Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa yang Perlu Diketahui

RUANGNEGERI.com – Urusan pernikahan adalah kegiatan yang sakral dan penuh khidmat. Berbagai rangkaian kegiatan, doa dan filosofinya sangatlah penuh makna.

Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan tradisi pernikahan dengan berbagai ritual, makna serta filsofi dibaliknya. Salah satu pernikahan adat paling terkenal di Indonesia adalah pernikahan adat Jawa karena memang jumlah penduduknya paling banyak di Indonesia.

Pernikahan adat Jawa banyak dikenal sebagai pernikahan yang memiliki prosesi yang cukup banyak. Tidak jarang pula bahwa dalam sebuah pernikahan yang menggunakan adat Jawa secara lengkap juga melibatkan seorang dukun pengantin.

Pekerjaan dukun penganten ini adalah menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan adat pernikahan tersebut. Biasanya, ia juga merangkap sebagai perias pengantin. Beberapa hal yang perlu disiapkan antara lain adalah ubo rampe, tumpeng, telor, air untuk siraman dan lain sebagainya.

Meskipun pelaksanaan prosesi pernikahan Jawa yang lengkap dengan adat kini sudah cukup jarang, namun ada baiknya jika kita mengetahui langkah langkah prosesi tersebut.

Baca juga: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Pranatacara dan Identitas Kerajaan Jawa

Jalannya prosesi pernikahan adat Jawa juga tidak lepas dari peran hangat dari pranatacara atau pembawa acara. Pranatacara ini bertugas untuk memandu sekaligus mengiringi kegiatan yang dilakukan selama prosesi.

Sebuah penelitan menarik yang dilakukan oleh Sukarno (2008), melalui disertasi berjudul The Study on Interpersonal Meanings in Javanese Wedding ‘Pranatacara’ Genre, menyebutkan bahwa peran dari pranatacara ini sangatlah penting dalam pernikahan adat Jawa.

Bahasa yang digunakannya selalu menggunakan Bahasa Jawa halus (kromo inggil), yang bahkan orang Jawa sendiri kini sudah banyak yang tidak terlalu memahami artinya.

Dalam penelitian tersebut, Sukarno menyimpulkan bahwa fungsi pranatacara bertujuan untuk memastikan bahwa semua kegiatan selama prosesi pernikahan adalah di bawah kendalinya. Selain itu, peran penting dari pranatacara adalah berfungsi untuk membangun komunikasi interpersonal yang lebih hangat dengan para tamu yang hadir.

Dalam pelaksanannya, pranatacara ini seolah mengkondisikan aura penuh ningrat, sebagaimana gambaran formal yang menjadi identitas resmi dari keluarga kerajaan-kerajaan Jawa di masa lampau. Suara dari pranatacara ini biasanya diiringi lantunan musik tradisional Jawa (gamelan).

Baca juga: Mengenal Molonthalo, Tradisi Kehamilan di Gorontalo

Rangkaian Tradisi Pernikahan Adat Jawa

Berikut ini adalah beberapa prosesi yang umum terjadi di pernikahan dengan menggunakan adat Jawa yang kami rangkum dari berbagai sumber.

1. Seserahan atau Lamaran

Serah-serahan atau lamaran adalah tahap pertama pernikahan Jawa. Pada tahap ini, pihak calon pengantin laki-laki beserta keluarganya datang ke kediaman calon pengantin wanita dengan membawa seserahan.

Isi dari seserahan ini bermacam macam, mulai dari seperangkat alat shalat, cincin hingga makanan tradisional.

Dalam adat pernikahan di Jawa Timur misalnya, makanan tradisional yang wajib dibawa saat acara lamaran adalah kue jadah baik itu jadah putih, jadah merah (dari beras merah) maupun jadah kuning.

Jadah, atau jajanan lainnya yang terbuat dari beras ketan, memiliki filosofi berupa doa agar calon penganten yang akan menikah ini akan terus lengket.

Dalam acara lamaran ini biasanya juga terjadi rapat mengenai teknis pernikahan. Mulai dari tanggal akad hingga seluk-beluk resepsi.

2. Siraman

Siraman merupakan prosesi selanjutnya dalam pernikahan adat Jawa. Melansir dari Popbela.com (13/06/2020), upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri pengantin sebelum terjadinya akad nikah.

Dalam pelaksanaannya, calon pengantin akan dimandikan oleh tujuh orang yaitu orang tua calon pengantin, pinisepuh (orang yang dituakan atau yang mewakili) dan ibu dari calon mempelai wanita.

Perlengkapan dan peralatan yang diperlukan untuk upacara ini bermacam macam, salah satunya adalah kendi khusus yang memuat air dari 7 sumber mata air. Untuk menyiapkan segala keperluan tersebut, sebenarnya adalah tugas seorang dukun pengantin.

Namun tak jarang juga kini wedding organizer yang menyediakan paket lengkap dari pernikahan. Mulai dari awal seserahan hingga pada saat upacara pernikahan semuanya telah disiapkan oleh penyelenggara jasa pernikahan.

Baca juga: Tradisi Unik Suku Sasak di Lombok, ‘Menculik’ Gadis yang Hendak Dinikahi

3. Paes atau Ngerik

Paes adalah tahap selanjutnya dari pernikahan adat Jawa. Tepat setelah siraman, pengantin wanita, ibu dari pengantin wanita dengan disertai oleh ibu-ibu lainnya (yang dituakan), didandani di kamar mempelai wanita (atau kamar khusus).

Biasanya dalam pernikahan adat Jawa, rambut-rambut halus di wajah sang mempelai wanita dikerik agar wajah pengantin tersebut tampak lebih berkilau. Prosesi ini juga disebut sebagai tahapan ngerik.

4. Adol Dawet

Selanjutnya ada prosesi adol dawet. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti menjual dawet. Dawet adalah minuman sejenis es campur khas Jawa. Dalam prosesi ini, ibu mempelai wanita berperan sebagai penjual dawetnya. Sedangkan sang ayah bertugas memayungi ibu tersebut.

Dengan ritual ini, diharapkan pengantin tahu kalau untuk membangun pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warohmah haruslah bergotong-royong antar keduanya. Tidak jalan mengikuti ego masing-masing.

Selain itu, makna dari prosesi ini adalah sebagai bentuk doa agar acara pernikahan berlangsung dengan lancar dan dikunjungi banyak tamu.

5. Midodareni

Midodareni adalah tahap pernikahan yang terjadi semalam sebelum akad nikah. Pada tahapan ini, sang pengantin wanita akan tinggal di kamarnya sendiri dari jam 6 sore hingga tengah malam dengan hanya ditemani oleh sanak keluarga.

Seringkali dalam tahap ini, sang pengantin wanita juga akan diberi wejangan-wejangan atau nasehat bijak terkait dengan pernikahan dan kehidupan rumah tangga.

6. Upacara Pernikahan/Akad

Esok hari setelah prosesi midodareni berlangsung, barulah terjadi prosesi pernikahan. Jika calon pengantin merupakan pemeluk agama Islam, biasanya dilangsungkan di masjid.

Jika pengantin merupakan pemeluk agama lain, maka akad bisa dilangsungkan di rumah ibadah masing-masing.

Setelah sah sebagai sepasang pengantin, baik secara agama dan juga negara, maka kedua mempelai bisa melangsungkan tahapan selanjutnya, yaitu pesta pernikahan atau resepsi.

Baca juga: Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Meugang di Aceh

7. Upacara Panggih atau Temu Manten

Salah satu bagian paling sakral dalam sebuah resepsi pernikahan adat Jawa adalah upacara panggih atau temu manten. Dalam upacara ini, sang mempelai pria dengan disertai keluarganya datang dan berhenti di depan pintu gerbang rumah mempelai wanita.

Secara adat, biasanya di samping kanan kiri mempelai ada sepasang muda-mudi yang membawa kembar mayang atau batang pohon jambe yang telah dihias sedemikian rupa hingga tampak indah. Dalam istilah Jawa Timuran, kedua pasang muda mudi tersebut disebut Domas.

Selain kembar mayang, ada juga ibu ibu yang membawa sanggan dengan dibungkus daun pisang untuk diserahkan kepada keluarga mempelai wanita.

Dalam tradisi Islam-Kejawen di Jawa Timur, khususnya daerah Mataraman, upacara ini seringnya diiringi dengan lantunan mahallul qiyam (sholawat nabi) dan rebana.

8. Upacara Balangan Sirih

Balangan sirih atau yang juga disebut sebagai balangan gantal adalah prosesi saling lempar bungkusan sirih antara mempelai pria dan wanita.

Upacara ini memiliki arti bahwa pengantin pria telah mengambil hati sang mempelai wanita dan mempelai wanita akan berbakti kepada suami. Dalam kepercayaan Jawa kuno, upacara ini juga ditujukan untuk mengusir roh jahat.

9. Ngidak Tagan/Nincak Endog

Ngidak endog atau menginjak telor adalah prosesi pernikahan adat Jawa yang memiliki arti agar sepasang pengantin tersebut segera dikaruniai keturunan.

Baca juga: Yogyakarta: Akulturasi dan Pusat Kebudayaan Jawa

10.  Sinduran

Sinduran adalah tahapan upacara pernikahan Jawa yang terjadi di dalam acara resepsi. Dalam tahap ini, ayah dari salah satu mempelai akan membebatkan kain berwarna merah putih (bukan bendera) ke tubuh kedua mempelai. Kain tersebutlah yang bernama kain sindur.

Ritual ini mempunyai makna agar rumah tangga kedua mempelai tersebut dijalankan dengan benar, penuh semangat dan gairah hidup.

11.  Minum Air Degan/Kelapa Muda

Prosesi selanjutnya adalah minum air degan dan kacar kucur. Air degan dikisahkan melambangkan air suci yang dapat membersihkan kotran rohani setiap anggota keluarga.

Biasanya, air ini diminum secara bergilir oleh orang tua masing-masing mempelai. Setelah itu, baru kemudian diikuti oleh kedua mempelai pengantin.

12.  Kacar-kucur dan Dulangan

Kacar-kucur dan dulangan adalah prosesi yang melambangkan kewajiban untuk menjalankan rumah-tangga secara bertanggung jawab.

Dalam prosesi kacar-kucur, mempelai pria akan mengucurkan kantong berisi uang logam dan bahan kebutuhan pokok. Hal itu memiliki makna bahwa tanggung jawabnya adalah sebagai pemimpin yang harus memenuhi nafkah keluarga.

Sedangkan dalam prosesi dulangan, kedua mempelai pengantin diminta untuk menyuapi satu sama lain. Hal itu bermakna sebagai bentuk doa agar saling menyayangi sepanjang hidupnya.

13.  Sungkeman

Prosesi pernikahan adat Jawa akan diakhiri dengan prosesi sungkeman. Yaitu prosesi saat pengantin bersimpuh di kaki kedua orang tua mereka sebagai bentuk rasa penghormatan, terima kasih sekaligus pamit.

Baca juga: Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

Hal hal yang Biasanya Selalu Ada saat Resepsi

Dalam pernikahan adat Jawa, banyak sekali perlengkapan dan peralatan yang harus disiapkan. Mulai dari lengkungan janur kuning di depan rumah, kembar mayang hingga air untuk upacara siraman.

Namun, jika anda datang ke sebuah resepsi pernikahan adat Jawa, kemungkinan besar akan ditemukan tiga hal berikut ini:

Pertama, yaitu Domas atau Pagar Ayu

Seperti yang tertulis di atas, domas adalah sepasang muda-mudi yang membawa kembar mayang. Posisi duduknya berada di samping kanan dan kiri mempelai sepanjang acara hajatan.

Tugas utama domas adalah membawa kembar mayang. Namun domas ini juga bisa diartikan sebagai bridesmaid dan groomsmen.

Kedua adalah Cantrik. Selain domas atau pagar ayu, Anda juga akan melihat dua anak perempuan kecil yang duduk di sebelah pengantin. Dua anak kecil tersebut disebut sebagai cantrik.

Ketiga, Tembang Dhandanggulo. Dalam kesusasteraan Jawa, terdapat 11 tembang atau lagu yang mengiringi masing masing tahap dalam kehidupan. Salah satunya adalah tembang Dhandanggulo.

Tembang ini dinyanyikan untuk menggambarkan rasa cinta. Oleh karena itu, tembang ini adalah tembang yang banyak dibunyikan dalam acara acara pernikahan adat Jawa.

Di balik ‘keribetan’ pernikahan dengan tradisi Jawa, makna dan filosofinya adalah harapan dan doa keselamatan lahir maupun batin untuk kedua pasangan.

Rangkaian dari prosesi pernikahan Jawa secara garis besar bermakna kelancaran rejeki, memiliki keturunan, tanggung jawab, saling menghormati dan bekerja sama, berbakti kepada orang tua (dan juga mertua) serta keluarga besar dari kedua pasangan.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan budaya Nusantara.

3 tanggapan untuk “Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa yang Perlu Diketahui

  • 23 Desember 2020 pada 12:38 PM
    Permalink

    Menjelang malam hari, dalam pernikahan adat Jawa, pengantin wanita mengadakan midadoreni, yaitu calon pengantin pria diantar ke rumah calon pengantin wanita oleh kerabat dekat dan seorang yang dianggapnya dapat mewakili orangtua pengantin pria. 9. Panggih

    Balas
  • 25 Desember 2020 pada 4:55 AM
    Permalink

    Catur Wedha adalah wejangan yang disampaikan oleh ayah dari calon pengantin perempuan kepada calon pengantin laki-laki. Catur Wedha berisi 4 pedoman hidup yang diharapkan bisa menjadi bekal untuk kedua calon pengantin dalam mengarungi hidup berumah tangga. Wejangan yang diberikan ini bermakna bahwa dalam menjalani pernikahan selalu ada aturan yang perlu diikuti demi menjaga keharmonisan rumah tangga ke depannya.

    Balas
  • 23 Februari 2021 pada 10:02 AM
    Permalink

    berasal dari bahasa Jawa ‘widodari’ alias bidadari dalam bahasa Indonesia. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan menyambangi kediaman calon pengantin perempuan. Konon, para bidadari ini akan memberi wahyu yang dapat menyempurnakan dan mempercantik pengantin perempuan. biasanya dilaksanakan antara jam 6 sore sampai jam 12 tengah malam. Selama itu, calon pengantin nggak boleh tidur. Lalu, apa saja susunan acara yang sebenarnya di malam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *