Militer AS Siapkan Teknologi Drone Terbaru yang Serba Otomatis

RUANGNEGERI.com – Militer Angkatan Darat Amerika Serikat diberitakan sedang mengembangkan dua terobosan teknologi terbaru untuk drone mereka.

Dua terobosannya adalah terkait sensor untuk menavigasi aliran listrik di sekitarnya dan kemampuan mengisi sendiri tenaga baterai. Kedua teknologi ini sedang dalam tahap penelitian dan diharapkan dapat segera diaplikasikan pada drone milik AD.

Melansir dari laman Army.mil (05/10/2020), teknologi yang bisa mengisi daya sendiri, atau Auto recharges technology sedang diteliti bersama antara Universitas Illinois di Chicago bekerja sama dengan Laboratorium Penelitian Angkatan Darat Komando Pengembangan Kemampuan Tempur.

Anggaran untuk penelitian ini sebesar AS $ 8 juta dalam waktu 4 tahun, atau setara dengan Rp 118 miliar. Jika berhasil, maka dronedrone kecil yang dioperasikan akan mampu kembali sendiri ke pangkalan charger untuk mengisi baterai tanpa bantuan operator.

Pesawat Tanpa Awak atau UAS (Unmanned Aircraft System) tersebut akan dikirimkan ke daerah operasi bersama Kendaraan Darat Tanpa Awak (UGV-Unmanned Ground Vehicle) sebagai pangkalan mereka.

Dengan menempuh rute yang telah ditentukan sebelumnya, para UAS akan melaksanakan tugasnya secara otomatis. Ketika baterainya habis, mereka akan kembali sendiri secara otomatis pada UGV-nya untuk melakukan pengisian ulang.

Hal ini tentu saja akan sangat membantu para tentara untuk mengoperasikan drone. Sekaligus juga berfungsi untuk meningkatkan tingkat keselamatan mereka.

Hal terpenting dalam teknologi ini adalah perencanaan rute yang optimal. Hal ini akan meningkatkan luas jangkauan operasi dan efektivitas penggunaan waktu.

Demikian disampaikan Dr. Mike Kweon, Manajer Program untuk Program Penelitian Penting Tenaga Taktis dan Laboratorium Serbaguna.

“Di masa depan, AD akan mengerahkan ratusan kelompok berisi UGV dan ratusan drone,” ujarnya. Tentara pasti harus membawa banyak sekali baterai. Secara logistik sangat banyak dan tidak kondusif.

Namun dengan auto recharges, “kami menjalankan upaya ilmiah untuk meningkatkan kesiapan Prajurit di medan perang masa depan,” pungkasnya.

BACA JUGA: Presiden Trump Positif Covid-19, Penerbangan Pesawat Nuklir Tetap Dilanjutkan

Pengisian Baterai dengan Kecerdasan Buatan

Selain tidak membutuhkan bantuan personil tentara, pengisian daya juga dilakukan secara nirkabel. Dengan begitu, maka drone akan melayang di sekitar UGV untuk memenuhi baterai mereka kembali.

Dr. Kweon yakin teknologi ini adalah yang paling penting saat ini. Terutama menyangkut efisiensi dan efektifitas, karena teknologi tersebut dapat menyelesaikan masalah pengisian baterai dengan bantuan “kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan teknologi yang digunakan AD tidak akan berguna,” tutupnya.

Tentu saja karena di medan perang, mengganti baterai atau mengisi ulang daya tidak semudah yang kita lakukan di rumah.

Untuk peswat tanpa awak serta kendaraan perang lain yang lebih besar, Universitas Illinois dan Laboratorium Angkatan Darat sedang mengembangkan teknologi lainnya.

Yaitu sensor bahan bakar untuk sistem kendaraan yang menggunakan listrik dan bahan bakar lainnya. Dengan sensor ini, kendaraan akan memberi tahu operator jenis bahan bakar apa yang dikirim dari tangki bahan bakar ke mesin.

Sinyal input ini juga dapat memberi tahu mesin agar menyesuaikan parameter kontrol sesuai jenis bahan bakar yang didapatnya. Selain itu juga dapat mencari akar penyebab kegagalan jika ada mesin yang tidak dapat beroperasi dengan baik.

Sensor kemudian akan diaplikasikan pada kendaraan yang lebih besar militer AS, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Udara.

Saat ini, penelitian sedang mengembangkan sensor untuk memeriksa struktur bahan bakar dan kimiawi pada sistem pengapian di mesin drone. Teknik yang dipakai adalah diagnostic spektroskopi dan analisis sains data.

BACA JUGA: Pesawat Tempur Marinir AS Lepas Landas dari Kapal Induk Inggris untuk Pertama Kalinya

Drone yang Bisa Menganalisis Kondisi Sekitarnya

Teknologi selanjutnya yang tak kalah menarik adalah sensor aliran listrik. Sensor ini dapat mendeteksi dan menghindari saluran listrik berenergi di sekitar drone.

Tujuannya agar pesawat tanpa awak dapat menghindari kabel, bereaksi serta melakukan manuver lanjutan. Pengembangannya diketuai oleh David Hull, seorang peneliti di Laboratorium Angkatan Darat.

Hull menggunakan konfigurasi medan dan sensor 3 dimensi. Hasilnya, drone dapat mendeteksi saluran listrik dan menginformasikan hal tersebut kepada sistem autopilot, yakni bisa melakukan aktifitas sendiri.

Perangkat ini juga dapat mencegah tabrakan dengan kabel listrik yang melintang di udara. “Tenaga listrik sulit dilihat menggunakan radar atau sensor optic,” ujar Hull.

Namun medan ini bisa dideteksi dengan “medan magnet dan listrik berdaya rendah dan pasif,” lanjutnya.

Ini adalah metode yang lebih efisien juga untuk mendeteksi vektor kepadatan energi dari saluran energi terdekat. Dengan begitu, maka drone dapat mendeteksi mandiri sepanjang saluran dan kabel listrik yang terdeteksi.

Sebelumnya, teknologi pendeteksian dengan menggunakan kabel listrik memang sudah ada, bahkan sudah dijual secara komersial. Namun harganya mahal. Selain itu juga menelan biaya operasional besar serta masih terbatas dari sisi daya dan teknisnya.

Metode pendeteksian yang dikembangkan David Hull ini dikalim akan mengurangi kebutuhan daya dan biaya. Selain dinilai lebih praktis karena ukurannya yang lebih kecil.

Selain itu, metode ini juga memiliki fungsi sampingan. “Memetakan jaringan listrik dan menemukan kabel yang rusak setelah badai,” terang Hull.

“Perusahaan listrik juga memerlukannya untuk pemeriksaan rutin atau darurat. Mendeteksi masalah dan kerusakan di sepanjang sarana aliran listrik dan masalah lainnya,” tutupnya.

BACA JUGA: Senjata Baru Angkatan Udara AS, Mulai Bom Hingga Misil yang Bekerja Sendiri

Dikembangkan untuk Tujuan Komersil dan Non-Militer

Lisensi dan hak paten teknologi ini dipegang oleh Manifold Robotics yang berbasis di New York. Perusahaan tersebut bahkan dikabarkan akan memproduksi dan mengembangkan lebih lanjut teknologi ini untuk kebutuhan non militer.

Direktur Utama Manifold Robotics, Jeff Laut, mengaku sangat antusias terhadap teknologi ini. “Kami berharap dapat memfasilitasi banyak aplikasi drone otonom, terutama untuk kebutuhan komersial dan masalah kelistrikan,” ungkapnya.

Dalam perspektif militer, drone digunakan dalam berbagai misi. Baik itu pengamatan maupun penyerangan. Sementara dari perspektif sipil, kendaraan ini juga dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

Karena itu, drone harus dapat beroperasi dengan baik di lingkungan perkotaan dan jenis lingkungan lain. Dimana sejumlah besar aliran dan kabel listrik terdapat di sekitar area tersebut.

Lebih lanjut, pengembangan teknologi ini diharapkan dapat memacu percepatan pengembangan teknologi drone. Baik untuk inspeksi sistem saluran listrik, pengiriman barang maupun tujuan komersial lainnya yang tidak hanya terkait urusan militer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *