Mengajarkan Kemandirian Anak lewat Pekerjaan Rumah, Bagaimana Langkahnya?

RUANGNEGERI.com – Banyak orang yang mulai mengajarkan kemandirian anak melalui berbagai cara sejak dini. Cara yang bisa dilakukan tersebut dipilih untuk mengajarkan kemandirian anak yang disesuaikan dengan kondisi dan usia anak.

Kemandirian pada anak dikaitkan erat dengan kemampuan anak untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri seperti mandi, makan, memakai baju dan lain sebagainya.

Pentingnya sikap mandiri bagi anak dapat diamati dari kompleksitas kehidupan sekarang ini yang secara langsung dan tidak langsung membawa dampak dalam kehidupan anak.

Kustiah Sunarty (2015) dalam buku berjudul Pola Asuh Orang Tua dan Kemandirian Anak, menjelaskan bahwa kompleksitas kehidupan anak dapat dilihat dari adanya fenomena yang sangat memerlukan perhatian dunia pendidikan.

Beberapa hal seperti perkelahian antar siswa, penggunaan obat-obatan terlarang, minum minuman keras dan perilaku menyimpang lain yang mengarah pada tindakan kriminal.

Sikap mandiri yang terus dibangun pada diri anak akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan tidak mudah bergantung pada orang lain.

Anak yang mandiri akan lebih mudah menghadapi tantangan kehidupan pada saat dirinya dewasa nantinya. Karena hal itulah mengajarkan kemandirian anak sangat penting.

BACA JUGA: Moms, Ketahui 7 Tanda Anak Memiliki Kecerdasan Visual Spasial Tinggi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Anak

Pribadi mandiri yang dimiliki oleh anak dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor ini saling terhubung satu sama lain dan menghasilkan sesuatu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupannya.

Jika tidak diperhatikan maka anak mungkin akan lepas kendali dan kesulitan menjadi seseorang yang mandiri.

Sunarty (2015) kemudian menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak berasal dari dalam (intern) dan dari luar (ekstern).

Faktor yang berasal dari dalam diri (intern) terdiri dari genetik atau keturunan, kondisi fisik, urutan kelahiran, jenis kelamin anak, kematangan serta bakat dan potensi intelektual anak.

Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri (ekstern) terdiri dari sistem kehidupan masyarakat, sistem pendidikan sekolah dan pola asuh orang tua.

Selain itu, ada faktor lain yang mempengaruhi kemandirian pada anak seperti sikap keseharian orang tua, keluarga, sikap guru, sekolah, lingkungan masyarakat dan media. Pengalaman anak dalam menentukan sebuah pilihan dan tanggung jawab atas pilihannya juga ikut mempengaruhi.

Proses untuk mencapai kemandirian bukanlah proses yang membutuhkan waktu sedikit saja. Faktor yang mempengaruhi proses tersebut memberikan dampak pada jangka panjang.

Karakter yang dimiliki seseorang saat dewasa awalnya berasal dari apa yang diperoleh ketika masih anak-anak. Dalam waktu panjang yang dialami oleh anak, berbagai pengalaman yang dilalui dan terbentuk akan menghasilkan sebuah kepribadian tertentu.

Jadi faktor yang mempengaruhi kemandirian pada anak berasal dari dalam diri anak dan juga dari lingkungan luar. Setiap faktor yang ada akan membawa pengaruh pada kepribadian anak, bukan hanya berpengaruh pada sikap mandiri saja.

Karena itulah faktor-faktor tersebut harus benar-benar diperhatikan agar tidak membawa dampak yang buruk pada anak.

BACA JUGA: Di Era Digital Ini, Ketahui Screen Time Paling Tepat untuk Anak-anak

Mengajarkan Kemandirian Anak Melalui Pekerjaan Rumah

Pratiwi (2017) kemudian menjelaskan pula bahwa untuk mengajarkan kemandirian anak dapat melalui cara-cara seperti mencontohkan beberapa perilaku mandiri di rumah dan mengarahkan anak dalam berperilaku mandiri.

Melatih kemandirian juga bisa dilakukan melalui kebiasaan. Yakni memberikan kesempatan untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihannya dan melakukannya sendiri, memberikan pujian dan motivasi atas kemandirian yang dilakukan anak.

Cara yang paling banyak digunakan untuk mengajarkan kemandirian anak adalah melalui pekerjaan rumah. Hal ini bermacam-macam bentuknya, ada yang berupa pekerjaan ringan dan pekerjaan berat.

Pekerjaan ringan ini bisa hanya berupa membantu orang tua, membaca buku, mempelajari pelajaran sebelumnya dan sebagainya.

Sementara pekerjaan yang dianggap berat bisa berupa membuat suatu karya maupun juga diajarkan cara untuk menemukan jawaban dari persoalan yang rumit.

Kemandirian pada anak dapat dibangun dengan cara yang membangkitkan, mendorong dan menyemangati anak pada saat anak melakukan sendiri tugas-tugas yang dimilikinya. Baik tugas yang dikerjakan di dalam rumah maupun di luar rumah.

Pemberian dorongan semangat ini sangat penting. Tujuannya adalah agar saat anak memperlihatkan indikasi perilaku yang menunjukkan kesulitan atau tidak bisa mengerjakan tugas pekerjaannya sendiri, maka mereka bisa meminta bantuan kepada orang lain.

Ucapan dan tindakan yang mengandung motivasi kepada anak dapat memunculkan semangat belajar dan kepercayaan diri pada anak.

Melalui motivasi ini, anak akan terdorong untuk mengerjakan tugas yang dimilikinya sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, anak juga tidak merasa takut menghadapi kesulitan dan kegagalan.

Sebab, mereka mengingat ada motivasi yang selalu memberikan dorongan, membangkitkan semangat belajar dan ada orang lain yang bersedia membantunya. Sikap percaya diri ini adalah tonggak utama sikap kemandirian.

Beberapa pekerjaan rumah untuk mengajarkan kemandirian anak ini bisa diberikan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

BACA JUGA: Baby School VS Daycare, Mana yang Lebih Baik?

1. Pastikan Pekerjaan Rumah yang Tidak Membebani

Apapun bentuk pekerjaan rumah yang diberikan, pastikan untuk tidak memberikan pekerjaan rumah yang terlalu membebani anak.

Dari pada membuatnya terasa seperti beban, anak bisa diajari untuk memandang pekerjaan rumah sebagai sebuah bentuk tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Tanggung jawab ini haruslah diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku demi meraih suatu hal tertentu.

2. Perhatikan Tingkat Kesulitan

Saat anak sudah bisa memandang sebuah pekerjaan rumah adalah sebuah tanggung jawab, maka pekerjaan tersebut haruslah disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak.

Pastikan untuk menyesuaikan pekerjaan rumah dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak. Jangan sampai anak merasa pekerjaan terlalu sulit sehingga menganggapnya sebagai beban.

Tidak mungkin kan anak yang baru belajar penjumlahan diberi tugas mengenai perkalian?

BACA JUGA: Yuk Ketahui Tahapan Initiative dan Guilt Pada Anak Usia 3-5 Tahun

3. Berikan Pekerjaan Rumah dengan Nada yang Membangun

Saat menyampaikan tugas pekerjaan rumah, selalu gunakan kata-kata yang bernada membangun. Dengan begitu, maka anak akan merasa diberi semangat dan termotivasi mendengar kata-kata tersebut.

Katakan agar anak harus selalu mengerjakan pekerjaannya sendiri seperti apapun hasilnya. Ingatkan juga bahwa yang paling penting adalah mengerjakan secara mandiri, bukan hasil akhirnya.

4. Tentukan Batas Waktu Mengerjakan

Setiap pekerjaan yang diberikan haruslah diberi waktu untuk mengerjakan. Misalnya saja untuk mengerjakan tugas menggambar dan mewarnai ada jangka waktu selama satu minggu dan seterusnya.

Anak akan mempertimbangkan sendiri kapan mereka mulai mengerjakan agar bisa selesai tepat waktu.

Atau mereka juga akan berpikir bagaimana mereka bisa menyelesaikannya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Beberapa anak akan segera mengerjakan dengan cepat dalam waktu singkat dan beberapa anak lain akan mengerjakan pelan-pelan.

Hargai setiap proses anak agar anak merasa dihargai.

Mengajarkan kemandirian anak harus dipertimbangkan dengan benar agar memberikan dampak positif untuk perkembangan anak. Jangan ragu untuk memberikan pujian atau motivasi di setiap proses yang dilalui anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *