali tidak menggunakan BBM konvensional. Persaingan dua jenis mobil ini memang sukses menarik animo cukup besar di masyarakat dunia. Mobil listrik telah dikembangkan jauh-jauh hari sebelum hybrid.

Melansir dari Kompas.com (04/01/2021), pada tahun 1832, Robert Anderson, seorang pria warga negara Inggris, telah mengembangkan mobil roda tiga dengan listrik sebagai sumber energinya.

Sempat populer di awal abad ke-19, namun meredup dan terkalahkan oleh mobil berbahan bakar diesel/bensin sebagaimana yang banyak kita jumpai saat ini. General Motors, sebuah perusahaan otomotif asal Amerika Serikat membangkitkan kembali mobil listrik di tahun 1990-an.

Meski memiliki prospek yang cerah di berbagai negara, namun pengembangannya sejauh ini masih menghadapi tantangan berat, khususnya terkait pengisian daya dan harganya. Dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur pendukung dari hulu ke hilir agar merata ke seluruh lapisan masyarakat juga sangat besar.

Berbagai kebijakan, mulai dari insentif pajak hingga paket stimulus kemudahan investasi telah dilakukan oleh pemerintah guna mengembangkan mobil yang banyak diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan ini.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id (14/01/2021), menargetkan bahwa di tahun 2021, investasi pengembangan mobil listrik adalah senilai Rp858,5 triliun.

Kemudian di tahun 2022 adalah senilai Rp968,4 triliun, 2023 sejumlah Rp1.099,8 triliun serta di tahun 2024 mendatang adalah Rp1.239,3 triliun.

Selain dana pengembangan, harga dari mobil hybrid maupun listrik juga masih sangat tinggi bagi mayoritas konsumen di Indonesia. Melansir dari Gridoto.com (30/12/2020), harga rata-rata kedua jenis mobil ini di Indonesia masih berkisar antara Rp400 juta hingga lebih dari Rp1 miliar.

Oktaviana

Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, berpengalaman di bidang penulisan dan penelitian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *