Kota di Balik Tembok, Romantisme dalam Labirin Distopia

RUANGNEGERI.com – Pertama kali melihat buku ini di deretan rak salah satu toko buku di Indonesia, mata saya langsung tertuju pada buku ini.

Tangan saya langsung mengambil buku dengan sampul berwarna dasar abu-abu putih dan dipenuhi dengan ornamen. Di bagian sampul bukunya, terdapat gambar sebuah wajah dengan naga di atas kepalanya dan membelit hingga tubuhnya.

Kesan pertama buku berasal dari sampulnya, saya akui itu. Desain sampul novel ini sangat menarik. Berisi identitas novel ini—berjudul The Walled City, dengan nama Ryan Graudin sebagai penulis.

Di sampul buku ini juga terdapat identitas lain—frasa Kota di Balik Tembok—yang merupakan keterangan bahwa novel ini adalah novel terjemahan atau alih bahasa.

730
Jumlah hari aku terperangkap

18
Jumlah hari yang tersisa bagiku untuk mencari jalan keluar

Bagian bulb di sampul belakang ditulis dengan kesan menegangkan. Pada saat itu saya langsung memutuskan untuk mengambil buku ini dan membayarnya ke kasir.

Di halaman belakang juga dikenalkan tiga tokoh utama di dalam novel The Walled City ini, yaitu: Dai, Jin, dan Mei Yee.

Fiksi Berbau Distopia

Novel ini menceritakan tentang Dai, Jin, dan Mei Yee yang memiliki latar belakang yang berbeda. Terjebak di satu tempat yang penuh dengan kriminalitas bernama Hak Nam.

Dai, lelaki yang merupakan kurir narkoba dengan catatan di masa lalu yang kelam. Jin, perempuan pencuri yang tinggal di camp nomaden bersama banyak pencuri lainnya. Mei Yee, seorang pelacur yang juga merupakan saudara kandung dari Jin.

Dai, Jin, dan Mei Yee mereka dipertemukan di dalam The Walled City, kota yang penuh dengan kekacauan dan kriminalitas yang diwajarkan oleh masyarakat yang hidup di sana.

Hidup di dalam The Walled City harus berani melakukan segala hal—walaupun kotor sekalipun—agar tetap bisa tetap hidup hingga esok hari.

Cerita di novel ini menarik dengan mengangkat dunia distopia yang penuh misteri.

Latar distopia yang disertai dengan petualangan-petualangan menegangkan oleh Dai, Jin, dan Mei Yee membuat pembaca—terutama saya—terkadang ikut menahan napas saat adegan-adegan berbahaya.

Novel ini diawali dengan adegan kejar-kejaran yang begitu menegangkan. Adegan tersebut menggunakan sudut pandang Jin. Ia mencuri sepatu boots seorang pentolan atau pemimpin salah satu perkumpulan terkuat di Hak Nam.

Alur yang disajikan di dalam novel The Walled City ini mengalir. Saya merasa tidak ada istirahat bagi otak saya untuk mencerna satu per satu kejadian menegangkan di dalam novel ini.

Keseluruhan diksi yang digunakan di dalam novel ini merupakan tipikal novel terjemahan pada umumnya.

BACA JUGA: Aroma Karsa: Mendeskripsikan Aroma dalam Prosa

Tiga Sudut Pandang dari Tiga Tokoh Berbeda

Tipikal novel terjemahan pada umumnya yang saya amati selama ini yaitu menggunakan diksi yang kuat dan terkesan lebih formal. Gaya bahasa di dalam novel ini juga sama.

Di dalam novel terjemahan, penulis tidak dapat mengungkapkan dengan bahasanya sendiri, karena sudah diterjemahkan dan disesuaikan diksi dan bahasanya ke dalam Bahasa Indonesia.

Walaupun seperti tipikal novel terjemahan pada umumnya, novel ini memiliki kekuatan yang menurut saya unik. Novel ini menggunakan tiga sudut pandang. Tidak heran, sih, karena novelnya memang lumayan tebal.

Novel ini menggunakan tiga sudut pandang untuk menyampaikan ceritanya, yaitu sudut pandang Jin Ling, Dai, dan Mei Yee. Bagaimana cara pembaca mengetahui sebuah bab menggunakan sudut pandang Jin Ling, Dai, atau Mei Yee?

Tenang saja, pembaca tidak akan merasa kebingungan. Setiap bab di novel The Walled City tertulis nama salah satu tokoh, yang menandakan bahwa cerita di dalam bab tersebut merupakan sudut pandang dari salah satu tokoh.

Misalnya, pada bagian pertama pada novel The Walled City. Nama Jin Ling tertulis pada bagian judul sub-bab tersebut. Otomatis cerita yang ada di dalam bab tersebut menggunakan sudut pandang Jin Ling.

Begitu pula dengan sub-bab lainnya. Jika pada judul sub-bab tertulis nama salah satu dari tokoh utama, maka cerita dalam sub-bab tersebut menggunakan sudut pandang tokoh yang namanya tertulis di dalam sub-bab.

Membicarakan sudut pandang, saya baru ingat saya belum menyebutkan sudut pandang apa yang digunakan di dalam novel ini. Novel The Walled City menggunakan sudut pandang orang pertama.

Penggunaan sudut pandang orang pertama ditandai dengan narasi yang menggunakan kata ganti orang pertama. As you know, kata ganti orang pertama, seperti: -ku, aku, dan sebagainya banyak digunakan di dalam novel ini.

Pembaca tinggal menyesuaikan point of view atau sudut pandang siapa yang digunakan di dalam sub-bab di novel The Walled City.

BACA JUGA: Mariposa: Kupu-kupu yang Sulit Digapai

Meleburnya Fiksi dan Kenyataan

Ryan Graudin memberi disclaimer pada bagian akhir novel, tepatnya pada bab Catatan Penulis. Ia mengatakan bahwa Walled City benar-benar ada.

Kota yang digambarkan sebagai kota yang penuh kerusuhan dan ketidakteraturan itu benar-benar nyata.

Menurutnya, kota itu nyata namun tampak imajiner. Kota itu setidaknya pernah ada di Hongkong. Nama kota itu ialah Kowloon Walled City Hongkong. Kota yang digambarkan sangat tidak layak untuk ditempati manusia.

Ryan Graudin menggambarkan The Walled City Hak Nam dengan apik. Kota kumuh yang tidak dapat ditembus cahaya matahari dan hukum yang dikuasai oleh geng-geng di tempat itu.

Masyarakat yang tinggal di Walled City sangat beragam. Mulai dari anak jalanan, para wanita pekerja seks, pencuri hingga anggota geng yang bengis. Deskripsi tentang keadaan Hak Nam mirip dengan Kowloon.

Namun, Kowloon telah dimusnahkan jauh sebelum adanya novel The Walled City karya Ryan Graudin ini. Ryan Graudin mengaku mendapat inspirasi setelah bertemu dan berbincang dengan seorang wanita yang pernah tinggal di Kowloon selama 20 tahun.

Plot atau alur tiba-tiba muncul di kepala Ryan dan ia tidak dapat membiarkannya hanya menjadi endapan di dalam otaknya.

Menurut penulis, walaupun novel The Walled City terinspirasi dari The Walled City yang pernah ada, novel ini tidak dapat dikategorikan sebagai historical fiction. Walau Ryan melakukan riset mengenai Kowloon, kota yang pernah dijuluki sebagai The Walled City.

Menurut saya, bukankah setiap penulis juga seharusnya melakukan riset terhadap apa yang ditulisnya terlebih dahulu? Seharusnya memang seperti itu.

Ryan berusaha untuk mendeskripsikan secara detail dan supaya terkesan real bagaimana kehidupan di Kowloon Walled City—kota inspirasi novel ini. Hemat saya, itulah fungsi riset penulis terhadap objek nyata.

Ryan tidak serta merta memasukkan Kowloon secara mentah. Dia mengubah beberapa aspek real di dalam novel ini. Nama Kowloon diubahnya menjadi Hak Nam, memberi nama karakter utama, dan sebagainya.

Penulis nampak telah melakukan riset dengan tujuan agar fiksinya terlihat real tapi tetap fiksi.

BACA JUGA: KKN di Desa Penari: Cerita KKN yang Berujung Kutukan

Sarat Akan Pesan Sosial

Novel ini membahas tentang ketidakteraturan masyarakat di Hak Nam, The Walled City. Sebetulnya, kejadian dan peristiwa yang terjadi di The Walled City Hak Nam masih terjadi di masa sekarang. Di beberapa tempat, bahkan masih ada gembong dan markas geng.

Realitas sosial yang ditampilkan di novel tersebut ada dan berkeliaran di dunia. Walaupun Kowloon sudah dimusnahkan dan telah menjadi taman kota, praktik judi, prostitusi, pencurian, jual-beli narkoba hingga perdagangan manusia masih marak terjadi di masyarakat. Realitas tersebut juga tidak boleh dianggap dengan sebelah mata.

Tidak semua orang yang bergelut di dunia gelap seperti yang saya sebutkan di atas senang dan sukarela melakukannya. Beberapa melakukannya karena tidak ada pilihan lain.

Mereka harus tetap makan termasuk dengan menggunakan uang hasil mencuri. Berbagai upaya mereka lakukan untuk tetap makan, termasuk dengan cara menjadi kurir narkoba.

Tentang human traffic atau perdagangan manusia, isu ini tidak terlihat dan tidak marak digaungkan. Manusia menjadi budak, bahkan dijadikan alat prostitusi.

Bahkan, tidak sedikit orang tua yang menjual anaknya demi mendapat uang. Ryan Graudin menumpahkan ke dalam bentuk fiksi isu-isu sosial tersebut dengan epic.

Novel dengan tema distopia sangat menarik pecinta novel seperti saya. Banyak hal yang dapat digunakan sebagai pelajaran dan insight lain agar manusia dapat memaknai dan mengerti bagaimana cara dunia.

Dunia saat ini tidak selalu aman, dunia tidak selalu nyaman.

Novel ini menceritakan bagaimana perjuangan tiga tokoh utama melalui kerasnya The Walled City. Bagaimana juga cara keluar dari jebakan kota yang seperti labirin sempit tanpa ujung.

Semuanya digambarkan secara terstruktur dan enak dibaca.

Dari rating satu hingga sepuluh, saya akan memberi nilai 9/10 dari novel The Walled City ini. Nyaris sempurna. Kehinaan, kesengsaraan dan perjuangan yang ada di novel ini membuat haru dan pembaca dapat merasa feel-nya.

Saya bahkan tidak berhenti merasa ikut deg-degan selama membaca novel ini karena sangat menegangkan.

 

Judul                           : The Walled City

Penulis                         : Ryan Graudin

Alih Bahasa                  : Harisa Permata Sari

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit                 : 2015

Jumlah halaman           : 488 halaman

No. ISBN                       : 978-602-03-1928-5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *