Memaknai Tradisi Tabuik di Pariaman

RUANGNEGERI.com – Tradisi secara umum adalah menggambarkan suatu kebiasaan turun-menurun di masyarakat yang mencerminkan keberadaan penduduknya.

Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan bersifat duniawi maupun gaib atau aspek keagamaan.

Selain itu, tradisi juga mengatur hubungan antar manusia, atau satu kelompok dengan kelompok lainnya. Tradisi juga menyarankan bagaimana hendaknya manusia memperlakukan lingkungannya.

Setiap memasuki bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah, masyarakat Kota Pariaman menggelar perayaan tabuik yang disebut masyarakat setempat sebagai perayaan Hoyak Tabuik. Perayaan ini dilakukan dengan cara membuat dan membuang ke laut.

Keranda yang dihiasi menyerupai buraq (sejenis burung yang membawa Nabi Muhammad Saw) dalam perjalanan tahunan Pemerintah Kota Pariaman. Acara ini disaksikan beramai-ramai oleh masyarakat dari berbagai daerah, bahkan ada yang datang dari luar negeri.

Asril (2015) dalam Peran Gandang Tasa Dalam Membangun Semangat dan Suasana Pada Pertunjukan Tabuik di Pariaman, menjelaskan bahwa Tabuik merupakan upacara atau perayaan mengenang kematian Hasan dan Husein. Alur ceritanya berkaitan dengan tragedi 1 Muharam sampai 10 Muharam tahun Hijriyah.

Upacara ini dilaksanakan untuk memperingati peristiwa berdarah yang menimpa cucu Nabi Muhammad Saw. Yaitu sayyidina Hasan dan Husein yang melawan pasukan tentara Yazid bin Muawiyah yang dikenal dengan perang Karbala.

Dalam perkembangannya, Tabuik Pariaman terbagi menjadi dua, yaitu tabuik pasa dan tabuik subarang. Sampai sekarang, kedua tabuik inilah yang selalu dipertunjukan pada setiap upacara hoyak tabuik di Pariaman.

Melihat tradisi tabuik yang menarik banyak orang, sekarang tradisi ini tidak hanya sebagai pertunjukan. Akan tetapi sudah menjadi objek wisata yang sudah banyak dikenal berbagai lapisan masyarakat hingga ke mancanegara.

Hoyak Tabuik ini masih dilaksanakan hingga saat ini dikarenakan memiliki manfaat dalam kehidupan masyarakatnya. Beberapa manfaat ini di antaranya adalah dilihat dari segi sosiologi, antropologi, ibadah, ekonomi dan pendidikan.

Bagian yang dianggap penting dari perayaan tabuik adalah pelaksanaan pestanya yang oleh masyarakat Pariaman disebut batabuik atau mahoyak tabuik.

Perayaan tabuik terdiri atas beberapa rangkaian upacara. Dimulai dengan rangkaian maambiak tanah ke sungai, maambiak/manabang batang pisang, maatam, marandai, maarak jari-jari, maarak saroban, tabuik naik pangkek, maoyak tabuik, hingga ditutup dengan rangkain mambuang tabuik ke laut.

BACA JUGA: Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Meugang di Aceh

Sejarah Tabuik

Sumatera Barat merupakan provinsi di Indonesia yang terkenal dengan corak khas kebudayaan Minangkabaunya. Minangkabau adalah sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, tradisi, agama, kesenian, pertunjukan, kepercayaan dan segala aspek kehidupan masyarakatnya.

Tabuik adalah warisan budaya Minangkabau berbentuk ritual upacara yang berkembang di Pariaman sejak dua abad yang lalu. Di dalam perayaan tabuik, terdapat berbagai unsur kesenian yang terdapat di setiap rentetan mulai dari seni musik, seni rupa, seni teater dan seni tari. Semuanya mempunyai makna dan simbol di setiap bagian acaranya.

Peristiwa syahid-nya Husan bin Ali dalam perang di Karbala yang menjadikan kalangan Syi’ah memperingati sebagai hari yang bersejarah untuk setiap tanggal 1 sampai 10 Muharram.

Menurut Miko Siregar (1996) dalam tesisnya yang berjudul Tabuik Piaman, Kajian Antropolis Terhadap Mitos dan Ritual, tradisi 10 Muharam sampai ke pulau Sumatera dibawa oleh orang-orang Syi’ah, yakni kaum Cipei dari Madras Benggali India Selatan.

Kaum Cipei yang mengunjungi Bengkulu selama bertahun-tahun pada merupakan pedagang. Kemudian mereka banyak menjadi tentara yang dikirim ke Bengkulu untuk mempertahankan jajahan Inggris di Sumatera Barat tahun 1825 di bawah kepemimpinan Thomas Stamford Raffles.

Adapun menurut Azyumardi Azra (1999) dalam bukunya berjudul Islam reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan, perayaan tradisi 10 Muharam masuk ke Pariaman sekitar tahun 1750-1825.

Salah satunya yang dikenal sebagai ulama yang memperkenalkan tradisi 10 Muharram di pesisir Barat Sumatera Pariaman pada abad ke-17, yaitu Syeikh Burhanuddin atau sering disebut dengan panggilan Imam Senggolo, notabenenya adalah jamaah pengikut tarekat syariat.

Tarekat ini memandang bahwa kedudukan wali atau syeikh, apabila ditelusuri secara kerohanian, garis silsilahnya selalu di hubungkan dengan para imam mereka seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.

Seiring berjalannya waktu, kaum ini membaur dengan masyarakat sekitar. Sedikit demi sedikit, pandangan hidup mereka juga banyak yang menyesuaikan dengan masyarakat Melayu. Hal tersebut bisa terlihat dari sistem religi maupun adat istiadatnya.

Suku Melayu berasal dari suku bangsa Rejang Sabah, yaitu penduduk dari kerajaan Sungai Serut. Suku ini menyatu dengan masyarakat Minangkabau yang datang ke Bengkulu semasa kerajaan Sungai Lemau.

Hoyak Tabuik masih dilaksanakan hingga saat ini dikarenakan memiliki manfaat dalam kehidupan masyarakat setempat. Di antaranya dari segi sosiologi, antropologi, ibadah, ekonomi dan pendidikan.

Bagian yang dianggap penting dari perayaan tabuik adalah pelaksanaan pestanya yang oleh masyarakat Pariaman disebut batabuik atau mahoyak tabuik.

Perayaan tabuik terdiri atas beberapa rangkaian upacara yang dimulai dari rangkaian maambiak tanah ke sungai, maambiak/manabang batang pisang, maatam, marandai, maarak jari-jari, maarak saroban, tabuik naik pangkek, maoyak tabuik, hingga ditutup dengan rangkain mambuang tabuik ke laut.

Tradisi tabuik sejak pertama dilaksanakan hingga sekarang telah mengalami banyak perubahan. Pada masa awal dilaksanakan, tabuik memang mengandung nilai agama yang tinggi. Tabuik dipersiapkan khusus sebagaimana merayakan hari besar agama.

Nanda Nelri (2019) dalam tulisannya yang berjudul The procession of Hoyak Tabuik: a tourism urgency and education values in Pariaman City, menyebutkan bahwa pelaksanaan tabuik sekarang lebih kepada memperlihatkan nilai hiburan dan pariwisata Pariaman.

Pelaksanaannya pun banyak tergantung pada kebijaksanaan pemerintah, bukan sepenuhnya wewenang anak nagari lagi. Konsekuensinya, tabuik kini bukan saja milik masyarakat Pariaman, tetapi sudah menjadi kebutuhan rekreatif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Campur tangan pemerintah dinilai cenderung menyebabkan degradasi penyelenggaraan, baik dari segi waktu penyelenggaraan, tujuan pelaksanaan, kekhidmatan pelaksanaan maupun kesakralan dalam upacara hoyak tabuik.

BACA JUGA: Budaya Pandalungan: Akulturasi Ragam Etnis di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur

Makna Tabuik

Vina Dwiyanti (2015) dalam Makna Simbolik Upacara Tabuik di Kota Pariaman Sumatera Barat berpendapat bahwa upacara Tabuik mewakili cerminan sikap dan pola hidup masyarakat Pariaman.

Bahkan, Tabuik dijadikan sebuah tradisi bagi masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga Pariaman. Kemudian, Tabuik dilaksanakan oleh Anak Nagari dalam bentuk Tabuik Budaya

Upacara Tabuik ini menyimbolkan suatu bentuk ekspresi rasa duka mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur secara tidak wajar pada peperangan di Padang Karbala.

Ada pula unsur adat yang terkandung dalam pelaksanaan tabuik. Hal itu meliputi bungo salapan, tonggak atam, tonggak serak, jantuang-jantuang, pasu-pasu, dan ula gerang yang berjumlah delapan merupakan gambaran perpaduan antara adat dan agama, sehingga nilai-nilai adat yang terkandung dalam tabuik tidak jauh dari nilai-nilai agama.

Eksistensi Tabuik di tengah-tengah masyarakat telah terkontaminasi dan terganggu oleh desakan daerah, pariwisata, dan otoriter pemerintahan. Pesta budaya Tabuik menjadi salah satu target utama pariwisata Indonesia yang ditawarkan Provinsi Sumatera Barat.

Seiring perkembangan zaman, upacara Tabuik ini pelaksanaannya tidak lepas dari pariwisata yang dijadikan sebuah atraksi kebudayaan. Masyarakat memiliki peran yang sangat besar untuk kesuksesan acara ini, sehingga Tabuik sendiri memiliki makna persatuan.

Prosesinya seperti melambangkan kesatuan walaupun terdiri dari bermacam suku, bahasa, agama, keturunan tetapi tetap satu kesatuan. Seusai prosesi Tabuik Naik Pangkek dilaksanakan, Tabuik kemudian dibawa memasuki Kota Pariaman.

Prosesi hoyak Tabuik menjadi ritual puncak dalam Festival Tabuik. Terakhir, tabuik dibuang ke laut menjelang sore atau menjelang waktu shalat Maghrib datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *