KKN di Desa Penari: Cerita KKN yang Berujung Kutukan

RUANGNEGERI.com – Novel KKN di Desa Penari merupakan novel yang diadaptasi dari sebuah thread di platform sosial media Twitter. Thread atau utas tersebut viral pada pertengahan tahun 2019, saat ramai-ramainya KKN di hampir seluruh universitas di Indonesia.

Thread dan novel KKN di Desa Penari ditulis melalui akun Twitter @SimpleM81378523. Novel ini diadaptasi dari dengan beberapa perbaikan dari versi utasnya.

Jujur, saya membaca utas di Twitter tentang KKN di Desa Penari saat sedang KKN juga, loh. Tapi, tidak di Desa Penari juga, sih.

Novel ini menceritakan tentang satu kelompok KKN yang beranggotakan Widya, Ayu, Nur, Bima, Anton, dan Wahyu. Mereka berasal dari salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur yang melakukan Kuliah Kerja Nyata atau KKN di suatu desa terpencil di ujung timur Pulau Jawa.

Berawal dari Ayu yang pergi ke suatu desa di ujung timur Pulau Jawa bersama kakaknya untuk mencari desa yang cocok untuk dijadikan tempat KKN. Kakak Ayu, yaitu Ilham memiliki relasi dengan salah satu kepala desa, yaitu Pak Prabu.

Setelah deal, Ayu kemudian mencari teman untuk menjadi teman sekelompokya KKN. Widya, Nur, Bima, Anton, dan Wahyu bersedia untuk bergabung dengan Ayu. Akhirnya pada hari H, mereka berangkat di desa yang telah disepakati.

Mereka berangkat dengan menggunakan mobil dari kota keberadaan universitasnya. Mereka menempuh perjalanan hingga sampai di pinggir hutan. Desa yang akan kelompok tersebut tinggali melewati suatu hutan yang tidak dapat diakses dengan mobil.

Masyarakat desa setempat telah menunggu kedatangan kelompok tersebut di pinggir hutan untuk diantarkan ke desa dengan menggunakan motor.

Sesampainya di desa, mereka diajak Pak Prabu, kepala desa penari, untuk melihat-lihat desa. Mereka berkeliling desa tersebut hingga sore.

Mereka menemukan banyak hal yang ganjil di desa tersebut, di antaranya yaitu batu nisan yang ditutupi oleh kain hitam, sedikitnya anak-anak dan remaja di desa tersebut dan keganjilan-keganjilan lainnya di desa itu.

Anggota KKN

Nur memiliki perasaan yang tidak enak selama berada di perjalan. Nur merupakan salah satu dari anggota kelompok yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan manusia kebanyakan, yaitu dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh manusia secara umum.

Dia satu-satunya anggota kelompok yang menggunakan kerudung dan tergolong alim. Nur juga sering diganggu oleh makhluk gaib karena dia memiliki ‘penjaga’ yang dirasa mengusik warga gaib di desa tersebut.

Widya merupakan seseorang yang pertama kali melihat sosok penari dan mendengar alunan musik trasidional di sepanjang perjalanan sebelum memasuki desa penari. Widya menarik perhatian badarawuhi atau jin penunggu desa.

Jin tersebut menampakkan diri kepada Widya, Nur juga dapat melihatnya. Selama KKN, Widya banyak mendapat gangguan dari Badarawuhi.

Ayu merupakan seseorang yang pertama kali mengajukan Desa Penari menjadi desa untuk tempat KKN-nya dan kelompoknya. Ayu merupakan seseorang yang di dalam novel ini akan melakukan kegiatan terlarang di desa tersebut.

Ayu memiliki proker yang dilaksanakan di wilayah terlarang di desa tersebut bersama dengan Bima. Ayu merupakan salah satu anggota kelompok yang mendatangkan malapetaka bagi kelompok KKN-nya.

Wahyu merupakan salah satu anggota kelompok yang bisa dibilang ceplas-ceplos dan sering tidak berpikir sebelum bertindak. Wahyu juga merupakan satu-satunya anggota di kelompok tersebut yang paling tua.

Wahyu adalah kating atau kakak tingkat dari anggota kelompok lainnya. Dia juga merupakan orang yang bersama Widya pergi ke kota untuk membeli kebutuhan KKN dan mampir di pesta gaib di tengah hutan.

Anton merupakan anggota kelompok yang memiliki mulut suka misuh atau mengumpat dengan umpatan khas Jawa Timur. Anton secara fisik memiliki tubuh yang paling gempal di antara anggota kelompok lainnya. Dia adalah orang yang sering mendapati kejanggalan pada Bima selama KKN.

Bima, dia bersama Ayu merupakan orang yang juga menjadi akar dari malapetaka bagi kelompok KKN tersebut. Bima melakukan hubungan badan dengan Badarawuhi atau Sang Penari. Dia juga sering diam-diam pergi ke tempat terlarang, dan sering kedapatan oleh Anton sedang membawa sesaji.

Penggambaran tokoh pada novel ini menurut saya biasa saja. Penulis menarasikan watak dari para tokoh dengan tidak detail. Saya ambil contoh deskripsi Anton yang suka mengumpat, sepanjang cerita hanya sedikit yang menggambarkan Anton saat mengumpat dan berkata kasar.

Penggambaran karakter yang demikian sukar memberi kesan kepada pembaca. Pembaca akan sukar membedakan tokoh A—misalnya—yang berperan dalam hal A, dan tokoh B yang berperan dalam hal B.

Seperti saya pada awal cerita sukar membedakan Nur dan Widya, serta Anton dan Wahyu. Tapi, seiring berjalannya cerita, cerita mengalir begitu saja.

BACA JUGA: Aroma Karsa: Mendeskripsikan Aroma dalam Prosa

Alur, Setting dan Sudut Pandang

Kekuatan utama dari novel KKN di Desa Penari menurut saya terletak pada alur dan setting atau latar cerita. Alur yang ditulis khas gaya cerita-cerita misteri membuat pembaca penasaran.

Simpleman, selaku penulis juga memberi bumbu-bumbu jumpscare secara tepat. Pembaca dijamin merinding dengan cerita-cerita di novel ini.

Genre dari novel KKN di Desa Penari adalah horor misteri. Novel ini disajikan dengan point of view atau sudut pandang orang pertama.

Sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang Widya dan pada akhir bagian berganti menjadi sudut pandang dari Nur. Sudut pandang dari Nur hanya bersifat melengkapi.

Menurut saya, pemilihan sudut pandang oleh Simpleman sangat tepat dan reasonable. Widya merupakan orang yang banyak diganggu oleh makhluk gaib di desa tersebut, dan Nur merupakan orang yang juga banyak diganggu.

Memang, motif gangguan dari makhluk halus di desa tersebut berbeda. Namun, menurut saya dengan pemilihan Widya dan Nur sebagai POV atau Point of View menjadikan cerita ini memiliki nilai misteri.

Bayangkan saja jika Simpleman menulis dengan sudut pandang Wahyu atau Anton yang ignorant, cerita ini akan terasa hambar. Karena mereka berdua tidak langsung menjadi incaran para makhluk gaib di desa itu.

Atau jika Simpleman menggunakan POV dari Bima dan Ayu. Dari awal bahkan misteri dan teka-tekinya tidak akan didapatkan oleh pembaca, karena Bima dan Ayu merupakan akar dari permasalahan di kelompok KKN tersebut.

Setting atau latar yang ditulis oleh Simpleman menjadi trending dan memunculkan banyak hipotesis. Ada yang mengatakan bahwa latar tempat berada di Banyuwangi, ada yang menduga di Bondowoso.

Sebetulnya, hanya penulis, Tuhan, dan anggota kelompok KKN tersebut yang tahu. Hal tersebut yang juga menjadi kontroversi. Banyak orang berlomba-lomba untuk mencari tahu di mana tepatnya latar tempat dari novel ini.

Menurut saya, hal tersebut dapat menambah nilai misteri di dalam novel ini. Mungkin niat awal dari penulis adalah untuk menghindari netizen yang lancang mencari tahu dan menstigma daerah dan kampus yang relate dengan novel ini.

Pada akhirnya, saya melihat hal itu tidak menghalangi masyarakat untuk kepo, tapi menambah nilai misterinya. Ditambah dengan author yang hingga sekarang tidak mengungkap tempat terjadinya kejadian di dalam novel ini.

BACA JUGA: Mariposa: Kupu-kupu yang Sulit Digapai

Diksi

Simpleman memilih diksi yang ringan dan mudah dipahami oleh pembaca. Secara keseluruhan, diksi yang digunakan di dalam novel dan utas di Twitter mirip. Hanya saja, di novel diksi yang digunakan lebih tertata dan menggunakan bahasa Indonesia.

Pembaca yang lebih dahulu membaca utas di Twitter tentang KKN di Desa Penari pasti merasa banyak diksi yang tidak tepat penggunaannya. Atau kata yang menggunakan diksi bahasa Jawa alih-alih bahasa Indonesia, dan banyakanya penggunaan percakapan dengan menggunakan bahasa Jawa.

Di dalam versi cetaknya, diksi yang digunakan mengalami perbaikan. Dialog dengan menggunakan bahasa Jawa diganti menjadi bahasa Indonesia. Beberapa kata bahasa Jawa yang tidak memiliki padanan bahasa Indonesia atau terasa tidak pas jika diganti dengan bahasa Indonesia tetap dipertahankan di dalam novel ini. Pembaca yang tidak memahami bahasa Jawa masih dapat menikmati novel ini.

Dari diksi yang digunakan, novel ini terkesan hanya mengikuti pasar yang pada saat itu sedang ramai-ramainya membahas cerita ini. Novel ini dibahas di hampir seluruh platform, bahkan menjadi trending topic. Di instagram, facebook hingga youtube, topik ini menjadi bahasan yang sangat digandrungi.

Memang, diksi yang digunakan lebih baik dari yang digunakan pada utas di twitter, namun tetap saja tidak sempurna. Bahkan, menurut saya novel ini dibuat dengan terburu-buru dan kurang teliti.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya salah ketik, beberapa kata tidak enak dibaca serta kurangnya deskripsi yang menggambarkan penguatan tokoh.

Jika saya boleh memberi rating, saya akan memberi rating 4 dari 5 untuk novel KKN di Desa Penari ini. Alur yang ditulis sudah bagus dan sangat mengalir. Menurut saya kekuatan novel ini hanya terletak di aspek tersebut.

Aspek kebahasaan lain pada novel ini biasa saja, bahkan masih banyak yang salah ketik. Tapi, sudah cukup bagus untuk novel misteri.

Thumbs up untuk Simpleman!

 

Judul                       : KKN di Desa Penari

Penulis                    : Simpleman

Penerbit                  : PT Bukune Kreatif Cipta

Tahun terbit            : 2019

Jumlah halaman     : 260 halaman

No. ISBN                 : 9786022203339

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *