Milea: Suara dari Dilan (2020), Tabir yang Terungkap dari Sudut Pandang Dilan

RUANGNEGERI.com – Milea dan Dilan. Nama ini pasti sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Walaupun tidak tahu siapa mereka, at least pernah mendengar namanya entah di media sosial atau di televisi.

Kedua nama tersebut terkenal sejak Pidi Baiq, seorang penulis, menulis novel dengan judul Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Pidi Baiq menulis tiga seri novel dengan topik Dilan.

Novel tersebut, yaitu Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 yang terbit 2014; Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 yang terbit 2015; dan yang terakhir Milea: Suara dari Dilan yang terbit 2016.

Ketiga novel dari serial Dilan tersebut telah dialihwahanakan dari bentuk novel ke bentuk film. Film yang diadaptasi dari novel serial Dilan tersebut tayang sejak tahun 2018 hingga 2020.

Versi film dari serial Dilan yaitu Dilan 1990 yang tayang pada tahun 2018; Dilan 1991 yang tayang pada tahun 2019; dan Milea: Suara dari Dilan yang tayang pada tahun 2020.

Nah, pada resensi ini, saya akan membahas film Milea: Suara dari Dilan. Film ini tayang pada 13 Februari 2020 lalu, pas sekali dengan momen Hari Valentine.

Seperti film-film serial Dilan sebelumnya, film ini juga mengusung genre yang sama, yaitu romance atau cinta.

BACA JUGA: NKCTHI (2020), Setiap Keluarga Mempunyai Cerita

Cerita yang Menguak Nostalgia Cinta dan Pertemanan Masa SMA

Cerita di dalam film ini tidak berbeda jauh dengan novelnya. Pemeran tokoh di dalam film ini juga masih sama dengan serial film Dilan sebelumnya.

Film ini dibintangi oleh Iqbal Ramadhan yang berperan sebagai Dilan dan Vanesha Prescilla sebagai Milea.

Aktor lain yang berperan di dalam film ini antara lain Bucek Depp dan Ira Wibowo sebagai ibu dan ayah Dilan. Farhan dan Happy Salma juga turut andil di dalam film ini sebagai ayah dan ibu Milea.

Deretan aktor lain yang berperan dalam film yaitu Adhisty Zara, Yoriko Angeline, Debo, Zulfa Maharani, Gusti Rayhan, Omara Esteghlal, Giulio Parengkuan, Andovi da Lopez, Jerome Kurnia, Tike Priyatna dan Bima Azriel.

Film yang diproduseri oleh Fajar Bustomi dan Piqi Baiq ini menceritakan kisah cinta Dilan-Milea dari sudut pandang Dilan. Film ini banyak menceritakan tentang hal-hal yang terlewatkan atau tidak diceritakan pada film-film pendahulunya.

Jika film Dilan 1990 dan Dilan 1991 yang bercerita dari sudut pandang Milea, maka film ini merupakan kebalikannya. Film Milea: Suara dari Dilan bercerita dari sudut pandang Dilan.

Yakni mengingatkan penonton pada Bandung tahun 90-an. Dari sudut pandang Dilan, penonton diajak kembali mengingat adegan-adegan dan cerita-cerita di serial Dilan sebelumnya.

Film ini bercerita tentang Dilan, sang panglima geng motor di Kota Bandung di tahun 1990-an. Dilan pada saat itu sedang menjalin kisah asmara dengan Milea yang merupakan siswi pindahan di SMA Dilan.

Dilan dan Milea akhirnya berpacaran setelah perjuangan Dilan yang cheesy sekaligus romantis pada Milea. Selain kehidupan asmara, Dilan juga memiliki kehidupan pertemanan yang solid.

“Hidup bukan cuma pacaran, bagiku hidup harus menjalin hubungan dengan teman juga.”

Quotes di atas sepertinya dapat menggambarkan bagaimana kehidupan sosial seorang Dilan. Ia memiliki sahabat-sahabat segengnya yang solid.

Namun, ia juga memiliki rasa kepada seorang perempuan dan berniat untuk menjadikannya pacar.

Setelah Dilan berpacaran dengan Milea, teman-teman Dilan merasa sangsi. Mereka merasa Dilan semakin berjarak dengan anggota geng motornya. Anggota geng motor merasa Dilan seperti itu karena kedekatannya dengan Milea.

Hingga pada suatu hari salah satu anggota geng motor meninggal. Anggota geng motor yang meninggal bernama Akew yang diperankan oleh Gusti Rayhan.

Akew meninggal akibat dikeroyok oleh sekumpulan orang. Kejadian meninggalnya Akew membuat Milea khawatir dengan keselamatan Dilan. Seperti remaja labil SMA, Milea melakukan keputusan yang fatal.

Milea menggertak Dilan dengan cara memutuskan hubungan cintanya dengan Dilan. Namun sayangnya, gertakan Milea disetujui Dilan. Mereka akhirnya benar-benar putus.

“Aku ingat, aku pernah bilang jika ada yang menyakiti Milea maka orang itu harus hilang. Jika orang itu adalah aku, maka aku pun harus hilang.”

Didominasi dengan kehidupan asmara dan cinta ala anak SMA, film ini mampu membuat penonton merasakan nostalgia. Apalagi yang pernah putus karena si doi lebih memilih kehilangan pacar daripada teman.

Dijamin, pasti merasa nyesek saat menonton film ini.

Saya setuju dengan Dilan. Masa SMA tidak melulu harus dengan pacar. Teman yang menemani saat-saat masa SMA adalah hal yang paling berharga.

BACA JUGA: Rotasi dan Revolusi: Kisah Cinta dari Pikiran ke Pikiran

Cinta Monyet yang Bersemi di Reuni

Milea merasa menyesal karena memutuskan Dilan. Ia berharap Dilan lebih memilih Milea dibandingkan dengan teman-teman geng motornya. Namun, perpisahan mereka ternyata serius dan berlanjut hingga dewasa.

Peristiwa pengeroyokan yang mengakibatkan meninggalnya Akew membuat Dilan berurusan dengan polisi. Tidak hanya Dilan saja, namun juga teman-teman geng motornya.

Dilan pada saat itu berada di titik terendah di dalam hidupnya. Emosinya dikuras habis oleh masalah-masalah yang menimpanya. Pada saat itu, Dilan berharap Milea ada di sisinya.

Perasaan itu Dilan bawa hingga ia dewasa. Perasaan cintanya pada Milea memiliki ruang tersendiri di hati Dilan. Ternyata, Milea pun merasakan hal yang sama.

Milea juga membawa perasaannya pada Dilan hingga ia lulus kuliah dan dewasa. Mereka masih saling memiliki perasaan cinta, walaupun ternyata Dilan dan Milea telah memiliki pasangan masing-masing.

Hingga saat reuni tiba, mereka bertemu. Tetapi, Dilan dan Milea sudah memiliki pasangan masing-masing. Dilan masih sama seperti masa SMA.

Ia melakukan hal yang cheesy di depan teman-temannya saat reuni. Berkenalan kembali dengan Milea.

BACA JUGA: Romantisme dan Kesabaran di Hujan Bulan Juni

Sequel yang Saling Berhubungan

Film pertama, kedua, dan ketiga di serial Dilan ini memiliki keterkaitan. Kalau belum menonton Dilan 1990 dan Dilan 1991, lebih baik tonton terlebih dahulu. Sebelum kalian menonton film Milea: Suara dari Dilan ini.

Film pertama serial Dilan, yaitu “Dilan 1990” menceritakan bagaimana proses bertemunya Dilan dengan Milea. Milea yang merupakan siswi pindahan di sekolahnya membuat Dilan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Film Dilan 1990, Dilan mendekati Milea dengan cara-cara yang unik dan cheesy. Dengan gombalan-gombalan ala Dilan, mereka akhirnya resmi berpacaran. Peresmian hubungan mereka ditandai dengan deklarasi yang diakhiri dengan materai.

Film kedua serial Dilan, yaitu “Dilan 1991” menceritakan tentang hubungan asmara mereka. Hubungan Dilan dan Milea seperti hubungan pacaran anak SMA pada umumnya. Ada masa-masa romantis dan konflik.

Di film kedua ini, cerita berfokus pada konflik dan penyelesaiannya.

Film ketiga, yaitu Milea: Suara dari Dilan menyoroti sudut pandang Dilan. Di film ini bahkan diceritakan bagaimana Dilan pada masa kecilnya. Film ini nyambung dengan serial-serial sebelumnya.

Bagaimana sudut pandang Dilan saat ia melihat Milea pertama kali? Bagaimana pandangan Dilan dalam memutuskan hal-hal di dalam hidupnya, terutama saat putus dengan Milea?

Bagaimana keadaan Dilan setelah putus dengan Milea?

Semua hal tersebut diceritakan di dalam film Milea: Suara dari Dilan.

BACA JUGA: Kota di Balik Tembok, Romantisme dalam Labirin Distopia

Sinematografis yang Apik

Film produksi Max Pictures ini secara grafis sangat enak dilihat. Vibe kota Bandung pada tahun 90-an sangat terasa di film ini. Backsong yang dipilih untuk digunakan di dalam film ini juga tepat.

Vibe atau suasana yang dibangun di dalam novel ini berhasil membuat penonton merasakan suasana jadul alias jaman dulu.

Penggunaan suasana warna warm yang identik dengan vibe film jaman dulu menambah nostalgia penonton dengan film jaman dulu.

Walaupun menggunakan tone warm, tapi tidak se-warm film Bumi Manusia, sih. Menurut pandangan saya, semakin kuning tone sebuah film bisa jadi menunjukkan semakin jadul film itu.

Penggunaan backsound di film ini juga pas. Saat sedih menggunakan backsound yang menggugah rasa haru. Adegan-adegan yang menegangkan juga ditambahkan dengan backsound yang membuat penonton ikut merasa tegang.

Banyak adegan cheesy yang malah membuat penonton terbawa perasaan atau baper selama menonton film ini. Memang, cara Dilan untuk mendapatkan hati Milea unik.

Namun, adegan itu tidak ada apa-apanya jika tidak diimbangi dengan aktor yang mumpuni.

Kesuksesan film ini sebanding dengan hasilnya. Pada hari pertama tayang di bioskop, film ini berhasil ditonton oleh 400 ribu penonton. Penonton pada seminggu penayangan film ini mencapai 2.339.427 orang

Untuk kalian yang tidak sempat menonton film Milea: Suara dari Dilan ini, tidak perlu khawatir. Karena sejak 13 Juni 2020 lalu, film ini sudah dapat dinikmati di Netflix.

Film ini memiliki amanat bahwa hubungan dengan manusia selalu rumit. Hubungan sosial dengan kawan juga harus tetap berjalan, walau sudah punya pacar.

Tepat sekali dengan sasaran film ini yaitu remaja yang struggle dengan kehidupan cinta dan pertemanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *