Mantan Raja Spanyol Menghilang di Tengah Proses Pemeriksaan Korupsi

RUANGNEGERI.com – Mantan Raja Spanyol, Juan Carlos diberitakan meninggalkan negeri Matador pada hari Selasa (04/08/2020). Kepergian diam-diam ini dilakukannya di tengah upaya aparat Spanyol membongkar skandal keuangan keluarga kerajaan.

Pria berusia 82 tahun tersebut menyurati anaknya, Felipe yang tidak lain adalah raja Spanyol saat ini. Memberitahukan kepergiannya tanpa menyebutkan tempat tujuan.

Belum diketahui di mana keberadaannya sekarang. Juan Carlos juga menyatakan bahwa dirinya “siap sedia jika pihak berwajib Spanyol perlu mewawancarainya”.

Dalam suratnya, mantan raja yang berkuasa selama 39 tahun tersebut menegaskan bahwa tindakannya “dilakukan untuk melayani rakyat Spanyol.” Juga lembaga-lembaga negaranya dan “anda (Felipe) sebagai raja.”

Saat ini, Juan Carlos sedang diselidiki pihak kejaksaan Spanyol. Diduga melakukan praktik pencucian uang dan penyelewengan dana untuk proyek pengadaan kereta api cepat di Arab Saudi.

Pada penyelidikan disebutkan bahwa sang mantan raja telah menerima dana dari beberapa pemimpin negara Arab. Sebagian dana diduga disimpan di Swiss.

Pernyataan resmi dari istana Zarzuela menyebutkan bahwa Raja Felipe VI menyampaikan penghormatan atas keputusan ayahnya. Serta berterima kasih atas jasa pria tersebut.

BACA JUGA: Tersangka Genosida Rwanda Tertangkap di Perancis

Kasus yang Membelit Sang Pahlawan Demokrasi

Kepergian Juan Carlos secara diam-diam terlihat sebagai tindakan memalukan. Terutama bagi seorang yang dianggap pahlawan demokrasi.

Juan Carlos adalah orang yang berhasil membawa Spanyol keluar dari kediktatoran. Sang mantan raja meloloskan Spanyol dari cengkeraman Jendral Fransisco Franco pada tahun 1975.

Dirinya juga dianggap berhasil membawa Spanyol ke era yang lebih maju dari sebelumnya. Namun di akhir statusnya sebagai raja, ia menuai banyak kritikan.

Dugaan penyelewengan dana serta gaya hidup flamboyannya terkuak tahun 2012. Saat itu, Juan Carlos masih menjabat sebagai raja.

Tahun 2012, Spanyol disergap resesi ekonomi. Lalu terkuak raja mereka tengah berburu gajah dan menghamburkan uang jutaan Euro di Bostwana. Saat pengangguran di Spanyol bahkan mencapai 24%.

Hal ini mulai memicu tuntutan untuk melakukan audit dan pengawasan lebih ketat. Bukan hanya pada keuangan raja tapi juga anggota keluarga kerajaan lainnya.

Baru pada tahun 2014 penyelidikan bisa dilaksanakan. Setelah Juan Carlos menyerahkan mahkota kerajaan pada Pangeran Felipe. Saat itu dirinya tidak lagi memiliki kekebalan hukum.

Melansir dari Forbes (09/06/2020), kasus pertama yang diselidiki adalah pembangunan kereta api cepat antara Mekah-Madinah senilai 7 miliar Euro atau senilai lebih dari 100 triliun Rupiah. Tercatat ada 12 perusahaan Spanyol yang memenangkan tender ini.

Juan Carlos diduga menerima hadiah dari raja Saudi Almarhum King Abdullah sebesar 100 juta Dolar AS atau sekitar 1.5 triliun Rupiah. Kasus itu terjadi pada tahun 2008 silam.

Ia kemudian dilaporkan memasukkan dana panas tersebut ke rekening Lucum Foundation. Sebuah yayasan yang sengaja didirikan untuk menampung uang tersebut.

Badan tersebut dilikuidasi tahun 2012 dan seluruh dana pengembangan dihibahkan pada kekasih Juan Carlos saat itu. Yakni seorang wanita Jerman bernama Corina zu Sayn Wittgenstein.

Penyelidikan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dana tersebut dengan proyek KA di Saudi.

Yayasan lainnya adalah Zagatka Foundation di Liechtenstein. Pengelola utamanya, Vlvaro de Orleans adalah sepupu Raja Felipe. Namun ia menolak tuduhan sebagai penerima dana panas tersebut.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 di AS Masih Tinggi, Warganya Dilarang Memasuki Eropa

Skandal Keuangan Para Anggota Kerajaan

Selain Juan Carlos, beberapa putri dan pangeran Spanyol juga pernah disorot. Ipar raja, Inaki Urdangarin dijebloskan ke penjara pada tahun 2018 dengan tuduhan penipuan.

Suami Putri Christina itu terbukti menggunakan koneksi dan gelar kerajaannya untuk menjalankan bisnis. Lalu meraup keuntungan pribadi secara illegal. Kasus yang meledak di tahun 2010 ini menjadi tonggak pemeriksaan terhadap keluarga kerajaan. Mengenai gaya hidup mewah dan dugaan korupsi di dalamnya.

Mengutip dari laman BBC (17/02/2020), memberitakan bahwa Putri Christina, kakak Raja Felipe pernah menghadapi tuntutan penyelewengan pajak di tahun 2014. Walau akhirnya terbukti tidak bersalah.

Sang putri adalah anggota kerajaan pertama yang dihadapkan pada kasus keuangan. Walau dinyatakan tidak bersalah, namun ia tetap harus membayar sejumlah denda.

Pada tahun 2015, gelar kebangsawanan Putri Christina dan suaminya dicabut oleh Raja Felipe. Kini keduanya tinggal di Genewa, Swiss.

BACA JUGA: Mantan PM Perancis dan Istrinya Dipenjara Akibat Penggelapan Dana Publik

‘Dosa’ Juan Carlos Membelit Kaki Felipe VI

Gaya hidup dan dugaan penyelewengan dana yang dilakukan sang ayah ternyata masih berimbas pada Raja Felipe. Sang raja diduga ikut terciprat dana panas dari ayahnya.

Pada bulan Maret 2020 lalu, Raja Felipe VI memberi pernyataan bahwa ia menolak semua warisan dari Juan Carlos. Termasuk jaminan finansial yang telah disediakan sang ayah untuknya.

Di bulan yang sama, pernyataan resmi keluar dari istana Zarzuela. Bahwa Juan Carlos tidak akan menerima lagi tunjangan tahunan dari anggaran negara. Jumlah tunjangan hingga senilai 194.000 Euro.

Walau beberapa minggu terakhir pihak kerajaan bungkam terhadap berita tentang kehidupan pribadi sang mantan raja. Namun berita tentang hal tersebut tetap marak.

Raja Felipe harus melakukan “tindakan besar agar terbebas dari dosa ayahnya,” ujar José Antonio Zarzalejos, mantan editor surat kabar ABC. “Termasuk mengeluarkan Juan Carlos dari istana,” pungkas pendukung monarki Spanyol tersebut.

Hal tersebut akan membebaskan istana dari tuduhan menerima uang suap. Serta meningkatkan kepercayaan publik Spanyol terhadap raja.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez juga mengakui bahwa tuduhan terhadap Juan Carlos cukup meresahkan. Dirinya juga berpikir untuk “mendukung pengubahan peraturan konstitusional.” Bahwa kepala negara Spanyol memiliki kekebalan absolut.

BACA JUGA: Vladimir Putin Berpeluang Menjadi Presiden Rusia Hingga Tahun 2036

Mengenal Juan Carlos

Pria bernama lengkap Juan Carlos Alfonso Víctor María de Borbón y Borbón-Dos Sicilias ini lahir di Roma, Italia pada 5 Januari 1938. Ia dinobatkan sebagai raja pada tanggal 22 November 1975.

Juan Carlos selama menjabat banyak dinilai berhasil membawa Spanyol keluar dari rezim diktator Fransisco Franco yang berkuasa sejak 1939. Kemudian juga berhasil menawarkan sistem demokratis monarki konstitusional yang disambut baik rakyat Spanyol.

Juan Carlos juga berhasil menggagalkan kudeta pada tahun 1981. Secara keseluruhan, kariernya cemerlang sebagai raja dan pemimpin demokrasi Spanyol.

Reputasi cemerlangnya tercoreng pada tahun 2012, ketika plesiran rahasianya di Bostwana tercium publik. Menyusul berita kedekatannya dengan pengusaha wanita asal Jerman, Corina Wittgenstein.

Suami Ratu Sophia ini lantas menghadapi berbagai tuduhan penyelewengan dana dari pihak berwenang Spanyol. Selain itu juga terancam pemeriksaan finansial oleh Swiss, di mana sebagian hartanya diduga disembunyikan di negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *