Masjid Sigi Lamo dan Tradisi Islam di Ternate

RUANGNEGERI.com – Masjid menduduki posisi penting dan sentral bagi kehidupan umat Islam tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan mereka.

Fungsi pokok masjid bagi kaum muslimin, tentu saja sebagai tempat untuk melakukan ibadah salat. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah, meskipun ibadah salat bisa dilakukan di mana saja.

Sebab, seluruh bumi ini adalah ‘masjid’ atau tempat sujud, tetapi masjid sebagai bangunan khusus rumah ibadah tetap sangat diperlukan.

Secara lebih luas, menurut Adolf Heuken SJ (2003) dalam bukunya yang berjudul Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta, masjid bukan hanya sekadar tempat kegiatan ritual-sosial. Namun juga merupakan salah satu simbol terjelas dari eksistensi peradaban Islam.

Berdasarkan tinggalan peradaban Islam, masjid sebagai bangunan tua atau bersejarah memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri bila dilihat tinggalan arkeologis berupa bangunan, arsitektur, ragam hias, mimbar dan lain sebagainya.

Pada abad ke-17, bangunan masjid sangat berhubungan erat dengan rumah-rumah para penduduk yang tinggal di sekitarnya. Gaya bangunan, ukuran, bahan bangunan tidak berbeda, sehingga masjid tua atau bersejarah berintegrasi dengan lingkungannya.

Begitu juga bangunan-bangunan atau tempat sekolah agama Islam yang ada pada era tersebut.

BACA JUGA: Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

Masuknya Islam ke Ternate

Awal kedatangan Islam di Kepulauan Maluku termasuk Maluku Utara (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan) masih merupakan perdebatan akademis yang terus berlanjut hingga saat ini.

Perdebatan itu bukan saja karena landasan teoritis, proposisi dan asumsi-asumsi yang berbeda dari para pakar sejarah. Tetapi juga karena langkahnya dokumen tertulis (arsip) yang bisa menjelaskan awal kedatangan Islam di daerah tersebut.

Sebelum masuknya agama di kepulauan Maluku, seperti yang ditulis oleh Bambang Suwondo (1977) dalam bukunya Sejarah daerah Maluku, menyebutkan bahwa masyarakat Maluku sudah mengenal semacam kepercayaan yang disebut “Agama asli”.

Agama atau kepercayaan asli ini pada umumnya adalah kepercayaan kepada animisme dan dinamisme. Selain itu, masyarakat juga sudah megenal kepercayaan pada satu roh atau zat tertinggi yang menciptakan segala sesuatu.

Pola kepercayaan lama ini masih tetap terjaga pada penduduk, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh agama Islam maupun Kristen.

Proses masuknya Islam di daerah Maluku dilakukan melalui perdagangan laut dengan cara yang damai. Saat itu pala dan cengkeh merupakan komoditi yang sangat diminati. Para pedagang asal Arab di abad ke 14 telah membawa Islam ke Ternate, walaupun kerajaan memeluk Islam baru pada pertengahan abad ke 15.

Mereka tentu saja memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan ajaran Islam di tengah masyarakat. Para pedagang muslim, seperti biasanya menjalankan ibadahnya di manapun mereka berada.

Hal itu pula yang ditengarai sebagai daya tarik dan minat dari para mitra dagangnya untuk saling berdialog dan berinteraksi. Selanjutnya, sebagain di antaranya meyakini serta memeluk Islam.

Menurut M. Saleh Putuhena dalam artikelnya yang berjudul Sejarah Agama Islam di Ternate, proses pengislaman dilakukan melalui dua jalur, yakni jalur “atas” dan jalur “bawah”. Jalur atas yang dimaksudkan adalah proses pengislaman melalui usaha dari para penguasa ketika itu.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan jalur bawah adalah proses pengislaman melalui usaha perorangan atau melalui masyarakat pada umumnya.

Awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate, diperkirakan sejak awal berdirinya Ternate tahun 1257. Masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate.

Meski masih diperdebatkan, namun beberapa raja awal Ternate sudah banyak menggunakan nama bernuansa Islam seperti Baab Masyhur, pendiri kerajaan Ternate.

BACA JUGA: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Berdirinya Masjid Sigi Lamo

Kedaton Kesultanan Ternate dibangun pertama kali pada tahun 1673, sedangkan Masjid Kesultanan Ternate (Sigi Lamo) enam tahun setelahnya, yaitu pada tahun 1679.

Komang Ayu dalam artikelnya yang berjudul Masjid Sultan Ternate, menyebutkan bahwa Masjid Kesultanan pertama adalah Sigi Lamo yang dibangun di dekat Benteng Gamlamo.

Masjid yang terbuat dari kayu ini dipindahkan sekitar 100 meter dari lokasi awal oleh Sultan Khairun. Bahan kayu diganti dengan batu sehingga menjadikan Sigi Lamo tersebut sebagai masjid pertama yang berwujud bangunan semi permanen.

Sigi Lamo terletak di Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Tengah. Sigi La-mo adalah masjid besar yang biasanya digunakan oleh Sultan Ternate untuk menjalankan ibadah salat berjamaah. Waktu-waktu yang digunakan sultan untuk menunaikan salat berjamaah tersebut lebih dikenal dengan “Jou Kolano Uci Sabea” (turun bersembahyang).

Biasanya hal itu dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti pada saat bulan Ramadan (bulan Puasa), malam Lailatul Qadar (malam ela-ela), atau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada waktu-waktu tersebut, ribuan umat Islam kota Ternate ramai berdatangan memenuhi halaman masjid hingga bagian halaman luarnya untuk menjalankan salat berjamaah bersama sultan.

Tempat yang diperuntukkan buat sultan terletak dibagian barisan pertama setelah imam masjid di bagian tengah. Sultan diberi tempat khusus secara terpisah yang disekat oleh sebuah lingkaran mimbar segiempat yang ditutup dengan beberapa lembaran kain sebagai dindingnya.

Sebelum memasuki ruang khususnya tersebut, para petugas perangkat adat lebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu demi kelancaran acara salat yang akan ditunaikan oleh sultan beserta para jamaah lainnya.

Persiapan-persiapan tersebut antara lain adalah dengan memerintahkan pengawal kerajaan (baro-baro). Tujuannya adalah untuk membuka jalan bagi sang raja saat memasuki bagian dalam masjid yang dikawal hingga masuk dalam mimbar khusus yang disediakan.

Sebelum memasuki kawasan masjid, sultan akan dijemput oleh para pemangku agama Sigi Lamo (bo bato akhirat) dengan pengawalan para baro-baro. Sultan kemudian datang dari kedaton yang diikuti ribuan massa hingga memasuki ruang khusus yang telah disediakan dalam masjid Sigi Lamo tersebut.

Demikian pula pada saat ibadah salat telah berakhir, para jamaah secara berkerumun saling berusaha untuk mencium tangan sultan seolah berharap mendapatkan keberkahan.

BACA JUGA: Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi

Tradisi di Masjid Sigi Lamo

Sebelmunya, ada tradisi kuat yang dipertahankan. Yakni perempuan tidak diperbolehkan sembahyang di masjid kesultanan. Namun pada Hari Rabu tanggal 16 September 2009 atau bertepatan dengan tanggal 26 Ramadhan 1430 H, Kolano (Raja) Ternate, Sultan Mudaffar Sjah, menghapuskan satu tradisi lama Masjid Sigi Lamo.

Yaitu tradisi yang melarang muslimah untuk sholat di Masjid Sultan Ternate atau Sigi lamo. Sejak saat itu, wanita kini diperbolehkan beribadah di masjid tersebut.

Selain itu, ada satu tradisi yang setiap tahun diadakan di Masjid Sultan Ternate adalah Malam Qunut yang jatuh setiap malam ke-16 bulan Ramadhan. Pada tradisi ini, sultan beserta kerabatnya dibantu oleh Bobato Akhirat (dewan keagamaan kesultanan) untuk mengadakan ritual khusus yaitu Kolano Uci Sabea. Artinya adalah turunnya sultan ke masjid untuk salat dan berdoa.

Acara Kolano Uci Sibea dimulai dari istana menuju masjid untuk melaksanakan salat Tarawih. Sekitar pukul setengah delapan waktu setempat, sultan ditandu oleh pasukan kesultanan menuju masjid.

Prosesi tersebut diiringi dengan alunan alat musik Totobuang (semacan gamelan) yang ditabuh oleh sekitar dua belas anak kecil yang mengenakan pakaian adat lengkap di depan tandu sultan. Konon, alat musik ini merupakan pemberian Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) kepada salah satu Sultan Ternate yang berguru kepadanya.

Sebelum salat Tarawih dimulai, para muadzin yang terdiri dari empat orang, mengumandangkan adzan secara bersama-sama. Menurut kepercayaan orang setempat, adanya 4 muadzin ini untuk mengingatkan masyarakat Ternate tentang empat Soa (kelurahan pertama) di daerah Ternate.

Empat Soa ini yaitu Soa Heku (Kelurahan Dufa-Dufa), Soa Cim (Kelurahan Makassar), Soa Langgar (Kelurahan Koloncucu), dan Soa Mesjid Sultan sendiri. Namun, sebagian juga ada yang percaya bahwa pengumandangan adzan oleh empat muadzin tersebut melambangkan empat kerajaan terkuat yang masih saling bersaudara di kawasan Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Keempat kerajaan tersebut dalam keyakinan masyarakat biasa disebut Moloku Kie Raha (pemangku empat gunung atau kerajaan).

Usai salat Tarawih, sultan akan pulang ke istana dengan ditandu kembali seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di istana, sultan bersama permaisuri (Boki) akan memanjatkan doa di ruangan khusus, tepatnya di makam keramat leluhur.

Usai berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima kedatangan rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan.

Pertemuan langsung antara sultan dan rakyatnya ini menarik minat masyarakat di seluruh Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya untuk datang melihat secara langsung tradisi yang masih dijalankan hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *