Makna Tradisi Sungkeman Saat Lebaran dan Pernikahan

RUANGNEGERI.com – Pada setiap peringatan hari lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, umat Islam khususnya mempersiapkan berbagai hal. Mulai dari pakaian baru, ketupat, kue lebaran, dan hal yang lebih penting adalah jangan sampai lupa untuk melakukan sungkeman, ya!.

Tulisan kali ini akan membahas tradisi sungkeman di masyarakat Indonesia di mana tradisi ini sudah melekat sejak dulu, khususnya saat perayaan Idul Fitri maupun pada acara pernikahan. 

Sungkeman sudah menjadi bagian dari kegiatan besar yang sulit sekali untuk ditinggalkan, bahkan sudah identik diartikan sebagai bentuk silaturahmi dan saling memaafkan khususnya di antara keluarga dekat yang sangat sulit ditinggalkan.

Sungkeman biasanya dilakukan antara orang yang lebih muda (anak) kepada orang tua. Orang tua akan berada di posisi duduk, sementara anak akan berada dalam posisi seperti bersimpuh. Sungkeman juga sering kali menjadi cara untuk saling bermaafan yang lebih khusyuk.

Ungkapan selamat hari raya serta diikuti permohonan maaf dan saling memaafkan serasa seperti terhapus pada hari kita melakukan sungkeman. Lebih dari itu, tradisi sungkeman juga mengandung kebaikan lain yakni berupa doa. Orang tua akan memberikan doa yang terbaik untuk orang yang lebih muda dari keluarga mereka.  

Lantas, apakah sungkeman yang dilakukan dalam acara lebaran dan pernikahan sama? Apa makna dari tradisi sungkeman yang sering dilakukan masyarakat kita ini? 

Baca juga: Yogyakarta: Akulturasi dan Pusat Kebudayaan Jawa

Awal Mula Sungkeman

Jika kita melihat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sungkeman berarti sebagai sujud dan tanda bakti hormat kita. Pada mulanya, sungkeman lebih sering dilakukan di dalam wilayah kerajaan di Jawa.

Sebagian masyarakat mungkin tahu bahwa sungkeman merupakan budaya unik yang berasal dari Suku Jawa, namun kini sudah menjadi tradisi umum bagi masyarakat Indonesia. Melansir Borobudur News (02/02/2020), sungkeman berasal dari tradisi Kraton Surakarta (Solo).

Seorang keluarga kraton yang bernama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Puger pernah menjelaskan sejarah tentang ini. Sang pangeran menjelaskan bahwa tradisi unik ini berasal dari Kraton Surakarta, serta Kadipaten Puro Mangkunegaran.

Di masa itu, sungkeman dilakukan secara tertutup antara keluarga kerajaan saja. Namun kemudian dilakukan bukan hanya kepada orang per orang, melainkan dilakukan secara massal. Raja Sri Mangkunegara I pada tahun 1725 Masehi bersama dengan punggawanya menggelar kegiatan tersebut.

Baca juga: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Mereka berkumpul bersama dan saling bermaafan dengan melakukan sungkeman secara massal. Hal ini dilakukan setelah selesai melakukan salat Idul Fitri berjamaah.

Memasuki zaman kolonial, para Compagnie Belanda menganggap kegiatan tersebut sebagai kegiatan terselubung yang bertujuan untuk melawan penjajah Belanda di bumi Nusantara. Sang Raja dari Kraton Surakarta kemudian mengklarifikasi kepada pihak Belanda bahwa kegiatan sungkeman bukan sebuah bentuk perlawanan.

Sejak saat itu, sungkeman bukan lagi kegiatan tertutup, tetapi menjadi lebih terbuka atau biasa kita sebut open house di zaman sekarang. Budaya sungkeman merupakan tradisi luhur yang khas di Indonesia saja, dan kini telah menjadi kebiasaan yang seolah menjadi ‘keharusan’ bagi masyarakat pada umumnya. 

Sungkeman kini bukan saja dilakukan secara internal keluarga, namun juga acara open house sudah lumrah bagi tokoh masyarakat, pemerintah daerah, pejabat tinggi negara hingga presiden dan wakil presiden di Indonesia.  

Baca juga: Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi

Perbedaan Sungkeman Pernikahan dengan Lebaran

Budaya sungkeman di Indonesia saat ini umumnya digunakan dalam dua acara, yang pertama ketika lebaran tiba dan kedua, saat melangsungkan pernikahan. Apakah kedua jenis sungkeman ini berbeda?

Secara garis besar, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok dari kedua tradisi unik ini. Perbedaan hanya terdapat dalam bahasa yang diucapkan, hingga proses sungkeman itu sendiri. 

Bagi orang Jawa dan Sunda khususnya, sungkeman saat Idul Fitri atau lebaran adalah sebagai bentuk bakti dan permintaan maaf dari orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, khususnya kepada kedua orang tuanya. 

Pelaksanaannya pada umumnya dilakukan setelah keluarga menunaikan salat Idul Fitri bersama dan sebelum menyantap makanan. Setelah melakukan sungkeman bersama keluarga, kemudian dilanjutkan secara berkeliling ke tetangga dan keluarga lainnya.

Baca juga: Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa yang Perlu Diketahui

Makna Tradisi Sungkeman

Kegiatan sungkeman kini telah menjadi budaya Indonesia yang lazim ditemui hingga ke pelosok negeri. Berikut beberapa makna tradisi sungkeman:

1. Sebagai Bentuk Sembah Bakti

Tradisi sungkeman bermakna sebagai perwujudan sembah bakti. Ketika kita melakukan sungkeman, maka orang tua akan duduk sementara kita bersimpuh di hadapannya.

Kemudian, anak akan menundukkan kepala dan menyalaminya. Hal sangat terasa bahwa seorang anak tersebut telah menunjukkan rasa hormat dan berbakti kepada orang tuanya.

2. Tanda Lemah Tanpa Orang Tua

Sungkeman pada umumnya dilakukan hanya kepada orang yang lebih tua. Dalam hal ini, sungkeman juga bermakna bahwa anak khususnya, merasa lemah tanpa kehadiran orang tua.

Makna filosofis ketika seorang yang muda sungkem kepada orang tuannya, maka ia haruslah tetap rendah diri meskipun secara harta, ilmu, pangkat dan jabatannya jauh lebih tinggi, tetapi tetap rendah hati di hadapan orang tuannya.

3. Kesuksesan Anak dari Doa Orang Tua

Ketika melakukan sungkeman, kita bukan saja menyalami tangan orang tua kita, namun juga meminta doa restunya. Hal ini sangat sering terjadi dalam proses sungkeman dalam pernikahan.

Mempelai pengantin yang sedang sungkem tentu akan memohon doa agar kelak memiliki rumah tangga yang harmonis, dimudahkan rezeki serta selamat di dunia dan akhirat.

Baca juga: Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

4. Tanda Memohon Maaf yang Tulus

Mengucapkan kata maaf memang cukup mudah meski bagi sebagian orang ucapan itu terasa sulit. Namun dalam konteks sungkeman, ucapan maaf masih terasa kurang tulus jika hanya diucapkan saja.

Ketika sungkeman, makna lain yang muncul adalah sebagai tanda permohonan maaf. Jadi, sebelum kita sungkem dan memohon doa orang tua, kita wajib untuk meminta maaf dan saling memberikan maaf terlebih dahulu.

Meski demikian, sungkeman untuk meminta maaf kepada orang tua khususnya tidak harus menunggu momen tiba. Permohonan maaf bisa dilakukan setiap hari. Tidak perlu menunggu waktu lebaran atau dalam pernikahan saja untuk meminta maaf dengan tulus kepada kedua orang tua. 

5. Dampak Psikologis

Dampak psikologis ternyata menjadi makna dalam budaya sungkeman. Pasalnya, ketika sungkeman, orang tua secara natural akan mengelus kepada sang anak. Hal itu juga merupakan tanda stimulus untuk memberikan aura positif terhadap anaknya sekaligus menjadi penyemangat bagi yang lebih muda. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *