Mengenal Tradisi Barzanji pada Masyarakat Bugis

  • Whatsapp
Mengenal Tradisi Barzanji pada Masyarakat Bugis
Sumber: NU Online/Siti Nurjannah

RUANGNEGERI.com – Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, telah menjadi kebudayaan dan tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Aspek religiusitas pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu. Bagi pemeluknya, menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari menjadi sesuatu yang sakral.

Bacaan Lainnya

Pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan banyak terdapat upacara ritual yang digunakan untuk mengekspresikan spiritualisme ke dalam berbagai bentuk modus dan tindakan.

Satu di antaranya adalah upacara pembacaan Barazanji yang diselenggarakan secara berulang-ulang sesuai dengan keperluan-keperluan upacara. Tradisi ini masih banyak ditemukan dalam berbagai acara seperti upacara aqiqah, perkawinan, sunatan, selamatan dan lain-lain.

Kegiatan tersebut sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam. Penamaan tradisi barasanji diambil dari kitab epos Barazanji, sebuah kitab tentang kepahlawanan dan kemuliaan Muhammad sebagai Rasul. Kitab ini ditulis oleh Ja’far bin Abd. Karim bin Abdul Rasul Al-Barazanji Al-Madani yang berisi sejarah sosial kehidupan sang Rasul.

Baca juga:

Masuknya ajaran Islam ke Sulawesi Selatan, serta dipilihnya pembacaan kitab Barazanji sebagai salah satu tradisi menunjukkan bahwa pengaruh dari datangnya Islam sangat kuat hingga mampu menjadi ruh pada tradisi masyarakat setempat.

Dipilihnya pembacaan kitab Barazanji sebagai satu ‘modus.’ Hal itu mungkin dimaksudkan sebagai satu cara paling efektif dalam menelusuri sejarah sosial kehidupan sang Rasul.

Mungkin juga dimaksudkan sebagai metode yang tepat untuk dapat diterima dalam memindahkan norma dan nilai Islam ke masyarakat setempat, melalui pemindahan ingatan dan kenangan tentang rasul.

Secara spiritual, tradisi pembacaan barazanji berfungsi sebagai media pemindahan dan penyebaran nilai-nilai agamis antara generasi sekarang dan generasi yang lebih dahulu. Yakni sebagai bentuk kontemplasi terhadap makna kehadiran seorang Nabi/Rasul atas kemaslahatan umat manusia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *