Memahami Skema Ponzi yang Sempat Menipu Pengusaha Warren Buffet

RUANGNEGERI.com – Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dari investasi? Mengingat nominal yang diperoleh terus meningkat dan rutin.

Alih-alih mendulang emas justru berakhir gigit jari karena tertipu investasi bodong. Sudah banyak kasus investasi bodong yang terjadi di Indonesia yang kerugian para korban mencapai miliaran Rupiah.

Secara umum, investasi ini dilakukan melalui dua pilihan, yakni investasi produk keuangan dan sektor riil. Investasi dalam produk keuangan, antara lain asuransi, perbankan, obligasi, reksadana, saham, dan lainnya. Sementara, investasi dalam sektor riil berupa investasi logam mulia dan investasi usaha.

Dalam hal investasi produk keuangan, hampir tidak ada perusahaan investasi bodong. Pasalnya, produk-produk keuangan hanya dapat dijual dari perusahaan yang telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.

Biasanya investasi fiktif terjadi pada sektor riil. Misalnya, MLM, patungan sapi qurban, perumahan, usaha, agen travel, dan lainnya.

Investasi paling fenomenal karena berbau penipuan adalah skema ponzi. Masih banyak masyarakat belum familiar dengan investasi skema Ponzi.

BACA JUGA: Indonesia dalam Bayang-bayang Resesi Ekonomi, Ini Strategi Pemerintah

Pengertian Skema Ponzi

Jargon dari investasi skema Ponzi paling terkenal yakni “Rob Peter to pay Paul”. Secara sederhana, diartikan sebagai modus investasi palsu dimana keuntungan diberikan kepada investor pertama berasal dari uang setoran investor kedua.

Melansir dari majalah Time edisi 12 Agustus 2020, investasi skema ponzi diciptakan oleh Charles Ponzi pada akhir tahun 1919. Bermula dari penawaran modal bisnis kepada para investor untuk menanamkan uang 100 Dollar Amerika Serikat atau sekitar 1,5 juta Rupiah. Dari situ, investor ditawari akan memperoleh $ 150 dalam waktu 90 hari.

Akhirnya, Ponzi mendapat dana segar 1.250 Dollar dalam waktu satu minggu. Namun, tidak ada bisnis riil yang dikembangkannya. Melainkan hanya memutarkan uang investor baru untuk membayarkan bunga kepada investor lama.

Berkat kepiawaiannya berkomunikasi, selama 8 bulan Ponzi menggaet lebih dari 100 investor dengan total pendanaan $ 9 juta Dollar atau sekitar Rp 133 miliar.

Sayangnya, bisnis tipu muslihat ini tidak berjalan mulus. Ponzi perlahan mulai kesulitan mencari investor baru sehingga pembayaran uang kepada investor lama menjadi tersendat. Salah satu investor Ponzi mencium adanya kejanggalan dan melaporkan kepada pihak kepolisian.

Pada bulan Juli 1920, Ponzi ditangkap oleh kepolisian setempat. Bersamaan dengan itu, skema investasi yang diciptakannya terkuak menyebabkan ribuan investor menarik modalnya.

Namun, usaha Ponzi terlanjur kolaps dan tidak mampu mengembalikan uang dari investor. Atas perbuatannya ia diadili oleh Pengadilan Massachusetts, serta didakwa dengan hukuman 4 tahun penjara.

Nama Ponzi hingga kini dikenang sebagai penipu ulung yang paling sukses menjalankan misinya. Pemberitaan tentang tindak kriminal yang dilakukan Ponzi tersebar ke seluruh penjuru dunia. Alhasil, skema investasi bodong ciptaannya dikenal sebagai Skema Ponzi.

BACA JUGA: AS Masih Menghadapi Tantangan Ekonomi Berat Akibat Covid-19

Kasus Investasi Skema Ponzi Paling Menggemparkan

Warren Buffet, seorang investor sukses di dunia dikabarkan menjadi salah satu korban investasi skema ponzi. Mengutip dari Reuteurs (25/01/2020), kasus itu berawal dari pasangan suami-istri, Jeff dan Paulette Carpoff, yang mencari investor untuk proyek pembangunan generator tenaga surya di California, Amerika Serikat.

Jeff dan Paulette diwacanakan akan membangun 17.000 generator DC Solar. Alih-alih membangun proyek generator, keduanya justru hanya memutar uang investor dengan skema Ponzi.

Melansir Business Insider (26/01/2020), uang hasil penipuan yang diperolehnya sebesar 140 juta Dollar atau setara dengan Rp 1,9 triliun. Keduanya mencicipi hidup bergelimang harta dengan membeli properti mewah di Las Vegas dan Lake Tahoe. Selain itu, 150 mobil mewah yang harganya lebih dari 1 juta Dollar berhasil dimiliki.

Aksi penipuan Jeff dan Paulette berhasil diketahui polisi setelah penyelidikan dilakukan jaksa. Berdasarkan hasil temuan jaksa, generator DC Solar yang dibangun hanya sebagian kecil dari proyek yang dijanjikan.

Selain Warren Buffet, banyak korban lainnya tertipu merupakan perusahaan raksasa, seperti asuransi Progressive, Bank Independent East West Bancorp dan Sherwin Williams.

Ketika kasus ini diselesaikan pengadilan, Jeff Carpoff dan Paulette Carpoff mengaku bersalah telah melakukan konspirasi penipuan. Akhirnya mereka dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun dan pengadilan meminta pengembalian uang modal yang berikan oleh para investor.

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia juga digemparkan dengan penipuan berkedok biro perjalanan haji. Kompas.com (17/11/2019), memberitakan bahwa PT First Anugerah Karya Wisata alias First Travel terbukti telah menipu sedikitnya 35.000 orang calon jama’ah umrah.

Pasangan suami-istri, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan yang menjalankan bisnis tersebut ditetapkan sebagai tersangka. Disamping itu, izin penyelenggaraan perjalanan umrah perusahaan tersebut juga dicabut Kementerian Agama.

Keduanya juga dijerat oleh pasal berlapis karena melanggar Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji, Undang-Undang Pencucian Uang, dan KUHP. Korban yang mencapai puluhan ribu membuat Bareskrim Polri membuka posko khusus pengaduan calon jemaah umrah First Travel.

Para korban tergiur promo biaya umrah murah yang dicanangkan First Travel hanya Rp 14 juta. Sayangnya ketika uang dilunasi, korban tidak kunjung berangkat dan wajib melakukan upgrade berbayar hingga tiga kali.

Melansir dari Liputan6.com, Budi Raharjo, Perencana Keuangan One Shildt Financial Planning menuturkan, adanya kemungkinan skema Ponzi. Pasalnya, pemberangkatan jemaah umrah pertama dilakukan dengan biaya dari jemaah baru yang mendaftarkan diri.

Ironisnya, dalam jangka waktu dua tahun hanya calon jemaah haji berasal dari kalangan tertentu diberangkatkan. Orang-orang tertentu yang dimaksud adalah pejabat, pengacara, artis dan pejabat penting lainnya.

BACA JUGA: Di Bawah Paksaan, Google Akhirnya Bersedia Membayar Media untuk Artikel Berita

Jerat Hukum Investasi Skema Ponzi

Pelaku investasi skema ponzi pada dasarnya dapat digugat secara pidana dan perdata. Pelaku dijerat dengan pasal mengenai penipuan yakni Pasal 378 KUHP dan diancam dengan pidana paling lama 4 tahun.

Tidak hanya pelaku yang dapat dipidana, tetapi juga investor pertama yang mencari investor lainnya untuk menyuntikkan dana. Dengan syarat banyak investor belakangan yang mengalami kerugian karena bujukan dari investor pertama.

Apabila dilakukan upaya gugatan hukum perdata terhadap pelaku, maka jerat hukum merujuk pada Pasal 105 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

Bunyi Pasal 105 UU ini “Pelaku Usaha Distribusi yang menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.

Hukuman yang dijerat tidak terbatas oleh kedua pasal tersebut. Tergantung berbagai unsur seperti modus pelaku dan bidang yang digelutinya. Intinya, investasi skema piramida ponzi sudah pasti ilegal dan dilarang aktivitasnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *