Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa yang Perlu Diketahui

  • Whatsapp
Makna dan Filosofi Tradisi Pernikahan Adat Jawa
Sumber: Pxhere/Anonymous

RUANGNEGERI.com – Urusan pernikahan adalah kegiatan yang sakral dan penuh khidmat. Berbagai rangkaian kegiatan, doa dan filosofinya penuh dengan makna di baliknya. Salah satu pernikahan adat paling terkenal di Indonesia adalah pernikahan adat Jawa karena memang jumlah penduduknya paling banyak di Indonesia.

Pernikahan adat Jawa banyak dikenal sebagai pernikahan yang memiliki prosesi yang cukup banyak. Tidak jarang pula bahwa dalam sebuah pernikahan yang menggunakan adat Jawa secara lengkap juga melibatkan seorang dukun pengantin.

Bacaan Lainnya

Pekerjaan dukun pengantin ini adalah menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan adat pernikahan tersebut. Biasanya, ia juga merangkap sebagai perias pengantin. Beberapa hal yang perlu disiapkan antara lain adalah ubo rampe, tumpeng, telur, air untuk siraman dan lain sebagainya.

Meskipun pelaksanaan prosesi pernikahan Jawa yang lengkap dengan adat kini sudah cukup jarang, namun ada baiknya jika kita mengetahui langkah langkah prosesi tersebut.

Baca juga: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Pranatacara dan Identitas Kerajaan Jawa

Jalannya prosesi pernikahan adat Jawa juga tidak lepas dari peran hangat dari pranatacara atau pembawa acara. Pranatacara ini bertugas untuk memandu sekaligus mengiringi kegiatan yang dilakukan selama prosesi.

Sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Sukarno (2008), melalui disertasi berjudul The Study on Interpersonal Meanings in Javanese Wedding ‘Pranatacara’ Genre, menyebutkan bahwa peran dari pranatacara ini dinilainya sangat penting dalam pernikahan adat Jawa.

Bahasa yang digunakannya selalu menggunakan Bahasa Jawa halus (kromo inggil), yang bahkan orang Jawa sendiri kini sudah banyak yang tidak terlalu memahami artinya.

Baca juga: Yogyakarta: Akulturasi dan Pusat Kebudayaan Jawa

Dalam penelitian tersebut, Sukarno menyimpulkan bahwa fungsi pranatacara bertujuan untuk memastikan bahwa semua kegiatan selama prosesi pernikahan adalah di bawah kendalinya. Selain itu, peran penting dari pranatacara adalah berfungsi untuk membangun komunikasi interpersonal yang lebih hangat dengan para tamu yang hadir.

Dalam pelaksanaannya, pranatacara ini seolah mengondisikan aura penuh ningrat, sebagaimana gambaran formal yang menjadi identitas resmi dari keluarga kerajaan-kerajaan Jawa di masa lampau. Suara dari pranatacara ini biasanya diiringi lantunan musik tradisional Jawa (gamelan).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Komentar

  1. Menjelang malam hari, dalam pernikahan adat Jawa, pengantin wanita mengadakan midadoreni, yaitu calon pengantin pria diantar ke rumah calon pengantin wanita oleh kerabat dekat dan seorang yang dianggapnya dapat mewakili orangtua pengantin pria. 9. Panggih

  2. Catur Wedha adalah wejangan yang disampaikan oleh ayah dari calon pengantin perempuan kepada calon pengantin laki-laki. Catur Wedha berisi 4 pedoman hidup yang diharapkan bisa menjadi bekal untuk kedua calon pengantin dalam mengarungi hidup berumah tangga. Wejangan yang diberikan ini bermakna bahwa dalam menjalani pernikahan selalu ada aturan yang perlu diikuti demi menjaga keharmonisan rumah tangga ke depannya.

  3. berasal dari bahasa Jawa ‘widodari’ alias bidadari dalam bahasa Indonesia. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan menyambangi kediaman calon pengantin perempuan. Konon, para bidadari ini akan memberi wahyu yang dapat menyempurnakan dan mempercantik pengantin perempuan. biasanya dilaksanakan antara jam 6 sore sampai jam 12 tengah malam. Selama itu, calon pengantin nggak boleh tidur. Lalu, apa saja susunan acara yang sebenarnya di malam