Langkah Indonesia Usai Mundur dari Thomas Uber 2020

RUANGNEGERI.com – Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) secara resmi menunda gelaran Piala Thomas Uber 2020 ke 2021 mendatang. Namun, Induk dunia tepok bulu itu tetap akan melanjutkan turnamen Denmark Open 2020 Super 750 di Odense, 13-18 Oktober nanti.

Usai Indonesia memutuskan mundur dari Thomas Uber 2020 beberapa waktu lalu, legenda Denmark Jim Laugensen menyuarakan kekesalannya.

Ia berkaca pada turnamen tenis US Open 2020, yang tetap digelar dengan atlet yang ada. Jim memaklumi kekhawatiran pemain yang memilih menunggu situasi aman.

Namun, mantan pemain ganda dekade 90-an itu berargumen ihwal bagaimana jika vaksin masih belum ditemukan sebelum 2023.

Dilansir Indosport.com (14/09/2020), pria 45 tahun itu mengatakan bahwa Badminton Denmark telah bekerja keras demi menggelar turnamen tersebut. “Semua negara telah diperbolehkan masuk oleh pemerintah Denmark,”

Lebih lanjut, ia juga memberikan sindiran kepada pemain Indonesia. “Kita akan lihat di Denmark Open siapa saja yang berani bermain. Alangkah lucu jika misalnya, para pemain Indonesia berbaris di sana.”

BACA JUGA: Optimistis di Awal, Indonesia Tiba-tiba Mundur dari Piala Thomas Uber 2020

Terbang ke Thailand

Indonesia resmi tidak akan mengirim atlet ke Odense. Dilansir dari Badmintonindonesia.org (16/09/2020), Sekjen Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Achmad Budiharto beralasan bahwa “para pemain masih belum terlalu yakin dengan jaminan kesehatan dan keselamatan mereka.”

Alih-Alih ke Eropa, para pebulutangkis Indonesia baru akan mulai bertanding di Kejuaraan seri Asia pada November mendatang yang kemungkinan akan dihelat di Thailand.

Sebagai informasi, Kejuaraan seri Asia terdiri dari dua turnamen, yakni Asia Open I (10-15 Novemeber) dan Asia Open II (17-22 November). Keduanya diadakan sebagai pengganti dua turnamen yang sudah dibatalkan – China Open Super 1000 dan Indonesia Open Super 1000.

Budiharto juga menambahkan, PBSI telah berdiksusi dengan para pemain seputar Kejuaraan seri Asia. Hasilnya, mereka tidak keberatan untuk bertanding di sana. Alasannya, durasi perjalanan ke sana lebih pendek.

Selain itu, ia juga mengaku PBSI sudah menerima beragam informasi ihwal jaminan, mekanisme serta prosedur yang akan dilakukan di Thailand. Menurutnya, secara prinsip, apa yang dilakukan Negeri Gajah Putih “jauh lebih baik dan komprehensif dari segi jaminan keselamatan bagi pemain.”

Namun pada Sabtu pekan lalu, ribuan orang turun ke jalan-jalan di Bangkok menuntut pembatasan kekuasaan daan anggaran keluarga kerajaan.

Laman berita The Star (22/09/2020), menyebutkan bahwa meski terjadi aksi, masih terlalu dini untuk menduga-duga apakah demontrasi tersebut dapat berpengaruh pada harapan Asosiasi Bulu Tangkis Thailand (BAT) untuk menggelar rangkaian turnamen prestisius ini.

Perkembangan situasi berikutnya tentu akan jadi salah satu faktor utama yang akan diperhitungkan BWF dan penyelenggara. Sementara, kunci utama terselenggaranya Asia Open adalah partisipasi pemain top.

“Partisipasi pemain top itu adalah kunci dan menentukan jadi tidaknya Asia Open,” tulis Subbidang Hubungan Luar Negeri PBSI, Bambang Roedyanto dalam cuitannya di Twitter, Senin (21/09/2020).

Sejauh ini, belum ada keterangan resmi BWF ihwal kepastiannya. “Keputusan ada dan tidaknya Asia Open tanggal 24 (September),” lanjut pria yang akrab disapa Roedy itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *